Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Ibu Mertua Tidak Lagi Mendukung


__ADS_3

Hendra dan Ines masih duduk di pemakaman bercerita banyak hal, Hendra memilih pergi tidak ingin terlibat dalam pertikaian keluarganya, tidak ingin asisten kakeknya menunggu terlalu lama. Ia yakin kakeknya dan Bu Narti sangat membutuhkannya di rumah sakit, jadi ia meminta Heru meninggalkannya di pemakaman.


“Ayo kita pulang, ini sudah sore,” bujuk Hendra.



Visual Hendra.


“Duluan saja, Aku ingin di sini sebentar lagi." Ines mencoba tersenyum.


“Kamu yakin?”


“Ya, Dok.”


“Bisakah kamu jangan memanggilku dengan sebutan , Dok. Aku ini abang iparmu dr.Ines.”


“Baiklah Ko, aku masih  ingin di sini.”


Hendra berdiri lalu menatap Ines, “ Aku akan meminta Nicolas menjemputmu.”


“Tidak usah, Aku tidak ingin membebaninya.”


“Menjemput istri kok jadi beban … gak lah dia pasti mau, Aku duluan  Aku shif malam hari ini,” ujar Hendra lalu bergegas pergi.


Hendra berjalan beberapa langkah dan berbalik badan lagi, lalu berbalik badan lagi menatap Ines. Ia menghela napas panjang  itulah alasan Hendra kenapa tidak mau  menikah, tidak ingin gagal dalam pernikahan dan mejalani hidup dengan berbagai tekanan. Ibu Hendra meninggalkannya  setelah papanya meninggal. Bagi lelaki itu pernikahan hal yang menakutkan di tambah lagi melihat Ines dan Nicolas.


“Nes …!”


“Ya.”


“Selalu ada jalan keluar di setiap masalah. Jangan menyerah.”


Ines terdiam, Hendra seolah-olah tahu apa yang ada dalam pikiran Ines, ia hanya mengangguk, Hendra meninggalkan Ines, hatinya tidak tenang meninggalkan Ines di sana, kalau ia tidak ada janji sama pasien, mungkin ia akan menemani Ines di sana. Saat ia berkendara ia menelepon Nicolas meminta menjemput Ines di pemakaman.


*



Pemakaman Sandiago Hills


Awan sudah  mengguratkan warna jingga di langit dan matahari berangsur pergi meninggalkan singgasananya,  Ines masih duduk di pinggir makam kedua orang tuanya, setelah duduk beberapa lama. Nicolas datang menjemput, padahal dari rumah sakit ke pemakaman lumayan jauh.


Melihat Nicolas datang, Ines   tidak bisa memungkiri ia  senang karena suaminya datang menjemput sebagai seorang wanita dan seorang istri perhatian yang dibutuhkan Ines saat ini, ia tersenyum gugup.


"Mami Apa dia Nicolas, suami Ines," ucapnya pelan


“Dia datang menjemput ku? Dia disuruh apa dia datang sendiri?



“Apa yang kamu lakukan? Ini sudah sore,” ujar Nicolas. Ines masih diam, ia hanya menatap Nicolas dengan perasaan campur aduk, antara senang, benci dan gugup. Kalau saja Nicolas bisa mencintai Ines dan menerima dengan tulus rasa itu akan jadi satu, merasa bahagia.


‘Katakan kamu datang karena khawatir, katakan saja seperti itu ... walau hanya kebohongan aku akan merasa senang’ ucap Nicolas dalam hati.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Ines.


“Ko Hendra memaksaku datang.”


Ines tertawa kecut,  ‘ Ines apa yang kamu harapkan’ ucapnya  menertawakan diri sendiri.


“Oh baiklah, Aku sudah menduga,” gumam Ines pelan.


“Apa kamu mengatakan sesuatu?”


“Tidak, baiklah mari kita pulang.”


Ines pamit ke makam keluarganya lalu berjalan di depan dengan diam,  melewati deretan kuburan mewah itu.


“Apa Aku melakukan kesalahan lagi?” tanya Nicolas.


“Tidak.”


“Lalu  kenapa kamu jadi diam?”


“Aku hanya  merasa sangat lelah, boleh Aku tidur?” tanya Ines saat mereka tiba di dalam mobil.


“Jangan. Mari kita bicara.”


“Bicara apa? kita sudah melakukan kesepakatan.”


“Kakekmu setuju  menerima pengobatan kembali.”


“Tapi kakek meminta kita tinggal satu rumah … tapi Aku belum siap un-”


“Jangan khawatir.  Aku tidak akan mengurusi hubungan pribadimu seperti yang sudah kita sepakati, sama seperti dulu mari kita lanjutkan seperti itu lagi," potong Ines, saat Nicolas ragu untuk tinggal bersama lagi.


Darto memutuskan tinggal di Jakarta,  panti asuhan dan perkebunannya di kampung ia serahkan sama Bu Narti , Wanita  itu yang mengambil alih semuanya tanggung jawab hal yang biasa dipegang Darto. Wanita itu juga meminta Marisa dan keluarganya meninggalkan rumah keluarga Ines . Apa yang dilakukan Marisa bukan tanpa alasan, ia melanggar janji padanya itu membuatnya marah.


