
Setelah Hendra meninggal banyak yang mendukung Marta dan Axell, ternyata ibu Amber itu menolak, ia sudah berjanji akan sendiri selamanya hingga menua.
“Apa kamu tidak membutuhkan pendamping, Ta?” Ines duduk di samping marta
“Tidak tidak ingin membuka hati pada pria lain lagi,” ujar Marta.
“Tapi kamu masih muda,” ujar Ines.
“Terus bagaimana dengan kamu Nes, kenapa tidak menerima Nicolas samai sekarang,” balas Marta
“Belum kepikiran ke sana,” sahut Ines membuang tatapannya ke tempat lain, sudah lama berlalu tapi Ines belum juga mau menerima Nicolas, banyak yang menyebut Ines egois dan keras kepala , tapi hatinya tidak bisa dipaksa. Sementara Nicolas lelaki yang hebat, ia mampu berjuang untuk mendapatkan hati Ines kembali.
“Susah ya … memaafkan seseorang yang pernah melukai hatimu?” tanya Marta.
“Mungkin karena Aku sudah nyaman dengan sendiri dan bebas tanpa yang ngatur-ngatur.”
“Kamu salah Nes, dia masih suamimu, tidak melayani nafkah batin suami justru dosa, kamu tidak bebas, Nicolas selalu mengawasi mu dia hanya tidak ingin membuatmu bertambah marah,” ujar Marta.
Nicolas harus bekerja keras untuk membuang kebencian di hati Ines, setelah kepergian Hendra lelaki tampan itu harus menggantikan peran ayah untuk kedua anak mereka. Saat semua orang sudah bisa menerima Nicolas rupanya belum untuk Ines.
Setelah beberapa lama bersabar dan selalu menjaga perasaan Ines, Nicolas mulai kehabisan kesabaran, ia pindah ke rumah Ines.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Ines dengan tatapan tajam, sat Nicolas datang membawa koper ke rumah Ines.
“Aku mau tinggal di sini, berangkat dari apartemenku ke kantor itu sangat jauh, itu membuatku merasa kelelahan,” ujar Nicolas menyeret kopernya ke lantai atas.
“Tapi Aku akan belum memberi ijin,” ucap Ines.
“Ah, masa suami ingin tinggal sama anak dan istrinya harus ijin,” ujar Bu Narti, ia datang dari belakang, ia selalu team pembela Nicolas.
“Ya benar, anak-anak juga ingin aku tinggal sama mereka,” sahut Nicolas dari tangga dan berjalan santai menuju kamar.
Marta tersenyum lucu, melihat muka cemberut Ines, Marta dan Bu Narti mendukung Ines kembali berbaikan sama Nicolas.
“Bi,aku sama Marta bisa menjaga mereka berdua,” balas Ines.
“Hus … anak-anak butuh sosok ayah yang menjaga mereka,” jawab Bu Narti lagi.
“Kan Ada Heru,” tambah Ines.
“Heru jarang ke Jakarta, dia lebih banyak mengurus perkebunan dan mengurus panti, jadi jangan harapkan dia, dia bisa datang satu bulan sekali ke sini sudah syukur kamu harus mendukung saudaramu itu untuk menikah, biarkan dia bahagia, selama ini waktunya dihabiskan untuk menjaga kalian berdua,” ujar Bu Narti.
__ADS_1
“Tapi Aku tidak suka melihatnya di sini, Bi.”Ines mendumal.
“Kalau sudah menikah sebaiknya tinggal bersama demi anak-anak. Jangan terlalu membenci suamimu, cobalah untuk memaafkan, tidak baik marah terlalu lama.” BU Narti metnasihati Ines.
*
Mendengar Daddynya tinggal di rumah mereka kedua anak itu melompat kegirangan , karena Nicolas akan lebih sering mengajak mereka bermain.
Saat malam rupanya Nicolas menunggu Ines di balkon mengajak Ines bicara.
“Kita butuh bicara Bu Dokter,” ujar Nicolas berjalan menuju balkon di ikuti Ines.
“Ada apa?” tanya Ines memberi jarak pada suaminya, ia seperti wanita yang tidak pernah dekat sama laki-laki.
Nicolas sudah mulai mengerti tentang Ines setelah diceritakan sama Marta dan Bu Narti, ia menatap Ines dengan dalam, seketika wajah Ines memerah bagai udang.
“A-ada apa jangan mendekat,” ucapnya menolak ia merentangkan telapak tangan tanda stop.
“Siapa yang mau mendekat, orang mau mengambil gelas kopi,” ujar Nicolas meraih delas di samping Ines, tetapi gerakan tubuhnya sengaja di merapat ke tubuh istrinya, seketika tubuh Ines diam seperti patung pancoran, ia tidak berani bergerak agar tubuh tidak kena pada Nicolas.
“Apa kamu baik-baik saja? bernafas lah,” ujar Nicolas, Ines dengan polosnya bernapas pelan. Nicolas menahan tawa, ia semakin yakin kalau cerita Marta benar kalau Ines tidak pernah pacaran dan takut sama lawan jenisnya karena trauma masa lalu.
“Masa sama suami sendiri tidak nyaman, Aku jadi semakin penasaran,” ujar Nicolas menatap bibir mungil Ines.
“Apa yang kamu pikirkan, jangan berpikir macam-macam atau aku akan memukulmu dengan Vas bunga ini,” ujar Ines mengancam.
‘Aku tidak perduli sekalipun kamu mendorongku dari balkon ini, kesabaranku sudah habis menunggu hatimu terbuka’ ucap Nicolas membatin.
Ia mendekat dan menarik tangan Ines untuk duduk di sofa lalu ia menahan kedua tangannya dan mencuri satu kissing dari bibir Ines, ia melakukannya dengan nekat.
“Apa yang kamu lakukan?” pekik Ines, ia marah wajahnya memerah menahan emosi.
“Karena suami tidak mau melayaniku jadi Aku mengambil hakku dengan paksa, habisnya kamu tidak mau memberikannya padaku,” balas Nicolas dengan santai.
“Kamu pikir apa … diberikan padamu,” ujar Ines berontak ia mendorong tubuh Nicolas, tapi kekuatan laki-laki dan perempuan sangat berbeda, Ines tidak bisa melawan tubuh Nicolas, lelaki itu menatap dengan senyuman nakal, semakin Ines marah, semakin Nicolas tersenyum puas.
“Lepaskan Aku aku akan berteriak,” ujar Ines.
“Berteriaklah … katakan, Aku dicium suamiku lalu lihat apa mereka akan menolongmu atau akan menertawakanmu,” ujar Nicolas.
“Kenapa harus ditertawakan, kan, Aku minta tolong karena mengalami kekerasan dari kamu.”
__ADS_1
“Ciuman bukanlah kekerasan Ines Pratama,” ujar Nicolas memutar bola matanya, baru kali ini ia mendengar kalau aktivitas bibir suami istri dikategorikan kekerasan dalam rumah tangga.
“Kan, kamu melakukannya tanpa se ijinku,” balas Ines tidak mau kalah.
“Kamu sudah punya anak, umur sudah tua otak minim dalam hal kissing makanya jangan keras kepala biar aku ajarin,” ucar Nicolas, ia semakin berani karena sifat Ines sedikit berubah.
“Apaan yang mau diajarin,” ucapnya ingin berdiri dari sofa tapi Nicolas menahan tubuhnya lagi.
Mata wanita cantik itu membesar ia menatap sang suami dengan panik, belum juga mengatakan apa-apa Nicolas kembali membungkam mulutnya dengan bibirnya, saat ia ingin memberontak ia menjadikan anak-anaknya jadi alasan.
“Diamlah nes, anak-anak nanti bangun kalau kamu melawan, kamu mau mereka berdua melihat kita?”
“Lalu … Aku harus diam, saat kamu melakukan itu padaku?” tanya Ines setengah berbisik.
“Ya, diam dan coba tutup matamu bayangkan kamu ditengah rumput yang luas, rumput yang ada di peternakan kamu di Jerman,” ujar Nicolas licik sekaligus pintar.
“Enak saja suruh Aku tutup mata,” ucap Ines mencoba mendorong tubuh Nicolas.
Melihat sikap penolakan Ines , Nicolas melakukan tindakan nekat yang membuatnya malam masalah besar, ia nekat menindih tubuh istrinya dan berbisik,” cobalah untuk tutup mata aku akan melakukannya dengan pelan-pelan,” bujuk Nicolas belum mau menyerah.
Merasa dipaksa, Ines panik ia meraih vas bunga dan memukul kepala Nicolas dengan vas bunga di atas meja.
Pak!
“Aah ….” malang sekali kepala bapak satu anak itu mengeluarkan cairan berwarna merah mengalir tepat ke arah pelipisnya.
Ia memegangi kepalanya dengan tenang, sementara Ines panik wajahnya pucat saat melihat cairan berwarna merah itu menetes sampai ke kaos yang dipakai Nicolas.
“Ka-kamu sih maksa,” ujar Ines dengan suara terbata-bata, sebagai seorang dokter nalurinya cepat, ia berlari ke kamarnya dan mengambil kotak P3K, ia mengobati suasana jadi hening Ines mengobati dengan tangan gemetar. Wajahnya benar-benar pucat merasa bersalah, sementara Nicolas diam tapi dalam hatinya ia senang karena Ines merasa bersalah.
“Aku minta maaf,” ujar Ines setelah mengobati luka di kepala suaminya.
“Tidak apa-apa Bu Ines, Aku yang salah, selamat malam,” ujar Nicolas berjalan menuju kamarnya.
Ines terdiam, ia merutuki dirinya karena bertindak kasar, sepanjang malam ia tidak bisa tidur karena merasa bersalah.
“Apa dia baik-baik saja? Apa perbannya tadi terbuka?” Ia bangun ingin melihat keadaan Nicolas, tiba di depan pintu kamar Nicolas ia diam tidak berani mengetuk dan kembali ke kamarnya
Kepala Nicolas bocor karena memaksa satu kissing dari istrinya.
Bersambung
__ADS_1