
Tiba di rumah sakit Ines dan Bu Narti bertemu Marta, Wanita itu menangis keras memeluk Ines dan Bu Narti, tidak bisa dibayangkan perasaan yang dirasakan Marta, ia menikah dengan lelaki baik yang bisa menerimanya apa adaya, dan ia juga memberi putrinya banyak cinta. Tetapi saat ini lelaki itu terbaring sakit, bahkan tidak berdaya, ia bisa bertahan karena tenaga obat, tetapi Marta memenuhi janjinya pada Hendra, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan lelaki itu, ia selalu bersamanya setiap saat.
“Aku sudah kehilangan bayiku Nes, dia tidak bisa bertahan, Aku tidak bisa menjaganya,” ujar Marta menangis semakin keras memeluk Ines, ia menumpahkan semua perasaan sedih yang ia tahan selama beberapa bulan ini, ia hanya akan menangis di depan sahabatnya, karena hanya Ines yang ia percaya.
“Tidak apa-apa Ta, kamu tidak salah, itu semua sudah takdir,” ucap Ines, ia mengusap-usap pundak Marta.
“Bagaimana keadaan Ko Hendra?”
Marta menggeleng kecil, wajah Marta lebih tirus dan ia memiliki kantong mata, menurut Heru ia tidak pernah meninggalkan suaminya walau hanya sebentar, ia terus mendampingi Hendra baik malam maupun siang, walau ditawarkan untuk mengganti menjaga sang suami tetapi ia menolak.
“Mami Nicolas baru pulang dari sini, selama ini mereka juga mendampingi di sini. Dia bilang mereka juga ayah mertuaku karena Hendra anak mereka,” ujar Marta. “Dia lebih banyak tersenyum belakangan ini, karena Pak Gunawan selalu ada di sini.”
“Maksudmu Papi Nicolas?” tanya Ines.
“Ya, mereka semua selalu bergantian datang ke sini, Hendra tidak merasa sendirian lagi seperti yang dirasakan selama ini, sebelum Nicolas datang ke Jerman dia juga di sini.”
“Ta, kamu harus kuat apapun nanti hasilnya.”
“Aku sudah ikhlas Nes, kalau dia ingin pergi, Aku tidak tahan melihatnya menderita seperti itu,” ucap Marta.
“Apa kamu yakin?”
“Ya, kematian dan hidup hanya milik yang Maha Kuasa, Aku dan Dia sudah berusaha untuk mencari pengobatan tetapi tidak sembuh.”
Marta wanita yang sangat tegar lebih tegar dari siapapun, saat ia merawat suaminya ia kehilangan bayinya, ia tetap tabah menerimanya , tidak menunjukkan rasa sedihnya pada orang lain. Ia hanya menangis di pelukan Ines dan Bu Narti. Selama mendampingin Hendra ia tidak mengeluh lelah ataupun mengantuk, selalu setia di samping Hendra . Sementara Amber ia berikan pada Heru agar ia yang mengawasinya, ia dibawa ke kampung, itu artinya Axell bisa bertemu Amber kapanpun dia mau.
“Kamu wanita yang kuat Nak, Bibi bangga sama kamu,” ujar Bu Narti.
“Aku harus kuat Bi, demi Amber, kalau Aku lemah siapa yang akan menjaga Amber,” ujar Marta.
“Bibi akan menjenguk Hendra.”
Mereka bertiga menuju ke ruangan Hendra setelah menggenakan pakaian keamanan mereka bertiga masuk, mata Ines kaget melihat perubahan fisik Hendra, lelaki itu sangat berbeda, hanya dalam hitungan bulan, tubuhnya kurus dan kepalanya botak, wajahnya pucat.
“Dia tidak bisa melihat tanpa kaca mata,” ujar Marta.
__ADS_1
“Benarkah …, ternyata sudah separah itu,” ujar Bu Narti, ia mengusap buliran air yang menetes deras. Hendra lelaki yang sangat baik. ia tidak mau orang lain sakit hati padanya dan selalu berbuat baik sama orang lain.
“Dia bisa bertahan karena bantuan obat,” ujar Marta, lalu wanita itu mendekat.
“Pi, Ines dan Bibi Narti ada di sini,” bisik Marta saat Hendra tidur.
Ia membuka mata dan meraba kaca matanya, Marta membantu memakaikan kaca mata, barulah ia bisa melihat Ines.
“Ko … Aku datang,” ucap Ines.
“Ines, terimakasih sudah mau datang, maaf saat itu Aku ingkar janji padamu.”
