Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Selamat Jalan Kakek.


__ADS_3

Ines akhirnya memberanikan diri, ia berdiri  di dekat Pak Darto, melihat Ines ingin memberi ucapan perpisahan, Heru semakin sedih, ia yakin lelaki yang bersamanya selama puluhan tahun itu akan pergi.


Hampir dua puluh tahun Heru menjadi asisten Darto, kemana lelaki itu pergi di sana ada Heru, ia keluar dan menangis di kursi taman sendirian. Ines mendekat memegang telapak tangan sang kakek duduk di kursi di samping ranjang.


“Kakek … kemarin aku menemui Mami di rumah mereka, dia bilang terimakasih sudah menjagaku dengan baik. Kakek pasti sudah lelah, Aku ikhlas Kek kalau Kakek ingin menemui mereka, Aku tidak apa-apa, Jangan khawatir Kek  sudah ada yang akan menjagaku menggantikan mu, dia akan bersamaku kami akan saling menjaga seperti yang kakek lakukan padaku,” ujar Ines.


Bu Narti dan Marta yang melihat Ines, hanya bisa menangis.


“Pergilah Kek temui Nenek, Aku ikhlas tidak ingin melihat kakek sakit-sakitan. Aku hamil Kek, anakku akan menjagaku nantinya sebagai mana kakek menjagaku,” bisik Ines memeluk Darto membawa telapak tangan sang kakek ke perutnya, “doakan kami nanti dari surga ya Kakek,” ucap Ines, tidak lama kemudian Darto meneteskan air mata tidak lama kemudian.


Tit ….!


Suara panjang terdengar dari layar monitor.


Mendengar suara nada panjang dari layar monitor itu, pundak Ines terguncang masih memeluk tubuh sang kakek dengan erat, ia bahkan tidak ingin melepaskan pelukan itu, memeluk semakin erat.


"terimakasih Kakek," bisik Ines disela tangisannya.


Axell baru saja tiba setelah dikabarin Bu Narti, ia terdiam saat melihat layar monitor itu menunjukkan garis-garis panjang diikuti nada panjang dari layar monitor.


Sebagai seorang dokter, kematian sudah hal biasa baginya. Namun, saat melihat Ines menangis dengan bahu terguncang,  ia meneteskan air mata .


“Selamat jalan, Kakek,” bisik Axel pelan, ia menelepon Nicolas tetapi tidak diangkat.


“Kakek!”teriak Marta berlari  memeluk Darto.


Heru juga semakin menangis sesenggukan setelah mendengar teriakan Marta, sementara Bu Narti terlihat lebih tegar, ia melakukan itu agar Ines kuat.


Setelah beberapa menit berusaha tegar menahan suara tangis,  Ines akhirnya  menangis keras, ia meluapkan semua perasaan yang sedari ia tahan.


“AAA... Kakek, ah!” Ia menangis dengan Marta, Heru datang dari luar berdiri di pintu mengigit kepalan tangannya, Heru, Ines, Marta sudah seperti cucu untuk Darto. Kedua orang inilah yang selalu membela Ines jika ada yang membuli Ines saat sekolah dulu.


“Pak …. Terimakasih.” Heru mendekat memegang tangan Darto.


“Ru, kakek sudah pergi, tidak ada lagi yang akan membela kita,” ucap Marta.


Heru memeluk pundak Ines dan memeluk Marta juga, “Biarkan dia tenang,” ucap lelaki lelaki bertubuh tinggi tegap itu menarik Ines dan Marta membiarkan team dokter melakukan pengurusan kematian kakek Mereka.


Bu Narti hanya bisa menangis dengan diam di belakang mereka, tidak berapa lama kemudian para dokter akhirnya melakukan tindakan.


Axell keluar  tidak bisa menelepon Nicolas ia akhirnya menelepon Linda dan Novi mengabari kalau Pak Darto sudah meninggal.


                         *

__ADS_1


 Di rumah sakit Nicolas  menemani Naura saat lukanya dijahit. Saat ingin pulang lagi-lagi Naura tidak memperbolehkannya pergi, karena merasa bersalah karena melukai Naura. Nicolas terpaksa menjaga di rumah sakit , ia tertidur di sofa di ruangan.


Ia terbangun setelah suster datang memeriksa Naura, saat  melirik jam di dinding ia terperanjat karena sudah jam sembilan pagi.


“Oh gila! Kenapa Aku bisa  ketiduran sampai selama ini.” Nicolas bangun dan  berlari keluar, ia tidak menghiraukan Naura yang memanggilnya


“Ya  Ampun kenapa Aku bisa tidur kebablasan sampai pagi,” ucap Nicolas berlari ke mobil.


Ia mencari ponselnya di dalam mobil tidak ada, ia baru ingat kalau terjatuh di rumah Naura, ia menyetir  buru-buru ke rumah Naura . Nicolas sudah punya firasat buruk merasa tidak tenang, tiba di rumah Naura ia berlari ke kamar Naura tanpa permisi dan tanpa izin. Setelah mendapatkan ponsel miliknya wajahnya  panik saat ada puluhan bahkan ratusan pesan dan panggilan masuk dari banyak orang.


Nicolas  menelepon Ines, tapi tidak diangkat, wanita itu sedang terduduk sedih di samping peti sang kakek. Melihat ada nama Axell dalam daftar telepon panggilan masuk ia menelepon.


“Halo.”


“Nico! Kamu dari mana!?” teriak Axell marah.


“Nanti aku jelaskan ak-


“Kakek Ines meninggal,” potong Axell.


