Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Cobaan Datang Lagi, Bisakah Aku Bertahan? 2


__ADS_3

Saat merasakan kebahagian saat bersama Nicolas ia menikmati perlakuan yang sudah lama dia impikan, bahkan impian semua wanita yang sudah menikah, terkadang wanita itu butuh di manja dan di perhatikan walau wanita para kaum hawa tidak memintanya melalui mulutnya.


Ines bahkan  menginginkan selalu  disayang dan di manja suaminya, ia akhirnya mendapatkan semua perhatian Nicolas setelah ia memaafkannya. Ia selalu berharap dan memohon tidak ada yang merusak kebahagian mereka.


Maka saat ini, dia bisa merasakannya itu suatu keberuntungan baginya, tidak tau bertahan berapa lama, tapi jika ada kesempatan seperti ini maka jalanin dan nikmati saja, Tidak tau sampai kapan.


                **


Di sisi lain Sonia tidak terima saat Nicolas menolaknya untuk keduanya, ia sangat marah saat tahu kalau Nicolas memilih menemui Ines istrinya . Tetapi menolak bertemu Sonia.


“Kurang ajar kamu Nico, kamu membuatku terluka lagi, Aku hanya memintamu bertemu  kedua orang tuaku. Tapi kamu menolaknya, kamu memilih bertemu Ines. Aku akan membalas kalian berdua lihat saja,” ujar Sonia wajahnya sangat marah, matanya menatap tajam jiwa iblisnya bergejolak ia sudah menyusun rencana untuk membalas Ines dan Nicolas.


Sonia mulai dengan orang tuanya Nikolas , apa yang di takutkan Gunawan benar juga. Ayah Sonia  beraksi saat Nicolas menolak bekerja sama dengan putrinya. Papi Nicolas baru tahu ternyata Suroto  rentenir yang pernah ia pinjam uangnya untuk biaya perusahaan saat Marisa  yang memimpin perusahaan dan utang itu dilimpahkan atas  namanya. Itu artinya ibu tirinya dan adik tirinya menjadikan namanya untuk penjamin utang mereka.


“Astaga saya tidak pernah punya hutang sampai ratusan miliyar,” ujar Gunawan kaget.


Lalu anak buah yang datang bersama Suroto menyodorkan surat utang piutang lengkap dengan tanda tangannya.


“Bikan kah itu tanda tanganmu?”


“Ya benar, tapi saya tidak pernah melakukan pinjaman apalagi menggunakan atas nama perusahaan ,” jawab Gunawan wajahnya pucat, karena sadar perusahaan itu sekarang bukan milik keluarganya lagi perusahaan itu milik Ines Pratama.


“Ini tidak mungkin,” tutur  lelaki tidak percaya.


Ia menelepon Nicolas memintanya untuk pulang ke indonesia.


“Jangan khawatir sayang aku akan datang lagi,” ujar Nicolas.


“Baiklah, aku berharap wanita itu tidak membuat masalah seperti Naura,” ujar Ines.


“Ya Aku berharap seperti itu.” Nicolas memeluk istrinya dan meninggalkannya


Nicolas pulang ke Indonesia,  ia langsung bertemu Sonia untuk membahas tentang utang yang dilimpahkan sama Papinya. Tapi  Sonia wanita iblis itu sudah menyusun rencana  untuk menjebak Nicolas dan itu berhasil. Nicolas mabuk dan diberi obat perangsang  akhirnya iblis betina itu  berhasil tidur dengan Nicolas.


                           *


Setelah satu bulan di kampung Nicolas kembali ke Jerman tetapi wajahnya sangat berubah merasa sangat bersalah sama Ines.


Sonia  menghancurkan kebahagian Nicolas dan Ines untuk ke dua kalinya. Mampukah Ines bertahan?


Kali ini Nicolas di buat bingung dengan sikapnya  Ines yang acuh padanya.


“Nes kau tidak apa- apa?”


Nikolas mengetuk kamar mandi itu menyadari Ines lama di kamar mandi dan mendengar isakan tangisan juga, dia kembali mengetuk pintu itu, Tapi Ines ternya tidak menguncinya.


Dia melihat Ines meringkuk dan menangis cecekukan, membuat Nikolas penasaran .


“Nes kamu tidak apa” tangannya ingin menggendong Ines dari kamar mandi, Ines menepis tangan Nicolas.

__ADS_1


Tiba tiba Ines batuk- batuk parah dan Memuntahkan semua isi perutnya, di terduduk lemas di sisi kloset kamar mandinya, bahkan cairan ber warna hijau ikut keluar dari perutnya, sepertinya emosinya yang meluap dan tangisan yang di tahan membuat tubuhnya terguncang.


“Kamu tidak apa-apa Sayang?”


“Aku pengen muntah lagi,” ucap Ines kembali mengeluarkan isi perutnya, cairan hijau pekat, jika itu keluar rasanya lidah dan tenggorokan sangat pahit.


“Ada apa sayang, apa kamu merasa sanga sakit? Kamu membuatku takut,” ucap Nikolas terlihat panik.


Nikolas memeluknya dan menepuk- nepuk pundak Ines yang terus muntah.


“Tidak apa- apa sayang muntahkan saja.”


Wajah ines begitu pucat, tapi dia menolak untuk di bawa ke rumah sakit, dia hanya ingin berbaring saja.


“Aku akan membawamu kerumah sakit lagi ya,” bujuk Nicolas.


