Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Bertemu Ines


__ADS_3

Sifat manusia bisa berubah oleh keadaan, mustahil bisa bertahan dengan banyaknya cobaan dan penderitaan. Hal itulah yang terjadi pada Ines Pratama sejak ditinggal sang Kakek enam tahun yang lalu, dan melahirkan anak tanpa suami. Hal itu rupanya  mengubah hidup Ines. Ia seperti membangun tembok perlindungan untuk dirinya sendiri. Ia tidak ingin bergantung pada siapapun, dan ia juga tidak ingin putranya bergantung pada dirinya sendiri. Ines saat ini, orang yang terlihat dingin, tegas dan tidak banyak bicara juga berani. Ia seperti melawan ketakutan yang selama ini membelenggu.


Apa yang dilakukan Ines sontak membuat mereka semua terdiam, tidak mau mengurus perusahaan kakeknya bukan berarti tidak tahu apa-apa. Ines mewarisi bakat  bisnis sang kakek.


Saat Ines ditantang untuk menjelaskan konsep dan pedoman perusahaan . Ia berdiri dan mempresentasikan pemikirannya dan konsep yang ia bangun sendiri, ia bahkan  meminta Heru membagi-bagikan kertas rencana hasil rancangan oleh Ines sendiri, ia menjabarkan rugi dan untung untuk melakukan rencana tersebut. Ines tahu apa yang terbaik karena ia seorang dokter.


“Kapan dia mengerjakan ini?” tanya Heru menatap Ines dengan terkejut.


“Aku tahu … kamu memang berbakat Nak,” ucap Bu Narti menatap Ines dengan bangga, dari dulu Bu Narti menginginkan Ines yang memimpin perusahaan mereka .


“Dari mana dia tahu semua ini? Sementara dia tidak pernah ikut Bapak membahas perusahaan,” ujar Heru membaca isi lembar demi lembar  di tangannya. Heru tahu kalau Ines tidak pernah ikut terlibat dalam perusahaan saat Pak Darto masih hidup.


“Tidak melihat belum tentu tidak mendengar Ru, dia beberapa kali mendengar kita membahas perusahaan saat Kakeknya masih hidup.  Aku tahu saat dia bilang tidak perduli. Namun di otaknya menyimpan semua yang kita bicarakan,” ujar Bu Narti, ia menarik napas dalam saat Ines menjelaskan bagaimana cara untuk memajukan perusahaan dan bagaimana cara memasarkan. Bu Narti yakin Ines punya kemampuan.


“Teori gampang sekali Ibu Ines, tapi Anda belum pernah bergabung di perusahaan ini.” Duha  mencoba menekan Ines lagi.


“Saya ini Dokter Pak Duha,  Jika Anda punya keahlian di bidang proyek masuk ke dunia Farmasi begini jadinya, akan bingung … yang tahu obat-obatan di rumah sakit ya dokter itu sendiri, bukan kontraktor apa lagi tukang bangunan,” ujar Ines semua orang  menahan tawa saat Ines menyindir Duha.


Seperti yang diketahui Duha lulusan tehnik sipil,  tapi  ia dan Deon papanya memaksa masuk ke perusahaan ayahnya demi ambisi ingin memiliki Harta.


Wajah Duha dan Marisa mulai pucat saat semua orang dalam ruangan itu beralih mendukung Ines.


“Apa dia seorang dokter?” tanya seorang lelaki pada Nicolas yang saat itu  hadir sebagai salah satu pemegang saham menggantikan Papinya.


“Tapi saya sudah menjalankan perusahaan ini bertahun-tahun,” sahut Duha.


“Itulah yang saya mau katakan Pak Duha , Anda menjalankan perusahaan ini tapi  hanya berjalan ditempat. Kita membangun satu perusahaan ataupun bisnis tujuannya untuk untung,  bukan buntung,” balas Ines.


“Apa Kamu menuduh saya korupsi?” tanya Duha emosi.

__ADS_1


“Anda mungkin tidak korupsi,  tetapi tidak punya skill jadi pemimpin. Laporan tahunan perusahaan ini mencatat. Pendapatannya tidak pernah meningkat.”


“Saya sudah melakukan yang terbaik!” Duha terbawa emosi.


“Terbaik buat Anda belum tentu terbaik untuk perusahaan  juga bagi karyawan. Mulai besok saya memutuskan perusahaan utama akan dipegang oleh Heru. Jika ada yang keberatan saya memberi pilihan tinggalkan perusahaan  atau menerima keputusan saya. Bagi yang mau menjual saham miliknya kabarin saya akan membeli. Rapat saya tutup,” ujar Ines meninggalkan ruangan.


