Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Bisakah Aku Memaafkan Dia?


__ADS_3

Selama di rumah Nicolas sebagai menantu Ines melewati banyak rasa sakit hati yang tak bisa di ungkapkan satu persatu. Hinaan adik Iparnya salah satu ujian terberat selama tinggal di rumah suami, Novi sang adik ipar sangat membencinya, ia belum bisa menerima Ines sebagai istri Nicolas, wanita berkulit putih itu berteman dengan Naura, ia mendukung Nicolas dengan Naura,.


 Tetapi apapun yang dilakukan wanita itu, Ines hadapi dengan  sabar, tatapan sinis  anggota keluarga mertuanya ia balas dengan senyuman ramah.


Walau ia hidup bagai seorang pembantu di rumah suaminya. Ines berusaha bertahan, saat kakeknya menelepon Ines  selalu bilang ia baik baik saja.


Tetapi hari itu, pertahan Ines sepertinya akan mulai runtuh setelah Nicolas melakukan hal buruk malam itu menyebabkan Ines hampir kehilangan nyawa. Ines kini masih berbaring di rumah sakit, pagi itu ia terbangun saat mendengar suara Ibu  mertua memanggil namanya dan mengusap  pucuk kepala Ines.


“Ma … Apa aku tidur terlalu lama?”


“Tidak Nak baru beberapa jam kamu tidur nyenyak. Syukurlah kamu sudah bangun, Mama sempat khawatir,” ujar Mami Linda, ia mencium pipi Ines, ia memperlakukan Ines seperti anak sendiri.


“Apa Mama menginap di sini?”


“Kita ke sini sudah subuh dan sekarang sudah jam sembilan pagi. Apa kamu mau serapan, biar Mama pesan,” ucap wanita itu ramah.


‘Mama baik bangat dari dulu … Tapi kenapa kedua anaknya sangat jahat’ Ines membatin.


“Nes …,” panggil wanita itu dengan lembut.


“Ma … Aku minta maaf.”


“Tidak, kamu tidak salah Nes, Mama hanya mau bilang tolong maafkan suamimu ya, Nico sebenarnya orang yang lembut.  Dia tidak mau menyakiti wanita dia hanya mabuk,” ucap Linda, wanita itu membujuk Ines untuk memaafkan putranya.


“Itu sangat -”


“Mama tau perasaanmu pasti terluka saat dia menyebut wanita lain, jangan khawatir. Kamu jauh lebih cantik dari mantan-mantan suamimu.”


Sontak Ines memegang wajahnya, “ Mami sudah melihatnya?”


“Ya, kenapa menutupinya selama ini, padahal kamu sangat cantik sama seperti saat kamu kecil. Kamu sangat mirip sama Mamimu,” ujar Linda.


“Apa Mama dekat dengan Mamiku dulu?”


“Tidak begitu dekat, tapi beberapa kali bertemu setiap kali ada acara,” ujar Linda, “Kamu harus tunjukkan wajah cantikmu Nak, itu akan membuatmu dihargai orang lain, termasuk suamimu,” ucap Mama mertuanya.


Ines hanya tersenyum kecil, lalu ia  duduk mencari  tas miliknya.” Apa Mama tidak membawa tasku?”


“Aku membawanya.” Wanita itu menyodorkan tas tangan milik Ines.


Ines mengeluarkan bedak itu lagi dan memakaikannya kembali, “Bedak ini membuatku merasa nyaman, Ma," tutur Ines.


“Baiklah, Aku akan membantu melakukannya.” Linda membantu Ines menyamarkan warna kulitnya. Terlalu lama berlindung di balik penampilan jelek itu membuatnya Ines nyaman, ia merasa terlindungi karena tidak ada mata lelaki meliriknya dengan tatapan genit, tidak ada laki-laki yang ingin berbuat jahat padanya saat ia berpergian.

__ADS_1


*


Disisi Lain.


 Nicolas bangun karena ada panggilan telepon dari kantor kalau hari ini ada rapat,  ia bangun dengan buru-buru dan masuk ke kamar mandi,  ia tidak mengingat apa yang  telah ia lakukan pada istrinya.


“Kenapa wanita itu membangunkan ku? Biasanya dia yang membangunkan, Aku jadi terlambat ke kantor,” ucap Nicolas, menarik satu kemeja dari lemari  lalu turun ke lantai bawah.


Nicolas tidak melihat Ines dan Maminya di meja makan tapi dia tidak bertanya kemana  Ines pergi.


“Ko, tidak serapan dulu?” tanya Gunawan melihat anaknya berjalan tergesa-gesa.


“Pi, bagaimana caraku membujuk para distributor."


"Kamu harus berjuang Nak, kalau tidak perusahaan kita akan berhenti beroperasi," ucap Gunawan.


"Oh, Mami kemana ?" tanya Nicolas


“Mami, pergi sama Ines.”


