
Setelah pengakuan hari itu Ines sangat berubah, tidak ada tatapan kebencian lagi di matanya, walau masih terlihat canggung sama Nicolas itu hal yang wajar, sang suami yang lebih aktif untuk mengajak Ines mengobrol.
“Jadi apa aku sudah bisa menggenggam tanganmu?”tanya Nicolas setelah Ines tenang dan mereka masih berdiri di balkon.
“Ya,” jawab Ines dengan senyuman kecil.
“Lebih dari memegang tangan boleh?”
“Apa kepalamu masih sakit?” Ines balik bertanya, Nicolas tahu ia belum siap membahas lebih jauh.
‘Baiklah … artinya kamu belum siap, Aku tidak akan memaksa ‘ Nicolas membatin.
“Sedikit, tapi setelah bisa memeluk kamu tadi, rasanya nyaman bangat dan pusingnya langsung hilang,” ujar Nicolas mulai menggombali sang istri.
“Tadi kamu berkeringat banyak apa kamu tidak mandi?” tanya Ines, tidak ada maksud apa-apa di balik itu, tapu Nicolas tersenyum nakal.
“Ya, bagaimana kalau kamu bantu aku untuk mandi.”
“Ha! Mandi?”
“Ya, Nes lihat kepalaku bocor dan masih pusing bangat, Aku takut saat Aku mandi nanti tiba-tiba jatuh di kamar mandi dan kepalaku terbentur lalu Aku mati.”
“Baiklah.”
“Yes.” Nicolas tertawa bahagia dalam hati.
“Tapi bagaimana kalau kamu makan dulu, Aku yakin kamu juga lapar,” tutur Ines , hampir setengah hari mereka habiskan dalam kamar membuat perutnya keroncongan.
“Oh, boleh tapi kita makan di sini saja, tidak ingin turun Aku belum kuat,” ujar Nicolas bersikap manja dan sedikit alay.
‘ha, ha, kapan lagi aku bisa manja, mungkin besok situasinya tidak akan sama lagi’ ucap Nicolas dalam.
Ines turun ia meminta asisten rumah tangga membawa makan siang di kamarnya.
Ditemani makan sama istri salah yang paling diinginkan Nicolas, matanya selalu menatap wajah Ines.
‘Kamu akan aku lahap malam ini bibir itu membuatku bergairah’ ujar Nicolas menatap bibir mungil berwarna milik Ines.
“Sebenarnya ini bukan makan siang tau, ini makan sore,” ujar Ines menatap Nicolas, lelaki itu tertangkap basah menatap wajah Ines.
Ines jadi salah tingkah aat dilihatin sang suami, mereka berdua seperti pasangan kekasih yang baru jadian .
“Kamu sangat cantik,” puji Nicolas menatap Ines.
Gombalan Nicolas hanya ditanggapi dengan senyuman kecil dari Ines.
__ADS_1
“Aku tidak terbiasa mendengar gombalan.”
“Ini tidak gombalan , tapi ucapan kenyataan dari mulut suamimu.”
“Terimakasih Pak suami,” balas Ines.
Nicolas tertawa lepas melihat reaksi Ines, ia geli dipanggil pak suami, setelah selesai makan menunggu beberapa menit Nicolas minta ingin mandi bathtub di kamar mandi Ines.
“Kenapa harus mandi disitu?”
‘Biar bisa mandi bersama kamu’
“Aku ingin berendam, kepalaku belum bisa kena air,” jawab Nicolas.
“Baiklah.” Ines tidak menolak ataupun merasa curiga dengan permintaan sang suami, ia menyalahkan pemanas air dan mengisi ke dalam bak.
“Aku juga ingin dimasukkan rempah-rempah itu akan menyegarkan ,”pintanya lagi, lagi-lagi Ines menuruti apapun permintaan sang suami.
“Sudah.”
“Bantu Aku melepaskan pakaianku.” Ines menatapnya dengan alis berkerut.
“Mommy … tanganku sakit loh,” baru dipanggil Mommy saja dengan lembut Ines langsung menurut .
“Baiklah Aku akan menuruti karena kamu masih sakit,” ucapnya sembari menghembuskan napas pendek dari hidungnya.
“Nes … kamu harus bernapas kalau tidak … kamu bisa pingsan,” ujar Nicolas.
“Aku hanya gugup saja,” ujar Ines mengeluarkan napas panjang dari mulutnya.
“Apa kamu tahu salah satu tugas istri Nes?”
“Tau melayani suami,” jawab Ines lagi.
“Itu kamu tahu.”
“Tapi tidak termasuk melepaskan pakaian suaminya kan?”
