
Disisi lain Ines masih berusaha menenangkan pikirannya setelah ia berhasil kabur.
Saat itu hampir saja Hendra memergokinya di stasiun kereta, Saat itu Ines duduk lama di balik bangunan dekat stasiun, memastikan lelaki itu tidak mengikutinya, hingga akhirnya Ines bisa melarikan diri.
Ines pergi tidak tahu ke kemana tujuannya , akhirnya ia memutuskan ke rumah temannya seorang dokter saat ia dulu tinggal di Jerman. Maria yang tinggal di Ibukota Berlin, situasinya seperti berganti tempat antara Hendra dan dirinya. Ketika Hendra kembali dari Berlin saat tahu Iniko anaknya sakit.
Maka saat itu Ines kabur menuju Berlin, mereka sempat bertemu di stasiun bawah tanah, beruntung Hendra palsu tidak melihat. Ines bahkan tidak mengabari Mery terlebih dahulu membuat wanita itu kaget, karena Ines tiba di rumahnya sudah hampir pagi dengan membawa bayinya dalam bungkusan mantel hangat.
Wajah Ines membiru diterpa dinginnya udara pagi.
“Hai, apa yang terjadi?” tanya dr. Mery dengan wajah kaget, tangannya menarik tubuh Ines dan membawanya ke dalam rumah.
“Nanti aku ceritakan, berikan aku segelas susu hangat dulu Dokter,” ujar Ines .
*
Setelah duduk dan menceritakan pada Mery, wanita itu tahu kalau Ines dalam masalah besar, saat itu juga membawa Ines ke tempat lebih aman. Ia tau tidak beberapa saat lagi akan ada orang yang datang mencari ke tempatnya, dia tau keterlibatan Hendra dalam satu bisnis kotor dalam bidang medis, penjualan obat bius, dan organ dalam manusia secara illegal, dan bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di Jerman.
Cerita itu diperkuat Heru yang menceritakan semua padanya.
Ines tidak tau kalau Hendra terlibat dalam hal kejahatan kemanusian seperti itu.
Maria menyebut organ illegal yang mereka jual korbannya kebanyakan anak –anak, dan lebih banyak didapat dari Asia tenggara Vietnam , Kamboja, Filipina, dan dari Indonesia, mereka anak –anak miskin korban dari janji palsu dan iming-iming uang besar yang di berikan para pelaku pada mereka.
“Itu bukan dr, Hendra yang asli,” ujar Ines, tapi ia tidak punya banyak waktu untuk menceritakan kalau lelaki yang mengaku dr Hendra itu adalah palsu.
“Hendra itu sangat jahat,” ujar dr. Mery.
__ADS_1
Hati ines panas mendengarnya, orang yang hidup bersamanya selama ini ternyata seorang Iblis yang berwujud manusia. Orang yang mengaku seorang dokter itu ternyata penjahat seperti Suroto.
Akhirnya Ines paham penjagaan yang di lakukan dirumahnya selama ini, awalnya ia memang tidak curiga’ tapi dengan tidak memperbolehkannya menggunakan Internet dan tidak memperbolehkan menghubungi Bu Narti dan Heru itu awal ia berencana kabur.
Baru beberapa jam dia tiba di rumah Mery wanita itu langsung mengungsikan ketempat aman. Benar saja, baru beberapa jam Ines ia dipindahkan ke rumah teman yang berprofesi seorang Polisi
Setelah Ines pergi beberapa saat , dua orang laki laki berbadan tegap datang ke rumahnya yang mengaku petugas pengecekan bagian listrik, Merry sudah tau akan hal itu aka terjadi.
Berpura pura mengecek kabel kabel ke bagian dalam rumah, bahkan ia memperbolehkan dengan sikap tenang agar kedua orang tersebut tidak curiga padanya.
“Baik madam..!” tidak ada kesalahan katanya dalam bahasa Jerman yang kaku dan sepertinya mereka orang Rusia, terlihat dari gaya bahasanya dan matanya mempunyai ciri khas warna abu pucat.
Kedatangan kedua orang itu ke negaranya itu membuktikan ada transaksi besar yang mereka lakukan saat itu, Itu juga membuat Hendra selama dua hari di Berlin.