Mereka semua diam, berjalan keluar  dengan diam, ia berjalan melewati semua orang tanpa menyapa. Nicolas berdiri tidak jauh dari mereka.


“Apa kamu pikir dengan kamu datang ke perusahaan ini akan mengubah semuanya!” ucap Marisa. Ines berhenti dan menatap asal suara, menatap wanita itu dengan diam, ia masih berpikir Nicolas dan Marisa penyebab kematian kakeknya.


Ines sempat berpikir kalau ia tidak menikah dengan Nicolas mungkin kakeknya masih hidup. Pemikiran itu beberapa kali melintas dalam benaknya, maka itulah ia tidak ingin melihat ataupun bertatapan muka dengan mereka.


“Ya, Aku akan mengubah segalanya. Mulai besok nama perusahaan ini akan berganti beserta pemimpin juga,” ucap  Ines , ia mendekatkan tubuhnya ke arah Bu Marisa sembari membisikkan sesuatu ,” Ibu tidak bisa  melakukan apa-aapa untuk perusahaan ini.”


Tatapan matanya sinis, melihat wajah Ines dan melihat tatapan matanya yang tajam,  Nicolas hanya bisa tertegun, ia tidak punya keberanian untuk mendekat. Ines bejalan menuju mobil melewati Nicolas yang berdiri di sana, memperlakukan pria itu sebagai orang asing .


‘Apa dia tidak mengenalku?’ tanya Nicolas dalam hati, ia mengumpulkan keberanian karena kesempatan bertemu Ines hanya sekali.


“Apa kia boleh bicara sebentar?”


Ines diam, ia menoleh kanan-kiri ada banyak mata yang menatap ke arah mereka terlebih Marisa dan Duha, tidak ingin menjadi tontonan orang Ines setuju.


“Baiklah.” Lalu  berjalan menuju bangku panjang tidak jauh dari sana.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Nicolas memulai obrolan.


“Kabar saya baik-baik saja. Apa yang ingin kamu bicarakan?” Nicolas sempat melongo saat Ines menjawab dengan raut wajah datar.


“Aku hanya ingin bicara denganmu.”

__ADS_1


“Ya, kita saat ini sudah bicara lalu apa yang penting bapak bicarakan pada saya?"


" Aku hanya ingin menanyakan kabar istri saya, apa itu salah?”


“Tidak salah, Karena wanita yang kamu anggap istrimu  belum tentu menganggap kamu sebagai suami.”


“Tapi faktanya kamu masih istriku dan Aku tidak berniat melepaskan,” ucap Nicolas mendekat.


“Kalau kamu ingin hidupmu  sengsara  maka lakukan seperti itu bertahan tanpa kepastian,” ujar Ines.


“Bagaimana dengan kamu? apa kamu bahagia seperti ini?” Nicolas balik bertanya.


“Sudah  terbiasa, ada dan tanpa ada kamu aku biasa saja. Saranku lupakan semua masa lalu dan mulai hidup baru.”


“Kamu mudah mengatakan seperti itu karena kamu masih menyimpan dendam padaku, kamu masih marah dan tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi,” ujar Nicolas.


“Kita sudah membahasnya enam tahun lalu Pak Nicolas, dan saya tidak ingin membahas itu lagi sekarang. Aku hanya ingin meminta padaku untuk melepaskan ku.”


“Bagaimana dengan anakku?”


“Aku tidak ingin mengungkit dan membahas masa lalu denganmu, itu sama saja Aku mengorek luka lama lagi. Saya permisi.” Ines  berdiri.


“Kamu selalu pergi setiap kali Aku mau bertanya dan menjelaskan sesuatu denganmu. Apa begini menyelesaikan masalah?”


“Ya, caraku mengatasi masalah  … putuskan lalu lupakan,” sahut Ines lalu meninggalkan Nicolas.


Saat Nicolas menyingung tentang anak Ines langsung menghindar, ia tidak ingin Nicolas tau tentang Keanu. Sementara Nicolas masih berdiri menatap punggung Ines yang berjalan  membelakanginya, ia tahu kalau wanita yang ia nikahi enam tahun lalu sudah berubah.


Apakah  Nicolas akan mengetahui tentang Keanu?

__ADS_1


Bersambung


Bantu vote, like komen ya kakak terimakasih.


__ADS_2