
Untuk sementara Nicolas hidup sebagai orang lain, masih dalam menyembunyikan identitasnya. Hanya beberapa orang saja yang masih mengetahui identitasnya yang asli. Setelah terbukti ada penghianat di rumah Ines, Nicolas tidak mau menunjukkan dirinya, ia masih berjuang bagaimana cara menemui Ines di Jerman.
Jika Hendra palsu ada hubungannya dengan Suroto maka bahaya masih mengintai mereka semua.
“Kamu tidak boleh gegabah, walau Suroto dan anak buahnya sudah ditahan. Tapi di pasti punya banyak jaringan di laur sana, tetap waspada,” ujar Dimas.
"Kita sudah menangkap induknya penjahat itu, memang apa lagi yang bisa dia lakukan," ujar Nicolas.
"Penjahat seperti dia biasanya tidak bekerja sendiri Bro. Aku yakin dia masih banyak jaringan diluar sana. Kamu pikir selama ini polisi tidak bekerja? Kami bekerja Bro ... namun kalau mereka mengancam keluarga ya kami lemah dan berhenti menyelidiki mereka. Untuk aparat yang tidak kuat mental akan pura-pura muta dan tuli," tutur Dimas.
Seperti yang diketahui Suroto dari dulu dikenal kebal hukum dan anak buahnya sangat banyak, jika ada yang macam -macam mereka tidak segan-segan menyakiti bahkan membunuh orang yang tidak kuat bayar hutang dan bunga yang selangit.
“Aku tidak bisa tenang Bro, bagaimana dengan, Ines?”
“Lalu apa yang ingin kamu lakukan, pergi ke Jerman?”
“Ya.” Nicolas mengangguk.
“Kalau saya boleh kasih saran … sebaiknya kita selesaikan dulu masalah yang di sini, baru kamu pergi ke sana,” ucap Dimas
Nicolas diam, ia hanya ingin tahu keberadaan istrinya, karena Rio belum mau berterus terang atas keterlibatannya dalam hilangnya Ines.
"Tenanglah kita selesaikan urusan di sini satu-satu agar beban pikiran kamu berkurang," ujar Bu Narti.
"Aku yakin lelaki itu tidak akan menyakiti Ines," sambung Heru.
"Baiklah aku akan mencoba tenang." Nicolas menarik napas panjang
Walau ia mengatakan tenang, Namun semenit pun pikiran tidak bisa lepas dari Ines.
'Bagaimana kehamilannya, harus bulan depan dia sudah melahirkan. Apa mereka berdua bisa bertahan?' Pikiran tentang keselamatan Ines memenuhi kepalanya, Nicolas sampai tidak makan karena memikirkan nasib Ines.
\*\*
Heru dan Bu Narti menepati janjinya untuk membantu Nicolas, untuk mendapatkan kembali harta milik keluarganya yang diambil Suroto. Akhirnya harta milik keluarganya sudah kembali pada tuanya.
Setelah tertangkap Rio akhirnya polisi menangkap satu persatu orang suruhan Suroto. Bahkan orang yang ada dalam rekaman video yang beredar pria yang memukuli, menembak dan membuang ke sungai, akhirnya mereka semua diringkus dari tempat persembunyian lalu dimasukkan ke ruangan berjeruji besi, mereka semua ikut merasakan dinginnya kamar penjara.
Suroto akhirnya menerima ganjaran atas perbuatan jahatnya dengan proses persidangan. Dimas mengatakan kalau lelaki gemuk itu akan dituntut hukuman mati.
Suroto benar-benar terpuruk, saat dalam kasusnya saat ia membutuhkan dukungan, ternyata istinya melarikan bersama anak buahnya yang jadi selingkuhan istrinya. Mereka membawa kabur semua harta lelaki itu.
__ADS_1
Wanita cantik yang ia pilih untuk dijadikan istrinya, ternyata hanya untuk teman hidup untuk bersenang- senang saja, bukan untuk teman hidup berbagi kerusuhan.
Maka kelurga suroto dan semua aset dan perusahannya yang tersisa disita pihak berwenang untuk mengembalikan harta yang dirampas oleh Suroto.
Mungkin hukum alam berlaku untuk keluarga mereka, jika kamu menabur kebaikan maka kamu akan menerima kebaikan juga tidak ada keluarga ataupun teman yang perduli walaupun saat itu Suroto hampir ati dipenjara karena sakit.
*
Dimas penasaran dengan nasib Sonia, maka ia mendatangi sebuah rumah sakit bagian kejiwaan.
Ia merasa kasihan saat melihat sosok wanita yang duduk di ranjang dengan tangan diikat, menurut para perawat ia sering histeris dan ingin menyakiti diri sendiri, maka dimasukkan keruangan khusus.
