Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Aku Hamil


__ADS_3

Setelah menunggu Nicolas selama satu jam, Ines akhirnya pulang karena sang suami tak kunjung datang. Nicolas bersama Naura, kesal, marah , kecewa itu yang dirasakan Ines. Namun, ia  tidak berhak untuk marah, kerena itu kesepakatan mereka berdua.


Marta dan Ines masih duduk berdua di kursi depan rumah sakit, tadinya Ines ingin memberikan kado tescpak kehamilannya untuk Nicolas, ia berharap lelaki itu senang menerima kehamilannya.


“Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau kamu hamil, Nes?”


“Aku malu Ta, Aku hamil karena diperkosa,” ujar Ines ketus.


“Kamu gila ya … dia suamimu, hanya caranya saja yang salah Nes.”


“Mungkin  dia tidak menginginkan itu lagi dia sedang mencetak anak juga di rumah Naura,” ujar Ines, sebagai istri   Ines wajar kalau merasa cemburu.


“Baiklah kalau kamu ragu jangan katakan padanya kita akan mengurus anakmu tanpa dia.”


“ Baiklah, jangan katakan apapun padanya Ta, kami akan pergi dari Nicolas . Maminya juga memintaku meninggalkan Nicolas, bukan hanya Naura,” ujar Ines.


“Mama Nicolas juga  meminta  kamu meninggalkan suamimu?” tanya Marta, ia  ikut kaget.


“Ya.”


“Keluarga yang jahat, apa mereka tidak tahu kalau karma itu ada. Jahat sama anak yatim piatu dosanya berat. Tapi apa kamu yakin Nicolas dengan Naura?” Gadis berrambut pendek itu bertanya lagi, ia sangat kesal mendengar Nicolas ada di kamar Naura.


“Ya mereka lagi di kamar Naura.”


“Mereka melakukan Zinah, biarkan saja mereka Nes, kamu mungkin tidak ditakdirkan dengannya.”


Saat Ines dan Marta lagi  duduk di taman, tiba-tiba kondisi kesehatan Kakek Ines menurun, Bu Narti meminta mereka berdua datang, Ines dan Marta  berjalan buru-buru ke kamar Darto, lelaki tua itu sedang sekarat bahkan bernapas saja sudah kesusahan, ia tidak bisa  berbicara lagi penyakitnya sudah menyerang otak.


“Nes, kakek  tidak bisa bertahan lagi,” ujar Bu Narti, seketika tubuh Ines menegang ia menggeleng takut.


“Kakek  dari kapan seperti ini?” tanya Ines panik.


“Baru saja, tadi saat suster mengganti infus dia masih baik-baik saja,  setelah perawat keluar dia langsung kejang.”


Ines sangat panik, ia memegang tangan Darto.


“Dok, boleh kita bicara?” tanya rekan sesama dokter.

__ADS_1


“Ya, baiklah.”


Ines mengikuti dokter perempuan keluar, dari tatapan mata rekannya Ines sudah bisa menebak kalau hal buruk akan terjadi.


“Apa, Dok?”


“Kamu pasti sudah tahu keadaan kakekmu, Dok. Beliau tidak bisa bertahan lagi. Lepaskan saja dia, kasihan ,” ucap dokter.


“Maksudnya …?”


“Nes, ikhlaskan saja kakekmu pergi, kasihan dia,  tubuhnya tidak kuat lagi,” ujar Bu Narti yang datang dari dalam.


“Apa harus seperti itu, Bi?”


“Ya dia susah lelah Nes, telepon Nicolas dari tadi dia mencari terus, mungkin  dia ingin menitipkan kamu padanya baru  dia pergi dengan tenang,” ujar Bu Narti.


Mereka semua sudah ikhlas kecuali ines,  karena tubuh Pak Darto juga sudah lemah, semua team dokter berusaha memberi pertolongan padanya tapi tidak berhasil. Karena Ines terlihat syok Marta mencoba menghubungi Nicolas, tapi tidak diangkat.


“Angkat teleponnya ada hal yang sangat  darurat. Kondisi kakek sangat memburuk, datanglah ke rumah sakit.” Marta mengirim pesan suara, berharap Nicolas membuka dan cepat merespon.


Ia  menunggu beberapa menit tidak ada balasan, ia mencoba menelepon lagi, belum ada balasan juga.


