
Setelah ia bicara dengan Axell, Nicolas menelepon Maminya, selama satu minggu ia sengaja mematikan telepon, ia tidak ingin di ganggu. Saat ia nyalakan rupanya Axell meneleponnya dan memberikan kabar yang membuatnya sangat panik. Bagaimana tidak panik ia dituduh melakukan hal yang memalukan pada istrinya.
Visual Nicolas
“Halo Mi.”
“Ko, kamu kenapa tidak mengangkat telepon dari Mami, Nak?” ujar wanita itu sesenggukan, banyaknya masalah di rumahnya dan tekanan dari ibu mertuanya membuat Linda menangis.
“Mi … kenapa menangis?” tanya Nicolas , ia menahan napas. Nicolas berpikir terjadi hal buruk.
“Mami, hanya sedih karena kamu meninggalkan Mami. Nak, tolong pulang, selamatkan Mami.”
“Ada apa?”
“Pulanglah dulu, mari kita bicara.”
“Baik Mi,” jawab Nicolas lalu ia mematikan sambungan telepon. Nicolas masih gugup, ia bahkan sampai lupa bertanya sama Maminya tentang yang terjadi malam itu.
“Astaga kenapa aku tidak bisa mengingat tentang malam itu,” ucap Nicolas menggaruk kepala bagian belakangnya dengan kasar. Ia berusaha mengingat tapi tidak berhasil . Lelaki berwajah taman itu memang punya kebiasaan selalu tidak mengingat kejadian saat ia mabuk, setelah beberapa bulan barulah ia bisa mengingatnya kembali.
*
Nicolas kembali pulang ke Jakarta, sebelum, pulang ke rumah ia menemui Axell terlebih dulu. Tiba di depan rumah sakit, ia menelepon Axell meminta lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu untuk bicara.
“Tunggulah lima menit lagi, Aku akan turun, lagi ada pasien,” ucap Axell.
“Baik aku tunggu di cafe di depan rumah sakit,” ucap Nicolas, lalu mematikan telepon.
Berjalan menuju cafe, tidak sampai lima menit ternyata Axell sudah datang.
“Mau minum apa?” tanya Nicolas ia masih terlihat tenang.
“ Mungkin minuman yang dingin lebih tepat untukku,” ucap pria berjubah dokter itu, matanya masih menatap sahabatnya dengan serius.
“Bro, apa benar kamu tidak mengingat malam itu?”
“Aku tidak mengingat apa-apa.”
“Menurut dokter, luka tusuk di perut bukan kamu yang melakukannya, tapi dia sendiri.”
“Apa? Ta-tapi kenapa?” tanya Nicolas panik.
“Ya, karena kamu memperkosanya malam itu dan dia merasa terhina dan terluka. Selama perawatan dia didampingi psikolog dan mami kamu yang memangil psikolog,” ujar Axell.
__ADS_1
Wajah Nicolas benar-benar pucat mendengar semua cerita Axell. Ia tidak percaya ia melakukan itu, tapi catatan kesehatan yang diperlihatkan Axell membuatnya tidak bisa mengelak.
“Gila, ini sangat memalukan,” ujar Nicolas meniup kepalan tangannya.
“Buatmu ini memalukan Bro, tapi untuk istrimu itu membuatnya merasa tidak dihargai. Aku mendengar dia tidak pulang ke rumahmu lagi.”
“Dia kemana?”
“Bi Narti membawanya pulang … Bro ak-”
“Aku akan pulang kita akan bicara nanti,” ucap Nicolas ia keluar buru-buru dan menghentikan taxi yang sedang melintas. Axell hanya bisa menghela napas melihat kepanikan Nicolas.
Dalam mobil ia kembali menelepon maminya kalau ia sudah kembali, Maminya justru memintanya jangan pulang ke rumah. Meminta Nicolas ke apartemennya.
“Kenapa Mi.”
“Nanti, Mami akan jelaskan. Jangan pulang ke rumah dulu. Oma kamu lagi marah.”
“Lalu kita bertemu di mana Mi?” tanya Nicolas.
“Mami akan datang ke apartemen mu.”
