
Nicolas tidak mau mengikuti kebohongan Omanya, keluarganya bekerja sama melakukan kebohongan. Tapi Nicolas dan Maminya tidak mau ikutan, Linda juga memilih diam, dalam hati kecil wanita itu tidak ingin berbohong pada Darto.
“Aku ingin mengatakan hal yang sebenarnya,” ujar Nicolas, ia dan Julio berdiri di dekat pintu.
“Jangan Ko, nanti Oma akan mengamuk,” bisik Julio.
“Mau sampai kapan Aku menuruti semua kebohongan Oma? gua capek di bawa kendali Oma, gua ingin lepaskan semua beban ini."
“Coba pikirkan lagi … Aku yakin kalau Koko mengatakan semuanya akan ada masalah besar nantinya,” ucap Julio mengingatkan.
“Aku tidak perduli lagi, Aku hanya tidak ingin berbohong selamanya,” pungkas Nico.
“Tunggu … setidaknya beritahukan Ines dan Hendra kalau Pak Darto di sini,"ujar Julio ia masih berpikir panjang.
Julio menelepon Hendra, ia memberitahukan kalau Pak Darto datang ke rumah mereka.
Mendengar kakeknya ada di rumah Nicolas, Ines sangat panik.
"Bagaimana kakek tiba-tiba di sini? dia sedang di Singapura," ujar Ines kaget.
"Tapi kakekmu saat ini ada di sini Nes, masalahnya ... Nicolas ingin bicara jujur."
"APA!" Ines berdiri tiba-tiba karena panik. “Biarkan Aku bicara sebentar,” ucap Ines.
“Jangan katakan pada Kakek, tolong bilang Nicolas, jangan kata apapun pada kakekku, dia lagi sakit,” ucap Ines panik.
Julio ingin mencegah Nico, tetapi lelaki itu sudah berdiri di depan Pak Darto.
“Aku minta maaf Nes … Nico sudah bicara dengan kakekmu,” ucap Julio
“Ni-Nico bukankah dia lagi di London?” tanya Ines terbata-bata karena panik.
“Kemarin baru pulang,” sahut Julio lagi di ujung telepon.
“Tolong cegah … Kalau tidak berikan teleponnya padanya,” pungkas Ines.
Ia mengepal tangannya dengan kuat, ia sangat takut, Ines berjalan-jalan mondar-mandir menahan rasa gugup di dada nya. Ines berharap Nicolas tidak mengatakan tentang masalah mereka, jika Nicolas menceritakan semua yang terjadi antara mereka dan Ines itu artinya pengorbanan yang dilakukan Ines akan sia-sia.
Di sisi lain.
Nicolas berdiri tepat di depan Darto, melihat Nicolas mendekati Darto, Marisa melotot.
“Nico, kamu mau ngapain?” Marisa mendekati cucunya, ia ingin mencegah agar Nicolas jangan
__ADS_1
“Kek, Aku ingin bicara terus terang sama kakek.”
“Nicolas! Tidak baik meyelak saat orang tua lagi mengobrol. Kamu tidak ada sopan santunnya, pergi sana kami ingin bicara dulu dengan Pak Darto,” ujar Marisa .
Ia marah saat Nicolas bicara dengan kakek istrinya tersebut, wanita itu takut kebohongannya terbongkar.
“Oma, Maaf Aku ingin bicara jujur pada Kakek.”
Mendengar hal itu Marisa semakin gugup, untuk mengalihkan suasana ia kembali berakting kali ini ia pura-pura pingsan berharap Nicolas menghentikan rencananya. Lalu Marisa pura-pura pingsan dan terjatuh.
“Aduh, aduh kepalaku.” Marisa terjatuh ke lantai.
“Oma!” Duha menolong dan semua orang panik. Namun Nicolas seolah-olah sudah tahu kalau wanita itu berbohong , Nicolas sudah tahu kalau itu hanya pura-pura. Ia tidak terusik sedikitpun ia tetap berdiri di depan Darto.
Lak-laki tua itu merasa kalau ada hal yang sangat penting yang disampaikan Nicolas.
“Kamu ingin mengatakan apa sama Kakek?” tanya Darto, ia memutar kursi rodanya dan menatap Nicolas dengan wajah serius.
“Kakek maafkan Aku karena bersalah.”