“Aku tidak apa -apa hanya pusing saja.”


“Iya ampun Nes, kalau kamu sakit parah bagaimana nanti.”


“Kamu mendoakan aku mati, dasar.” Ines marah


“Gak Lah, aku hanya takut.” Nicolas  hanya ingin bercanda dan menghibur


“Pergilah Aku hanya ingin sendiri dulu.”


 Nikolas bertindak kilat menyumpal mulut ines dengan bibirnya, membuat wanita itu terdiam seperti batu mendapat serangan mendadak dari Nikolas,


Wanita itu merasa perlawanannya tidak berarti maka dia hanya membiarkan lelaki itu begitu saja dan menutup kedua matanya,


Melihat Ines tidak ada reaksi dia menghentikan dirinya, mencoba melihat kedalam mata wanita itu dia tidak bisa membaca apa yang ada di sana ,


“Aku menyuruhmu pergi, jika kau ingin pergi” katanya lagi.


“Ada apa Ines? katakana padaku. Aku mohon,” terlihat jelas ada sisi yang begitu rapuh.


“Aku tidak ingin menahan mu.”


Lagi- lagi itu yang kamu katakan, kamu tidak bosan mengusir suamimu.”


‘Karena sepertinya, dia juga membutuhkan.” wajah Ines  kali ini, ia benar benar terlihat marah.


Nikolas menyadari ternyata apa yang di pikirannya benar, perempuan yang tidak gampang menyerah, ia tahu kalau wanita yang di maksud Ines, sudah pasti Sonia memberitahukan apa yang terjadi.


“Apa yang di katakana padamu? jangan dengar apa yang dia katakan.”


“Bagaimana tidak mendengar kalau dia sendiri yang datang menemui ku dan menceritakan semuanya.”


Tapi Nikolas tidak panik ketika Istrinya bilang mereka bertemu, ia menceritakan semuanya,

__ADS_1


“Nes aku sudah bisa paham apa yang di katakan padamu, dia wanita yang gigih” Nikolas tertawa kecut, mendengar usaha wanita itu untuk mendapatkannya. “Dengar sayang, aku memilihmu dari pada wanita sinting itu,


Kamu jauh lebih berharga bagiku dari pada dia. Jadi apapun yang dia katakana percayalah padaku, Aku tidak perlu tau apa yang dia katakan padamu, tapi aku hanya mau katakan padamu, jalan yang kita jalanin kedepannya nantinya akan semakin sulit dan akan banyak kerikil -kerikil tajam yang akan melukai perjalanan kita, Tapi jika kau percaya padaku dan kita tetap bersama yakinlah, kita akan Kuat.


Apa kamu mau?” tanya Nicolas memegang wajah Ines dengan kedua tangannya dan dia berlutut dia hadapannya, membuat wanita itu tidak bisa berkata- kata, dan belum bisa menjawabnya.


Nicolas sadar karena ulah Sonia yang menjebaknya Ines pasti terluka untuk kedua kalinya dan Nicolas merasa sagat bersalah, tetapi itu semua bukan kemauannya ia hanya dijebak.


“Tapi dia bilang kali-“ Ines belum meneruskan omongannya tapi sudah di hentikan Nikolas jari tangannya menempel di bibi Ines.


“Aku tau dia mau bilang kami sudah tidur’kan?”


“Iya itu yang di katakan, terus bagaimana kamu menjelaskannya?’


“Iya nes”


“Apa? Kamu bilang ya?”


“Wanita gila itu memberiku Obat perangsang, Nes apa yang bisa aku lakukan?”


“Kamu.” Ines terlihat emosi .”Kamu sudah menidurinya masih bilang sinting, Bukankah ini habis manis sepah di buang’ kami sama- sama perempuan dan aku bisa tahu perasaanya sekarang,”


“Iya ampun Nes berhentilah bertingkah seperti anak kecil, ini sudah jaman Moderen, bisa saja dia melakukan itu sama laki- laki lain, tidak semua wanita seperti kamu”


“Apa maksud kamu bawa bawa aku…?” tanya Ines


“Perempuan baik -baik seperti kamu,” ucap  Nicolas.


“Terus bagaiman kamu mengatasi wanita yang sudah kamu tiduri, setidaknya kamu bertanggung jawab pada wanita itu.”


“Cukup, cukup sampai di sini jangan membahasnya lagi tentang wanita itu, dia jahat Nes, dia sengaja menjebak ku. Ini sangat memalukan,” ujar  Nicolas.


“Bukanya jika kamu melakukan sesuatu hal kamu akan bertanggung jawab?”


“Aku bilang berhentilah membahas wanita itu Ines. Aku hanya butuh kamu.”


“TIdak, aku hanya butuh kejelasan, bagaimana kau bertanggung jawab sama wanita itu”


Kali ini Nikolas benar- benar lelah, bahkan berdiri saja sepertinya kehabisan tenaga dan pikirannya buntu akibat dari pertanyaan dari Ines.


“Aku lelah, aku akan keluar, ia melangkah ingin keluar meniggalkan Ines.


“Tapi bagaimana dengan kami?” Suara Ines pelan tapi dapat menusuk tepat di telinga Nikolas.


Nikolas berdiri diam menyimak ucapan Ines, Tiba -tiba jantungnya berdetak kencang ia membalikkan badan.


“Apa maksud kamu Nes. Kami? “ Nikolas menatap tidak sabar.


“Aku hamil,” ujar Ines.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2