“APA?” Wajah Nicolas pucat .”A-Apa maksudnya?” tanya lelaki itu dengan terbata-bata.


“Ya, tadi malam Pak Darto meninggal. Kamu dari mana? semua orang sudah  ada di sini. Keluarga kamu juga sudah ada di rumah duka.”


“Ooh sial! Maaf … maafkan Aku Nes,” ucap Nicolas meletakkan kepalanya di atas setir mengingat kepalan tangan dengan putus asa.


Disisi lain.


Ines mendapat kabar dari pengacara dan Bu Narti kalau Pak Darto ingin dimakamkan di kampung.


Setelah dilakukan acara perpisahan sebentar di rumah duka rumah sakit, mereka bersiap akan membawa Darto ke kampung, Kakek Ines sudah  menuliskan dalam wasiatnya kalau ia meminta dimakamkan di samping panti asuhan miliknya.  Awalnya Ines kaget, ia pikir kalau kakeknya akan dimakamkan pemakaman yang sama dengan istrinya, ternyata ia ingin dikuburkan di samping panti asuhan yang ia bangun. Pak Darto juga meminta makam istrinya dipindahkan bersamanya.


“Bibi sudah mengurus semuanya jangan khawatir. Kamu fokus dengan kesehatan kamu, jangan menangis lagi,” ujar Bu Narti, Ines mengangguk setuju.


Saat Nicolas tiba ternyata mobil ambulan itu sudah pergi,  mereka  sudah terbang ke kampung. Semua begitu cepat karena Bu Narti sudah mempersiapkan semuanya termasuk acara ibadah di kampung.


“Ines!” Nico berlari masuk ke dalam ruangan.


“Ko, kamu dari mana?” tanya Linda terkejut melihat penampilan putranya yang berantakan.


“Mami! Ke-kemana mereka?” tanya Nicolas gugup.


“Mereka sudah terbang ke kampung Pak Darto aka dimakamkan di sana.”

__ADS_1


“APA …? I-Ines?”


“Ines juga ikut pulang,” jawab wanita itu dengan wajah sedih, melihat wajah Ines tadi ia merasa sangat bersalah. Ia menyesal memintanya berpisah dengan Nicolas.


“Mami … Bagaimana ini, Aku harus ada di sana,” ujar Nicolas  panik.


“ Bu Narti menyewa jet pribadi untuk membawa mereka pulang ke kampung Nak. Lalu kamu mau naik apa, perjalanan naik mobil butuh  berapa jam tiba di sana. Berangkat sekarang pasti macet, bisa besok pagi kalian tiba.”


“Tidak mengapa Mi, Aku harus ada di sana, walau jauh tidak apa-apa. Aku harus  menemani Ines, dia pasti sangat terluka,” ujar Nicolas ia mengusap ujung matanya dengan satu tangan.


‘Apa Nicolas sudah jatuh cinta pada Ines? Dia tidak pernah menangis seperti ini’ ucap wanita itu dalam hati.


“Baiklah, kamu tidak boleh pulang sendiri.”


Axell baru saja keluar dari aula. “Kamu dari mana saja  Bro, Aku menelepon dari tadi malam tidak kamu angkat.”


“Aku harus pulang, Aku harus di sana, Xell,” ucap Nicolas ia bukan menjawab pertanyaan Axell tapi Nicolas bersikap seperti orang linglung.


“Kamu tidak bisa menyetir dengan keadaan seperti ini Ko,” ujar Linda melarang.


Setelah dibujuk sama Linda , akhirnya Axell bersedia menemani  Nicolas pulang, ia akan menyetir  untuk membawa Ke kampung.


Sementara di kampung jenazah Darto di sambut tangisan sama semua anak-anak panti, suara   tangisan mereka pecah setelah peti  sudah sampai di halaman panti. Ines masih duduk dengan diam , mengusap air yang mengalir deras di pipinya, air mata itu tidak berhenti mengalir apalagi saat melihat malang itu menangis, Ines dengan mereka sama. Sama-sama yatim piatu.


Untung Bu Narti dan Marta setia mendampingi Ines kedua  wanita itu mengapit Ines kanan kiri.


“Apa Nicolas belum mengangkat teleponnya?” tanya Marta.



“ Aku tidak tahu Ta dan Aku tidak perduli lagi padanya. Kakekku sudah pergi selamanya untuk apa memikirkan pria itu lagi,” ucap Ines dengan sedih.


“Ya, lupakan semua mereka. Jangan temui dia lagi, setelah Kakek dimakamkan kita akan terbang kembali ke Jerman . Lupakan semua kesedihan kamu harus kuat demi bayi dalam  kandunganmu, biar bibi yang mengurus semuanya.”


“ Baiklah.” Ines mengangguk setuju.


Setelah melakukan serangkaian acara ibadah dan perpisahan,  setelah sore Darto akhirnya dimakamkan. Bu Narti tidak ingin Ines semakin sedih  maka itu Bu Narti melakukan penguburan dengan cepat, Kakek Darto sudah pergi selamanya meninggalkan  banyak kenangan baik untuk semua orang, karena itulah saat pemakaman lelaki itu banyak orang yang mengantarkannya  dan mendoakannya.


“Selamat jalan Kakek,” ucap Ines melemparkan  tanah perpisahan ke liang lahat kakeknya Ikuti  semua orang.


“Allah menciptakan manusia dari tanah  maka akan kembali ke tanah,” ucap Romo melemparkan tanah , lalu menutup peti dengan tanah, tangisan semua orang pecah lagi saat peti mati itu di tertutup tanah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2