Julio berlari dan mendekati Nicolas, “ini ada telepon untuk kamu,” ujar pria itu menaikan sebelah alisnya memberi kode agar berhenti. Namun Nicolas sudah mengambil keputusan besar, ia akan menceritakan semuanya pada Darto .
“Nanti saja,” tolak Nicolas.
Suasana dalam rumah mendadak semakin tegang karena tiba-tiba Ines menelepon, padahal sudah hampir dua minggu Ines tidak ada kabar.
Wajah Nicolas tiba-tiba pucat saat mendengar Ines ingin bicara padanya.
Nicolas menerima ponsel dari Julio , tangannya bergetar, di satu sisi ia merasa bersalah pada Ines, di satu sisi ia senang karena Ines mau bicara dengannya .
“Nanti saja kita bicara,” ucap Nicolas.
“Jangan katakan apapun pada Kakekku,” ucap Ines nada suaranya terdengar tegas.
“Maaf … Aku tidak mau selamanya jadi pecundang,” ucap Nicolas.
“Kita sudah sepakat, jangan mengingkari janji lagi untuk kedua kalinya, please … Aku mohon. Kakekku lagi sakit keras,” lirih Ines dengan suara bergetar.
“Aku tidak ingin jadi pembohong selamanya Nes, Aku tidak mau jadi badut Oma selamanya, tolong mengerti Aku,” ujar Nicolas.
“Kalau kamu mengatakan itu sama kakekku dia akan sakit, tolong jangan katakan apapun,” bujuk Ines, ia sampai memohon pada Nicolas.
“Maaf Aku tidak bisa selamanya seperti ini,” ujar Nicolas ia mematikan teleponnya.
__ADS_1
“Halo, halo tolong jangan katakan itu dia akan sakit lagi,” ujar Ines menangis tersedu-sedu.
Tut-Tut!
Sambungan telepon putus, Ines semakin menangis, ia memegang dadanya menangis tersedu-sedu.
Ia menelepon kembali tapi nomor itu tidak aktif lagi.
“Tolong jangan katakan apapun padanya … please! Aku tidak mau kehilangan kakekku. Tolong,” ujar Ines terus menelepon nomor Nicolas dan nomor Julio tetapi tidak aktif lagi.
“Nes … tenanglah tidak akan terjadi apa-apa sama kakekmu,” ucap Hendra ia juga mencoba menelepon nomor Nicolas tapi kali ini nomor itu tidak aktif lagi.
“Nes, Kakek akan baik-baik saja.” Marta memeluk Ines dengan erat.
“Kita akan pulang.” Hendra melepaskan jubah dokter miliknya dan ia minta izin pulang pada rekan-rekannya.
Berlari menuju mobil, Hendra terpaksa menyetir sendiri. Akhirnya mereka bertiga pulang ke Jakarta.
*
Apa yang ditakutkan Ines menjadi kenyataan. Darto sangat terpukul saat mengetahui kebenarannya kalau Ines membuat kesepakatan dengan Nicolas. Nicolas juga menceritakan kalau istrinya diperlakukan seperti pembantu di rumah mereka.
“Apa kalian semua membohongi saya?” tanya lelaki tua menatap semua orang di rumah itu dengan tatapan tajam.
“Maafkan Aku Kek, dari dulu sebenarnya Aku tidak ingin menikah, Omah yang memaksa,” ucap Nicolas jujur.
“Jadi Kamu hanya ingin uangku?” tanya Darto dengan suara meninggi.
“Maafkan Aku Kek, Ines tidak ingin kakek sedih, maka itu kami membuat kesepakatan,” tutur Nicolas.
Tiba-tiba Darto memegang dadanya dan kejang-kejang. Nicolas panik ia berteriak meminta tolong.
Asisten Darto yang menunggu di luar berlari ke dalam rumah menggendong Darto ke dalam mobil dan melarikannya ke rumah sakit, semua orang panik dan tegang.
“Apa yang telah aku lakukan,” bisik Nicolas terdiam seperti patung.
“Aku sudah bilang padamu jangan melakukannya, kamu tidak mendengar,” ujar Julio menarik tangan Nicolas mengajaknya masuk ke mobil dan mengikuti mobil yang membawa Darto ke rumah sakit.
Bersambung
Kakak yang baik hati, jangan lupa untuk selalu dukung karya ini ya dengan cara vote, like, komen.
Baca juga karyaku yang lain , terimakasih
__ADS_1