
Satu minggu kemudian.
Luka hati akan pulih seiring berjalannya waktu, itulah yang dirasakan Ines, kepergian kakek tercinta meninggalkan luka yang dalam untuknya. Namun, Ines tidak ingin larut dalam kesedihan, setelah dirawat satu minggu di rumah sakit Ines akhirnya pulih, ia sudah mulai tersenyum. Bu Narti sudah mengurus semuanya Ines akan berangkat ke Jerman ia akan tinggal sana, hanya tinggal menunggu Ines pulih.
Saat Ines kuliah dan tinggal lama di sana, Kakek Ines sudah membeli rumah untuk Ines tinggali di sana selama di sana.
“Aku akan bertemu dengan Nicolas Bi, kami akan mengakhiri kesepakatan kami,” ujar Ines dengan yakin.
“Apa kamu yakin Nes? dia selalu datang saat kamu dirawat Bibi yang melarang dia bertemu kamu.”
“Yakin, Bi.”
“Tidak akan berubah pikiran lagi?” tanya Marta menggoda Ines.
“Tidak, Aku akan jauh lebih tenang tinggal di Jerman, mungkin bisa melupakan kakek.”
“Nes, jangan meninggalkan masalah yang membuatmu tidak tenang nantinya.”
“Ya, Bi.”
“Cobalah berdamai dengan hatimu, Bibi tahu kamu pasti masih merasa kecewa, marah, kesal pada keluarga Darmawan, maafkan saja mereka,” nasihat Bu Narti.
“Baik Bi,” sahut Ines menghela napas panjang, memaafkan orang yang pernah menyakiti dan mengecewakan kita tidaklah mudah, hanya bisa melupakan.
“Baiklah, telepon Nicolas, katakan padanya untuk bertemu Ines, Ta,” desak Bu Narti pada Marta.
“Jangan Marta Bi, Aku saja.”
Ines meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja, menghela napas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya.
*
“Halo Nes,” sahut Nicolas diujung telepon suara menggema ditelinga Ines, ada rasa kecewa dan amarah yang tiba-tiba hadir dalam benaknya, tapi ia berpikir lagi, semua akan ada jalan keluarnya dan segala luka hatinya sembuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
Lelaki itu baru saja bertemu teman sekolah yang ingin ia ajak untuk bekerja sama, sayangnya tidak berhasil, teman-teman Nicolas menolak. Mendapat telepon dari Ines Nicolas kaget bercampur senang.
“Apa Koko sibuk?” tanya Ines setelah ia berhasil meredamkan amarah.
“Tidak, tidak sibuk,” jawab Nicolas ia berdiri wajahnya bersemangat.
“Mari kita bertemu malam ini.” Nicolas terdiam.
‘Apa dia meminta berpisah?’ tanya Nicolas dalam hati.
“Ko …? Apa kamu masih mendengar ku?”
“Baiklah,” sahut Nicolas.
*
Setelah malam tiba.
“Nes, kamu harus pakai ini,” ucap Marta menunjuk gaun.
“Untuk apa pakai seperti itu, emangnya mau ke kondangan?”
__ADS_1
“Selama ini dia yang membuatmu terpesona, kali ini balas dia, buat dia terpesona dengan kecantikanmu yang sesungguhnya,” ucap Marta bersemangat.
“Gak Ah.” Ines menolak.
“Ya lakukan saja, berikan kesan yang menarik sebelum kamu meninggalkannya,” ucap Bu Narti.
“Apa bibi yakin AKu pakai itu, bagaimana kalau ada mata lelaki jahat yang melirikku?”
“Dengar Nes, mereka melihatmu karena kamu cantik,” ucap Marta.
Ines menuruti permintaan kedua wanita tersebut, ia memilih dress yang lebih tertutup ketimbang yang dipesan Marta dress bermotif bunga-bunga,
Ia menunggu di salah satu cafe. Tidak butuh lama Nicolas akhirnya datang, Ines melambaikan tangan saat melihat Nicolas datang dari pintu.
“Apakah kamu sudah lama menunggu?” tanya Nicolas, wajahnya benar-benar terlihat sangat gugup.
“Tidak , baru sepuluh menit. Koko mau minum apa?”
“Lemon saja, lemon hangat.”
Mendengar lemon hangat, bayangan saat Nicolas melempar gelas hangat yang ia bawakan saat di rumah dulu. Ia hanya tersenyum kecil.
“Bagaimana keadaanmu Nes?” tanya Nicolas.
