
Kata orang cinta itu butuh perjuangan, hal itu sepertinya tepat ditujukan untuk Nicolas, kala hati istrinya membeku setelah kejadian di masa lalu, hampir enam tahun lebih Ines memberinya hukuman, diabaikan dan dicuekin. Tadinya Nicolas bersabar dan menunggu hati sang istri mencair dan hangat kembali seperti saat pertama ia kenal Ines dulu. Ternyata menunggu sekian lama Ines tak kunjung membuka hati untuknya, ia sudah diijinkan melihat putranya dan Nicolas serta keluarga sangat bersyukur akan hal itu. Tetapi hati Ines Pratama masih tertutup rapat baginya hingga ia melakukan hal yang nekat malam itu.
Karena merasa bersalah Ines akhirnya bersikap baik pada sang suami, awalnya ia tidak mau lelaki itu masuk ke dalam kamarnya, tetapi saat ia memukul kepala Nicolas ia mengijinkan untuk tidur satu satu kamar bahkan mengijinkan tidur di ranjang. Pagi itu setelah Ines mengobati luka di kepala Nicolas, lelaki itu langsung tidur di ranjang Ines.
“Apa kamu serius mau tidur?” tanya Ines, ia menyesali sikapnya karena setuju untuk tidur satu kamar, ia sudah terbiasa tidur sendirian tidak akan merasa nyaman kalau tidur dengan orang lain.
“Apa kamu tidak butuh dikelonin malam ini?’ ucap Nicolas masih bercanda.
“Jangan macam-macam lagi nanti tanganku tidak bisa dikontrol lagi,” ujar Ines mendesis kesal.
“Ya, kepalaku sakit, bisa tolong ambilkan air hangat?”
“Ini beneran atau pura-pura?” Ines memastikan lagi.
“Ya, benarlah Bu Ines, masa bohong.”
Melihat sikap Ines Nicolas terpaksa memainkan cara liciknya kembali, terkadang menghadapi orang yang keras seperti Ines dibutuhkan cara yang seperti itu, kalau hanya menunggu dengan diam tidak akan ada perubahan.
“Baiklah.” Ines tidak membantah ia turun dan membawa air hangat dalam gelas.
Ia meletakkan di samping Nicolas,” itu minumlah, Aku mau mandi .”
Nicolas pura-pura tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut dari bawah sampai kepala, tidak ada sahutan Ines dari Nicolas, ia balik badan membuka selimut melihat Nicolas tertidur ia meletakkan tangannya di atas kening.
“Oh, kenapa badanya tiba-tiba panas,” ucap Ines panik , ia buru-buru mengambil alat mengecek suhu badan.
Nicolas tersenyum licik, padahal di bawah tubuhnya ia sengaja meletakkan alat yang menyebabkan suhu tubuh Nicolas meningkat.
“Apa kamu merasa sangat pusing?” tanya Ines lagi.
“Ya, sangat pusing, karena itu biarkan Aku tidur dan kamu jangan mengoceh apalagi memarahiku.”
“Baiklah Aku tidak akan menggangu.”
Akhirnya ia mengijinkan Nicolas tidur, ia masuk ke kamar mandi, lelaki itu mengintip dari balik selimut saat Ines khawatir padanya.
‘Aku rela terluka sekali lagi yang penting Aku bisa mendapat perhatian darimu’ujar Nicolas dalam hati.
__ADS_1
Dalam kamar mandi Ines beberapa kali menarik napas panjang, melihat keadaan Nicolas seperti itu ia tidak tega meninggalkannya sendirian tidur, akhirnya rasa peduli sama sang suami keluar juga dari diri Ines, kalau selama ini ia tidak perduli sama sekali, setelah mengunci kamar mandi ia buru-buru mandi.
“Apa kamu bisa duduk?” tanya Ines , ia kembali duduk di sisi ranjang dan menempelkan punggung tangannya di kening Nicolas..
“Aku tidak kuat duduk, kepala ini pusing bangat.”
“Aduh bagaimana dong.”
“Kamu temanin saja Aku di sini Nes, jangan kemana-mana.”
“Aku ingin kerja.”
“Nanti kalau Aku ingin ke kamar mandi tiba-tiba jatuh tidak ada yang lihat terus Aku mati bagaimana?” tanya Nicolas mulai membuat drama.
“Tapi Aku ada rapat hari ini di rumah sakit.”
“Kamu kan bosnya tunda saja dulu,” ujar Nicolas, pura-pura memegang kening. Ternyata apa yang di lakukan Nicolas berhasil, Ines luluh melihat wajah suami yang berkeringat, padahal ia tidak tahu kalau Nicolas menggenggam sesuatu di tangannya agar suhu tubuhnya meningkat .