“Tidak diangkat Bi.” Marta  terus mencoba, tetapi tidak ada jawaban karena ponsel Nicolas tertinggal di kamar Naura saat ia membawa wanita itu ke rumah sakit.


“Jangan dipaksakan, dia tidak akan mengangkatnya saat ini mereka  sedang ngamar,” ujar Ines.


“Apa maksudnya.” Bu Narti menatap mereka bergantian.


“Dia bersama Naura.”


“Maksudmu mantan kekasihnya?”


“Hem …,” jawab Ines mengangguk.


Mendengar Nicolas bersama wanita lain, Bu Narti semakin kesal melihat keluarga Darmawan, ia semakin yakin untuk mengambil alih perusahaan dari mereka. Bu Narti sudah meminta keluarga Darmawann, wanita itu  menatap Ines dengan hati yang hancur, tadinya ia  berpikir mereka bersama kembali karena Nicolas sudah dapat menerima Ines ternyata itu semua ia lakukan demi sang kakek


“Bi, ada yang aku sampaikan padamu,” ucap Ines mengajak Bu Narti untuk duduk.

__ADS_1


“Apa …?” Mata menatap Ines dan Marta dengan penasaran, ia bahkan menahan napas.


“Aku hami Bi.”


“A-apa?”


Bu Narti menangis sesenggukan setelah mendengar pengakuan Ines hamil, sebagai seorang  yang membesarkan dan menjaga Ines dari kecil ia sangat sedih. Bu Narti berpikir ia tidak bisa melakukan apapun untuk Ines. Andai cinta dan kasih sayang yang tulus bisa dibeli dengan uang,  ia akan melakukannya yang penting Ines bisa bahagia.


Bu Narti tidak menikah lagi setelah kematian suami dan anaknya yang mengalami penyakit langka, sisa hidupnya ia habiskan menjaga Ines dan menjaga panti asuhan.


“Apa yang akan Bibi lakukan untukmu Nes …, apa yang akan aku lakukan,” ucap wanita itu memegang dadanya ia menangis sedih mendengar cerita Marta dan Ines.


“Mereka akan mendapatkan balasan dari perbuatannya, Bi,” ucap Marta.


“Bibi jangan menangis, Kita akan menjaganya dengan baik. Baiklah Aku tidak ingin ada lagi air mata lagi,” ucap Ines.


“Bibi tidak tahu kalau kamu hamil Nes, Bibi menyesal.”


“Aku juga tidak tahu Bi, Aku baru mengetahuinya beberapa hari lalu. Aku malu mengakui sama kalian, tadinya Aku ingin memberitahukan Nicolas duluan, ingin tahu bagaimana reaksinya baru Aku kasi tahu Bibi,” ujar Ines.


“Sampai kapan kamu menderita terus Nak. Kapan kamu bahagia,” ujar Bu Narti menangis.


“Bibi, baiklah Aku akan merelakan Kakek pergi, Aku akan ikhlas. Tolong jangan menangis lagi,” ujar Ines menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


“Aku ada untukmu sayang, Aku akan selalu bersamamu.”  Bu Narti memeluk Ines


“Aku juga akan bersamamu Nes, kemanapun kamu pergi nanti, Aku akan ikut,” ujar Marta.


Mereka bertiga berpelukan saling menguatkan  satu sama lain. Setelah tenang, Ines masuk kembali ke ruangan Pak Darto, lelaki tua itu tidak sadarkan diri lagi setelah  tubuhnya kejang-kejang beberapa menit lalu. Semua dokter sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, Heru sang asisten  duduk di samping memegang tangan Pak Darto ia meneteskan air mata.


“Terimakasih atas kebaikanmu selama ini Pak, Aku menjadi manusia yang berguna berkat dirimu, kalau Bapak tidak memungut ku dari jalanan mungkin aku masih sampah  yang berkeliaran di jalanan sana,” ujar pria itu dengan suara bergetar.


Heru sama seperti Marta anak-anak  jalanan yang disekolahkan Darto, Marta juga mengucapkan kata-kata terimakasih yang sangat menyentuh.


"Apakah Nicolas akan mengetahui kehamilan Ines?


Apakah Ines dapat memaafkan Nicolas?

__ADS_1


Bersambung


Bantu like komen Vote jug ya kakak agar author semakin untuk update banyak sampai tamat terimakasih


__ADS_2