Ines tersenyum manis, menatap Nicolas lelaki itu menungkikkan kedua alisnya saat Ines tersenyum, tadinya ia pikir Ines akan marah padanya lalu menyinggung kejadian malam itu, rupanya Ines ingin melupakan semua masa lalu .
“Setelah makan tidur ranjang rumah sakit sekarang sudah lebih baik,” jawan Ines lagi.
“Bagaimana keadaan Papi?” tanya Ines.
Ines terlihat lebih tenang santai tanpa beban, tetapi justru kebalikannya yang terjadi pada Nicolas, ia sangat gugup dan gelisah, sepertinya ia punya firasat kalau Ine akan meninggalkannya.
“Udara di sini gerah, bagaimana kalau kita mengobrol di luar sembari menikmati angin malam,” ujar Ines.
“Baik
Mereka berdua keluar dan duduk di taman cafe, Ines leih senang melihat taman ataupun alam hijau-hijau, Nicolas masih menatap Ines.
“Kenapa mengajakku untuk bertemu?” tanya Nicolas dengan wajah tegang.
“Kudengar Koko mau membuka perusahaan.”
“Tidak berhasil Nes, mereka tidak ada yang mau.”
“Oh, kebetulan kalau begitu.” Ines mengeluarkan amplop dari dalam tasnya dan menyodorkan ke depan Nicolas.
“Apa ini?”
“Kakek menitipkan itu untukmu.”
Mendengar kata kakek wajah Nicolas langsung berubah,.
“Aku tidak bisa menerimanya Nes, maaf,” ucap Nicolas mendorong amplop berisikan cek tersebut.
"Kenapa?" tanya Ines .
__ADS_1
"Aku tidak bisa menerimanya, ambil lagi ."
“Kalau begitu kembalikan ke kuburannya, Aku hanya menyampaikan saja. Dia meminta pengacaranya
"
“Lalu bagaimana dengan kamu, Nes?”
“Oh, Aku mau bilang kesepakatan kita sudah berakhir Ko, Ines melepaskan cincin dari tangannya. Koko tidak perlu lagi menjagaku, kamu bebas sekarang.”
‘Apa yang Aku pikirkan akhirnya terjadi juga, dia minta bertemu hanya ingin mengucapkan perpisahan’ ujar Nicolas dalam hati.
“Apa kamu ingin kita berpisah?”
“Ya, mari kita lakukan seperti itu,” ucap Ines tanpa ragu.
“Kenapa? Apa karena malam itu?”
“Ini bukan tentang hanya malam itu atau malam-malam sebelumnya Pak Nicolas , hubungan memang tidak ada apa-apanya, dari awal juga pernikahan kita hanya sebuah.-
“Tapi kamu belum mendengarkan penjelasan ku, kenapa Aku ada di kamar Naura malam itu.”
“Tidak Usah Ko, lupakan saja. Sekalian Aku mau pamit, Aku akan tinggal di Jerman aku akan kembali ke sana.”
“Jadi kamu sudah merencanakan semuanya?” tanya Nicolas dengan wajah memerah.
“Ya, anggap saja seperti itu. Besok Aku akan berangkat.”
“Besok?” Wajah Nicolas memerah.
“Ya, besok, aku berharap Koko bisa bersama wanita yang kamu cintai.”
“Tapi … saat ini, detik ini Aku masih suamimu Nes, harusnya kita bicarakan dan kamu minta pendapatku sebagai suami. Bukan bertindak sendiri.”
“Jangan memilih hal yang rumit Ko, kalau ada hal yang mudah. Aku yakin kamu juga menginginkan hal itu, aku membantumu mewujudkannya.”
“Tidak, Aku tidak mau,” ucap Nicolas dengan marah.
“Kenapa kamu melakukannya, bukankah kita sudah sepakat kalau kakekku meninggal kita akan -”
“Aku tidak pernah menyebut kata berpisah padamu Nes. Tidak pernah,” ucap Nicolas.
“Kamu meninggalkanku saat itu … Lalu itu apa?” ucap Ines.
“Aku tidak menyebut kata pisah Nes. Aku hanya meninggalkanmu.”
“Egois,”ucap Ines kesal, ia merasa perutnya keram karena marah, ia ingin cepat pergi dari sana.
Apakah Nicolas akan berjuang untuk pernikahannya sesuai janjinya pada Darto?
Apakah Ines akan luluh atau akan pergi ke Jerman sesuai yang sudah mereka rencanakan?
Bersambung.
jangan lupa like vote dan komentar ya terimakasih.
__ADS_1