
Nicolas membantu Naura masuk ke dalam mobil dan menyetir ke arah rumah, tiba di depan rumah ia meminta asisten rumah tangga membawa ke kamarnya, karena sudah malam, saat sedang menyetir Ines mengirim pesan.
[Aku menunggumu di cafe Pandora di samping rumah sakit, ya] isi pesan Ines.
Tidak ingin Ines bertambah marah Nicolas meminggirkan mobilnya dan berhenti sebentar untuk membalas pesan.
[Baiklah Aku datang, tunggulah di sana] balas Nicolas.
Membaca pesan dari Nicolas, lagi-lagi Ines merasa gugup lalu ia berganti pakaian, ia memilih pakaian yang anggun dan elegan untuk bertemu sang suami.
Setelah berdandan sederhana, ia membungkus benda itu dalam kotak kado, "semoga dia suka,” ucap Ines memasukkannya dalam tas. Nicolas hari itu ulang tahun, Ia ingin memberikan sebuah jam tangan dan sebuah kado spesial sebagai tambahan.
Ines keluar dari rumah Marta, selama Darto pindah rumah sakit, Ines tinggal di rumah Marta tidak jauh dari rumah sakit. Ines mengabari sang sahabat kalau ia akan keluar, menitipkan kakeknya padanya.
Ines datang lebih awal di sana, duduk di meja paling belakang, wanita berkulit putih itu beberapa kali membuang napas-napas pendek dari mulutnya, wajahnya terlihat gugup, sembari menunggu Ines memesan satu gelas jus, meletakkan kado kecil itu di atas meja, sekitar setengah jam menunggu ia foto gambar kado dan mengirim ke Nicolas.
[Aku sudah tiba … Aku juga ingin memberikan ini padamu, kado ulang tahunmu, maka cepatlah datang] Ines mengirim pesan kembali mengirim foto kado kecil tersebut.
Ines menatap layar ponsel, pesannya hanya di red, wajah kembali cemas, karena posisi lagi menyetir Nicolas hanya membaca belum bisa balas pesan, melihat kado kecil itu batinnya sempat bertanya, 'kado? Ines memberiku kado?’ Bibirnya tersenyum kecil.
Saat tiba di lampu merah, Nicolas menyempatkan membalas pesan pada Ines, melihat Nicolas sibuk berbalas pesan, Naura terbakar api cemburu.
[Tunggu sebentar lagi aku akan datang] balas Nicolas.
Hanya dapat pesan begitu saja wajah Ines terlihat sangat bahagia apa lagi di cintai. Wanita cantik itu belum pernah pacaran seumur hidupnya, Nicolas laki-laki pertama yang hadir dalam hati.
Saat di depan rumah Naura, Nicolas memanggil asisten rumah tangga Naura, untuk membawanya ke kamarnya. Namun, saat asisten rumah tangga tersebut ingin membantu Naura melotot, tajam ia memberi kode jangan membantu.
“Bi tolong Mbak Naura ke kamarnya ya,” ucap Nicolas.
“Aduh pusing bangat.” Naura pura-pura jatuh lagi dan ia meminta asisten rumah tangga itu pergi.
“Aduh Mas, bibi tidak bisa mengangkat Mbak Naura sendirian ke ke kamarnya, Bibi juga lagi masuk ke dapur.
Wanita itu memang sangat licik, demi mendapatkan perhatian Nicolas kembali ia nekat melakukan hal diluar nalar, saat Nicolas membantunya berdiri ke kamar ia meminta asisten rumahnya mengunci dari luar agar Nicolas tidak bisa menemui Ines.
“Loh … kok ini tidak bisa terbuka,” ujar Nicolas panik saat pintu itu tertutup
Sementara Naura tertawa licik ia masih pura-pura tutup mata, Nicolas berusaha memanggil asisten rumah tangga agar pintunya dibuka.
“Siapa yang kunci pintu. Woi! Buka pintu!”teriak Nicolas dari dalam kamar tangannya mengetuk-ngetuk pintu dari dalam. Namun, tidak ada yang membuka.
Ia melirik jam yang melingkar di pergelangannya, wajahnya semakin panik Nicolas tidak ingin Ines menunggunya terlalu lama di sana lalu menelepon Ines.
__ADS_1
“Halo … kamu di mana, Aku sudah menunggu di sini satu jam, di sini” ujar Ines menghembuskan napas panjang.
“Nes aku minta maaf, aku datang terlambat ada yang aku kerjakan dulu.”
“Kamu memang di mana?”
Mendengar Nicolas menelepon, Naura bertindak licik lagi.
“Aku lagi-”
Visual Naura
“Sayang … ayo temenin Aku tidur,” ucap Naura merebut ponsel Nicolas.
“Naura, apa yang kamu lakukan?”
“Sayang kita sudah di kamarku. Kenapa kamu masih menelepon dia,” ujar Naura, ponsel itu masih menyala.
