
Semua keluarga ada di rumah, kecuali Nicolas dan Hendra, saat Bu Narti bicara merek diam. Mereka semua duduk dengan tenang mendengarkan penuturan Bu Narti. Terlihat jelas kalau Bu Narti sangat marah setelah tahu kebenaran kalau Ines mendapat perlakuan tidak baik dari penghuni rumah tersebut.
“Bu Narti, jangan salah paham, kami semua sangat sayang pada Ines,” ujar wanita itu berbohong.
“Oh, sepertinya saya keliru. Lalu bagaimana dengan gadis muda ini . Kenapa dia meneriaki dan memaki-maki Ines saat berbaring di rumah sakit?” ujar Bu Narti.
Novi menunduk ketakutansaat Marisa menatap tajam padanya.
“Itu tidak akan terjadi Bu Narti, kalau Ines pulang kami akan memperlakukan dengan baik.” Marisa tertawa garing, wajahnya sangat panik saat kedoknya ketahuan. Dari awal niatnya memang sudah tidak baik, wanita itu hanya ingin uang, ia perduli dengan kebahagian anak dan cucunya ia hanya bisa memerintah dan marah-marah.
“Saya rasa tidak ada kesempatan kedua lagi Bu Marisa,. Bukankah Nicolas sudah pergi?”
“O-I-itu tidak benar dia hanya liburan, benarkan ?” Ia menatap menantunya dengan tajam.
“Maaf Ma. Nicolas pergi ke London,” ucap Linda berterus terang, ia tidak ingin terus-terusan berbohong seperti ibu mertuanya.
“A-a bagaimana mungkin! Kapan?” ucapnya wanita itu pura-pura panik.
“Begini … saya ingin meluruskan beberapa kekeliruan, barang kali Bu Marisa suda lupa. Rumah ini milik Darto, dia memberikan pada Lian saat itu hanya menempati, jadi, rumah ini masih atas nama orang tua Ines,” ucap Bi Narti.
Mereka semua melongo, wanita yang selama ini mereka anggap sebagai pembantu ternyata Nyoya besar yang sesungguhnya. Saat itu Lian, suami Marisa baru membayar rumah itu setengah harga, surat-surat dan hak kepemilikan masih atas nama orang tua Ines.
“Apa Opa sama kakek Darto begitu dekat?” tanya Julio.
“Ya, mereka sahabat dekat, berjanji akan menikahkan cucu mereka kalau sudah besar.”
“Jadi, Nico sama Ines sudah dijodohkan dari kecil?” Julio semakin penasaran.
“Sebenarnya bukan dengan Nicolas ….”
“Lalu …?” mereka semua saling menatap.
“Sama Hendra.”
“APA?” Mereka bersuara serempak.
“Lalu kenapa jadi sama Nico?” Julio melotot.
“Tujuan perjodohan itu untuk membangun perusahaan. Ternyata Hendra memilih jadi dokter, hanya Nicolas yang cocok.”
Mereka semua terdiam, almarhum suami Marisa yang dulu meminta perjodohan itu, tujuannya agar persahabatan mereka semakin erat. Tetapi takdir berkata lain. Lian keburu meninggal sebelum waktu perjodohan di laksanakan. Sebenarnya Darto hanya melanjutkan apa yang sudah mereka sepakati.
“Jika kakeknya mengetahui apa yang kalian lakukan pada cucu kesayangannya, coba kalian pikirkan apa yang akan terjadi,” ucap Bu Narti, ia berdiri.
“Saya akan memperbaiki semuanya,” ucap wanita itu berjanji, Narti tidak menghiraukannya . Apa yang dilakukan keluarga Nicolas sama Ines membuatnya sangat marah, bahkan di dalam mobil ia duduk dengan wajah tegang.
“Apa ada masalah, Bu?” tanya Rian supir kakek Ines.
__ADS_1
“Keluarga ini membuatku sangat marah, dari pertama juga aku tidak suka dengan wanita itu,” ujar Bu Narti kesal.
“Apa mereka berbuat jahat sana Nona Ines?”
“Ya, tapi apapun yang terjadi saat ini jangan katakan pada Bapak. Kalau dia tahu Ines diperlakukan dengan sangat buruk di rumah ini, Aku yakin dia akan sangat marah,” ujar Bu Narti.
“Baik Bu, kita kemana sekarang?”