“Nes, Aku tidak ingin kamu salah paham,” ujar Nicolas ragu.


“Hal apa?”


“Mami dan Novi tinggal di rumah, Naura.”


“Baiklah,” jawab Ines datar.


“Kami tidak punya rumah lagi, nanti kalau kamu melihat mami dengan Naura jangan salah paham,” ujar Nicolas.


Tiba kembali di rumah sakit ternyata bertemu Naura dan Novi, kedua wanita itu  berdiri menatap Ines dan Nicolas ada tatapan kebencian dari sorot mata Naura saat melihat Ines dan Nicolas berjalan bersama.


“Apa kita boleh bicara Nico,” ucap Naura.


"Untuk apa?" Nicolas menatap Ines seakan -akan meminta ijin padanya .


“Pergilah bicara dengannya. Aku akan ke kamar Kakek,” ujar Ines meninggalkan mereka bertiga.


__ADS_1


Visual Naura.


Nicolas mengajak Naura ke belakang rumah sakit.


“Dengar! Apapun yang kamu lakukan untuk Mami dan Novi, tidak ada hubungannya denganku. Jangan membuat hidupku dalam  masalah.” Tiba-tiba Naura memeluk dari belakang.


“Aku minta maaf Ko, Aku salah Aku janji tidak akan  mengulangi, yang dulu lagi berikan aku kesempatan kedua,” ujar Naura dengan memohon-mohon.


“Dengar Naura, Aku sudah menikah, lupakan tentang kita, carilah lelaki yang lain yang bisa menikah dengan kamu.”


"Aku tidak mau, Aku hanya ingin kamu,” rengek wanita manja itu lalu terus bergelayut di lengannya. Nicolas   masih punya sedikit kewarasan, ia  melepaskan tangan Naura dan pergi.


Saat Ines  berjalan di lorong rumah sakit bertemu ternyata bertemu Linda, wanita itu  meminta Ines untuk bicara.


“Bagaimana kabarmu Nes, selama di rumah sakit kita belum berbicara,” ujar Linda.


“Aku baik, Ma.”


“Mama boleh bicara  sebentar?”


Ines mengangguk, mereka bicara berdua di bangku samping rumah sakit, Ines sudah menduga kalau mama mertuanya akan bicara dengannya mengenai hubungan Nicolas. Saat mereka di dalam mobil juga Nicolas sudah memberi tahu kalau Maminya tinggal dengan Naura, mantan kekasih sang suami.


“Nak, Mama tidak tahu harus mulai dari mana ….”


“Kalau Mama bingung biarkan Aku yang menjelaskan semuanya. Aku dan Nicolas kembali bersama demi kakekku yang sudah sekarat, dia ingin aku tetap jadi istri Nicolas.”


“Apa kalian memutuskan bersama?”


“Menurut Mama kami harus bagaimana?”


“Mami sebenarnya tidak ingin rumah tangga anak-anak Mama  berantakan ataupun pisah, tetapi lebih baik berpisah kalau  bersatu tanpa cinta dan ujung-ujungnya saling menyakiti.”


“Mama menginginkan kami berpisah?” Ines menatap dengan kecewa, tadinya ia berpikir kalau Linda akan membujuknya untuk tetap bertahan, ternyata uang  bisa mengubah hati seseorang, saat Linda berpikir tidak akan mendapatkan bantuan dana  dari Darto, ia akhirnya melepaskan dukungannya dari Ines.


“Jangan khawatir Ma, kalau Mama juga  menginginkan perpisahan kami, Aku akan melakukannya.”


“Nes, bukan seperti itu .... kamu dan Nicolas tidak pernah saling mencintai, Nicolas bilang kalian berdua membuat kesepakatan. Jika terus bertahan itu akan menyakiti kalian berdua,” ucap Linda.


‘Tadinya Aku pikir Mama akan mendukungku jadi menantu, ternyata Aku salah’ ucap Ines dalam hati.


Uang telah mengubah semuanya, dulu saat Ines datang pertama kalinya ke rumah Nicolas, ia punya sedikit harapan karena ada Ibu mertua yang mendukungnya. Sekarang dukungan itu hilang setelah Bu Narti menghentikan bantuan dana ke perusahaan mereka.


“Baiklah Ma, kalau begitu Aku mau ke kamar Kakek dulu,” ujar Ines.


“Jangan membenci Mama Nes, di satu sisi sebagai sesama perempuan  Aku mendukungmu, tetap di sisi lain Aku seorang ibu Untuk Nicolas,” ucapnya lagi.


“Baiklah, Ma.”


‘Apa yang aku alami mudah-mudahan tidak di alami putrimu’ Ines membatin lalu meninggalkan Linda.


Bersambung


Kakak Bantu #like #vote ya terimakasih

__ADS_1


__ADS_2