
Axell berkendara menuju panti asuhan milik Pak Darto, ia memutuskan tinggal di panti asuhan melakukan pelayanan kesehatan masyarakat di kampung. Bu Narti tidak bisa melarang, awalnya ia marah sama Axell karena menyakiti hati Marta di masa lalu. Tetapi setelah Axell meminta maaf dan ingin tinggal di panti Bu Narti akhirnya luluh.
“Ini kampung Dok jauh dari kota, kalau kamu tinggal di sini kamu akan merasa seperti pindah planet,” ucap Bu Narti mengingatkan Axell.
“Tidak Bu, setiap kali Aku datang ke desa ini ingin mencari ketenangan hati,” ujar Axell.
“Baiklah Ibu berharap kamu bisa mendapatkan ketenangan pikiran di sini. Ines, Heru dan Marta menghabiskan masa kecil mereka di panti ini,” ucap Bu Narti mengajak Axell berkeliling melihat-lihat bangunan luas tersebut, ada gereja, di samping panti ada sekolah dan disebelahnya ada ruangan untu ditinggali anak-anak panti dan juga staf para guru dan juga pengawas anak-anak panti di arah pintu masuk bangunan minimalis itu rumah yang ditinggali almarhum Pak, dan cucunya juga Bu Narti.
“Oh, bangunannya luas juga ya Bu, Aku baru sempat jalan-jalan mengawasi semuanya, biasanya kalau datang ke sini hanya sampai bangunan panti saja,” ujar Axell ia kagum melihat luas bangunan yan di bangun kakek Ines.
Axell dan keluarganya salah satu donatur di panti asuhan tersebut, bukan hanya keluarga Axell, keluarga Dinda juga, kerena itulah Dinda jatuh cinta pada Heru, wanita itu juga melihat Heru pertama kali di panti sebagai asisten pribadi Pak Darto.
Axell meninggalkan hiruk pikuk dan kegermelapan ibu kota, ia memutuskan tinggal di desa.
*
Sementara Nicolas menemui Hendra ia ingin bertanya langsung tentang apa yang dikatakan Axell.
“Ko apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Nicolas saat mereka bertemu hari itu.
“Tentang apa?”
“Apa benar Koko ingin berpisah dari Marta?” tanya Nicolas menatap wajah abang sepupunya dengan penasaran.
“Aku tidak bisa selamanya bersamanya, sebenarnya pernikahan selalu membuatku ketakutan.”
“Kenapa? Bukannya Kamu bilang mencintai Marta.”
“Ya, Aku mencintainya tapi … Aku takut tidak bisa menjalankan tugasku sebagai seorang bapak. Kamu tahu kan dari dulu aku bilang tidak mau menikah.”
“Ko, itu tidak bisa dijadikan jadi alasan untuk berpisah, rumah tangga kalau saling mencintai satu sama lain semuanya bisa diatasi. Jangan berpisah Ko, pasti ada alasan lain, apa yang terjadi?” tanya Nicolas.
“Tidak ada Nico, Aku hanya tidak ingin diikat dalan sebuah hubungan, Aku selalu ingin bebas melakukan apapun tanpa ada yang menghalangi,” ujar Hendra.
“Apa karena Amber bukan anakmu?” tanya Nicolas hati-hati, ia takut Hendra tersinggung.
__ADS_1
Nicolas berpikir kalau Marta menikah dengannya tanpa memberitahukan kehamilannya. Nicolas sempat berpikir kalau Hendra kecewa karena Amber bukan anak kandungnya , makanya ia memberitahukan pada Axell. Nicolas tidak tahu kalau Hendra menikah dengan Marta agar anak yang dilahirkan Marta punya bapak.
“Tidak, Aku setuju menikah dengannya agar dia hamil tanpa suami agar bisa sekalian menjaga Keanu dan Ines,” ujar Hendra.
“Kalau kamu perduli pada Marta dan putrinya kenapa ingin meninggalkan mereka, Marta akan terluka,” bujuk Nicolas.
“Jangan mendesakku dengan berbagai pertanyaan otakku sakit, biarkan Aku tenang dulu, nanti kita bicara lagi,” ujar Hendra, wajahnya sangat pucat kurang tidur terlihat kurang terurus.
“Baiklah istirahatlah dulu Koko terlihat kurang istirahat,” ujar Nicolas.
Lelaki itu berdiri meninggalkan Nicolas, ia menyetir ke arah pantai seribu memesan sebuah kamar yang dekat pantai, ia duduk menikmati angin pantai sendirian.
