
“Aku sakit Ta, aku sakit keras,” ujar Hendra.
“Bohong, kamu mengatakan itu agar Aku kembali kan?”
“Untuk apa Aku berbohong padamu Ta,” ujar Hendra dengan nada suara memelas.
“Lalu kenapa kamu baru katakan sekarang?”
“Aku tidak ingin membuatmu sedih, penyakit ini sudah lama Aku derita yang bisa terkadang bisa kambuh di saat-saat tertentu. Karena itulah Aku melarang kamu hamil, Aku tidak ingin meninggalkanmu memikul beban.”
“Bohong, Aku tidak percaya, semua itu kamu lakukan agar Aku mau kembali.”
“Saat itu kamu bertanya kenapa Aku tiba-tiba pakai kaca mata, itu karena penyakit ini mulai menyerang mataku. Aku butuh kamu di sini,” ujar Hendra memelas.
Suasana tiba-tiba jadi hening, hanya terdengar suara isakan tangis dari ujung telepon. Sekarang gantian Marta yang mematung tidak bisa mengatakan apa-apa, mendengar sang suami sakit keras tiba-tiba mulutnya seakan-akan terkunci.
“Sayang … apa kamu masih di sana? Pulanglah Aku ingin melihat kalian sebelum Aku kehilangan penglihatan ku,” ujar Hendra.
Marta semakin menangis sejadi-jadinya, Ia bahkan tidak tahu menangis untuk apa, Apa untuk hidupnya yang malang atua suaminya yang sakit?
Marta menutup teleponnya, lalu ia terduduk di tanah dan menangis .
Mendengar Marta menangis Histeris Ines kaget, ia berlari dari dalam Villa menghampiri Marta. Saat itu Ines sedang mempersiapkan koper dan barang-barang yang akan mereka bawa untuk rencana perjalanan panjang mereka.
Selama seminggu Mereka menginap di Villa keluarga dan rencananya besok hari mereka akan berangkat. Tetapi sepertinya rencana mereka akan sedikit perubahan.
“A-Apa yang terjadi Ta, Apa kamu sakit.” Ines panik, saking paniknya suaranya sampai terbata-bata, ia memegang telapak tangan Marta.
Tapi Marta masih menangis, ponsel yang dipegang Marta berdering lagi. Hendra menelepon balik setelah Marta mematikan sambungan telepon. Marta tidak mau mengangkat ia terus menangis, Ines mengambil dari tangan Marta karena ia tidak mau menjawab maka Ines yang melakukannya.
“Ko Hendra?” Ines menekan tanda jawab.
“Halo Ko ini Aku Ines.”
“Nes … Aku minta maaf karena mengingkari janji, tapi tolong … Aku harus bertemu Marta.”
“Dia menolak pulang, Aku sudah meminta dia pulang tapi dia tolak,” ujar Ines dengan nada suara ketus, apa yang dilakukan Hendra satu minggu yang lalu masih membuatnya marah.
“Nes, dia sedang hamil bagaimana mungkin bisa bepergian jauh.”
__ADS_1
“APA? HAMIL?” Ines kaget.
“Apa kamu juga tidak tau?” tanya Hendra.
“Tidak, dia belum memberi tahu kami, ya sudah Aku akan membujuknya pulang.” Ines mematikan sambungan telepon.
Ines berdiri menatap Marta dengan perasaan khawatir, pantas saja beberapa hari bersamanya Marta selalu lemas dan pusing-pusing ternyata ia hamil.
‘Untung saja tidak melakukan kesalahan Ta, bagaimana kalau kita jadi pergi dan kamu kenapa-kenapa, Aku akan merasa bersalah. Kenapa tidak bilang saja kamu sedang hami’ ucap Ines dalam hati.
“Kemarilah duduk di sini jangan menangis terus.” Ines memapahnya untuk duduk di kursi. Heru juga datang, melihat marta menangis ia mengambil air minum dan memberikannya pada Marta, setelah ia tenang barulah Marta memulai cerita.
“Dia bilang dia sakit keras, Apa yang harus aku lakukan Nes.”
“Sakit? Siapa yang sakit?” suara Ines dan Heru bersamaan.
“Hendra dia bilang penyakitnya sudah parah.”
