
Nicolas melakukan saran yang dikatakan Ines dan Maminya untuk bicara baik-baik sama Sonia, berharap wanita itu mengerti kalau ia sudah punya keluarga. Bapak satu anak itu menyematkan waktu untuk bertemu Sonia.
Sebelum menemui Sonia ia menelepon Ines.
“Sayang, Aku sudah mau jalan ke cafe, apa yang harus Aku katakan?”
“Bilang saja apa adanya kalau kamu sudah menikah dan sudah punya anak.”
“Bagaimana kalau dia tidak mau mendengar?”
“Kita tidak akan tahu hasilnya kalau tidak mencoba, Ko.”
“Sebenarnya Aku malas … tapi demi kebaikan keluarga kita Aku akan mencoba.”
“Semangat!” seru Ines dari ujung telepon.
“Terimakasih sayang.” Nicolas menutup telepon.
Sebelum menemui Sonia ia sudah meminta orang suruhannya untuk menyelidiki Hendra Kw alias palsu. Namun hasilnya nihil, Nicolas tidak tahu siapa lelaki yang mengaku sebagai dr, Hendra tersebut , parahnya lagi lelaki itu bahkan mengaku sebagai seorang dokter dan menggunakan identitas dr. Hendra.
“Bagaimana?” tanya Hendra menelepon orang suruhannya.
“Maaf Pak, kami tidak mendapatkan apa-apa.”
“Bagaimana dengan Duha?”
“Kami juga tidak menemukan lelaki itu, Pak.”
“Astaga … Apa terjadi sebenarnya. Kepalaku ingin pecah gara-gara mereka semua. Sonia muncul Hendra palsu juga muncul, kalian lebih bekerja keras lagi tambahkan anak buahmu bila perlu.”
“Baik Pak. Oh ya Palk barusan saya mendapat kabar kalau Deon sudah ditangkap polisi.”
“Benarkah?”
“Ya Pak.”
“Baiklah nanti kalau sempat saya akan ke kantor polisi.” Nicolas menutup telepon, wajahnya lelah karena banyak masalah, ia juga terpaksa jauh dari putranya karena para pengganggu itu.
Nicolas ingin menemui Sonia sebelum bertemu ia sudah gelisah duluan, dalam mobil ia beberapa kali menarik napas panjang.
“Aku berharap Sonia tidak lebih gila dari Naura,” ucap Nicolas, lelaki tampan itu tidak tahu kalau wanita itu adalah Naura mantan kekasih yang menggilai dirinya.
“Aisss …! Kenapa hidupku di keliling wanita-wanita gila ini,” rutuk Nicolas.
Mobil berwarna hitam itu berhenti di sebuah cafe di daerah Jakarta Selatan tidak jauh dari kantor Nicolas. Saat ia tiba wanita itu melambaikan tangan dengan senyuman lebar, terlihat bahagia karena Nicolas menemuinya.
‘Tidak sia-sia Aku memakai wajah ini, Nicolas akhirnya mau menemaniku’ ucap Sonia dalam hati.
__ADS_1
“Duduk di sini Beb,” ucap Sonia tanpa sadar, Nicolas hanya menghela napas saat wanita itu memanggilnya dengan sebutan’Beb’ ia tahu panggilan itu biasa diberikan Naura padanya saat mereka pacaran dulu. Ia bahkan tahu minuman kesukaan Nicolas.
“Dari mana kamu tahu minuman yang aku suka?” tanya Nicolas mulai merasa gerah.
“Kita dulu pasangan kekasih saat kuliah loh, lumayan lama … jangan lupakan itu,” ujar Sonia tersenyum bahagia.
“Baiklah Aku datang ke sini, ingin bicara baik-baik.”
“Ok, katakan,” balas Sonia dengan tenang.
“Mungkin dulu kita punya hubungan tapi itu sudah berlalu dan sudah sangat lama saya melupakannya . Sekarang saya sudah menikah dan sudah punya anak.”
“Lalu?”
“Kita tidak perlu lagi membahas masa lalu … tolong mengerti kamu juga perempuan pasti tahu bagaimana rasanya jika suami menemui perempuan lain.”
“Aku belum menikah,” balas Sonia.
“Walau belum menikah, saya pikir sesama wanita kamu dapat memahami.”
“Aku tidak pernah bilang ingin merebut mu dari istrimu, kenapa kamu begitu ketakutan?” tanya wanita itu menatap Nicolas dengan santai.
“Ya Mamiku bilang kamu membawa orang tuamu menemui Mami di rumah sakit.”
“Oh yang itu. Ibuku berteman dengan mamimu.”
‘Bukankah Naura dulu selalu bersikap licik seperti ini?’
