Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Bertemu di Pemakaman


__ADS_3

Ines dan Nicolas masih duduk di bangku  taman rumah sakit.



“Berhentilah menangis nanti kamu pusing,” ucap Nicolas menyodorkan sapu tangan untuk Ines.


“Aku sudah cantik sekarang, apa kamu mau mencintaiku?” tanya Ines, tergambar jelas keputusasaan di wajahnya.


“APA?” Nicolas kaget mendengar pertanyaan  dari Ines.


“Nes … orang jatuh cinta dan saling mencintai bukan karena cantik dan tampan,” ujar Nicolas.


“Kalau begitu kenapa kamu tidak pernah jatuh cinta padaku selama aku menjadi istrimu?”


“Untuk jatuh cinta pada seseorang  butuh waktu untukku,” ucap Nicolas.


“Apa kamu sangat mencintai, Naura?”


“Tolong jangan  membawa-bawa dia dalam masalah kita.”


“Kamu hanya perlu menjawab Pak Nicolas.”


“Aku tidak bisa menjawab itu karna tidak ada kaitannya dengan masalah kita.”


“Ada, setelah kamu meninggalkanku saat itu dia juga bilang padaku kalau dia akan menyusul mu ke London.”


“Dia yang datang sendiri, Aku tidak mengajaknya Nes. Tidak bisakah kamu  jangan membawa-bawa dia, tolong jangan membuatku bertambah sulit. Aku ingin mati rasanya, kalau semua orang menekan ku.” Nikolas menutup matanya dan menghela napas berat.


“Aku tidak akan bisa melupakannya Pak Nicolas. Malam itu kamu melakukannya karena kamu menganggap ku Naura. Apa kamu pikir mudah melupakan itu?"



“Tolong …  jangan mengungkitnya lagi, Aku yang salah, Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku padamu." Wajah Nicolas juga lelah.


“Baiklah,  mari kita pura-pura lagi di depan  kakekku,” ujar Ines. Ia berdiri dan meminta Nicolas memakai cincin pernikahan mereka.


“Maaf Aku kehilangan cincin itu,” ucap Nicolas.


“Baiklah lupakan saja tentang cincin ya, bicaralah kembali dengan kakekku katakan kalau kamu bersedia menjagaku selamanya,” ucap Ines.


Ines menarik napas panjang, ingin rasanya ia menghilang dan melarikan diri ke planet lain agar bisa melupakan  kesedihan yang ia rasakan, ia berdiri ingin pergi.


“Apa tidak lebih baik kita bicara berdua saja?" tanya Nicolas.


“Tidak usah, lagian kita hanya pura-pura.”

__ADS_1


“Apa kamu marah karena aku belum bisa mencintaimu? Lalu bagaimana  dengan kamu, apa kamu mencintaiku?’ Nicolas balik bertanya.


“Ya, dulu aku jatuh cinta padamu,” ucap Ines, lalu ia pergi meninggalkan Nicolas.


Ines rela mengemis cinta pada Nicolas yang penting kakeknya mau menjalani pengobatan, begitu berharganya sang kakek untuk seorang Ines, ia rela tidak melanjutkan kuliahnya di Jerman saat diminta sang kakek untuk menikah.


“Aku tidak ingin dicap aji mumpung … jika waktunya sudah tepat nanti, mungkin hatiku bisa terbuka untuk mu” ucap Nicolas pelan.


Nicolas menemui Darto, ia mengatakan kalau Ines bersedia menerimanya setelah ia membujuknya. Nicolas mengatakan tepat seperti yang dipesan Ines padanya, awalnya Darto ragu dengan ucapan Nicolas, ia berpikir lelaki itu mau karena ingin perusahaan, ternyata Nicolas menolak tawaran jadi pemimpin perusahaan .


“Aku ingin memulai hubungan kami kembali dengan Ines Kek,  bukan karena imbalan yang kakek tawarkan,” ujar Nicolas.


“Kenapa tidak mengambil kesempatan itu? Kamu bisa memperbaiki perusahaan atas nama papi mu.”


“Tidak Kek, Aku ingin memperbaiki hubungan kami dulu, urusan perusahaan biarkan saja, biarkan Oma menerima kekalahannya.”


“Tapi Papi Mu sakit karena hal itu. Kamu bisa menyelamatkan perusahaanmu Kakek akan  bantu lagi.”


 Darto tidak tega  saat mendengar Gunawan sakit. Karena perusahaan  itu  kembali tumbang saat Bu Narti menghentikan  dana ke perusahaan.


Ia melakukan itu karena  Marisa mengingkari janjinya untuk menjaga Ines,  bukan menjaga malah menuduh Ines merusak keluarganya.


“Papi pasti sembuh Kek, dia pasti bisa mengatasi, dan dia akan   menerima  semua yang terjadi,” ujar Nicolas menolak menerima bantuan Darto.