“Itu artinya kamu harus pulang dan mendampingi suamimu,” ujar Ines dengan tenang, dari awal Ines juga tidak ingin Marta dan Hendra bertengkar karena dirinya.
“Lalu bagaimana dengan kamu Nes …?”
“Jangan pikirkan tentang Aku, kamu juga tidak boleh capek kan, Aku akan liburan dengan putraku,” ujar Ines.
“Dia tidak akan berbohong tentang suatu penyakit Ta, karena dia juga seorang dokter,” tutur Ines.
“Apa yang harus Aku lakukan?”
“Ya kamu pulang Ta … kenapa kamu tidak terus terang kalau kamu hamil,” ujar Ines memeluk pundak Marta.
“Kamu hamil Ta?” Heru juga kaget, karena ia yang paling ngotot mengajak Marta untuk jalan-jalan.
“Aku tidak ingin mengecewakan kalian,” ujar Marta.
“Mengecewakan bagaimana Ta … justru kami akan merasa bersalah kalau bayimu kenapa-kenapa,” ujar Heru dia marah pada Marta karena tidak terus terang .
“Kenapa tidak bilang , Apa alasannya?” tanya Ines dengan lembut.
“Sebenarnya selama ini dia tidak mau dia hamil, hanya aku yang memaksa.”
__ADS_1
“Kenapa tidak suka?” tanya Heru bingung.
“Aku juga tidak tau, dia bilang dia ingin fokus mengurus Amber dan Keanu, tadinya Aku pikir dia tidak mau Aku kerepotan, ternyata ….”
“Mungkin karena dia tahu dia sedang sakit,” sahut Ines.
“Ya, seharusnya kamu kasih tahu kami juga , Marta,” ujar Heru.
“Aku juga baru tadi mengetahuinya, setelah aku minta tolong suster beli testpack di apotek, Aku tidak ingin menggagalkan rencana kalian semua sudah dipersiapkan.”
“Aduh Ta, semua itu bisa dibatalkan jangan khawatir. Intinya kamu harus pulang aku akan meminta Dirman untuk menjemput kamu ke sini,” ujar Heru.
“Lalu kalian?” Marta seolah-olah tidak rela kalau kedua sahabatnya meninggalkannya.
“Kami akan tetap pada rencana pertama.”
“Aku tidak tidak mau kalian tinggalkan sendirian di sini,” ujar Marta berurai air mata.
“Ta, penyesalan selalu datang terlambat, Aku tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari. Kalau Hendra benar-benar sakit dia membutuhkanmu, lagian kamu jug tidak bisa jalan jauh-jauh,” ujar Ines menjelaskan.
“Kalian berdua jangan pergi, tunggulah Aku,” ujar Marta kembali menangis, ia terlihat seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal sang ibu.
Marta memegang lengan Ines meminta sang sahabat jangan meninggalkannya.
“Aku belum rela mempertemukan Keanu dengan keluarga Nicolas Ta, karena itu Aku harus pergi.”
“Bagaimana dengan Aku?” tanya Marta menatap mereka berdua bergantian.
Mereka sudah terbiasa selalu bersama dari sejak kecil, bahkan saat Ines kuliah di Jerman dulu setiap kali Pak Darto mengunjungi Ines, Marta dan Heru selalu ikut. Bergantung satu sama lain itulah yang terjadi sama mereka bertiga.
“Ada suamimu yang ingin kamu urus Ta. Kami akan memberi kamu kabar,” bujuk Heru.
“Aku juga tidak ingin jauh dari Keanu, bagaimana Amber … dia juga tidak akan bisa pisah dari Keanu,” ujar Marta lagi.
Kalau disuruh memilih antara suami dan kedua sahabatnya, Marta mungkin akan lebih memilih Ines, ia juga takut Amber akan diambil keluarga Axell.
“Ta, tidak selamanya keadaan sama dari waktu ke waktu, ada kalanya kita berubah karena kondisi dan keadaan,” ujar Heru memberi petuah-petuah dan nasihat pada sang sahabat. Mereka berdua berharap Marta mau dan kembali bersama suaminya.
Apakah Marta akan tinggal dan kembali pada suaminya atau dia akan memili kedua sahabat?
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa kasih Vote, like, komen dang share juga boleh, Baca juga karyaku yang lain ya seperti: