Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Permintaan Terahir


__ADS_3

Setelah melakukan kemoterapi pagi itu kondisi Hendra semakin memburuk, Marta hanya bisa pasrah melihat kondisi sang suami. Ia dan Ines sudah berusaha melakukan semua cara untuk kesembuhan Hendra, Ines juga mendatangkan Dokter seniornya dari Jerman, tapi tidak ada perubahan, tubuhnya semakin hari semakin tidak berdaya. Ines bertemu Axell dan dua orang dokter yang selama ini merawat Hendra mereka  bicara di koridor rumah sakit,  sebagai dokter mereka berdua sudah tahu kalau Hendra tidak akan bisa bertahan.


“Dia tidak bisa bertahan sampai besok,” ujar Axell.


“Ada saraf yang tidak berfungsi lagi,” ujar dokter berkaca mata menatap Ines.


“Bicaralah pada Marta Dok, agar dia bersiap untuk segala kemungkinan, kalau saya yang bicara, Aku takut dia salah paham, padahal Aku disini karena Aku  sudah mengenal Hendra dari kecil, bagi Aku dan Nicolas, dia abang  yang paling baik,” ujar Axell.


“Baiklah Aku akan mencoba bicara dengan Marta.”


Apa yang mereka bicarakan rupanya didengar Nicolas dan keluarganya, Nicolas menahan tangisan, ia duduk di bangku taman diikuti Gunawan.


“Dia selalu menjagaku dari kami kecil Pi … tapi saat dia sakit Aku tidak bisa menolongnya, bahkan Aku tidak tahu kalau dia sakit selama ini,” ujar Nicolas.


“Jangan menyalahkan dirimu Nak, kita sudah melakukan semua yang kita bisa, bukan hanya kamu Ines juga sudah mendatangkan dokter baik dari luar negeri tapi tidak berhasil, Apa kamu ingat dia selalu berkeliling dunia?”


“Ya Kenapa?” tanya Nicolas menatap Papinya.


“Dia mencari obat untuk menyembuhkan penyakitnya, dia sudah mengatakan sama Papi.


Nicolas akhirnya  mengerti kenapa Hendra selalu senang bepergian ke berbagai negara ternyata ia ingin menemukan obat penyakit yang dideritanya dan juga yang dialami papanya.


Kedua dokter itu memutuskan bicara dengan Marta mengatakan kondisi dr. Hendra yang sebenarnya.


“Baiklah, saya ingin bicara berdua dengan suami saya, Dok,” ucap Marta.


Kedua dokter itu meninggalkan Marta untuk bicara  berdua dengan suaminya, ia duduk disamping Hendra menatap wajah lelaki yang menjadikannya jadi ratu selama ini. Saat ia duduk Hendra masih bisa tersenyum padanya, menatap Marta seolah-olah ia memohon untuk di ikhlaskan pergi.


“Aku mencintaimu Pi,” ujar Marta menggenggam  telapak tangan Hendra.


“Aku juga,” balas Hendra memaksa senyum,  sembari menahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya.


“Apa kamu merasa sangat sakit?” tanya Marta dengan lembut.


“Ya Aku merasa sangat sakit sekali,” jawab Hendra dengan jujur, akhirnya ia mengaku kalah mengalah melawan penyakit ganas tersebut.

__ADS_1


“Apa yang paling kamu inginkan, Pi? Aku akan menurutinya,” ujar marta.


“Aku ingin melihat Amber dan Keanu untuk terakhir kalinya, Aku ingin bermain di taman melihat mereka berdua mengejar kupu-kupu seperti yang biasa kita lakukan.”


“Baiklah Aku akan melakukannya,” ujar Marta.


“Maaf sayang … Aku tidak bisa menjaga kalian lebih lama,” ujar Hendra.


“Tidak apa-apa, Papi sudah melakukan yang terbaik untuk hidupku, kamu akan selalu di hatiku,” ujar Marta membawa telapak tangannya ke dadanya.


“Terimakasih  mau bersamaku,” ujar Hendra.


“Aku sudah berjanji akan selalu mendampingi mu selama hidupku karena kamu  lelaki yang mencintaiku dengan tulus. Terimakasih sudah menjadikanku wanita yang berharga, wanita yang bermartabat,” ujar Marta.


Marta masuk ke kamar mandi menyalahkan kran air, ia menangis sejadi-jadinya di sana, ia sadar kalau sang suami akan meninggalkannya selamanya, ia mengatakan ikhlas tapi sejujurnya hatinya masih  ingin bersama suaminya selamanya,  tetapi ia tidak tega melihat Hendra meringis menahan sakit tiap malam, ia tidak ingin orang yang ia cintai menderita, maka itu dia harus memaksa dirinya untuk rela.


