Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Memulai Perjalanan, Naik Kapal Pesiar


__ADS_3

Ines, Heru dan kedua anak  itu sudah meninggalkan Indonesia, Ines memulai perjalan dari Swedia, dari sana ia  menaiki kapal pesiar mewah seperti keinginan Heru. Tadinya mereka sempat berpikir kalau  Amber akan menangis karena tidak ada maminya.dan papinya,  ternyata saat diajak naik kapal  perhatiannya teralihkan, ia sangat bersemangat karena ada Heru yang selalu ajak keduanya bersenang-senang.


“Apa kamu yakin dia tidak  menangis Ru?” tanya Ines saat mereka ada dalam kapal.


“Tenang saja, dia tidak apa-apa, pacarku bisa mengatasinya,” ucap Heru menatap kekasih barunya  yang sedang bermain dengan kedua anak itu.


“Apa kamu yakin ini yang terakhir?” tanya Ines menatap sahabatnya.


“Mudah-mudahan,” jawabnya santai.


“Aku berharap , kali ini kamu serius lupakan acara balas dendam, fokuslah untuk kebahagiaanmu sendiri,” ujar Ines, dari hatinya yang paling dalam ia ingin Heru menemukan kebahagiannya sendiri.


Ia tahu Heru  rela melakukan apa saja untuk menjaga mereka berdua dengan Marta, maka saat ia tahu Heru menjalin hubungan dengan Dinda istri Axell dan Novi demi membalas perlakuan  buruk yang di lakukan  mereka padanya Ines merasa sedih,  ia meminta Heru untuk menghentikan balas dendamnya.


“Cintai wanitamu dengan tulus Ru, agar kamu mendapatkan cina yang tulus juga,” ujar Ines.


“Baiklah Aku Akan mengingat semuanya. Nes nikmati liburannya jangan pikirkan tentang anak-anak,  Aku bisa mengatasi mereka berdua, lagian ada suster jangan terlalu dipikirkan,” ujar  Heru.


“Baiklah, Aku hanya memikirkan Marta bagaimana keadaanya sekarang , Aku berharap dia bisa berbaikan dengan Hendra,” ucap Ines, ia diam karena memikirkan banyak hal.


“Jangan khawatir, dia baik-baik saja, dia sudah memberikan kabar.”


“Syukurlah kalau dia sudah  berbaikan, Aku tidak merasa bersalah lagi,” ujar Ines menghela napas.


“Apa ada lain yang kamu pikirkan? Apa kamu memikirkan  Nicolas?”


Ines  menggeleng,  menatap Heru dengan ragu-ragu dan menghela napas panjang.


“Ada apa?” tanya Heru.


“Ru, apa kamu tahu kalau Axell tinggal di panti?”


“Untuk apa dia ke sana? Dia tidak boleh datang ke sana,” ujar Heru marah.


“Ru, tadi malam Bi Narti meneleponku, dia bilang Axell memutuskan untuk tinggal di panti karena ….” Ines menggantung kalimatnya.


“Karena apa?”  Heru menghentikan makannya dan meletakkan sendok di atas, ia menatap Ines dengan tataan memburu.


“Kata Bi Narti dia diadopsi dari panti kita.”


“Ha? Maksudnya dia juga anak angkat?” tanya Heru.


“Ya.”


“Ha, ha …!” Heru tertawa garing.


“Kenapa?” tanya Ines menyatukan kedua ujung alisnya.


“Dia meninggalkan Marta karena dia bilang Marta hanya anak panti, ternyata … dia juga sama, hidup ini memang terkadang lucu,” ujar Heru masih tertawa.


“Dia juga baru tahu hal itu,” ucap Ines.

__ADS_1


Heru terdiam sejenak, ia baru ingat kalau orang tua Axell  donatur yang paling loyal ke panti, ia juga pernah  mendengar  orang tua Axell memperingatkan Pak Darto jangan mengatakan apa-apa pada Axell.


“Jadi dia ternyata yang dimaksud,” ucap Heru.


“Dimaksud apa?” Ines bertanya lagi.


“Orang tuanya  Axell meminta data donatur yang paling banyak menyumbang ke panti.”


“Tujuannya …?” tanya Ines,  menyipitkan kedua matanya.


“Dia bilang ingin berteman dengan orang-orang yang punya kelas yang lebih tinggi.”


“Aku bisa tebak siapa yang paling  banyak menyumbang ke panti … keluarga dr. Dinda,” tebak Ines.


“Dugaanmu benar,  pemilik rumah sakit.”


“Lalu menikahkan Axell dan Dinda …,” ucap Ines lagi.


“Tepat,” sahut Heru dengan pelan,   terlintas di benaknya saat itu mereka masih  status pacaran dengan Dinda, tiba-tiba wanita itu minta putus dengan alasan orang tuanya tidak setuju,  karena pekerjaannya hanya asisten Pak Darto juga anak panti, saat itu Heru sakit hati, karena itulah ia  belajar bisnis dengan giat, hingga akhirnya ia dipercaya mengelola perkebunan teh milik Pak Darto.


“Apa kamu sudah melupakannya, Ru.”


“Sudah. Tapi sepertinya dia belum …,” ujar Heru, ia menunjuk layar ponselnya , sebuah panggilan masuk dan pemanggilnya dr. Dinda.


“Kenapa tidak diangkat?” tanya Ines.


“Dia akan marah-marah lagi, biarkan saja,” sahut Heru.


Heru melakukan apa dikatakan Ines ia  akhirnya menerima telepon dari dr. Dinda.