“Kamu dalam masalah besar Ines jika kamu berurusan dengan pera penjahat ini' ucap dr Mery dalam benaknya, karna ia tau siapa yang terlibat dalam perkumpulan itu, jika anggotanya melakukan kesalahan, tidak akan segan segan melukai anggota keluarga yang lain.
termasuk di Indonesia yang dulunya dipegang Suroto kini Namanya di ambil Hendra palsu.
Mery yakin sesuatu telah dipasang dirumahnya semacam alat penyadap,
Ia berpikir sudah ikut terseret juga, ingin menghubungi Bu Narti untuk memberitahukan tentang Ines, tapi sudah dipasang alat penyadap di teleponnya.
Kalau ia pergi menemui Ines maka situasi akan semakin sulit karna akan mengetahui keberadaan Ines juga, Ia berputar bagai gangsing rusak, Otaknya tiba tiba teringat sesuatu, jika kedua orang itu bisa langsung cepat tau keberadaan Ines berarti mereka sudah memasang alat pendeteksi di tubuh Ines kalau nggak ditubuh anaknya.
“Ya ampun, pantas saja mereka bisa tahu kemana Ines pergi,” ucap Mery.
Ia ingin memberitahukan kalau di badan Ines ada alat penyadap, Mery mencoba mencari jalan yang paling ramai untuk menghilangkan jejak dari kedua orang yang sedang mengikutinya. Jantung Mery begitu berguncang tidak karuan, walau ini bukan yang pertama baginya, tapi menyangkut nyawa teman dan anaknya membuatnya semakin panik.
__ADS_1
Dia menyetir layaknya seorang aktris dalam film film action Hollywood, menyelinap dari setiap celah jalanan dan akhirnya berhenti di sebuah gedung lalu ia mengawasi dan meninggalkan mobilnya dalam gedung tersebut.
Ia menaiki taxi dan menghubungi teman Polisinya melalui telepon umum , ia meminta memeriksa Ines dan anaknya untuk melepaskan alat penyadap dari tubuh mereka,
benar saja, Ines dipasang sebuah alat canggih yang pemasangannya tidak diketahui olehnya, dipasang melalui suntikan di belakan lehernya.
Polisi teman Mery harus hati- hati dan bekerja keras dan berpacu dengan waktu untuk melepaskan sebelum kedua orang yang mengikuti Mery mendapat titik keberadaan mereka.
satu suntikan semacam penyedotan cairan akhirnya bisa mengeluarkan walau Ines harus meringis menahan Rasa sakit yang Luar biasa di bagian leher belakangnya.
Bahkan darah segar membasahi lehernya akibat pengambilan alat itu, Setelah alat itu bisa dikeluarkan lalu dibawa jauh.
Mery juga tiba di sana, tangisan Ines pecah di pelukan Mery, bukan karena rasa sakitnya tapi ia takut mereka menyakiti bayinya.
“Kenapa penjahat itu menginginkanku?” tanya Ines.
“Tenanglah dokter, semua akan baik-baik saja, aku yakin suamimu akan menemukan kalian,” ujar dr, Mery untuk menenangkannya.
“Aku merindukan anak dan suami,” lirih Ines pelan.
“Percayalah suatu saat kalian akan bertemu, yang penting kamu harus keluar dari negara ini.”
“Aku terkadang berpikir Tuhan telah meninggalkanku. Hidupku selalu menderita dari kecil sampai sekarang,” ujar Ines, karena putus ada ia kembali menyalahkan Tuhan.
“Terkadang manusia itu saat penderitaan hidup begitu berat di pikul dan tidak ada lagi tangan untuk dipegang sebagai penopang lalu mengeluh dan menyalahkan Tuhan. Tapi yakinlah Tuhan tidak pernah memberi percobaan melebihi kemampuan manusia.” Mery mengkotbahinya, wanita cantik itu hanya bisa mengangguk, Ines buru-buru menyeka air matanya melihat putranya sudah bagun dan tersenyum padanya, semangatnya pulih kembali.
Bersambung
__ADS_1