“Aku dan Ines ingin kakek sembuh, dia sangat sedih saat Kakek sakit. Tolong menerima pengobatan lagi Kek, kalau Kakek sehat aku tidak merasa bersalah lagi.”


“Baiklah.”


Setelah mendengar Nicolas dan Ines  bersama kembali  Darto sangat gembira, ia bahkan tidak marah pada Nicolas walau lelaki itu sudah mengaku kalau ia sempat meninggalkan Ines, Darto percaya kalau Nicolas  bisa  jatuh cinta dengan Ines suatu saat nanti, ia juga yakin kalau lelaki itu bisa menjaga cucunya dan perusahaan mereka.


Disisi lain.


Ines izin pada Bu Narti, ia ingin ke makam orang tuanya. Diantar Heru asisten kakeknya, Ines menuju Sandiego Hills, di sanalah Ayah, Ibu, Adik, Neneknya dimakamkan, setelah turun dari mobil Ines  berjalan menyusuri pemakaman mewah itu. Tiba di sana Ines mencurahkan semua isi hatinya di makam  orang-orang tercintanya.



“Mami,  Aku tidak tahu harus mulai dari mana …  Aku iri dengan kalian. Kalian  tinggal bersama di sini dia alam yang indah ini. Kakek sakit keras dia menolak menerima pengobatan,  itu artinya kalian akan  berkumpul di sini, Aku akan tinggal sendirian,” ujar Ines.


Ia duduk di samping makam Maminya, menatap hamparan rumput hijau di pemakaman tersebut,  kuburan mewah itu lebih cocok disebut taman dari pada kuburan. Melihat pemakaman indah itu Ines ingin tinggal lebih lama di sana, ia ingin tidur di samping kuburan Papinya ingin curhat sambil tidur.


“Mereka tidak akan mendengar apapun yang kamu katakan Nes,” ujar seseorang.


Ines  memutar kepalanya menoleh asal suara, ternyata Hendra juga ada di sana, lelaki itu juga sedan mengunjungi makam Papanya. Liam papa Hendra dimakamkan di sana bersama Opa mereka.


“Apa yang  kamu lakukan di sini, Dok?” tanya Ines.

__ADS_1


“Sama seperti kamu Nes, curhat sama mereka berdua, sayangnya Aku merasa dicuekin  makanya  Aku berhenti,” canda Hendra ia duduk melirik makam kecil di tengah kedua orang tua Ines. Adiknya dan Ines ikut dalam kecelakaan  malam itu, Ines selamat kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya meninggal.


“Aku masih ingat …  dulu dia selalu ikut sama kamu,” ujar Hendra.


“Aku tidak  mengingatnya, setelah kecelakaan malam itu, kakek meminta dokter membuang sebagian memori di otakku,” ujar Ines.


Hendra menatap Ines dengan Iba, wanita berparas cantik itu selalu mendapat musibah  setelah kepergian orang tuanya dan sekarang ia menikah dengan lelaki yang sama sekali  tidak pernah mencintainya.


‘Aku berharap kamu mendapat kebahagian Nes’ ucap Hendra dalam hati.


“Nes …”


“Ya.”


“Nicolas suatu saat akan membuka hatinya untukmu, cobalah untuk bersama, Aku tumbuh dan besar bersamanya, dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab.”


“Apa karena kamu  sepupunya jadi membela dia terus.”


“Tidak, dia memang baik,” sahut Hendra.


“Kenapa curhat sama mereka? Apa mau pergi?”


“Ya, Aku akan jalan-jalan keliling dunia. Aku muak dengan persoalan yang tiada habisnya di keluarga kami, lebih baik Aku melarikan diri saja. Apa kamu mau ikut jalan-jalan keliling dunia?” tanya Hendra menatap Ines.


“Aku juga ingin, tapi kakekku … Aku ingin mendampinginya di sisa hidupnya.”


“Nes … Apa kamu tahu kalau Aku dan kamulah yang dijodohkan Opa?”


“APA …?”


“Ya, Aku bahkan masih mengingatnya, tapi saat itu kita masih anak-anak, Aku pikir itu hanya candaan. Tapi kemarin Kakekmu meminta maaf padaku.”


“Kenapa meminta maaf?” tanya Ines bingung, karena ia sendiri lupa masih kecilnya sendiri.


“Karena dia tidak menepati janji sama Opaku katanya.”


Ines terdiam,  kalau ia tidak bertemu Hendra di pemakaman itu ia tidak tahu tentang perjodohan mereka.


“Lalu bagaimana tanggapan, Dokter.”


“Kamu sudah menikah dengan Nicolas dia juga adikku, Aku berharap kamu dan dia bahagia,” balas Hendra.


‘Mungkin jika kakek menikahkan ku dengan dr. Hendra  … mungkin Aku mendapatkan cinta dan perhatian’ ucap Ines dalam hati, hatinya kian runyam setelah mendengar penuturan Hendra.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2