“Naura hentikan berikan ponselnya!”
Ines langsung terdiam, ia mematikan telepon ia tidak sanggup mendengar rengekan manja dari Naura, tubuh Ines terdiam untuk beberapa lama, ia ingin marah Namun, ia tidak punya hak untuk marah. Ines sudah sepakat kalau ia tidak akan mengurusi masalah pribadi suaminya.
Ia menyimpan kotak hadiah itu ke dalam tas dan pulang kembali ke rumah sakit, berjalan dengan tatapan kosong, seperti tubuh tanpa jiwa, melewati lorong rumah saki. Ines berdiri di depan kamar kakeknya, tapi ia mengurungkan niat tidak ingin orang tua itu mengetahui kesedihan dalam hatinya, ia memilih pergi ke taman rumah sakit salah satu tempat favorit Ines. Apa yang dilakukan Ines ternyata dilihat Marta.
“Ta ….”
Ines menatap wajah sabahat masalah kecilnya, matanya berkaca-kaca dan ia menangis sejadi-jadinya. Marta bingung karena tiba-tiba Ines nangis, belakangan ini Ines lebih sering menangis, ia
memeluk Ines, memeluk dengan erat. Entah berapa lama lagi ia meneteskan air mata entah berapa lama ia lagi merasa kesedihan.
“Menangislah Nes, menangislah kalau itu bisa mengurangi beban dalam hatimu,” ujar Marta memeluk Ines dengan erat mengusap-usap punggung dengan lembut, setelah puas menuntaskan kesedihannya. Ines kembali duduk tenang.
“Ada apa?” tanya Marta.
Ines tidak menjawab pertanyaan Marta, sebagai gantinya ia memberikan kotak kado yang tadinya ia berikan untuk Nicolas.
Saat membuka kotak tersebut mata Marta melotot kaget.
“Nes, kamu hamil ....!?”
“Ya.”
“Harusnya kamu bahagia sayang, kenapa malah sedih. Katakan pada Nicolas, Aku yakin dia sangat senang dan hubungan kalian menjadi baik.”
__ADS_1
“Aku tadinya ingin melakukannya, Aku sengaja berdandan cantik dan menunggu hampir satu jam lebih di cafe.”
“Lalu …?” Wajah Marta menegang.
“Dia lagi tidur di kamar Naura.”
“Astaga! Laki-laki keparat! Bajingan!” Marta jauh lebih marah dari Ines, ia menyumpahi dan memaki-maki Naura dengan emosi.
“Apa yang Aku lakukan, Ta?”
“Tidak usah katakan padanya, dia tidak pantas disebut bapak, biarkan dia bersama wanita itu. Kita akan besarkan anakmu dengan baik,"ujar Marta marah.
*
Disisi Lain, Nicolas sangat marah saat Naura menguncinya di dalam kamar.
“Jangan menemui ku ** lagi! Kamu membuatku semakin membencimu.”
“Itu Aku lakukan karena Aku Masih mencintaimu." Naura masih membujuk.
“Kamu jangan mengatakan cinta padaku lagi, kamu membuatku semakin membencimu,” ujar Nicolas, ia benar-benar sangat marah saat mengetahui dirinya dijebak sama Naura.
“Aku akan melakukan apapun, agar kamu bisa kembali padaku! Aku sudah membantu keluargamu, Aku membayar rumah sakit Papimu Aku juga rela memberikan satu apartemenku ditinggali keluargamu, semua itu demi kamu!” teriak wanita berambut pirang itu dengan marah.
“lakukan apapun yang ingin kamu lakukan Naura. Tapi itu tidak akan mengubah perasaanku padamu. Aku sudah pernah bilang Aku membenci penghianatan.”
“Aku sudah bilang padamu Aku khilaf saat itu.”
“Khilaf itu hanya sekali Naura, selingkuh dan tidur dengan pria lain selama bertahun-tahun itu bukan khilaf . Itu penghianatan dan perselingkuhan.”
“Tapi Aku tidak bisa tanpamu, Ko.”
“Tapi Aku bisa,” balas Nicolas.
Wajah Nicolas mengeras menahan amarah saat Naura menjebaknya dalam kamarnya, tidak ingin lama-lama di sana.
“Kamu buka kamarnya atau Aku panggil petugas kebakaran?” tanya Nicolas.
“Sayang, jangan seperti itu Naura memeluknya dengan erat,” Nicolas melepaskan tangannya dengan kuat karena emosi ia mendorong Naura dengan keras.
Malang tidak bisa dihindari, kepala Naura terbentur meja rias di kamarnya, kepala wanita itu berdarah, kali ini ia pingsan sungguhan.
Nicolas terpaksa mendobrak pintu kamar dan melarikan Naura ke rumah sakit.
__ADS_1
Apakah Nicolas akan tahu kalau Ines hamil?
Bersambung.