
Sebelum Ines pergi ke Jerman.
Sebenarnya pikirannya masih di penuhi ribuan pertanyaan yang memenuhi otak cantiknya, Bagaimana tidak? Di saat seperti inilah dia membutuhkan sosok seorang suami yang mendampinginya. Tetapi ia sadar suaminya juga dalam situasi yang sulit bahkan dikabarkan meninggal.
‘Aku berharap kamu baik-baik saja, sayang’ bisik Ines dalam hati, membaca surat kabar tentang suaminya hatinya sedih, tetapi ia menahan diri tetap bersikap tenang, ia yakin sang suami pasti selamat.
“Nes. Bibi sangat khawatir pada kandunganmu, khawatir pada Keanu, Marta, Heru. Andai kakekmu masih hidup,” ujar Bu Narti mengusap sudut kedua matanya.
"Bi, aku baik- baik saja percayalah. Jangan biarkan Hendra kw itu ikut denganku,” ucap Ines pada wanita yang duduk di sampingnya
"Sayang, itu demi kebaikanmu dan anakmu, percayalah untuk saat ini, kita membutuhkan sosok laki-laki untuk menemanimu, kita dalam masalah sulit saat ini , Bibi tidak akan mampu lagi menjagamu , Heru juga sedang terbaring di rumah sakit, tubuhku sudah renta,” kata wanita itu dengan tatapan mata yang berkaca-kaca, menyiratkan kesedihan di dalam pelupuk matanya.
Luka seorang orang yang menyaksikan penderitaan anaknya ditinggal suaminya saat sedang hamil.
“Pergilah dari sini, lebih baik kamu menjauh dari sini. Keanu serahkan sama Bibi kami akan menjaganya, laki-laki itu tidak akan melepaskan mu nanti,” bujuk Bu Narti.
Hati Ines jauh lebih sakit, melihat wajah sedih Bu Narti, hampir setengah dari hidupnya di korbankan untuk menjaga mereka, layaknya seorang ibu. Ines sangat sayang pada Bu Narti.
"Apa Bibi membenci Nicolas ?" tanya Ines
Bu Narti tidak langsung menjawabnya, dia menimang pertanyaan Ines, Ia hanya menggelengkan kepalanya, dengan tatapan mendung, ada gumpalan awan gelap di pelupuk matanya, awan mendung yang siap tumpah ke bumi, ia ingin percaya tapi nyatanya Nicolas tidak ada di sana.
"Aku tidak peduli dengan yang lain sayang , wanita tua ini ... hanya peduli pada cucuku Keanu dan anakmu ini.”
"Bi, tidak usah khawatir ada Rio yang akan menjaga kami nantinya,” kata Ines.
“Jangan membenci Nicolas Bi, suatu saat nanti kami berdua akan menjelaskan semuanya. Aku percaya pada Nikolas, aku akan menunggunya, dia punya alasan melakukan itu aku tau itu bukan kemauan hatinya, Bi percayalah padanya.
Pilihan itu mungkin sangat berat untuknya dan Bibi pasti tau kenapa dia memilih jalan itu.” Ines mencoba meyakinkan Bu Narti
__ADS_1
Semua keluarga masih bingung dan marah atas pilihan Nicolas, tapi Ines dan Nicolas belum bisa menjelaskan semuanya pada mereka. Mereka berdua takut, Suroto memata-matai mereka, jadi tidak menjelaskan alasan Nicolas kenapa menikahi Sonia.
"Aku tahu sayang' karena hal itu juga aku menyuruhmu pergi menjauh, ada ancaman yang membahayakan dirimu dan anakmu, Pergilah aku mohon,” bujuk Bu Narti.
Butuh pertimbangan untuk melakukan permintaan Bu Narti, didalam hatinya dia masih menunggu suaminya datang dan membawanya pergi. Tapi kabar kematian Nicolas memaksa Ines harus tetap pergi.
"Aku sangat sedih karena meninggalkan Keanu Bi.”
"Begitu juga dengan aku Nes. Aku akan jauh merasa terluka jika kau terluka.
