
Setelah tiba di rumah di Jakarta, Marta dan suaminya akan diterbangkan ke kampung, sepeninggalan Pak Darto Heru harus serba bisa untuk menghandle semuanya termasuk jadi pilot helikopter untuk menjemput Marta dan Hendra.
“Kapan dia sampai?” tanya Ines.
“Saat Ibu menelepon dia langsung datang, dia paling takut kalau Ibu kenapa-kenapa, nantilah kita cerita yang terpenting kita pulang dululah,” ucap Heru, ia berlari ke arah kemudi helikopter.
“Untunglah dia mau pulang, tadinya aku pikir dia akan sibuk lagi.”
“Kalau kita yang minta dia tidak akan mau pulang, kalau Bu Narti barulah dia mau,” ujar Hendra.
Helikopter itu terbang dari Jakarta menuju kampung, setelah terbang beberapa lama, akhirnya burung besi itu tiba juga di kampung. Mendarat di lapangan hijau di samping panti, seorang wanita duduk di kursi roda melambai pada mereka, di belakangnya berdiri seorang wanita berambut sebahu juga melambai ke arah mereka.
“Mommy!” Keanu berlari ke menghampiri wanita tersebut.
“Mommy!” Amber juga berlari di rumput.
Ines merentangkan kedua tangannya menyambut kedua malaikat kecil itu, ia memeluk keduanya dengan erat, ia sangat rindu pada keduanya, Ines sudah lama tidak bertemu anak semata wayangnya tersebut karena hampir satu tahun ia bertugas di Afrika Selatan.
“Pi … tunggu.” Marta menahan tangan sang suami.
“Apa?”Hendra menatap wajah Marta, wanita itu memasang tatapan serius.
“Jangan katakan apapun tentang Nicolas.” Marta mengingatkan.
“Kenapa?”
Marta menatap Hendra dengan tegas sebelum mereka turun.
“Ines akan marah kalau dia tahu papi membawa Keanu bertemu Nicolas.”
“Sayang … dia kan Papinya, dia berhak.”
“Pokoknya jangan katakan apa-apa dulu,” ucap Marta menghardik sang suami.
“Pasti akan ketahuan, anak-anak akan memberitahukannya.”
“Pokoknya nanti saja, setelah suasana tenang baru kita katakan yang sebenarnya, aku takut dia marah.”
“Baiklah, ayo jangan lama-lama, kasihan bibi nungguin,” pinta Hendra, ia mengandeng tangan istrinya untuk turun dari helikopter.
Melihat Hendra dan Marta, Bu Narti tertawa bahagia, wanita itulah yang berperan besar menyatukan mereka. Marta awalnya tidak mau Hendra karena dia dokter. Setelah dibujuk Bu Narti dan Ines akhirnya mereka berdua melangsungkan pernikahan sederhana di Jerman.
“Bibi Sayang.” Marta memeluk wanita yang terlihat pucat itu.
__ADS_1
“Kalian datang semua, Bibi jadi terharu ,” ucap wanita itu mengusap sudut matanya.
“Anak-anak, salam nenek!” panggil Marta.
Kedua anak itu berlari ke arah Bu Narti, memberi salam dengan hormat pada wanita yang berjasa dalam hidup mama mereka.
“Terimakasih kesayanganku.” Bu Narti memeluk kedua cucunya.
“Apa Oma sakit?” tanya Ember mengusap telapak tangan Bu Narti.
“Ya, Oma sakit.”
“Nanti tidak bisa datang lagi ke rumah untuk jaga kami sama Abang,” ucap Amber.
“Bisa dong, makanya doakan Nenek ya, biar cepat sembuh nanti Om sama Nenek datang lagi ke rumah Amber,” sahut Heru.
“Ya Om, Aku akan berdoa untuk Nenek,” sahut Keanu.
Marta mengajak Heru untuk bicara, ia meminta lelaki itu jangan menceritakan tentang Keanu bertemu Nicolas.
“Baiklah, Aku tidak akan menceritakannya, tapi Aku yakin Nicolas akan mencari tahu sama seperti beberapa tahun lalu.”
“Nanti kita akan ceritakan semuanya pada Ines, tapi jangan hari ini.”
Heru yang menggantikan Darto mengurus semua bisnis besar keluarga Ines, ia memegang semuanya dengan Bu Narti, dibawah pimpinan Heru dan Bu Narti ternyata perkebunan milik Darto semakin berke,bang dan membuka peluang kerja untuk orang-orang di kampung didekat panti.
“Bagaimana keadaan Ibu Nes?” tanya Marta.
“Operasinya berjalan baik, mudah-mudahan tidak ada masalah, biar bisa berjalan seperti biasa lagi.”
“Bagaimana keadaan Pak Bardi?” tanya Marta.
Ines menghela napas panjang, ia terpaksa membawa Bu Narti untuk dirawat di rumah demi keselamatannya.
