
Saat Ines sudah terbang menuju benua lain, Nicolas masih berada di pulau kapuk dengan segala mimpi. Nicolas masih tidur terlelap di rumah Axel.
ia terbangun saat mendengar suara orang mandi dalam kolam renang, Nicolas bangun menatap sekeliling, belum mengingat apapun malam itu, karena ia dibawa dalam keadaan mabuk, untung di rumah Axell tidak ada orang tua yang melihat Nicolas mabuk.
“Aku di mana?” Nicolas duduk ia melirik foto di atas meja untuk membantu oraknya mengingat.
“Oh, aku di rumah Axell. Mudah-mudahan Aku tidak melakukan hal gila tadi malam," ucap Nicolas lalu ia bangun.
Nicolas berjalan menuju kolam renang, melihat Axell berenang sendiri.
“Kamu sudah bangun sini, jeburkan dirimu,” pinta Axell.
“Tidak, aku lagi malas, kepalaku pusing,” Nicolas menolak.
“Biar kesadaranmu pulih. Kamu kerjanya mabuk mulu Bro.” Axell naik, menyeret Nicolas masuk ke dalam air.
“Aku tidak mau!”
“Letakkan ponsel dan dompetmu kalau kamu tidak mau basah kuyup!”
“Baik, baiklah.”
Nicolas tidak bisa menolak , ia menurut meletakkan ponsel dan dompetnya di pinggir kolam renang dan menceburkan diri ke dalam kolam renang.
“Apa aku melakukan hal gila lagi kali ini?” tanya Nicolas.
Ia sadar, setiap kali mabuk akan membuat masalah.
“Setelah kejadian hari itu. Harusnya kamu jangan mabuk lagi, Bro” ucap dokter tampan itu mengingatkan Nicolas
“Aku tidak bisa mengatasinya, makanya Aku mabuk.”
“Mabuk kali ini karena apa lagi?” tanya Axell.
“Karena dia … Tunggu jam berapa sekarang?” Tiba-tiba Nicolas ingat kalau Ines mengatakan malam itu kalau ia akan berangkat besok pagi.
“Jam sembilan pagi. Kenapa?” Axell balik bertanya.
“Oh tidak mungkin, jangan seperti ini….”Nicolas panik lalu keluar dari kolam renang meraih ponsel dan menekan nomor Ines, tetapi nomor itu tidak aktif lagi, dia sudah terbang. “Oh sial, dia sudah pergi, Aku akan ke sana.”
“Tunggu, Aku akan mengantarmu tapi tenang. Kamu ganti pakaian dulu.”
__ADS_1
Axell juga menyudahi berenang masuk kedalam kamar, memberikan pakaian ganti untuk Nicolas setelah ia mandi, saat membuka lemari, ia baru ingat saat ia ke rumah sakit, Ines menjatuhkan kotak kado dari tasnya. Saat ia dan Marta saling menangis atas kematian kakek mereka, kotak itu ia memasukkan saku jaketnya.
“Oh, Aku baru ingat … saat kakeknya meninggal malam itu, Ines menjatuhkan kotak kado ini dari tasnya saat dia menangis.”
Ia menyodorkan kotak yang dibungkus kertas kado berwarna coklat itu pada Nicolas.
“Kenapa ada padamu?” tanya Nicolas menerima dari tangan Axell.
“Aku juga melupakannya karena ikut sibuk mengurus surat kematian Pak Darto sat itu, Aku memasukkannya ke saku jaket dan meletakkannya di jok belakang mobil, saat Bibi beres-beres kemarin dia menemukannya. Itu untukmu kan karena hari itu kamu ulang tahu.”
“Ya, itu untukku, dia juga sudah mengirim fotonya malam itu.” Nicolas menunjukkan sebuah foto yang dikirim Ines padanya.
“Coba buka, Aku penasaran apa kado yang diberikan Ines padamu.”
“Nanti saja, kita ke rumah Marta dulu.”
“Mereka sudah pergi,” ujar Axell dengan wajah dingin.
“Dari mana kamu tau?”
“Karena Marta juga ikut.”
“Apa kamu punya hubungan dengan Marta?” tanya Nicolas menatap Axell.
“Dulu? Jadi Marta mantanmu?”
“Mama tidak setuju karena dia anak yatim piatu.”
“Marta tidak punya orang tua juga?”
“Marta dibesarkan di panti asuhan ‘Rumah Peduli’ milik kakek Ines dia besar dan tinggal bersama Ines di sana. Apa Ines tidak pernah cerita?”
