
Nicolas menyetir ke rumah Ines, ia sudah menduga tujuan Naura mendatangi rumah Ines malam-malam wanita itu akan membuat keributan. Apa yang di lakukan Naura pada Nicolas bukan lagi menggambarkan cinta, tetapi obsesi dan perasaan ingin memiliki. Keluarga Naura dan Nicolas sudah sepakat tidak mengadakan pernikahan untuk keduanya. Keluarga Naura menikahkannya dengan sorang pria kaya, juga dari kalangan pebisnis. Namun, Pernikahan itu gagal karena Naura tidak mencintai sang suami, wanita itu hampir tiap malam ke bar dan mabuk-mabukkan, lelaki manapun tidak ingin memiliki istri tukang mabuk, tidak tahan melihat sikap Naura lelaki itu akhirnya menggugat cerai dan mereka berpisah, pernikahan kedua juga sama tidak bertahan lama. Kini wanita bertubuh tinggi itu hanya ingin kembali pada cinta lamanya. Apakah Nicolas mau? jawabannya tidak, semakin Naura mengejarnya seperti itu, semakin Nicolas membencinya.
“Aku mati-matian berjuang mendapatkan maaf dari Ines, tapi seenaknya kamu ingin menghancurkan semuanya. Dasar perempuan sinting! AA …!” Nicos berteriak keras memukul setir mobil.
Ia tidak mau Naura bertemu Ines, ia menelepon orang yang ia minta untuk mengawasi Naura.
“Apa kamu bisa menghalanginya ?”
“Maaf Bos … wanita itu sudah berdiri di tepat rumah Bu Ines.”
“Ah, Naura, apa yang ingin kamu lakukan,”rutuk Nicolas menginjak pedal gas dan menerobos lampu merah, untung jalanan tidak macet karena sudah malam.
Disisi lain.
Naura sudah tiba di rumah Ines, lalu ia menekan bel beberapa kali.
“Mau cari siapa Bu?” tanya petugas keamanan yang menjaga rumah besar Ines.
“Kamu tidak kenal Aku? Aku dulu beberapa kali datang ke rumah ini untuk bertemu kekasihku,” ujar Naura dengan suara tersendat-sendat dan jalan juga sudah mulai tidak stabil, ternyata setelah digampar Nicolas , ia langsung menuju bar, keluar dari sana keadaan mabuk .
“Maaf saya baru kerja di sini, Bu.”
“Aku mau bertemu dengan pemilik rumah ini!” ujar Naura menunjuk-nunjuk ke arah pak satpam tersebut.
“Maksudnya mau bertemu Bu Narti? Apa sudah ada janji?” tanya lelaki berseragam putih biru dengan sopan, ia tahu wanita yang datang bertamu malam-malam itu seorang wanita yang sudah mabuk.
“Tidak. Aku mau bertemu dengan Ines,” ucap Naura.
“Bu Ines, ingin istirahat, besok saja lagi datang.”
“Tidak. Aku tidak mau! Aku mau bicara dengannya sekarang! Ines … Ayo kita bicara!”
Ines baru saja keluar dari kamar mandi, duduk di ruang tamu duduk santai sejenak, setelah pulang dari rumah sakit ia mandi, sebelum tidur ia duduk sebentar bersama Bu Narti.
“Kayak ada yang manggil,” ujar Bu Narti.
“Ya, siapa yang bertamu malam-malam?” Ines berdiri mengintip dari jendela kaca rumah.
“Naura …?”
“Siapa itu Naura?” tanya Bu Narti, ia ikut berdiri menyingkapkan gorden dan melihat sosok yang menyebabkan keributan di depan rumahnya.
“Naura mantan Nicolas, Bi.”
__ADS_1
“Mau apa dia? tidak sopan bertamu malam-malam dan bikin keributan lagi,” ujar Bu Narti
Tidak lama kemudian satpam juga masuk memberi laporan.
“Maaf Bu, seorang wanita ingin bertemu, Ibu.”
“Dia mau ngapain?” tanya Ines.
“Saya tidak tahu, Bu.”
“Tidak usah diladeni Nes, Bibi sudah tahu apa yang ingin dia katakan,” ujar Bu
“Tidak Bi, kita harus hadapi Bi, ingin tahu apa yang dia inginkan.” Ines keluar.
“Ines akhirnya kamu keluar juga!” seru Naura setelah Ines menghampirinya.
“Bu, pintunya dibuka?”
“Biarkan dia masuk,” pinta Ines.
Setelah pintu gerbang di buka ia berjalan sempoyongan dan beberapa kali nyaris jatuh, menghampiri Ines, Bu Narti juga ikut keluar melihat Naura dengan kedua alis saling menyatu.