“Tidak Ko, tidak perlu minta maaf kamu tidak salah. Apa yang kamu katakan saat itu benar, Aku yang keras kepala,” ujar Ines, ia duduk di samping ranjang Hendra.
“Benarkah kamu tidak marah lagi?”
“Ya, Aku tidak marah, Bibi bilang Aku semakin tua karena sering marah, mulai hari ini Aku tidak mau marah lagi biar Awet muda,” ucap Ines bercanda.
“Apa Nicolas datang bersamamu?”
Hendra tersenyum bahagia, ia merasa apa yang ia lakukan saat di kuburan saat itu, ternyata tidak sia-sia , Akhirnya Ines mau berbaikan dengan Nicolas.
“Terimakasih Nes, Aku sudah bisa tenang, Nicolas lelaki yang sangat baik, dia jauh menderita saat kamu meninggalkannya, dia selalu pulang ke kampung dan meminta maaf ke kuburan Pak Darto, dia sangat menyesal pernah menyakiti hatimu di masa lalu. Aku ingin kalian berbaikan sebelum aku tutup mata, itulah tujuanku kenapa Aku melakukan itu.”
Ines menoleh Bu Narti, karena selama ini ia tidak tahu kalau Nicolas selalu datang ke makam kakeknya untuk minta maaf, tidak ada yang pernah menyinggung karena Ines tidak pernah ingin mendengar nama Nicolas makanya mereka semua tidak ada yang cerita kalau Nicolas selalu datang ke makam Pak Darto.
*
Disisi lain.
Kebahagian tengah menyelimuti keluarga Nicolas karena kedatangan tamu spesial dalam keluarga mereka, Keanu selalu di pangku bergantian sama Linda dan Gunawan. Papi Nicolas semakin membaik kesehatannya, ia bahkan sudah bisa berjalan tanpa kursi roda. Keanu menjadi obat penyemangat hidup untuk keluarga Nicolas.
Di tengah kebahagian mereka tiba-tiba Gunawan merasa sangat sedih mengingat kondisi Hendra.
“Apa ada yang salah, Pi?”
__ADS_1
“Dia tidak punya harapan lagi, kondisi fisiknya sudah tidak kuat lagi.”
“Aku akan menemui, Koko.” Nicolas ingin berdiri.
“Nanti saja, sebentar lagi dia akan masuk ke ruangan kemoterapi, dia akan tidur dalam waktu yang lama, percuma kamu datang , nanti saja kalau dia sudah bangun,” ucap Gunawan.
“Apa Papi di sana menjaga, Koko.”
“Ya, Papi selalu tinggal di sana, bahkan berangkat dari kantor dari sana, setelah kamu pergi dia yang menggantikan mu ,” ujar Linda.
“Apa Oma belum menjenguk?”
“Jangan tanyakan, saat Aku menelepon dia bilang dia lagi sakit. Tapi kedua bibimu selalu datang. Hendra tidak marasa tidak punya keluarga lagi,” ucap Papi Nicolas, lelaki itu menangis, mengingat kondisi Hendra.
Marisa masih sakit hati pada Gunawan dan Nicolas, karena ia diberhentikan sebagai komisaris keuangan di kantor, ternyata uang jauh lebih panting dari pada cucu untuk wanita itu, saat Hendra sakit ia belum melihat cucunya.
“Papi jangan sedih , takdir dan kematian manusia itu Tuhan yang mengatur, lihat kondisi Papi, enam tahun yang lalu Papi tidak ada harapan untuk hidup, lihat sekarang Papi semakin hari semakin sehat, bahkan bisa melepaskan kursi roda,” ujar Linda.
“Itu satu keajaiban , Aku juga berharap Hendra mendapatkan itu,” ucap Gunawan.
Keanu masih duduk di pangkuan Linda, jauhnya perjalanan Jerman -Jakarta membuatnya kelelahan, ia kembali tertidur. Namun saat ingin diangkat ke kasur, ia kembali terbangun, takut ditinggalkan sama Nicolas.
“Apa Om mau pergi?” tanya Keanu saat Nicolas berdiri.
“Kamu ya … anak nakal, sudah Aku bilang berapa kali jangan panggil Om, masih saja panggil Om, aku ini Daddymu” ujar Nicolas mencubit pipinya dengan gemas.
“Ini ama dan Ini Akong,” ujar Novi menunjuk Papi dan Maminya.
“Bukan, Nenek sama Kakek,” ucap Keanu mereka semua tertawa.
Apakah Hendra akan sembuh dari penyakitnya?
Bersambung.
bantu vote, like komen ya kakak jangan lupa mampir juga ke ceritaku yang lain terimakasih
__ADS_1