“Masuk dong, melayani suami di ranjang itu banyak pahalanya,” Nicolas mulai menjurus ke arah sana modusnya sudah mulai bekerja.
“Kamu sama kayak si Bibi, dia selalu bilang padaku melayani suami di ranjang itu wajib hukumnya, dia bilang kalau suaminya dilayani nanti jajan di luar.”
“Ya, itu benar, sebenarnya Aku tiap malam itu kedinginan,” ujar Nicolas otaknya mulai liar kemana-mana apalagi melihat Ines yang mulai jinak dan patuh padanya.
“Kalau kedinginan tinggal pakai selimut dong,” timbal Ines ia pikir kedinginan dalam arti sebenarnya.
__ADS_1
“Masuklah … nanti airnya dingin.”
“Ayo masuk,” ajak Nicolas, mata Ines melotot kaget.
“Kamu memintaku mandi bersama?” tanya Ines dengan mata melotot, “Saling berpegangan tangan saja Aku sudah jantungan apa lagi mandi bersama bisa-bisa Aku mati kejang-kejang dalam bak mandi,” ujar Ines.
“Tidak akan Nes, percayalah.”
“Tidak berikan Aku ingin pelan-pelan saja.”
“Oh, baiklah padahal Aku berharap kamu masuk dalam bak mandi kita akan mandi bersama dan kamu menggosok punggungku,” ujar Nicolas dengan wajah kecewa.
Setelah membantu Nicolas melepaskan pakaian suaminya Ines masih berdiri disamping bak, ia tidak tega melihat wajah kecewa dari sang suami, tapi ia belum punya keberanian untuk mandi bersama, Nicolas tidak menyerah begitu saja, ia mash berusaha membujuk istrinya sampai ia berhasil.
“Kamu tidak perlu melepaskan pakaian kalau kamu belum siap, kamu hanya perlu menggosok punggungku saja, kemarilah,” bujuk Nicolas ia menyodorkan spons penggosok badan.
“Benar?”
“Iya, lakukan dengan cepat badanku gatal,” ujar Nicolas.
“Ines masuk ke dalam bak masih menggunakan pakaian utuh, ia menggosok punggung Nicolas dari belakang, awalnya ia berdiri Nicolas menarik tangannya dan menariknya ke pangkuannya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Kamu harus menggosok nya seperti ini.” Memegang tanga Ines menggosok dadanya, Ines hanya bisa melotot dengan wajah kaku seperti semen yang sudah dianggurkan tiga hari.
“Aku basah,” ujar Ines pelan.
“Kalau begitu lepaskan saja pakaianmu, Aku suamimu tidak ada yang salah, yang salah itu jika kamu memperlihatkannya pada lelaki lain.”
“Aku belum siap.”
“Kalau begitu tidak apa-apa, kamu duduk saja dan Aku akan memijit lehermu.” Ines duduk di depan suami dan mendapat pijatan lembut dari sang suami. Jika Ines belum berpengalaman, maka Nicolas suhunya Ines menutup mata menikmati pijatan tangan Nicolas, tangan itu bukan lagi di leher melainkan didada memberi pijatan ringan di balik pakaian Ines suara lengkuhan kecil keluar dari bibir Ines masih dengan mata terpejam.
Tanpa disadari pakaian itu seketika sudah terlepas hanya menyisakan bra berwarna
senada dengan kain segitiga..
‘Indah sekali’ ucap Nicolas menatap tubuh istrinya di pantulan kaca di badhtud.
Ines tersadar dan menutup dadanya dengan kedua tangan ia hampir menangis.
“Tidak apa-apa Sayang, aku yang melihatnya suamimu,” ujar Nicolas melepaskan tangannya dari dada memberi kecupan di belakang leher Ines dan mengigit daun telinga Ines. Nicolas tahu mana titik hasrat istrinya , bagai terkena hipnotis tubuh Ines menegak bagai tersengat aliran listrik ia mendesah dan melenguh setiap kali sang suami menyentuh bagian tubuhnya. Melihat kode aman dari Ines Nicolas tidak menyia-nyiakannya, ia membalikkan tubuh Ines dan merengeut bibir mungil berwarna merah tersebut ternya Ines membalasnya dan mengeluarkan suara-suara erangan kecil dari dalam bibirnya dan ia memangku tubuh Ines saat tangannya meraba puncak bagian inti Ines wanita cantik itu tersadar ia menggeleng merasa takut.
“Aku tidak akan menyakitimu lagi Sayang Aku berjanji padamu,” ujar Leon menahan hasrat hampir diujung tanduk, tongkat pamungkas milik Nicolas sudah menegang siap menghujam.
__ADS_1
Bersambung