“Halo Dokter.”


“Beb … kamu di mana, Ayo kita bertemu,” ujar dr. Dinda.


“Maaf Aku sudah bilang kalau Aku sedang jalan-jalan ke liling dunia. Apa kamu ingin melihatnya?” Heru melakukan  video call.” Wajah Dinda langsung murung saat melihat Heru bersama kekasihnya di dalam kapal pesiar.


“Apa kamu sedang di kapal pesiar bersama kekasih barumu?”


“Ya,  memang begitu impianku dari dulu, naik kapal pesiar mewah dan menjelajahi  berbagai negara diberbagai  benua.”


“Kau kan sudah berjanji akan mengajakku,” ujar dr. Dinda.


“Maaf Dokter, aku ingin melakukannya dengan orang tercinta,” ucap Heru memeluk kekasih barunya dengan mesra.


“Baiklah … Aku berharap kamu bahagia,” ujar Dinda  bersikap lebih dewasa, ia menerima keputusan Heru yang meninggalkannya.


“Kamu juga semoga mendapat lelaki yang lebih baik,” balas Heru, mereka berdua saling mendoakan.


Dinda hanya membalas dengan senyuman terpaksa, lalu  menutup telepon, Heru terdiam sejenak saat Dinda mendoakannya bahagia, sementara telpon dari Novi tidak diangkat.


                       *

__ADS_1


Disisi lain.


Malam itu  Axell kembali mabuk, ternyata ia tidak sekuat yang  dipikirkan banyak orang.  Saat masalah besar datang menerpa dirinya ia melakukan seperti yang saat itu dilakukan Nicolas yakni melarikan diri ke bar dan mabuk-mabukkan di sana, saat sedang mabuk berat ia menelepon Nicolas dan memintanya datang, sayangnya lelaki itu sedang di luar kota karena pekerjaan kantor.


“Bro, Aku minta maaf karena mengganggumu Aku butuh teman untuk minum.”


“Bro, tidak bisa, Aku lagi di luar kota,” ujar Nicolas.


“Baiklah, Aku akan minum sendiri,” ujar Axell dengan suara berat .


Nicolas merasa kasihan pada Axell, ia meminta Novi untuk menjemput Axell ke bar, tadinya wanita itu keberatan, karena ia selalu bertengkar setiap kali bertemu. Tapi karena ia patah hati sama Heru ia setuju.


“Baiklah Ko, Aku akan menjemput, katakan di bar mana,” ucap Novi.


“Antar saja ke apartemenku,”  ujar Nicolas.


“Baik Ko.” Wanita berambut pirang itu melajukan kendaraannya menuju bar yang disebutkan Nicolas,  saat tiba di  sana Axell sudah mabuk.


“Hadeh … kamu kenapa jadi tukang mabuk begini sih Pak Dokter,” ujar Novi  duduk di samping Axell.


“Eh, Cici Novi, apa yang membawamu ke sini?”


“Menemanimu mabuk, Aku juga patah hati.”


“Siapa laki-laki yang bisa membuatmu patah hati,” ujar Axell tertawa.


Axell tidak tahu kalau Heru juga menjalin hubungan dengan Novi, ia tahunya hanya dr. Dinda yang berselingkuh di belakangnya, ia melarang Novi agar jangan terlalu mabuk tapi wanita itu tidak bisa mengontrol dirinya .


“Tunggu di sini, Aku akan menyewa supir untuk mengantar kamu pulang,” ujar Axell.


“Biar Aku mengantar kamu ke apartemen Nicolas, dia yang minta.”


Niat ingin membantu Axell pulang , siapa sangka  Novi yang malah harus dibantu.


“Aku akan meminta supir untuk membawamu  pulang ke rumah,” ujar Axell.


“Jangan ke rumah Aku tidak ingin Mami melihatku,” ujar Novi.


Axell menurut, ia meminta supir sewaan  itu mengantar  mereka ke apartemen Nicolas, tiba di apartemen Axell masuk ke kamar ternyata di susul Novi, karena mabuk mereka terlibat cinta satu malam lagi. Axell melakukan ke kesalahan untuk ke dua kalinya. Saat ia bangun melihat Novi sampingnya mereka berdua sama-sama terkejut.


“Ya ampun,  apa yang sudah Aku lakukan, Nicolas akan menghajar sampai mati,” ucap Axell merasa bersalah, ia bolak balik minta maaf pada Novi.


“Itu bukan kesalahanmu sepenuhnya, Aku juga salah,” ujar Novi santai, saat Axell takut. Namun sebaliknya  pada Novi, ia bersikap  santai memungut pakaiannya dan melilitkan sprei ke tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi.


“Bagaimana kalau Nicolas dan keluargamu tahu, Aku merasa bersalah,” ujar Axell menutup wajahnya  dengan kesal.


“Ya elaaa … takut amat, tenang saja aku tidaka akan memberitahukannya,. Aku juga tidak akan meminta pertanggungjawaban mu, anggap saja kita sama-sama salah, Aku juga mabuk malam itu dan tidak ingat apa-apa. Sudah Aku mandi,” ujar Novi ia berjalan ke kamar mandi.


Biasanya mereka berdua selalu bertengkar seperti Tom dan Jery setiap kali bertemu, pagi itu Axell mendadak jadi  pendiam, wajahnya  benar- benar malu menatap wajah Novi, walau wanita itu berjanji tidak mengatakan apa-apa.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen ya


__ADS_2