Demi meyakinkan Ines Nicolas rela melakukan sesuatu yang bahkan hampir membuatnya nyaris mati karena jantungnya berdetak melebihi batas normal, merogoh sesuatu dari saku celananya dan menelan pil itu sekali dua agar reaksinya cepat, menyebabkan reaksi mual dan muntah. Nicolas mulai mual dan muntah-muntah di kamar mandi.
“Astaga apa separah itu?” tanya Ines wajah kembali panik sama seperti tadi malam.
“Tidak masalah, Aku ini dokter.” Ia menepuk-nepuk pundak Nicolas, Ternyata ia kembali mengeluarkan isi perutnya di dalam kloset.
Nicolas membuat penyakit sendiri demi mendapatkan perhatian istrinya yang selalu bersikap dingin, siapa sangka setelah muntah -muntah ia jadi sakit beneran, ia tidak berhenti muntah, terpaksa Ines memberinya suntikan dan memasang infus karena perutnya benar-benar kosong karena tidak berhenti muntah.
Wajah Nicolas pucat dan lemas perjuangan yang keras untuk mendapatkan perhatian Ines.
Setelah Nicolas berbaring dengan infus melekat di lengan, Ines duduk dengan lemas, karena takut melihat Nicolas yang muntah-muntah Ines juga merasa tubuhnya tidak bertenaga, ia akhirnya memutuskan tidak masuk kerja demi merawat Nicolas.
“Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?” tanya Ines.
“Tidak usah, Aku di sini saja. Rumah sakit membuatku takut setelah Ko Hendra meninggal saat itu.”
“Baiklah Aku tidak akan memaksa, istirahatlah.”
‘Aduh kenapa jadi sakit beneran? Aku niatnya hanya ingin pura-pura’ucap Nicolas, ia kembali ingin duduk.
__ADS_1
“Kenapa?” Ines berdiri tepat di depannya.
“Aku ingin muntah lagi. Ah sial,” ujar Nicolas, ia berdiri buru-buru dan mencabut jarum infus dari lengannya dan muntah di kamar mandi.
‘Sia, sial kenapa jadi sakit beneran” ucap Nicolas dalam hati.
Melihat wajah kesal Nicolas, raut wajah Ines ikut pucat, ia merasa tidak enak hati, ia berpikir karena ulahnya tadi malam menyebabkan lelaki itu pusing dan muntah-muntah.
“Tuhan, apa lukanya mengenai saraf otak?’ tanya Ines pelan.
Nicolas keluar dari kamar mandi dengan tubuh tidak berdaya, ia berjalan tidak stabil dan nyaris jatuh, untung Ines memegang tubuhnya.
“Apa kamu masih merasa mual?”
“Bukan hanya mual. Aku merasa kepalaku ingin meledak karena pusing,” keluh Nicolas.
“Berbaringlah lagi, Aku akan memberimu suntikan untuk menghentikan mualnya.”
Pakaian Nicolas basah karena keringat, wajahnya dingin tapi ia berkeringat banyak, ia menyesali tindakan nekatnya, harusnya obat itu diminum satu tapi entah kenapa ia meminum pil sekali dua, alhasil ia menerima reaksi yang berlebihan, tubuhnya bergejolak dan jantungnya berdetak lebih cepat.
‘Gila, apa Aku mau mati, oh jangan Tuhan Aku belum mau mati dengan keadaan seperti ini ucap Nicolas dalam hati.
Ines sampai menelepon rekannya sesama dokter karena ia takut dengan kondisi Nicolas.
“Kalau benturan di kepalanya kuat, bisa jadi ada saraf menuju otak yang putus Dok,” ujar dokter bagian saraf.
“Ada usul Dok?”
“Sebaiknya kita lakukan pemeriksaan yang lebih rinci di bagian kepala , Dok, selanjutnya kita kalau ada saraf yang putus kita lakukan tindakan operasi.”
“Baik Dok.” Ines menutup telepon dan ia masuk lagi ke dalam kamar.
Ternyata setelah Nicolas diberi suntikan ia tertidur, Ines memeriksa detak jantung sudah berdetak normal, Ines menarik napas lega setelah Nicolas merasa baik.
‘Hampir saja Aku jadi pembunuh, astaga bagaimana kalau dia tidak tertolong, Aku akan dicap wanita pembunuh suaminya sendiri’ ucap Ines dalam hati.
Apakah Sikap Ines akan berubah setelah Nicolas sakit?
__ADS_1
Bersambung