Nicolas hanya mengangguk, tidak bertanya lagi dia pamit dan meninggalkan rumah, saat menyetir ia merasa  punggung nya  perih,  ia juga merasa ada yang  menganggu pikirannya, tetapi ia tidak tahu apa tepatnya. Hari itu Nicolas berangkat ke Batam ada pekerjaan penting yang akan ia urus, karena sibuk ia melupakan apa yang terjadi pada luka cakar kuku Ines di punggungnya.


                        


Saat Nicolas di luar kota Axell menelepon.


“Bagaimana keadaanmu, Bro?” tanya Axell.


“Aku baik ,Aku lagi ada kerjaan di Batam . Kenapa?”


“Tadi malam kamu tidak membuat masalah kan sama istrimu? Kamu memang parah kalau mabuk, kata-katamu sungguh menyakiti hati wanita itu.”



“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Nicolas bingung, ia memang lelaki brengsek yang bisa melupakan dengan mudah apa yang ia lakukan malam itu.


“Kamu memang berbahaya kalau lagi mabuk,” ujar Axell


“ Aku melakukan, apa?


“Kamu menyakiti hati istrimu. Oh … tapi apa Mami kamu sakit?”


“Aku tidak tau, saat ini aku lagi di Batam. Kenapa denganku?” tanya Nicolas penasaran.

__ADS_1


“Nanti aku kasih rekamannya, kalau Aku  yang menjelaskan kamu pasti tidak percaya. Sudah ya aku lagi ada pasien,” ucap Axell


“E… tunggu!” teriak Nicolas.



Axell mematikan sambungan teleponnya, karena ada pasien yang menunggu.


sementara Ines masih dalam perawatan dokter, ternyata malam itu Ines.


“Tapi Nak kenapa kamu mau menyakiti dirimu?” tanya Ibu mertuanya menatap Ines.


“Ma, aku tidak punya Ibu, sejak kecil Kakek yang membesarkan ku. Maaf kalau Mama menganggap ku aneh dan bersikap berlebihan,” lirih Ines, ia menunduk tidak berani menatap wajah Ibu mertuanya.


“Tidak apa-apa, tidak ada yang salah Nes. Kalian pasangan suami istri, hanya saja malam itu  … Suamimu  mabuk.”


“Itu menyakitkan untukku Ma ... dia melakukannya karena  dia pikir Aku Naura mantan kekasihnya. Dia  tidak hanya menyakiti perasaanku, dia juga menyakitiku secara fisik,” ujar Ines dengan suara bergetar.


Wajar, karena Ines tidak pernah punya kekasih, apa lagi bersentuhan dengan pria.


“Mami ada di sini untukmu,” ucap Linda “ jangan ceritakan pada siapapun, Nes.”


“Baik Ma, Aku tahu ini sangat memalukan. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu,” ucap Ines, ia membalikkan tubuhnya dan memunggungi Ibu mertuanya.


“Tidak apa-apa sayang. Mama tahu ini berat untukmu karena kamu masih muda,” ujar Linda mengusap  kepala Ines.


Bu Linda sangat mengerti rasa sakit yang dialami Ines,  dia tidak membela Nicolas.


“Ma,  aku tidak ingin lama- lama di sini. Aku tidak ingin kakek mengetahuinya,” ucap Ines.


“Mama tidak akan memberitahukannya  sayang,” ucap Linda, ia juga tidak ingin kakek Ines tau, kalau Ines mengalami semua itu, kalau sampai Darto mengetahui apa yang dialami Ines selama ini, lelaki itu akan membuat keluarga  Darmawan bangkrut ia akan menarik semua bantuan dana dari perusahaan ‘Darmawan Group’


“Ma, aku belum mau bertemu dia,” ujar Ines air matanya kembali menganak sungai.


“Nes … kalau kamu tidak pulang ke rumah, semua orang akan curiga dan mengorek semua Informasi.  Duha dan Mamanya akan semakin menekan Nicolas, Mama mohon Nak ... tolong maafkan dia, luka fisik dan luka di hatimu akan sembuh seiring berjalannya waktu,” ucap Linda.


“Tidak semudah itu Ma … aku mengalami trauma sejak kecil.”


“Mami akan  mendampingi kamu,” ujar wanita itu memohon, ia membujuk Ines agar memaafkan Nicolas, ia tidak mau ada keributan lagi di rumah mereka.


“Kalau begitu mari kita pulang,” ucap Ines, tadinya ia tidak ingin bertemu Nicolas, tetapi Linda terus membujuknya bahkan sampai memohon, maka itu Ines mau pulang ke rumah.


Bersambung

__ADS_1


Bantu vote like komen kasih 💐 dan kopi jika berkenan terimakasih


Kakak yang baik mohon dukungannya ya


__ADS_2