
Ines masuk kembali ke kamar kakeknya, di sana sudah ada Nicolas, Bu Narti dan Marta, ia pura-pura tersenyum walau hati sebenarnya terluka karena ibu mertuanya memintanya berpisah dengan Nicolas.
"Kamu dari mana?" tanya Nicolas.
"Dari kamar mandi. Kenapa apa Kakek mencari ku?"
"Tidak , Aku pikir kamu pergi lagi tadi, Nicolas duduk di samping Ines."
‘Aku pikir setelah aku berubah cantik ada yang berubah, Aku pikir Nicolas punya sedikit perasaan padaku, ternyata Aku salah’ Ines membatin, ia memakan potongan buah yang di atas meja.
Mereka mengobrol santai dan mendengar cerita Bu Narti tentang anak-anak panti yang menangis saat mereka tahu kalau kakek Ines sakit.
“Mereka minta ikut,” ucap Bu Narti.
“Aku juga merindukan mereka semua. Apa Heru bisa mengurus semuanya, Bu?”
“Dia bisa mengatasi semuanya, dia mengatur semua tugas anak-anak,” balas Bu Narti. Wanita baru saja datang dari kampung membawa segala cerita anak-anak panti asuhan Darto.
“Aku ingin Nicolas menggantikan ku mengatur semuanya,” ucap Darto, melirik Nicolas yang duduk di samping Ines.
“Aku belum siap Kek, nanti kalau Aku siap akan Aku kabarin,” ujar Nicolas, ia melirik Ines yang hanya diam sedang memikirkan sesuatu, tangannya tidak berhenti memasukkan potongan buah ke mulutnya.
“Apa kamu baik-baik saja,” bisik Nicolas ia mendekatkan tubuhnya ke arah Ines.
“Hem, baik.”
“Nes, kakek bosan di sini, bisakah kita besok jalan-jalan?”
“Baik Kek, mari kita lakukan seperti itu,” ucap Ines wajahnya dipaksa tegar.
*
Dua minggu kemudian.
Keadaan Darto semakin baik, ia menerima perawatan yang diberikan dokter, terlebih Ines sendiri yang merawat Darto, ada kebanggaan tersendiri baginya saat ia merawat Darto.
Hari itu Ines mengajak Darto untuk jalan-jalan keliling rumah sakit, Ines menolak bekerja di rumah sakit yang pertama. Ia memilih bertugas di rumah sakit swasta rumah sakit yang sama dengan Marta, ia tidak ingin melihat keluarga Nicolas dan Naura bolak balik di rumah sakit tersebut. Karena Gunawan Papi Nicolas masih di rawat di rumah sakit, sudah hampir tiga minggu tapi keadaannya semakin memburuk. Tidak ingin saling bertemu Ines memindahkan Darto ke rumah sakit lain. Sementara Hendra sudah berangkat jalan-jalan ke luar negeri.
“Nes, kamu merasa nyaman kerja di rumah sakit mana? Di sini apa di rumah sakit yang pertama?” tanya Darto saat mereka duduk di halaman rumah sakit.
“Aku suka di sini Kek, terkadang rumah sakit pemerintah itu terlalu banyak aturan jadi susah diajak maju,” pungkas Ines.
“Ya, kamu benar kalau begitu, kakek akan mengajak rumah sakit ini untuk bekerja sama dengan perusahaan kita juga.”
“Baik Kek.”
__ADS_1
“Aku ingin Nicolas dan kamu punya saham di sini,” ujarnya kemudian.
‘Nicolas, Nicolas lagi … bisa gak kakek melupakan lelaki itu, Aku tidak suka menyebut namanya terus menerus’ ucap Ines dalam hati. Walau ia tidak suka, Ines hanya bisa mengangguk setuju, ia tidak mau sang kakek banyak pikiran.
“Baiklah Kek, lakukan saja.”
“Tapi kenapa hari ini dia belum datang?”
“Katanya dia lagi ada pekerjaan di luar kota Kek, mungkin nanti sore datang,” balas Ines.
“Nes, Nicolas lelaki yang baik, percaya sama Kakek, kamu harus percaya padanya,” ujar Darto.
‘Kenapa semua orang memuji Nicolas, tapi aku belum menemukan kebaikan darinya. Apa karena Aku terlalu membenci dia hingga Aku tidak bisa menemukan kebaikan darinya.