“Hubunganku dengan Ines singkat dan menyakitkan Bro, Kami belum dalam tahap itu. Jujur Aku sangat menyesal telah menyakitinya, kalau bukan Oma yang mengarang cerita yang mengatakan hal buruk tentang Ines aku tidak akan sebenci itu padanya.”
“Bukan karena dia jelek kamu membenci dia?”
“Bukan, saat itu Aku merasa harga diriku sebagai lelaki begitu rendah karena dibeli seorang perempuan kaya. Setelah kejadian malam itu Mami memberitahu kalau itu semua kerjaan Oma, Aku sangat menyesal, Sebenarnya hari ini Aku berencana akan mengajak Ines tinggal bersamaku memulai lembaran baru. Sayang dia tidak memberiku kesempatan kedua.”
Apa kamu tidak menyadari kalau kita berdua telah menyakiti anak yatim piatu.”
"Ya, kamu benar."
__ADS_1
Axell dan Marta saling mengenal saat keluarga Axelll jadi pendonor di panti asuhan milik Darto, dari sejak itu Marta sanga mengangumi Axell, ia bahkan bertekad jadi perawat agar bisa dekat dengan Axell. Namun, hubungan mereka ditentang keluarga Axell terutama Mama Axell. Papa Axell seorang pejabat Mamanya ingin punya besan pejabat juga, karena itulah meminta Axell memutuskan hubungan dengan Marta. Marta juga sempat mengalami depresi setelah diputuskan Axell. Namun, setelah dibantu Bu Narti dan jelaskan sama Axell alasan putus. Marta akhirnya menerima putusan Axell dengan lapang dada. Ia pindah dari rumah sakit di mana Axll bekerja.
“Aku baru tahu kalau Marta mantan kamu Xell.”
“Itu masa lalu, Aku sudah melupakannya. Aku berharap dia menemukan lelaki yang baik. Jadi percuma saja kalau kamu pergi ke sana, mereka sudah pergi jam tujuh pagi tadi. Buka saja kadonya.”
“Aku selalu melakukan kesalahan dalam hidupku. Harusnya aku bicara bai-baik dengannya malam itu,” ucap Nicolas, ia membuka kado dari Ines.
Dalam kotak persegi empat itu ada jam tangan dari merek terkenal ,Nicolas menatap jam tangan itu dengan wajah sedih.
“Jam tangan,” ucap Nicolas memakainya jam itu di tangan.
“Wah,Ines tahu bangat selera kamu, dia tahu kamu suka jam tangan.” Axell membaca merek dalam kotak jam tersebut, ada harga ada barang,” sambung Axell lagi.
“Mungkin dia mengingatkanku untuk ingat waktu.”
Saat ingin menutup kotak kado tersebut, Nicolas melihat lapisan bawah ada sesuatu yang terbungkus.
“Apa ini?” Nicolas membuka benda yang dibungkus dengan kertas ucapan .
“Oh! Ines hamil?” Mata Axell melotot karena terkejut, saat Nicolas melepaskan bungkus benda bertanda garis dua itu.
“Oh … A-Apa ini benar?” Nicolas memegang kepalanya dengan panik. “Bagaimana Ini! Dia hamil anakku dan dia … pergi! A-aku harus menyusul ke Jerman.”
“Tenang, tenang dulu Bro …,” bujuk Axell memegang pundak Nico yang berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat.
“Bagaimana Aku bisa tenang Xell. Dia ingin memberiku kado , pantas saja malam itu dia bilang kado spesial. Oh God, Ines hamil anakku tapi dia pergi meninggalkanku. Apa yang terjadi? Kenapa dia melakukan itu?”
“Kalau aku tidak menemukan kotak kado itu, itu artinya kamu tidak akan tahu kalau Ines hamil. Lalu kenapa dia tidak mengatakan kebenaran itu tadi malam padamu?”
“Aku tidak tahu. Makannya kita harus mencari tahu.” Nicolas berjalan mondar mandir bagai mobil-mobilan.
Kotak kado yang diberikan Axell pada Nicolas menambah kepanikan pada Nicolas.
Apakah Nicolas akan menyusul Ines ke Jerman?
Apakah Bu Narti akan mengatakan sesungguhnya pada Nicolas?
Ikuti terus cerita menarik mereka.
Bersambung.
__ADS_1
Bantu subscribe like komen ya Kakak