Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Mengajak Liburan


__ADS_3

Ines, Heru, Marta  dan kedua anak mereka dan satu suster masih berada di Villa , menikmati ketenangan dan menikmati hembusan angin pantai.


Marta duduk menyendiri di depan Villa menatap hamparan laut di depannya. Ines menghela napas berat, bukan hanya ia yang terpukul saat ini, Marta merasakan hal yang sama.


“Apa kamu mau kita jalan-jalan keliling dunia seperti impian kita dulu?” Marta mengalihkan wajahmu menatap Ines.


“Bagaimana dengan anak-anak?”


“Kita akan membawanya bersama kita,” ujar Ines.


“Aku akan ikut,” sahut Heru juga.


Berkeliling dunia menikmati semua negara impian mereka bertiga dari sejak dulu. Ines memiliki harta dan kekayaan yang melimpah, tetapi selama ini merasa tidak bahagia. Ternyata uang banyak tidak lantas menjamin hidup seseorang bahagia. Hal itulah  mereka bertiga rasakan.


“Apa kamu yakin?” tanya Marta menatap kedua sahabatnya bergantian.


“Ya, apa yang kamu takutkan, kita akan menikmati hidup bersenang-senang dan melakukan apapun yang kita lakukan. Jangan sedih lagi,” ujar Ines mengusap punggung tangan Marta.


“Aku takut Amber rewel, sudah terbiasa sama Hendra.”


“Itu  hanya  sebentar, nanti juga akan lupa,” ujar Heru.


“Jangan khawatir … kita akan membawa dua suster kalau kamu takut tidak bisa mengawasi mereka berdua,” bujuk Ines lagi.


“Apa kita akan melarikan diri?” tanya Marta.


“Kita tidak melarikan diri, hanya liburan panjang keliling dunia mencapai impian kita dulu,” ujar  Heru.


Ines mengangguk setuju, ia tersenyum kecil, wajahnya terlihat lelah ada banyak kekhawatiran dalam pikirannya.


“Sebenarnya Aku tidak ingin kamu marah pada Hendra, kalau kamu merasa keberatan … Biarkan Aku dan Keanu yang pergi liburan.”


“Tidak, Aku tidak akan membiarkanmu sedih sendirian Nes, apapun yang terjadi kita akan tetap bersama.” Marta mengarahkan telapak tangan , Heru juga meletakkan tangannya di sana, Ines tersenyum kecil, lalu ikut meletakkan tangannya di atas tumbukan  tangan Marta dan Heru.


“Selamanya bersama,” teriak Marta


“Ya, selamanya akan bersama baik duka maupun senang sampai rambut kita memutih,” sahut Heru.


Mereka bertiga melakukan janji persahabatan itu kembali,  berencana akan  berkeliling dunia meninggalkan semua masalah yang membelit kehidupan ketiganya.


Setelah suasananya tenang, Heru berjalan menjauh dari mereka, ia menerima telepon dari Novi.


“Sayang, kamu tidak pernah mengangkat teleponku,” ujar Novi di ujung telepon.

__ADS_1


“Aku lagi di Dubai.”


“HAA sama siapa?” tanya Novi bersikap sok manja untuk menarik perhatian Heru.


“AKu ingin menikmati hidup bersama teman.”


“Kenapa tidak mengajakku?”


Tadinya ia ingin mempermainkan perasaan perempuan itu lebih lama lalu  mencampakkannya sebagai balasan atas sikapnya pada Ines di masa lalu. Tapi melihat Ines dan Marta menderita karena laki-laki, ia tidak ingin melanjutkan rencana balas dendamnya.


‘Jika Aku menyakiti hati perempuan , apa bedanya Aku sama Nicolas dan Axell, sudahlah hentikan sampai di sini’ Heru membatin.


“Mari kita tidak saling berkomunikasi lagi,” ujar Heru.


“Apa?” K-kenapa tiba-tiba,” suara Novi terbata-bata kaget karena Heru tiba-tiba ingin memutuskan hubungan dengannya.


“Aku hanya ingin sendiri.”


“Apa ini ada hubungannya dengan Ines?”


“Anggap  saja seperti itu.”


“Apa kamu bersama mereka?”


“Kamu tidak boleh seperti ini, hubungan kita sudah berjalan selama bertahun-tahun, Aku ingin  hubungan yang lebih  serius.”


“Sayang sekali … Aku tidak mau serius,  Aku bukan tipe pria yang ingin menjalani hubungan yang serius dengan satu wanita,” ujar Heru.


Novi bagai ditampar bolak balik, selama ini Heru  menggaet wanita dengan tutur katanya yang sopan dan selalu memanjakan pasangannya dengan hal-hal yang mewah,  hal itulah yang membuat Novi terpesona dengan Heru. Ia tidak pernah menduga kalau pria itu akan berkata seperti itu padanya.