“Baik Kek … lakukan apa yang menurut kakek baik,” ujar Ines, tidak mau membantah apapun yang diminta dan dikatakan sang kakek.
Tidak lama kemudian Marta datang, ia ingin membawa Darto minum obat membawa ke kamarnya kembali.
Ines berdiri di taman melipat tangan di dada, ia beberapa kali menghela napas panjang.
“Apa Aku gembira atau menangis untuk hal ini,” ucap Ines.
“Kenapa wajahnya seperti itu, mikirin apa?” Marta datang lagi menemani Ines .
“Ta. Bagaimana menurutmu kalau perusahaan kita bekerja dengan rumah sakit ini?” tanya Ines mengalihkan pembicaraan.
“Ya,” jawabnya berbohong.
“Katakan padaku apa yang menjadi beban pikiranku dengan begitu aku bisa membantu kamu.”
“Ta … Aku, ah sudahlah.” Ines tidak jadi menceritakan apa yang dipikirkan.
“Ada apa? Kalau kamu menyimpan sendiri yang ada kamu sakit kepala Nes. Apa tentang Naura yang datang kemarin?”
“Dia memintaku meninggalkan Nicolas.”
“Dasar iblis betina, berani- beraninya dia memisahkan orang yang sudah menikah. Apa dia tidak berpikir kalau pernikahan itu tidak boleh dipisahkan manusia.”
“Ibu mertuaku mendukungnya, Ta.”
“Kalau bukan kakekmu yang memilih Nicolas, Aku juga akan memintamu meninggalkan lelaki itu, dia kenapa hanya diam saja sih.”
Saat lagi mengobrol serius Marta di panggil masuk ke dalam tinggallah Ines yang berdiri dengan wajah cemas, ia akhirnya memberanikan diri menelepon Nicolas.
“Aku ingin bicara hal penting, boleh kah kita bicara?”
__ADS_1
“ Apa ada hal yang sangat penting? Tidak bisakah kita bicara ditelepon?”
“Tidak, ini antara kita berdua.”
“Baiklah nanti aku akan datan,” Ines menutup teleponnya
Sore itu Ines menunggu Nicolas, ia ingin menunjukkan sesuatu padanya, ia beberapa kali menghela napas karena gugup.
Disisi lain Nicolas dan keluarganya lagi mendampingi Gunawan.
“Siapa Ko?” tanya Linda, wanita duduk di ruangan suaminya mereka sangat sedih kondisi Gunawan semakin memburuk.
“Itu Ines Mi.”
“Mau apa dia?”
“Dia ingin bicara hal yang penting denganku,” katanya.
“Kalau ada yang ingin Ines bicarakan sebaiknya temui dia,” ucap Linda.
Wajah Naura menunjukkan wajah licik, kedua orang tuanya ada di sana juga, orang yang membantu biaya rumah sakit ayah Naura, itu cara dia mencari simpati Nicolas.
Mendengar Nicolas ingin menemui Ines ia berpura-pura pusing dan ingin pingsan.
“Kamu tidak apa-apa Nak?” tanya Linda membantu duduk.
“Aku sangat pusing Mi, kurang istirahat.”
“Kamu boleh istirahat di rumah kamu pulang duluan saja,” pungkas Ayah Naura mereka juga tidak tahu rencana apa yang di akan dilakukan Naura.
“Aku tidak kuat menyetir Bu, boleh gak Nicolas mengantarku pulang,” ujar Naura.
Linda langsung paham kalau semua itu akal-akalan Naura, ia tidak meminta Nicolas membantu, dia membiarkan Nicolas yang menjawabnya.
“Nico, boleh Tante minta tolong untuk antar Naura pulang?” tanya Ibu Naura.
Kalau sudah begini setan sekalipun tidak akan mampu menolak, Nicolas memikirkan banyak hal termasuk biaya pengobatan papinya yang mahal .
“Baik Tante.” Nicolas mengajak Naura pulang
“Aduh, aduh … kepalaku sangat sakit.” Nicolas terpaksa memapahnya ke dalam mobil, entah apa yang direncanakan si licik Naura ia memberi kode jari tangan ke arah belakang.
Sementara Ines sudah menunggu Nicolas di cafe di samping rumah sakit.
Apakah Nicolas bertemu Ines malam itu?’
__ADS_1
Bersambung.