“Kamu memang sudah lupa tapi Aku tidak lupa kok, bukti cincin pertunangan kita masih aku pakai,” ujar Naura memamerkan cincin di jemari manisnya.
“Dengar, mungkin kamu salah paham. Saya ingat saat itu saya kasih cincin untuk Sonia, bukan cincin tunangan tapi untuk hadiah ulang tahun, saat itu Sonia merengek minta cincin.”
Seketika wajah wanita itu berubah, ia salah mendapat informasi dari orang yang kenal dengan Sonia di masa lalu.
“Kita bertunangan.” Sonia mengotot .
“Dengar, Aku tidak pernah tunangan dengan siapapun,” ujar Nicolas mulai terbawa emosi.
“Kamu memberikannya. Ingat, sampai saat ini, kita belum ada kata putus, kamu meninggalkanku,” ujar Sonia.
‘Gila kali ini orang kenapa jadi memaksa’ ucap Nicolas kesal.
“Kamu salah, dan mungkin kamu mendapatkan informasi yang salah.” Nicolas membantah karena kenyataannya ia tidak pernah tunangan, Tapi kali ini wanita itu mengaku tunangannya.
“Tidak, aku benar,” ujar Sonia mengotot, sifat Sonia sama persis seperi Naura.
Nicolas merasa sia-sia bertemu wanita itu, karena ia tidak akan melepaskan ya, melihat pembicaraan mereka hanya berputar di situ-situ saja dan Sonia tidak berniat menjauhinya, justru ia mengatakan akan berinvestasi di perusahaan Nicolas. Ia pamit pulang pada Sonia.
__ADS_1
Karena Sonia selalu ingin mendekati Nicolas ia memutuskan pergi ke Jerman untuk melihat istrinya, untuk urusan perusahaan Gunawan yang akan mengurus semuanya.
**
Di kota Berlin seorang wanita cantik berjalan menyusuri kota dengan ,tubuhnya di bungkus jaket yang tebal dan topi dan tidak lupa juga syal yang di lilitkan di lehernya, berjalan menyusuri jalan setapak rambut sebahu berwarna hitam di biarkan tergerai, ia berjalan santai menyusuri salju tebal di sepanjang jalan.
Ines berjalan menuju cafe favoritnya dan kali ini tidak seperti biasanya , pesanan hari ini kopi tubruk khas Nusantara, ia hanya beberapa menit kemudian, ia keluar dari cafe itu membawa gelas di tangannya,sesekali menyeruput kopi panas sembari berjalan, Langkahnya terhenti, wajahnya mekar bola matanya melotot karena terkejut melihat seseorang yang ia cintai berada tepat di depannya.
“Sayang! Kamu datang ke sini gak bilang-bilang.” Ines melompat dan memeluk Nicolas, keduanya berpelukan erat seolah-olah sudah tahun tahun tidak bertemu.
“Aku merindukanmu, makanya aku datang,” ujar Nicolas mulai mengeluarkan rayuan mautnya.
Nikolas ternyata sudah mengawasinya sejak dari keluar dari rumah sakit, ia ingin melihat apa yang dilakukan Ines, hanya mengikuti ketika Ines berjalan santai dengan pakaian musim dingin jaket tebal, sarung tangan dan syal.
“Harusnya kamu mengabari lebih dulu, biar aku melakukan persiapan,” ujar Ines, ia memikirkan apartemennya yang berantakan karena ia terlalu malas membereskannya, sementara Nicolas pecinta kebersihan ia tidak suka melihat kotor dan berantakan.
“Untuk suami sendiri kenapa harus melakukan persiapan.”
“Masalahnya ….” Ines menggantung kalimatnya dan ia tersenyum.
“Kenapa ada yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Nicolas menatap Ines dengan tatapan serius.
“Bukan … bagaimana kalau kamu ngopi di sini dulu lalu aku pulang duluan.”
Mendengar itu ia berpikir kalau Ines menyembunyikan pria di apartemennya.
“Tidak, Ayo masuk.” Nicolas berjalan tergesa-gesa menekan pintu lift dan naik keatas.
“Kamu jangan marah ya.”
“Apa yang kamu sembunyikan dariku.”
Saat tiba di apartemen dia langsung masuk e kamar dapur kamar mandi.
“Apa yang kamu cari?” tanya Ines bingung.
“Siapa yang kamu sembunyikan.”
“Sembunyikan apaan, ngaco ni orang.”
“Lalu apa dong?”
“Ini ….” Ine menunjuk sofa di sana ada baju kotor selimut belum dilipat dan piring kotor bertumpuk.
“Astaga kamu berantakan …”
“Ya itu yang aku bilang jangan marah,” ujar Ines tertawa., sementara Nicolas memegang jantung rasa cemburu hampir saja membuatnya ingin meledak tadi.
__ADS_1
Bersambung