Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Jadi Dokter Kakekku


__ADS_3

Masih dalam rumah sakit. Darto masih berbaring di ranjang rumah sakit, Gunawan juga masih dalam penanganan dokter, Papi Nicolas terpaksa dilarikan ke rumah sakit saat ia mendengar perusahaan dalam masalah besar, ia  tiba-tiba sesak nafas.


Saat Ines keluar dari ruangan Darto, ternyata di luar kamar sedang rame, Ada Novi dan Naura yang baru tiba dari luar kota. Keluarga itu menatap Ines dengan tatapan melongo.



“Apa itu Nes?” tanya Novi melirik Julio.


“Ya.”


“Kenapa tiba-tiba  cantik?”


“Ya itu wajah aslinya, jadi selama ini dia hanya menyembunyikan kecantikannya di balik bedak hitam yang selalu dia pakai.”


“Kenapa dia  melakukan itu?” tanya Naura menatap Ines  tanpa berkedip.


Ines berjalan tanpa menghiraukan keluarga dari suaminya tersebut, ia mengabaikan Nicolas  yang duduk di sana bahkan mengabaikan Linda mami mertuanya. Nicolas ingin bicara berdua dengan Ines, tetapi Ines tidak memberi kesempatan, sekarang gantian. Dulu Ines yang diabaikan oleh keluarga Nicolas, sekarang wanita berkulit putih itu yang mengacuhkan mereka semua. Ines bukannya ingin sombong tetapi hal yang wajar baginya kalau ia masih sakit hati.


Ines juga merasa sangat sedih karena


Darto  bersikap seolah-olah ia tidak berumur panjang lagi. Darto memberi pesan-pesan perpisahan dengan Ines karena itulah Ines merasa dunianya ingin runtuh, ia berjalan dengan wajah muram.


‘Tidak , kakekku akan baik-baik saja, Aku akan bertemu dokter’ ucap Ines berjalan dengan diam melewati suaminya yang berdiri menatapnya.


“Nes! Kamu tidak apa-apa? Hendra  menghampiri Ines.”


“ Boleh Aku bertemu dokter yang menanggani kakek?”


“Kenapa?Apa ada masalah?”


“Dia seolah-olah ingin mati, dia selalu memberiku nasihat-nasihat.”


"Bukankah kamu sudah bertemu kemarin?"


"Bukan katanya dokter senior yang memeriksa kakek kemarin."

__ADS_1


Melihat wajah Ines yang pucat, Hendra tidak ingin menambah beban jadi ia mengajak bertemu dokter yang menangani kakek Ines, tiba di sana  mata Ines melotot kaget, ternyata   yang menangani Darto seorang doktor, dosen pembimbing Ines saat kuliah di Jerman lelaki tua itu juga kaget saat mengetahui kalau Darto kakek Ines.


“Dok, Aku ingin kakekku sembuh,” ujar Ines setelah doktor senior itu menjelaskan keadaan Darto. Ines terlihat putus asa, ia belum siap kehilangan kakek tercinta.


“Nes, kamu kan seorang dokter, kamu tahu kematian -”


“Aku belum siap Dok,” potong Ines.


Hendra dan Doktor senior itu saling menatap.


"Duduklah dulu, Aku mau bilang sama kamu … Ibarat motor tua, walau  kamu ganti mesin dan ganti onderdilnya dia tetaplah motor tua, tidak akan bisa jadi baru.”


“Aku sudah melihat catatannya Kakek kamu sudah beberapa kali ganti ring Nes, sejak kamu masih kecil dia sudah pernah, kehidupan yang dia jalani saat ini, anggap saja Bonus dari Tuhan agar bisa merawat kamu sampai dewasa, tugasnya sudah selesai Nes, sekarang tugas kamu yang mengejar kebahagian kamu. Biarkan kakekmu istirahat dia sudah lelah,” ujar Doktor senior tersebut.


Ines tidak bisa membendung air matanya, mendengar hal itu, di satu sisi dia tidak tega melihat kakeknya terus-menerus sakit-sakitan di satu sisi ia belum sia kehilangan .


“Itu berat bagiku sebagai manusia dan sebagai cucu,” ucap Ines.


“Tapi, sebagai dokter, Kamu harus siap untuk segala kemungkinan,” ujar doktor senior itu.


Hendra hanya diam, ia tidak bisa berkata apa-apa, kehilangan orang yang kita cintai tidaklah muda, tetapi kematian tidak ada yang bisa menolak.


“Saya bukan dokter  yang bertugas di sini , Dok.”


“Anggap saja Aku memperkerjakan mu, kebetulan rumah sakit  sedang butuh dokter, bukankah kamu pernah bilang ingin merawat kakekmu jika sakit? Ini kesempatan kamu,” ujar dokter sembari menyodorkan jubah dokter berwarna putih tersebut padanya.


