Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Detik-detik Nicolas Dipaksa Menikah


__ADS_3

Setelah  bertemu Ines di rest area Nicolas pulang. Entah kenapa sepanjang perjalanan pulang, ia merasa sangat kesal saat memikirkan pertengkarannya dengan Ines.


“Memangnya dia tau apa tentang hidupku, gadis sialan,” ucap Nicolas saat menyetir pulang ke Jakarta


Disisi lain,  setelah dari kota Ines tiba di rumah.



“Kenapa wajahnya kisut begitu?” tanya Darto saat Ines tiba.


“Aku bertemu dengan pemuda sombong di rest area Kek, Aku kesal bangat melihatnya,” ujar Ines menuangkan air  ke gelas.


“Memangnya kamu diapain dihina laki-laki lagi? Makanya jangan pakai bedak hitam itu lagi di wajahmu, biar tidak ada yang menghina dan mengatai  kamu  jelek,” ucap  Darto.


“Bukan Kek, ada orang sombong yang pesan makanan banyak bangat, tapi tidak dihabiskan,” ucap Ines,  ia menceritakan tentang Nicolas. Ia tidak tahu kalau lelaki yang membuatnya kesal itu akan jadi suaminya.


Setelah menceritakan tentang Nicolas, Darto juga menceritakan pertemuan keduanya dengan keluarga Nicolas.


“Kakek  sudah bicara dengan keluarga Darmawan, Nes,” ucap Darto.


“Anak teman kakek itu akan lari terbirit-birit jika sudah melihatku. Coba Kakek pikirkan lagi. Kenapa harus ada perjodohan sih Kek.”


“Aku takut kamu tidak mau menikah, Nes. Marisa sudah tau dan sudah mengenal kamu sejak kecil,” kata Pak Darto mencoba menyakinkan Ines.


“Itu waktu kecil Kek.”


“Aku tau sayang. Kakek selalu memimpikan mereka semua. Mamimu, Papi dan nenek,” ucapnya mulai  berakting sedih, berharap Ines tidak berubah pikiran untuk menikah.


‘Ah, mulai lagi deh’


   “Makanya pengen bangat melihat kamu menikah sebelum aku mati menyusul Mami sama Papimu,” ucap Darto.


“Ya Kek aku  mau …  alasan yang klise,” ucapnya menggeleng-geleng, “baiklah lakukan seperti  yang Kakek mau,” ucap Ines, ia setuju menikah dengan lelaki yang tidak ia kenal.


Darto kegirangan dalam hati, lalu Darto menelepon keluarga Darmawan memberitahukan kalau Ines cucunya setuju menikah. Tapi dengan syarat tidak ada pertemuan sebelum menikah, keluarga Darmawan terkejut, tidak ada lamaran dan tidak ada pertemuan keluarga  itu satu hal yang aneh.


Walau  keluarga Marisa moderen. Tetapi mereka  menjunjung tinggi adat leluhur, di mana sebuah pernikahan akan jadi ritual yang sangat sakral di keluarga mereka, namun kali ini tidak ada ritual pernikahan.


Setelah selesai Darto menelepon, keluarga Darmawan mengadakan rapat keluarga.


“Kenapa  membuat kesepakatan seperti itu?” tanya Novi adek Nicolas.


“Tidak apa-apa kalau mereka ingin seperti itu. Kita hanya butuh uangnya,” ucap Marisa.


“Kenapa mau  menerima pernikahan yang seperti itu Oma? kasihan Koko,” ucap Novi ia paling menentang pernikahan itu.


“Kita butuh uang untuk menyelamatkan perusahaan!” ketus Marisa.


“Aku pikir ada hal lain dari Ines yang di sembunyikan dari kita … mungkin dia pasti stres,” ucap Dohan sepupu Nicolas.


“Udah diam semua! kita tunggu Nicolas sampai pulang ke rumah.  Jangan ada yang mengatakan apa-apa,” pinta nyonya besar memperingatkan semua anak dan cucunya.


“Oma, bagaimana Koko dipaksa menikah dengan wanita yang tidak dia kenal? Dia tidak mungkin mau,” ucap Novi.


“Makanya jangan katakan apa-apapun padanya, pernikahan akan tetap berlangsung apapun yang terjadi,” ucap Nyonya besar itu dengan tegas.

__ADS_1


“Kalau begitu pertemukan kita,  buat pertemuan keluarga selayaknya perjodohan yang umum dan normal, agar kita ia mencurigainya, tapi kalau tidak mau, berarti ucapanku benar, dia orang yang tidak normal,” ujar Novi lagi.


“Kamu sebaiknya diam Novi, ini demi perusahaan keluarga kita,” bentak Omanya lagi.


“Aku kasihan sama KoKo  Oma.”


“Pilih mana? Keluarga kita hancur atau dia menikah?”  Marisa memarahi Novi, wanita sampai menangis karena di bentak, semua anak-anak Marisa tidak ada yang berani menolak.


“Ma, sebaiknya kita pikirkan pelan-pelan,” ucap Papi Nicolas.


“Memangnya kamu bisa apa?” bentak Marisa pada putranya, suasana hening,  tidak ada yang boleh membantah.


“Siapa pun wanita yang akan dinikahi Koko nanti … aku akan membuat hidupnya menderita,” ujar Novi semakin dendam.


*


Tidak berapa lama Nicolas pulang ke rumah,  baru juga tiba sudah membicarakan tentang pernikahannya. Tentu saja lelaki tampan itu menolak,  apa lagi menikah  dengan wanita yang tidak ia kenal.


“Aku tidak mau Oma, apa-apa ini? Aku pulang ke Jakarta bukan untuk menikahi wanita yang tidak aku kenal,” ucap Nicolas.


“Kamu harus mau Nicolas, kalau tidak Oma lebih baik mati.”


“Setidaknya pertemukan aku dengan wanita itu sebelum menikah,” ucap Nicolas, ia menentang keras perjodohan tersebut.


“Dia tidak mau Ko, Oma juga maunya seperti itu, tapi Darto ingin langsung pernikahan.”


“Aku tidak mau Oma, katakan pada orang tua itu agar diadakan pertemuan keluarga,” ucap Nicolas.


Marisa menelepon Darto, menyampaikan kalau  Nicolas ingin  diadakan pertemuan keluarga sebelum menikah.


Keluarga Darmawan senang, mereka berpikir akan mengenal calon pengantin sebelum pernikahan.


Mereka mengadakan pertemuan keluarga di salah satu hotel,  keluarga besar Darmawan dan Pratama. Tetapi  lagi- lagi kali ini Ines juga tidak kelihatan batang hidungnya. Keluarga itu sangat  kecewa dan penasaran.


Mereka meminta acara lamaran.


                        *


“Maaf, saya  pikir tidak usah ada pertunangan atau lamaran, kita membahas pernikahan saja langsung,” ucap Pak Darto, membuat keluarga Darmawan kaget bukan kepalang.


“Tapi kenapa? bukanya lamaran dulu baru mereka menikah.”


“Tidak, seperti yang kukatakan waktu itu,  aku mau pernikahan langsung dan tidak perlu ada pertemuan antara keduanya,” ucap Darto


“Kenapa seperti ini?” ucap  Novi,  ia merasa jengkel melihat sikap sombong Ines yang tidak mau menemui keluarga besarnya.


Nikolas mengepal tangannya dengan marah.


‘Dia dipikir kalau dia punya uang banyak bisa berbuat seenaknya’ ucap Nikolas dalam hati.


Mereka semua menduga bahwa kakek Ines membunyikan kebenaran tentang cucunya, mereka semua menduga- duga kalau Ines gadis yang gila membuat Nicolas semakin marah dan kesal, ia membayangkan bersanding dengan wanita gila di pelaminan spontan tubuhnya bergidik.


“Kek maaf, boleh saya bertanya.” Novi  memberanikan diri.


“Ya.”

__ADS_1


“Apa yang terjadi dengan Ines? Apa dia baik- baik saja?”


“Dia hanya kurang enak badan makanya dia tidak ikut.”


“Apa dia normal maksudku-“


“Dia normal, dia waras seratus persen, saya yang memaksanya menikah, dia mau dengan syarat dia akan bertemu calon.


Kalian boleh melihat di hari pernikahannya saja."


“Semua pernikahan butuh persiapan, Kek dan kita belum-“


“Saya sudah mempersiapkan semuanya,” potong Darto.


“ Apa …?” keluarga  Nicolas  saling menatap.


“Kita akan adakan pemberkatan saja dulu di tempat saya, secara sederhana untuk resepsinya mau di Jakarta Boleh.


Aku sudah mempersiapkan hari yang tepat, empat hari dari sekarang,  itu hari yang bagus,” ucap Darto.


“Ha?”  Keluarga Nicolas tidak berhenti di buat melongo atas tindakan pak Darto.


“Tapi kenapa buru- buru?” tanya Marisa, wajahnya resah, ingin menolak tetapi ia takut Darto tidak membantu perusahaannya


“Anggap saja saya tidak punya banyak waktu lagi, pikirkanlah beberapa hari ini lalu telpon kembali, saya ingin pulang lebih dulu masih ada keperluan.” Ia meninggalkan mereka di sana, "oh... Aya sudah meminta pengacara untuk mencairkan dana ke perusahaan," ucapnya lagi. Keluarga Nicolas semakin tidak bisa menolak.


                  *


Nicolas sangat marah mendengar semua itu, ia merasa hidupnya di beli dengan uang dan bisa di perlakukan dengan semaunya.


“ Aku tidak mau seperti ini. Aku tidak mengenal orang seperti apa yang aku nikahin nanti, Oma, hidupku tidaklah murahan seperti itu. Aku  membenci pak tua itu,” ucapnya dengan kesal.


“Kamu hanya perlu menikahinya sisanya, biar oma yang mengurus,” ucapnya terdengar licik. “Ini demi keluarga kita dan nama baik perusahaan kita,”ujar Marisa lagi.


“Tapi kenapa harus aku? masih banyak cucu Oma yang lain, kenapa harus aku yang  jadi tumbal,” ucap Nicolas.


“Dia sendiri yang memilihmu, karena kamu penerus perusahan kita.” Wanita tua itu rela berbohong yang penting Nicolas mau menikah.


“Maksudnya ... cucu yang memilihku?”


“Ya,” jawab Omanya


Padahal Ines juga belum mengenal lelaki yang dijodohkan dengannya.


“Jadi maksud Oma …  wanita yang bernama Ines itu yang memilihku?” tanya Nicolas lagi dengan mata memerah


“Ya.”


 Bisa bayangkan betapa bencinya Nicolas dengan gadis desa yang akan ia nikahi nantinya.


Itulah sebabnya semua keluarga Nicolas sangat membenci Ines, memang dari awal pernikahan mereka sudah dipaksakan, baik dari pihak Ines maupun dari Nicolas.


Bersambung


Jangan lupa untuk selalu mendukung ya kakak

__ADS_1


__ADS_2