Saat sedang duduk sebuah panggilan telepon , matanya melotot kaget yang menelepon Marta istrinya ia berdiri menahan napas karena tegang, dengan sikap buru-buru ia mengusap tanda panggil berwarna hijau di layar ponsel.
“Sayang, kamu ada di mana?” tanya Hendra dengan dada naik turun.
Tidak ada jawaban hanya suara tarikan napas panjang yang terdengar di sana, tiba-tiba matanya berkaca-kaca menahan air mata saat ia mendengar samar-samar suara Ambar menangis.
“Mommy Ayo kita pulang, Amber mau sama Papi,” ujarnya menangis .
“Apa Amber baik-baik saja?” tanya Hendra lagi, Marta masih diam.
“Apa kamu tidak menginginkan kami lagi?” tanya Marta di ujung telepon.
“Apa maksudnya?”
“Katakan saja terus terang agar Aku bisa mengambil tindakan yang tepat dalam hidupku,” ucap Marta.
“Sayang, Aku hanya ingin memberitahukan kebenaran Keanu pada bapaknya. Kenapa kamu ikut marah dan pergi?” tanya Hendra.
“Kamu selalu memintaku jujur, padahal kamu sendiri tidak mau jujur padaku.”
“Kamu ingin Aku mengatakan apa?” tanya Hendra dengan suara pelan. “Sayang, pulanglah … mari kita bicara,” bujuk Hendra.
“Dinda, bilang kalau kamu memberitahukan tentang Amber pada keluarga Axell. Kenapa …? Kenapa kamu melakukannya?” tanya Marta menangis di ujung telepon.
__ADS_1
“Apa? Dr. Dinda?” Hendra ikut bingung.
“Dia bilang, kamu meminta Axell mencaikannya agar dia bisa menikahi ku. Aku bukan barang yang bisa dioper-oper, kamu yang saat itu memaksa menikah denganmu. Kenapa sekarang kamu memberikanku dan anakku pada pria yang aku benci. Kamu tidak tahu bagaimana keluarganya menghina dan merendahkan ku, Bagaimana mungkin kamu memberikanku pada mereka!” teriak Marta menangis sejadi-jadinya.
“Sayang ada kesalahpahaman di sini, Aku tidak pernah mengatakan seperti itu, Aku hanya bilang kalau Aku tidak ada agar menjagamu sama Axell. Aku tidak pernah sekalipun meminta dia bercerai,” ujar Hendra panik.
“Sayang dengarkan Aku … Kamu ada di mana, Aku akan menjemputmu,” ucap Hendra panik, akhirnya ia paham kenapa Marta sampai meninggalkannya , ternyata Dinda memutar balikkan Fakta.
“AKU HAMIL ANAKMU,” ujar Marta.
“APA?” Tangan Hendra gemetar mendengar Marta hamil.
“Maaf jika kamu mengecewakanmu, saat kamu bilang aku harus minum pil KB, aku tidak melakukannya, saat itu aku ingin amber punya adik, aku tidak tahu kalau kamu punya rencana seperti ini,” ucap Marta.
“A-A -Aku ingin bertemu kamu,” ucap Hendra terbata-bata, seluruh tubuhnya gemetar karena gugup, Lidahnya terasa kaku, ia tidak tahu harus mengatakan apa-apa.
“Jangan khawatir … kamu tidak perlu repot-repot lagi mengurus kami, Aku dan Amber tidak akan merepotkan kamu lagi.”
“KATAKAN KAMU DI MANA!” teriak Hendra dengan marah.
Marta kaget dan terdiam saat Hendra meneriakinya, tubuhnya mundur ke belakang karena kaget mendengar suara Hendra yang hampir memecahkan gendang telinganya.
“Aku sakit Ta, aku sakit keras,” ujar Hendra.
Suasana tiba-tiba jadi hening, hanya terdengar suara isakan tangis dari ujung telepon. Sekarang gantian Marta yang mematung tidak bisa mengatakan apa-apa, mendengar sang suami sakit keras, tiba-tiba mulutnya seakan-akan terkunci.
“Sayang … apa kamu masih di sana? Pulanglah Aku ingin melihat kalian sebelum Aku kehilangan penglihatanku,” ujar Hendra.
Marta malah menangis sejadi-jadinya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya pada rumah tangga Axell dan Marta?
Bersambung.
Jangan lupa vote like, komen ya kakak terimakasih
__ADS_1