Kita ke tempat Marta.”
Setelah Bu Narti keluar dari rumah Nicolas, Marisa mengamuk. Wanita itu memarahi semua orang di rumahnya.
“Apa kamu puas melihatku dipermalukan?” Ia menatap Linda dengan marah.
“Ma, saya mengatakan yang sebenarnya, Nicolas pergi ke luar negeri.”
“Apa kamu tidak bisa membujuk anakmu sendiri? Kenapa dia meninggalkan istrinya?”
“Jangan menyalahkan Mami sana Koko, Oma. Ini semua terjadi karena Oma yang memaksa mereka menikah,” balas Novi dengan berani, ia tidak terima Maminya selalu disalahkan.
Pak!
“Lancang kamu ya. Ini semua karena kamu selalu berbuat jahat pada Ines,” ucapnya menyalahkan cucunya.
Novi memegang pipinya menatap wanita itu dengan marah, lalu keluar dari rumah.
*
Saat Nicolas pergi, mereka semua panik mencari cara untuk membujuk Ines pulang ke rumah, sementara Ines memilih menenangkan diri di rumah sahabatnya.
“Nes, hari ini Bibi akan pulang. Kakek sudah dapat tanggal operasi,” ujar Bu Narti, “ Apa kamu baik-baik saja sayang?”
“Aku baik Bi, ditemani sama Bibi beberapa hari ini, aku merasa senang.”
“Bagaimana kalau kita pulang?”
“Aku tidak ingin Kakek mengetahui semua yang terjadi Bi.”
“Baiklah, Bibi janji tidak akan mengatakan apa-apa. Lalu bagaimana dengan kamu ke depannya.”
“Mungkin aku akan melanjutkan kuliahku lagi,” ujar Ines, wajahnya sudah kembali ceria, berbeda beberapa hari lalu saat Nicolas memutuskan meninggalkannya.
*
Satu minggu kemudian
Axell mencari tahu tentang berkas kesehatan Ines, karena ia meras curiga selama Ines di rawat ia tidak diperbolehkan melihat catatan kesehatan Ines selama di rumah sakit, karena curiga ia mencari tahu dengan dokter yang merawat Ines, dari sana ia mengetahui kalau Ines tidak hanya terluka di perut, tapi ia juga didampingi seorang psikolog.
__ADS_1
Axell menelepon Nicolas.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Axell.
“Aku memutuskan pergi itu yang terjadi,” ucap Nicolas, saat itu ia sudah kembali ke London.
“Bukan … tentang istrimu.”
“Axell, aku tidak ingin membahasnya ak-”
“Apa kamu memperkosanya?”
“Apa ? Kamu gila ya."
“Nico, kertas kesehatannya aku sudah membacanya”
“Lalu…?”
“Di Sana dijelaskan kalau suaminya melakukan dengan paksa.”
“Apa maksudmu?” tanya Nicolas, “Aku tidak mungkin melakukan hal itu Xell.”
“Lu malam itu mabuk berat Bro, lu ingat kan setiap kali kamu mabuk tidak bisa mengontrol diri dan selalu lupa. Aku ingin bertanya. Apa kamu ingat apa yang terjadi malam itu?”
Nicolas terdiam, matanya melotot dan tangannya gemetar, “Apa kamu piki aku telah melakukannya?” tanya Nicolas dengan suara bergetar.
“Kamu pulang dan tanyakan sama mami kamu, beliau sepertinya mengetahui semuanya, Bro.”
“Astaga... apa aku melakukannya?”
“Pulang dan pastikanlah Bro, jangan jadi pengecut.”
“Gue tidak pengecut Xell, gue hanya menenangkan diri.”
“Pergi setelah kamu menyakiti wanita itu. Apa tidak pengecut namanya?”
“Kok, kamu jadi marah?”
“Bro, saat di rumah sakit, aku bertemu dengan Bu Narti, dia Ibu panti yang sering keluargaku kunjungi. Kami salah satu pendonor untuk panti itu.”
“Lalu?” tanya Nicolas.
“Kamu pulang dan kita bicarakan saat bertemu, gue masih ada pasien,” ucap Axell.
Nicolas diam, wajahnya berkeringat dan panik. “Apa aku benar melakukannya? Oh tidak mungkin,” ujar Nicolas memegang kepalanya dengan panik.
bersambung
__ADS_1
Bantu vote like komen ya kak.