Ia mengabari Ines untuk membawa Amber dan Keanu ke taman, karena kondisi Hendra tidak bisa duduk dengan lama jadi Marta membawanya ke taman samping rumah sakit.


                              *


“Baiklah.”


“Papi! Papi!” Keanu dan Amber berlari dan memeluk papinya yang duduk di kursi Roda, Linda, Gunawan semua keluarga ikut berdiri di sana mereka semua meneteskan air mata melihat kondisi Hendra .


“Papi sakit?” tanya Amber ia ingin duduk di pangkuan Hendra seperti biasa tapi Marta melarang karena Hendra tidak kuat lagi melakukannya, ia bisa melihat dan bicara sudah sangat syukur.


“Ya, sayang Papi sakit, Kamu harus menjaga adikmu dengan baik ya,” ujar Hendra menatap Keanu.


“Baiklah, tapi Papi akan sembuh kan?” tanya Keanu, ia menatap wajah Hendra dengan tatapan sedih.


“Jangan khawatir Bang, papi, kan,  dokter dia akan sembuh dia akan mengobati kita nanti,” ujar Amber menyentuh wajah Papinya dengan tangan mungilnya.


Apa yang dilakukan Amber sukses membuat mereka semua meneteskan air mata, mereka menyadari kalau Hendra sangat menyayangi putrinya , terlihat dari keakraban  mereka berdua.


“Papi, kami akan ke kebun binatang, Amber sama Abang ingin Papi sama Mami ikut,” rengek Amber, ia masih mengusap-usap wajah Hendra.

__ADS_1


“Papi lagi sakit sayang, dia tidak bisa jalan lagi,” ujar Marta ia menahan tangisan melihat Amber, betapa kehilangan nantinya putrinya kalau Hendra tidak ada.


“Lalu kapan Papi liburan bersama kam lagi?” tanya Amber.


Pertanyaan itu sulut untuk dijawab, kalau mereka berbohong Amber akan mengingatnya akan terus menuntut janji yang sudah mereka ucapakan, kalau mereka berbohong ia takut anak cantik itu akan sedih. Otak Marta tidak bisa diajak untuk berpikir lagi wajahnya tampak lelah,  ia tidak bisa menutupi rasa sedih yang  ia rasakan.


Ines dan Nicolas  menghampiri keduanya.


“Daddy yang akan mengajak Abang dan Adik liburan,” ujar Nicolas, ia melirik Ines, ia meminta bantuan istrinya untuk menyakinkan kedua anak malang itu.


“Ya Mommy juga akan ikut,” sambung Ines.


“Kok panggil Daddy? kan Om,” ucap Amber, ia anak yang kritis salah sedikit ia akan protes.


“Mulai sekarang kalian berdua panggil Aku Daddy,” ucap Nicolas dengan senyuman.


Kedua anak itu saling menatap lalu menatap Hendra dan menatap Marta, mereka tahu,  kedua anak itu bingung dengan keadaan itu, mereka punya dua ayah dan dua Ibu.


“Ya, sayang mulai sekarang, kalian berdua panggil Daddy  ya, dia akan menjaga kalian mulai saat ini, karena Papi sakit,” ujar Hendra menyakinkan keduanya


“Tapi nanti Papi pasti akan sembuh kan? Kita akan kembali pulang ke rumah kita kan?” tanya Amber dengan mata berkaca-kaca.


“Ya sayang,” jawa Hendra.


Nicolas dan kedua suster yang menjaga kedua anak itu,  membawa   mereka berdua pergi menjauh dari Hendra, sebelum pergi Hendra menatap Amber dan Keanu dari belakang.


“Selamat tinggal anak-anakku,” ucapnya  melambaikan tangannya dengan lemah,  sejak keduanya lahir, Hendra tidak pernah jauh anak-anaknya, terutama Amber dari lahir sampai umur lima tahun selalu bersamanya bahkan tidur harus di sampingnya. Amber menoleh  belakang menatap waja papinya untuk terakhir kalinya,  seolah-olah  ia tahu kalau ia tidak akan bertemu lelaki baik itu selamanya.


“Da, da, da Papi,” ucapnya melambai.


Melihat Amber melambaikan tangan sama Hendra, Keanu juga ikut melakukannya, kedua anak itu jadi bintang penyemangat untuk Hendra selama ini. Ia tidak pernah menduga kalau ia masih diberi umur sampai kedua anak  sampai sebesar itu.


“Da, da,” balas Hendra wajah semakin pucat.


Matahari  perlahan  meninggalkan singgasananya, meninggalkan warna jingga di langit, Marta dan Hendra masih duduk dalam diam menikmati alam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2