“Ya, kamu bisa merawat Kekek dengan baik,” ujar Hendra.


“Aku mau, tapi aku belum siap... melihatnya meninggalkanku.”


“Tidak ada yang bisa mencegah kematian dr. Ines. Ayo  aku merekrut secara langsung untuk kerja di sini . Untuk mengurus administrasinya  nanti akan saya suruh orang,” ucap Doktor senior itu dengan yakin.


Ines pernah punya keinginan untuk bekerja di rumah sakit di tanah air agar bisa merawat kakeknya yang sudah sering sakit-sakitan, tetapi ia  belum pernah ada kesempatan. Ines sudah lulus sekolah kedokteran sudah menjadi dokter umum, tapi ia memilih sekolah kembali untuk mendapatkan gelar dokter bagian saraf dan  bagian bedah bahkan Ines masih berniat ingn kuliah lagi untuk mengambil  gelar doktor. Tapi Bu Narti dan Darto meminta Ines pulang ke Indonesia, itulah sebabnya Ines pulang dan menikah dengan Nicolas, tetapi saat ini orang yang ia nikahi tersebut melukai hatinya dan Ines  belum mamu memaafkan sang suami.


“Baiklah, Aku mau,” ucap Ines, akhirnya ia mau.

__ADS_1


“Ya, kami membutuhkan tenaga dokter di sini, apa lagi bagian bedah,” ujar Hendra.


“Biasa orang yang pintar dan berbakat itu, gampang cari kerja Nes, tidak perlu mengikuti tes maupun  lamar pekerjaan apa lagi lulusan luar negeri."


Apapun yang dikatakan kedua dokter itu Ines hanya diam, ia menatap kertas  catatan kesehatan sang kakek.


‘Apa harus seperti ini? Apa aku dipaksa ikhlas untuk menerima?’ tanya Ines dalam hati.


Matanya menatap sedih catatan kesehatan sang kakek, sedih, takut itulah yang dirasakan Ines saat itu.


“Nes, kamu akan kuat jika kamu sudah memakai jubah dokter milikmu, kamu tidak akan merasa sedih, coba saja,” ucap Hendra ia meminta Ines memakai jubah berwarna putih tersebut.


“Ya, mari kita di kamar kakekmu kita akan melakukan pemeriksaan , kali ini kamu yang akan melakukannya.”


Awalnya Ines  merasa sangat  berat melakukannya, padahal dulu alasan Ines jadi dokter, ia ingin menyembuhkan penyakit kakeknya, tetapi selama jadi dokter, Darto  melarang Ines memeriksa dirinya, ia menyembunyikan penyakitnya dari Ines, lelaki tua itu tidak ingin cucu kesayangannya mengetahui penyakitnya.


“Aku bahkan tidak tahu kalau kakek sudah ganti ring berapa kali.Dulu dia selalu menolak setiap kali aku ingin memeriksanya,” ujar Ines.


“Itulah yang ingin aku katakan padamu Nes, kakekmu  sudah lama menderita karena penyakitnya dia  bia bertahan demi kamu katanya, saat saya meriksa dia bilang jangan mengatakan padamu, tetapi aku berpikir kamu harus tau," ujar doktor senior tersebut.


Ines mengusap air matanya dengan sedih, ia setuju  untuk menjadi dokter kakeknya selama di rumah sakit , itulah impian Ines dari dulu.


Saat mereka bertiga berjalan menuju kamar Darto, mata keluarga Nicolas lagi-lagi melongo saat melihat Ines memakai baju dokter.


“A-apa dia dokter?” tanya Novi kaget.


Mereka bertiga berjalan dengan santai melewati keluarga Nicolas yang saat itu  berada di ruang tunggu.


“Ya, dia dokter, dokter lulusan Jerman lagi,” ucap Axelle yang saat itu berdiri di samping Nicolas.


“Kenapa dia selama ini berpura-pura jadi orang kampung,” ucap Novi.


“Agar kamu  bisa menghinanya,” celetuk Julio.


Tetapi kali ini Ines sudah berubah bak orang lain, tidak ada lagi senyuman ceria dari bibirnya, ia bahkan bersikap seolah-olah tidak melihat sang suami yang berdiri menatap Ines. Nicolas beberapa kali mencoba ingin bicara  berdua, bahkan ia meminta pada Hendra . Namun Ines menolak, baginya semuanya sudah berubah dan tidak akan bisa lagi diperbaiki, keadaan Darto akan membuatnya semakin terpukul nantinya.

__ADS_1


Bersambung


Bantu vote like komen ya kakak


__ADS_2