“Dia masih dirawat dia semakin pulih,” jawab Ines.
Saat mereka mengobrol tentang keadaan Bu Narti wajah Ines terlihat sangat khawatir, ia seolah- seolah menyembunyikan sesuatu. Lalu mengajak Marta dan Hendra untuk bicara di luar.
“Ada apa?” tanya Hendra dan Marta.
“Menurut penyelidikan polisi kecelakaan itu ada faktor kesengajaan.” Ines menatap Hendra.
“Apa maksudnya?”
__ADS_1
“Sebelumnya Bu Marisa sudah mengancam Ibu,” balas Heru.
“Maksudnya Oma yang merencanakan kecelakaan ini?”
“Itulah yang kami selidiki Ko, Aku mendengar Duha dan paman Deon bertemu preman ini di bar dan saat kecelakaan itu dalam CCTV mereka ada di sana,” ujar Ines.
“Jadi Oma belum menyerah.” Hendra menggeleng,” sudah tua kenapa harus pikirin harta duniawi lagi, kenapa dia tidak berbuat kebaikan saja biar dapat tiket ke surga nanti,” ucap Hendra kesal.
“Padahal kami sudah menyerahkan perusahaan cabang Surabaya untuk dipegang sama Pak Deon dan Duha, karena itu pesan kakek. Tapi mereka menginginkan perusahaan induk. Bu Marisa bilang kalau Bu Narti dan aku bukan siapa-siapa kakek Darto, mereka tidak akan mau menerima kami, mereka akan terima kalau Ines Pratama yang memimpin perusahaan itu. Karena itulah Aku berharap Ines turun tangan untuk mengatasi semua ini sebelum terjadi pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan,” ucap Heru.
Dari dulu Ines tidak tertarik dengan perusahaan bahkan untuk kembali ke Indonesia ia sangat keberatan, kalau saja Bu Narti tidak kecelakaan satu minggu yang lalu Ines tidak akan pulang ke Indonesia, apalagi di minta mengurus perusahaan peninggalan kakeknya ia tetap menolak, Ines menyerahkan semuanya pada Heru.
“Nes, pikirkan lagi, kamu harus menghentikan pertikaian itu, biar bagaimanapun mereka keluargaku,” ucap Hendra.
“Aku belum siap dan tidak ingin berurusan dengan mereka, Ko.”
“Kamu tidak boleh menghindar selamanya Nes, Kamu sudah melakukannya hampir enam tahun. Kini saatnya untuk bangkit tempatkan kembali semua pada tempatnya. Aku akan membantumu, Pak Gunawan juga masih hidup, kita bisa meminta bantuannya,” ucap Hendra.
Mendengar Papi Nicolas disebut, wajah Ines langsung berubah, ia tidak suka mendengar orang yang berhubungan dengan Nicolas, kecuali Hendra. Ines tidak ingin membahas tentang Nicolas dan keluarganya. Ia menghela napas panjang, lalu menggeleng dan meninggalkan mereka semua.
“Jangan memaksanya Pi,” bisik Marta.
“Aku tidak memaksa, biar bagaimanapun Nicolas suaminya.”
“Tapi itu kan bukan keinginan Ines untuk tetap jadi istrinya. Kenapa lelaki itu tidak mau menceraikan Ines. Untuk apa dia bertahan selama enam tahun menunggu Ines,” sungut Marta.
“Karena dia merasa bersalah pada Ines, Keanu berhak bertemu Ayahnya.”
“Jangan katakan itu. Kau Papi mereka berdua,” ucap Marta.
“Aku memang dipanggil Papi sama Keanu, tapi Ayah sesungguhnya kan Nicolas.”
“Sudah pi, jangan mengatakan itu lagi nanti dia marah lagi nanti Ines marah dan menghilang lagi,” bujuk Marta.
Jadi Keanu putra Ines dan Nicolas, tapi Ines hanya ibu yang melahirkan untuk Keanu, setelah dia berumur satu tahun, Ines mengikuti kegiatan sosial yang dilakukan organisasi dunia dan Ines bertugas di negara yang mengalami konflik . Keanu lebih banyak diasuh Marta dan Hendra serta Bu Narti, wanita itu bolak balik Jerman -Indonesia untuk menjenguk mereka.
Karena lebih banyak dirawat Marta dan Hendra, Keanu berpikir kalau Marta dan Hendra sebagai orang tuanya dan Amber adiknya, maka itulah Keanu panggil Marta dan Hendra sebagai Mami, dan Papi karena berpikir mereka berdua orang tua kandungnya. Ines jarang bersama putranya, ia bisa meninggalkannya sampai bertahun-tahun karena melakukan pekerjaannya.
Apakah Ines akan mempertemukan Keanu dan Nicolas?”
Ikut Cerita serunya terus ya.
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Vote juga terimakasih.