Ia bagai wanita yang berbeda dari Sonia yang dulu, tubuhnya yang kurus dan matanya dikelilingi lingkaran hitam karna tidak bisa tidur kalau malam hari wajahnya itu terlihat tua dari umurnya dan kondisinya memprihatinkan.
“Bagaimana kondisinya, Dok?”
“Dulu kelurganya masih menjenguknya Pak, tapi sekarang tidak ada yang datang lagi dihubungi semua nomor tidak aktif,” sahut seorang dokter yang berperawakan masih Muda, dengan tatapan Iba melihat Sonia.
“Apa ibunya tidak datang?” tanya Dimas.
“Tidak pernah lagi, dulu Ayahnya yang selalu datang ke sini. Tapi saya dengar lelaki itu sudah masuk penjara, sangat disayangkan,” ujar dokter.
“Apa bapak mau melihat ke dalam?”
“Oh tidak perlu saya bukan siapa-siapanya. Saya polisi yang berhasil meringkus Ayahnya."
Sonia dapat hukuman, dulu dia wanita yang cantik dan berpenampilan modis yang selalu terlihat sempurna dan elegan, tapi kali ini, dia menjadi pasien rumah sakit jiwa yang berpenampilan berantakan terlihat seperti setan karena lingkaran hitam yang mengelilingi matanya, sangat menyeramkan.
Kenyataan tidak ada yang menjenguk lagi, membuat hati semua orang merasa kasihan, ibu tirinya kabur meninggalkan mereka, ayahnya Masuk ke penjara maka Sonia sendirian.
“Apa ada keluarga yang bertanggung jawab ?”
“Tidak ada.”
'Harusnya Nicolas yang bertanggung jawab karena dia juga istrinya ' ucap Dimas dalam hati.
“Aku yang bertanggung Jawab padanya," kata Dimas pada Dokter yang menanganinya
“Bawa saja dia pulang. Ruangan ini tidak baik untuk psikologisnya, dia semakin depresi, baiknya ada kelurga yang membatu memulihkan ingatan nya, Dokter menyarankan Sonia dibawa dari ruangan itu membantu kesembuhannya, kalau dia paksa disini akan berakibat patal nantinya, karena keinginannya menyakiti dirinya semakin sering terjadi,” usul dokter.
“Maaf Dok, saya tidak bisa membawanya pulang karena dia bukan siapa-siapaku,” tolak Dimas.
__ADS_1
Membiarkan Sonia tetap berada di rumah sakit.
\*
Sementara Nicolas tidak berhasil mendapat informasi tentang Ines mencari Infomasi kemana-mana tapi tidak menemukannya, dengan Putus asa kembali ke rumah Dimas, sekeras apapun dia berusaha ia tidak berhasil mendapatkan kabar tentang istrinya ruang geraknya juga masih terbatas.
“Bukankah ini tidak terlalu kejam , Mana mungkin seorang ayah dipisahkan dari anaknya. Aku ingin ke Jerman kenapa dilarang?” ujar Nicolas.
“Kamu memasukkan Ayah Sonia ke penjara dan anaknya kamu kirim ke rumah sakit jiwa itu juga kejam,” sahut Dimas.
“Tapi itu beda Dimas!”
“Apa bedanya, gara-gara memikirkan kamu wanita itu gila,” ujar Dimas.
“Lalu apa kamu memintaku melupakan istriku?”
“Bukan melupakan tunggu dulu sampai situasi tenang.”
“Aku memikirkan istriku,” ujar Nicolas.
"Sonia juga istrimu sebaiknya kamu sembuhkan dia, karena tidak adil baginya.”
“SIALAN!” teriak Nicolas marah pada Dimas.
“Kenapa? Bukannya kalian sudah menikah?”
“Kamu marah karena aku menikahinya? Ambil saja, Aku tidak membutuhkannya, Aku hanya memanfaatkannya makanya menikahinya. Aku sentuh juga belum, makanya ambil saja. Hanya Ines istriku,” ujar Nicolas
" Songong Lu!" Dimas berdiri.
Pak!
Dimas memukulnya, mereka berdua sempat saling adu jotos.
"Kenapa? Kamu cemburu?"
"Kamu kejam sama perempuan! Dia hanya mencintaimu. Apa itu salah?" seru Dimas
"Salah! Bukan aku yang jahat, dia yang jahat dan ayahnya. Kalau kamu ingin wanita itu ambil saja, bagiku dia tidak ada artinya. Hanya ada Ines wanita dalam hidupku, titik," ujar Nicolas lalu meninggalkan Dimas.
Bersambung
__ADS_1