Tugas orang tua melindungi anaknya, jika ada bahaya di depan mata orang tua akan melarangnya untuk melangkah, hidup bersama Nikolas sangat berbahaya, jika kamu bersamanya kamu juga dalam bahaya, jika ada bagian tubuhmu yang membusuk apa yang kamu harus lakukan?” Ia bertanya pada Ines
"Kita akan memotongnya Bi, agar tubuh yang lain tidak terjangkit penyakit atau ikut membusuk juga,” jawab Ines
"Iya, Kamu dan dia seperti itu."
Penuturan Bu Narti membuka matanya, ada hal buruk yang selalu mengawasi keluarganya.
"Nes. Ayo kita pergi bersama. Kebetulan saya juga akan ke Jerman,” bujuk Hendra kw .
Mendengar itu wajah Ines di selimuti kemarahan
"Pak, aku sudah hamil, tidak bisa kamu memahaminya, tolong jangan memaafkan ku. Apapun masalahmu di masa lalu dan siapapun kamu , tolong jangan mengusik hidup kami,” ujar Ines.
"Itulah alasanku Nes, untuk melindungi mu dan anakmu, mereka tidak yakin kalau Nikolas benar benar menikahi wanita itu, mereka ingin menyingkirkan dengan kita menikah. Barulah mereka melepaskan kamu dan Nikolas juga akan selamat,” kata Hendra terdengar licik.
"Kamu gila, Aku masih istri Nicolas!” pekik Ines, mendengar lelaki itu mengajaknya berpisah dengan suaminya, lalu mengajak menikah, Ines sangat murka.
" Aku tau Nes. Kalau begitu kamu boleh memanfaatkan aku. Katakan pada Suroto dan orang-orangnya kalau kita sudah menikah dan kamu sudah bercerai dengan Nicolas dengan begitulah Suroto melepaskanmu,” ujar Hendra.
__ADS_1
“Astaga, demi apapun aku tidak mau,” ujar Ines tegas
Bu Narti merasa heran kemanapun mereka pergi atau bersembunyi orang Suroto tetap saja bisa menemukan mereka, Ia merasa ada orang dari antara mereka yang sengaja membocorkan keberadaan Ines, makanya ia merasa kalau hidup Ines dalam bahaya besar.
"Aku tidak akan memaksa perasaanmu padaku Nes, tapi biarkan aku menjagamu,” ujar Hendra.
" Tapi rasanya aneh, Apa Bapak bekerja sama dengan Suroto?” tanya Ines entah kenapa ia sangat membenci laki-laki yang bernama Hendra tersebut. Karena pria itu tiba-tiba saja ingin mengajaknya menikah.
‘Aku yakin ... dia dan wanita bekerja sama, dia bertugas menggodaku dan lalu Sonia untuk Nicolas. Ya ampun apa yang harus Aku lakukan’ tanya Ines dala hati.
“Tidak Ines, Aku hanya ingin menjaga kamu dan keponakanku. Nicolas bilang dia akan menemui kita di Jerman. Kamu bisa melahirkan dengan tenang di sana,” ujar Hendra palsu.
Ines tidak bisa berpikir lagi, di satu sisi ia tidak ingin keluarganya dalam bahaya, di sisi lain ia tidak ingin pergi dengan pria yang mengaku bernama Hendra tersebut. Ines tidak bisa menghubungi suaminya karena saat itu Nicolas masih belum bangun setelah di lempar ke dala sungai. Setiap kali Ines berusaha menghubunginya, Hendra palsu seolah-olah mengikutinya.
“Apa yang harus Aku lakukan Bi?” tanya Ines panik.
Bu Narti memegang dadanya, ia tidak tahu harus berbuat apa , ia merasa nyawa keluarganya dalam bahaya. Heru diteror di rumah sakit dan Ines selalu diikuti orang asing.
“Pergilah Nak, bibi sudah mempersiapkan jet untuk membawamu ke Jerman,” ujar Bu Narti.
“Aku tidak butuh Hendra Bi, nanti apa kata Nicolas,” bisik Ines.
“Kalau dia memintamu menikah jangan mau. Jika harus kepepet, katakan tunggu sampai kamu lahiran,” bisik Bu Narti.
"Bibi akan menunggu di sini.. Pergilah dengannya kalau kamu yakin dia Hendra palsu ini kesempatan kamu mendapatkan bukti," ujar Bu Narti.
"Baik Bi."
Ines akhirnya setuju berangkat bersama Hendra palsu ke Jerman demi keselamatannya dan bayinya
__ADS_1
Berdambung