
Mereka semua hanya diam terpaku melihat Rio yang diborgol dan dipaksa berjongkok ketika pria itu mencoba melarikan diri. Melihat polisi yang bersikap tegas padanya mereka semua penasaran kejahatan apa saja yang dilakukan Rio.
“Sebenarnya apa saja yang dia lakukan?” tanya Bu Narti.
“Jadi begini Bu.” Salah satu anggota polisi wanita menghampiri Bu, Narti
“Dia terlibat hilangnya nyawa seseorang,” mata Bu Narti terbelalak mendengar itu, Rio terlihat pembunuhan.
“Tapi siapa?”
“Nikolas Darmawan, lelaki yang ditemukan tubuhnya di sungai Cinde Bogor beberapa waktu lalu,” tutur Polisi.
“Apa?” Bu Narti terkejut saking terkejutnya tubuhnya mundur kebelakang .“ Mana mungkin .... dia tidak mungkin ikut terlibat dia anak yang baik .... itu tidak mungkin." Wanita paruh baya itu sampai syok, mendengar anak yang ia percayai ikut terlibat dalam perencanaan pembunuhan Nicolas.
Wajah Bu Narti terlihat jauh lebih kecewa dari siapapun, Matanya memandang Rio dengan sedih, hidupnya ia dihabiskan untuk menjaga anak-anak panti agar mendapat kehidupan yang layak, Ia menjelma menjadi seorang Ibu untuk semua anak -anak panti dan terlebih untuk Rio, ternyata penghianatan balasannya.
Jika Darto memiliki anak yang spesial dalam hidupnya ada; Heru, Marta dan Ines . Maka Bu Narti juga punya anak spesial yakni Rio, ia selalu membela anak tersebut.
Sementara Heru terlihat sangat tenang, ia melipat tangan di dada, anak muda bertubuh tegap itu rela melajang sampai saat itu, demi mengawasi semua anak-anak panti dan mengawasi perkebunan keluarga Ines.
“Kenapa dia melakukan itu, Pak Darto dan Ines sangat sayang padanya,” isak Bu Narti.
“Tenanglah Bi, jangan manangis lagi,” bujuk Marta.
“Apa dia juga melakukan itu pada Ines?” Bu Narti menatap Rio dengan tangisan, “katakan kamu tidak melakukan apa-apa pada Ines kan?” lirih wanita itu dengan suara kecil takut anak-anak mendengar.
Bagaimana ia selama ini memelihara monster yang siap menyerang mereka.
Rio tidak tahan lagi melihat airmata Bu Narti dan tatapan Kekecewaan Heru padanya dan begitu juga dengan adek- adiknya dari panti.
Begitu juga dengan Anisa calon istrinya yang berprofesi sebagai seorang Perawat. Ia tidak percaya bahwa Rio yang ia kenal melakukan itu, matanya memandang Rio meminta penjelasan, dengan tatapan penuh Air Mata.
Rencana akan hidup bersama dengan pujaan hati sepertinya akan kandas
__ADS_1
"Maaf Bu," ucap Rio tertunduk malu.
"Katakan pada Ibu, apa juga merencanakan sesuatu yang buruk pada Ines? Kenapa nomor Ines tidak bisa dihubungi?" tanya Bu Narti dengan suara parau.
Mendengar itu Nicolas ingin menghajar Rio, tapi Dimas melarangnya.
"Tenanglah Bro, lu mau memberitahukan siapa dirimu?"
"Ya Aku tidak tahan lagi, aku ingin tahu apa yang mereka rencanakan pada Ines."
"Jangan aku takut mereka masih ada berkeliaran, tetaplah dulu menyamar, kita akan cari tahu semua," bisik Dimas pada Nicolas.
Harus mereka beruntung karena Darto memberi mereka pendidikan, walau mereka anak yatim piatu. Tetapi Darto dan Ines menyiaapkan dana tabungan untuk semua anak-anak panti agar mereka mendapatkan kehidupan yang layak di kemudian hari. Tetapi ketamakan dan kerakusan Rio menghancurkan semuanya.
Tapi Nicolas tak kalah lebih terkejut daripada yang lain, Rio ternyata terlibat dalam penyerangan dirinya waktu itu.
“Bagaimana mungkin? Kenapa?” tanya Nicolas bergumam pelan. tubuhnya seolah-olah Letto seperti jeli saat Rio orang yang dipercayai istrinya ternyata seorang penghianat.