“Apa kamu marah karena Ines?”


“Aku tidak ingin membahas apapun lagi, Aku hanya ingin sendiri menenangkan  pikiran.” Heru menghela napas panjang, ia tidak ingin berdebat dengan Novi, karena wanita itu tipe wanita yang tidak gampang menyerah.


“Kamu tidak bisa  memutuskan ku tanpa alasan yang jelas!” teriak Novi marah.


“Aku punya wanita lain yang jauh lebih cantik. Aku bosan menjalani satu hubungan selama bertahun-tahun,” ujar Heru.


“APA?” Novi tercengang dengan mulut  menganga dengan ucapan Heru.


“Apa kamu Heru yang Aku kenal? Kenapa bicaramu sangat berbeda.”


“Sifat Manusia bisa berubah dengan keadaan, tidak ada yang  benar-benar abadi di dunia ini Nona Novi,  begitu juga sifat dan perasaan seseorang. Oleh sebab itu jika keadaan sudah berubah kamu juga akan mengikuti arusnya, jangan mencoba bertahan apa lagi melawan arus, itu bisa menyakitimu,” ujar Heru.

__ADS_1


Walau kata-katanya agak membingungkan untuk di cerna otak Novi yang sedang marah. Namun, ia bisa sedikit menangkap sedikit makna yang tersirat di dalamnya.


“Apa kamu memintaku setuju dengan perpisahan ini?”


“Ya, kalau kamu terus bertahan, itu akan menyakitimu sendiri, sebab Aku tidak akan menoleh ke belakang.”


“Kalau kamu ingin bicara hal penting, sebaiknya kamu bicara empat mata denganku.”


“Apa kamu memintaku terbang dari Dubai ini hanya untuk mengatakan putus denganmu?” tanya Heru mulai meraja jengkel.


Novi menolak berpisah, karena baginya Heru pasangan yang cocok dengannya karena bisa memenuhi kebutuhan loyalnya. Ia berpikir ia tidak akan dapat  belanja barang-barang mewah kalau ia putus dengan heru, makanya ia selalu  ngotot tidak mau berpisah. Heru dengan tegas memutuskan hubungan  dengan Novi, ia memblokir nomor Novi setelah ia memutus hubungan.


“Harusnya … Aku memintanya jangan pakai pengaman saat itu. Mungkin kalau Aku hamil dia tidak akan meninggalkanku,” ujar Novi. Ia sungguh tidak rela putus dengan kekasih tajir seperti Heru.


Lelaki itu memang sengaja membelanjakan Novi dengan barang-barang mewah, tujuannya agar Novi tergantung padanya. Tetapi di tengah  berjalannya rencana Heru menghentikannya, ia tidak ingin menyakiti hati para wanita itu lagi.


Heru juga ditelepon  Dinda.


“Sayang, kamu di mana, Aku butuh kamu saat ini. Aku lagi sedih Axell  ternyata serius ingin menceraikan ku. Apa Aku sedih atau harus senang ya?” tanya Dinda.


Axell  dengan berani mendatangi orang tua istrinya, ia meminta maaf karena menceraikan Dinda. Selalu ada konsekuensi setiap mengambil keputusan baik itu buruk ataupun baik. Orang tua Dinda sangat marah saat Axell menceraikan anak mereka, ia mengancam Axell akan memecatnya dari rumah sakit. Tetapi Pak Dokter itu sudah siap. Saat ia mendengar Ines dan Marta menghilang, Axell berencana akan ikut mencari, sebelum ia pergi ia menyelesaikan urusannya dengan istrinya.


“Beb, apa kamu mendengar ku!?” suara Dinda membangunkan Heru dari lamunannya.


“Mari kita akhiri sampai di sini Dok,” ucap Heru.


Tiba-tiba Dinda diam, “kamu bercanda?”


“Tidak, Aku akan pergi ke luar negeri.”


“Dari dulu kan kamu selalu bolak balik Jerman -Indonesia tidak ada masalah dengan hubungan kita,” ujar Dinda.


“Kali ini Aku akan pergi waktu yang lama tidak bisa ditentukan.”


“Apa kamu punya wanita lain?”


“Ya, Aku ingin  menjaga kedua wanita yang paling berharga dalam hidupku, Aku ingin mengajak mereka jalan-jalan keliling dunia. Jadi tolong lupakan Aku. Saranku cobalah berbaikan lagi dengan Axell .”


Heru memutuskan hubungannya  dengan kedua wanita yang menjadi wanitanya selama ini.


Bersambung


Bantu Like komen Vote ya kakak

__ADS_1


__ADS_2