‘Apa wanita ini mabuk, astaga pakaiannya terbuka’ Bu Narti merasa malu melihat pakaian Naura yang setengah terbuka, setelah putus dengan Nicolas Naura selalu berpakaian seksi memperlihatkan lekuk tubuhnya yang cantik.
“Apa kamu juga senang melihatku menderita?” tanya Naura, mau alkohol menyeruak dari mulutnya. Ines akhirnya tahu kalau wanita itu sedang mabuk.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan.”
“Apa Aku salah mencintainya? Aku memang salah di masa lalu, tapi Aku khilaf Aku sudah meminta maaf padanya dan berjanji tidak melakukan lagi. Tapi dia marah dan menghukum ku begitu berat,” ujar Naura, ia curhat tentang perasaannya pada Ines.
“Harusnya kamu bicara padanya bukan padaku.” Ines ingin berbalik badan.
“Aku sudah melakukannya tadi, tapi dia menamparku dengan keras, Aku terluka, hatiku sangat sakit, selama ini dia tidak pernah kasar padaku, tapi demi kamu dia menamparku!” teriaknya lagi.
“Aku tidak tau dan tidak ingin terlibat dalam masalah perasaanmu,” ujar Ines.
“Kamu harusnya tidak kembali ke Indone-”
Pak!
Lagi-lagi satu tamparan mendarat di pipinya, Nicolas berdiri tepat di depannya dengan wajah mengeras menahan emosi.
“Aku sudah bilang padamu , kalau kamu berani mengusik keluargaku, Aku akan memberimu perhitungan.”
__ADS_1
“Kamu menamparku lagi? Gara-gara wanita ini?”
“Wanita yang kamu maksud itu, istriku,” jawab Nicolas tegas.
“Apa dia lebih baik dariku? Kenapa kamu lebih memilihnya?”
“Naura jangan paksa Aku mengucapkan kata-kata dan tindakan yang Kamu sesali nantinya,” ujar Nicolas menutup mata dan menghela napas.
“Aku hanya mau bilang Ines tidak cocok denganmu.”
“Dia ibu anakku … dia jauh lebih berharga, jadi, pulanglah jangan menganggu hidupku lagi. Kamu sudah menghancurkan hidupku dulu, apa kamu ingin melakukannya lagi?”
“Aku tidak menganggu, Aku hanya bilang Aku juga menderita sama seperti kamu, jika kamu menunggu Ines selama enam tahun. Aku sudah menunggumu selama sepuluh tahun, bukan hanya kamu yang menderita Aku juga,” ujar Naura.
Ines dan Bu Narti hanya diam, ia tidak mengatakan apa-apa, melihat Naura menangis sedih, ia juga merasa kasihan. Tetapi hidup seperti itu adalah pilihan Naura yang menunggu Nicolas dan Nicolas yang memutuskan menunggu Ines. Walau Naura sudah melakukan segalanya untuk mendapatkan maaf dari Nicolas, pria itu tidak menggubrisnya, ia sudah menutup hati untuk wanita yang pernah mengkhianatinya. Hubungan yang dulu sudah terjalin lama, sia-sia hanya satu kesalahan.
“Apa yang harus Aku lakukan, katakan padaku,” ujar Naura.
“Jalani hidup sendiri dan jangan menggangguku lagi.Apa kamu tahu keinginan terbesarku saat ini …? Aku hanya ingin berkumpul dengan anak dan istriku hanya itu tidak ada yang lain,” ujar Nicolas dengan tatapan tajam.
“Aku tidak akan rela sampai kapanpun, kamu ditakdirkan untukku!” teriak Naura menggila.
Nikolas menghubungi orang suruhannya, memerintah mereka untuk membawa Naura dibawa paksa.
“Antarkan dia ke rumahnya.”
“Baik Bos.”
“Pastikan wanita itu masuk ke dalam rumah baru kalian pergi.”
“Baik Bos.” Dua lelaki berbadan kekar menyeret Naura dan memasukkan ke dalam mobil, salah satu dari mereka menyetir dan satunya lagi memegang Naura di belakang.
“Lepaskan Aku, kalian tidak tahu siapa Aku!”
Mereka diam tidak menggubris, menganggapnya hanya wanita yang sedang mabuk.
“Papaku seorang pejabat, siapapun kalian Papaku bisa memenjarakan kalian. Lepaskan Aku!” teriaknya marah, wanita setengah mabuk itu lagi, ia marah tidak terima saat orang suruhan Nicolas memperlakukannya seperti tawanan.
“Diam Lah, kalau kamu masih berteriak jangan paksa kami melakukan yang tidak kamu inginkan, kami ini lelaki dewasa yang bisa saja khilaf,” ucap salah seorang dari mereka menatap belahan dada Naura yang terpampang.
Mendengar ancaman yang merendahkan itu , seketika mulutnya diam, ia akhirnya di bawa pulang.
Bersambung.
__ADS_1