Karena merasa diintrogasi dengan tatapan semua orang padanya. Rio Ingin berdiri, tapi satu hantaman keras dari belakang memukul sikut kakinya membuatnya dengan posisi berjongkok kembali. Dimas sepertinya ingin memberi pelajaran pada anak yang tidak tau berterimakasih itu, ia tidak tahu ada banyak anak yatim piatu di negara ini yang terlantar jadi anak jalanan.
“Harusnya kamu beruntung ditampung dan disekolahkan , Bodoh! Kamu tidak tahu sedihnya melihat anak-anak jalanan yang terlantar di jalanan sana. Sebulan gajiku tidak mampu memberi mereka makan,” ujar Dimas.
Dimas tahu betapa kecewanya Bu Narti yang sudah memelihara anak itu tapi malah mengkhianatinya.
“ Kamu dipungut di besarkan dan disekolahkan malah berkhianat dan menusuk dari belakang. Kamu memang sampah!
Hidupmu akan membusuk di penjara,” maki Dimas dengan emosi, sepertinya ia sudah yakin kalau Rio terlibat dalam jaringan Suroto.
“Itulah manusia. Tidak ada puasnya dikasih hati mintanya jantungnya,” sahut Marta tidak kalah emosi. “Anak yang sudah dibesarkan dengan baik malah mengkhianati ia kacang lupa akan kulitnya.
“Sangat disayangkan anak muda. Kamu akan membusuk dikandang besi itu jika kamu terbukti, dari bagian jaringan Suroto,” ujar Dimas pelan.
Apa yang dilakukan Suroto pada anak-anak jalanan rupanya membuat pak polisi itu sangat geram.
__ADS_1
“Memang apa dia lakukan?” tanya Nicolas.
“Aku menduga kalau dia terlibat penjualan organ manusia secara ilegal bersama Suroto,” ujar Dimas.
“Astaga dia iblis.” Nicolas menggeleng tidak percaya, “wajahnya terlihat baik ternyata penjahat.”
Ternyata Bu Narti mendengar apa yang dibicarakan Nicolas dan Dimas, wanita itu menggeleng seolah-oleh tidak percaya dengan apa yang sudah didengarnya/
“Itu tidak mungkin, kalian mungkin salah.
Dia menyayangi Ines seperti kakak sendiri,” mendengar nama itu disebut hati Nikolas seketika terasa sakit.
Tiba tiba ingatan nya teringat sama sama Ines.
‘Bagaimana dengan istriku?’ Nicolas mencari cara agar bisa menyelamatkan Nicolas. Namun untuk berangkat ke Jerman ia harus punya indentitas palsu. Dimas mengatakan anak buah Suroto masih ada yang berkeliaran mencari tahu tangan Nicolas maka itu ia tidak bisa bebas.
Saat sedang melamun memikirkan nasib sang istri ia terbangun karena Bu Narti menangis sedih.
“ Bagaimana nanti kamu tega melakukan semua ini padaku,” tangis Bu Narti pecah, bagaimanapun penghianatan emang selalu terasa sakit.
Mulut Rio masih bungkam, matanya tidak berani menatap mereka semua, bahkan ia tidak mau menatap Bu Narti wanita yang baik , ibu yang selalu menjaganya melebihi Ibu kandung.
Tapi kenapa Rio tega berbuat seperti itu hanya ia dan Tuhan yang tau jawabannya saat ini, karna ia diam membatu dan tanpa berani mengatakan sepatah katapun,
Anisa calon istrinya, menatap Rio dengan tatapan kekecewaan. Kata menyesal sudah terlambat . Nasi sudah menjadi bubur, mungkin wanita yang sudah bersama sejak dari mereka kecil, akan meninggalkannya, terlihat dari tatapan yang penuh amarah.
“Bawa dia pergi dari sini,” ucap Heru dengan kecewa.
Wajahnya terlihat tenang, sepertinya ia sudah mengetahui semua itunya. Walau didalam hatinya mungkin berbeda, dikhianati keluarga sendiri memang sangat menyakitkan, bagi Heru keluarganya yang ia miliki hanya anak-anak panti, Bu Narti, Ines, Marta dan anak-anak mereka.
Heru sepertinya sudah kebal menghadapi masalah sepertinya itu, pengalaman hidup menjadi guru yang tebaik untuknya, kepribadiannya yang tenang menghadapi setiap masalah, layak untuk dicontoh dan strategi dan rencana yang ia susun susah untuk ditebak, itu semua ia pelajari dari Darto kakek Ines.
Bersambung
__ADS_1