Nicolas terdiam, kembali ke apartemennya, akan mengingatkannya atas perselingkuhan yang dilakukan Naura dan Tomi, tapi saat itu ia tidak punya pilihan lagi. Setelah beberapa bulan sejak kejadian itu ia belum pernah datang lagi ke apartemen tersebut, saat tiba di sana ia membuang semua foto-foto dirinya dengan Naura memasukkan semua barang-barang Naura ke dalam tong sampah. Setelah bersih ia duduk menunggu Maminya.
“Kamu kenapa pergi Nak?”
“Mi … apa sebenarnya yang terjadi sama Ines malam itu. Apa benar dia yang melukai dirinya dengan pisau?”
“Dari mana kamu mengetahuinya?” tanya Linda terkejut, padahal ia sudah menyembunyikan tentang kejadian malam itu dari semua orang, Ines juga sudah sepakat untuk tidak memberitahukannya pada semua orang.
“Aku tahu dari seorang teman di rumah sakit,” ujar Nicolas menahan napas, “Mami katakan apa benar aku melakukan hal buruk padanya?”
Wanita itu menatap Nicolas dengan dalam menimbang segala kemungkinan yang terjadi.
“Mami tolong kata-”
“Ya, kamu melakukannya, kamu mabuk dan melakukannya. Dengar tidak ada yang salah, karena dia istrimu, hanya saja kamu melakukannya saat mabuk hanya itu.” ujar Linda, ia tidak ingin putranya merasa bersalah.
“Kenapa Mami tidak bilang padaku saat itu?”
“Mami tidak ingin kamu merasa buruk, Nak. Mami juga menyembunyikannya sama semua orang, Mami tidak ingin orang mengetahuinya,” ucap Linda.
“BI, Aku ingin meminta maaf pada Ines. Apakah Mami tahu dia tingga di mana?”
“Mami tidak tau. Tapi dia marah Ko, dia tidak mau mengangkat telepon Mami lagi.”
__ADS_1
Di sisi lain.
Marta meminta Ines untuk mengubah penampilannya.
“Tidak akan terjadi apa-apa Nes, percaya padaku,” ucap sahabatnya tersebut.
“Aku belum siap berikan aku waktu,” ucap Ines.
“Nes, kamu tidak bisa selamanya seperti ini, kamu seorang dokter, akan berhubungan dengan pasien laki-laki dan perempuan. Jangan kuliah terus, mulailah untuk bekerja jadi dokter,” bujuk Marta.
“Aku sangat lemah Ta, Aku tidak bisa mengatasinya,” lirih Ines.
“Bibi Narti bilang saat saat kamu di Jerman, tidak pakai bedak itu lagi.”
“Ya, di sana Aku merasa nyaman, tapi setelah pulang ke Indo ketakutan itu muncul lagi.”
Visual Ines
“Nes, kita akan lanjutkan ke psikolog lagi, kamu tidak bisa seperti ini terus menerus. Apa kamu ingin kakek sembuh?” Marta menatap mata Ines dengan tegas.
“Ya, Aku mau.”
“Maka itu kamu harus bangkit lawan ketakutanmu, buang semua masalah dari masa lalu,” ujar Marta.
Setelah dibujuk, akhirnya Ines menuruti nasihat Bu Narti dan Martha, ia bersedia dibawa kembali ke psikolog. Bu Narti meminta untuk tinggal di rumah Marta sampai kondisinya mentalnya pulih. Setelah Nicolas memilih meninggalkannya kondisi mental Ines benar- benar drop.
“Bibi akan pulang ke kampung sebelum Kakek pulang,” ujar Bi Narti setelah hampir satu minggu mendampingi Ines, ia dan Marta mendampingi Ines melewati masa sulit Ines.
“Bi, jangan katakan apapun sama Kakek,” bujuk Ines.
“Kalau kamu sembuh dan bangkit kembali kakek tidak akan mengetahui semua itu,” pungkas Bu Narti .
“Aku akan berusaha Bi, Aku janji ,” ucap Ines.
“Baiklah, Bibi janji tidak akan mengakan apa-apa sama kakekmu nanti kalau dia sudah pulang dari luar negeri.”
Darto sedang menjalani pengobatan di Singapura, tadinya Ines ingin terbang ke Singapura untuk mendampingi Kakeknya untuk pengotan, Bu Narti melarang Ines pergi.
Apakah Ines mampu bangkit dari kondisinya?”
Bersambung.
Jangan lupa like vote like komen kasih 💐 dan kopi ya.
__ADS_1