
Kepulangan Ines dan Marta ke tanah Air tidak hanya mengubah kehidupan Nicolas, kehidupan Axell juga ikut berubah, mendapat fakta kalau ia punya anak perempuan yang sangat cantik, hatinya bercampur aduk . Bahagia karena ia punya anak, tetapi ia sedih karena ia tidak bisa memilikinya. Jangankan memiliki, Marta tidak memperbolehkannya mendekati putrinya. Axell meminta ijin pada Hendra, berharap ia bisa bicara berdua, ia menelepon Hendra.
“Ko, boleh Aku bicara sebentar dengan Marta, Aku hanya ingin minta maaf, jujur … selama ini aku sangat menyesal,” ujar nya.
“Kalau dari saya pribadi boleh-boleh saja Dok, Aku juga tidak ingin istriku punya dendam di masa lalu,” ujar Hendra.
“Karena itu bantu Aku untuk bicara dengannya, Dok.”
“Masalahnya dia tidak mau Dok, Aku tidak ingin memaksa,” ujar Hendra menatap Marta yang duduk di depannya.
“ Dia di sana? Boleh kah Aku bicara dengannya?”
Hendra menyodorkan ponselnya pada Marta, tetapi wanita itu menolak dengan tegas.
“Aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengannya,” ujar Marta meninggalkan sang suami.
“Maaf Dok, dia tidak mau, dia pasti akan marah besar padaku. Sudah dulu ya kapan-kapan kita bicara berdua. Aku membujuk Marta dulu, repot urusannya kalau dia marah.” Hendra mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri Marta.
“Mi, denga-”
“Kenapa selalu memintaku bicara dengannya. Apa kamu memintaku pergi padanya?”
“Sayang … bukan begitu, dia hanya minta maaf.”
“Tidak usah minta maaf, Aku sudah menghapus semua tentang dirinya dari ingatanku, kalau kamu selalu memintaku bicara dengannya . Itu saja kamu membuka lama yang sudah sempat sembuh,” ujar Marta .
Wanita berkulit putih itu sangat marah karena Hendra berusaha mempertemukannya dengan sang mantan, bagi Mami Amber itu, masa lalu yang menyakitkan yang pernah ia alami.
Dalam kamarnya Hendra duduk dalam diam.
Kala ia dan keluarganya menginginkan keturunan, tapi ia tidak bisa memilikinya.
Ia terus menatap layar ponsel di mana foto Amber sedang memeluk lehernya dan ada beberapa foto lain yang ia simpan dalam galeri ponsel, ada perasaan sedih saat ia menatap foto Amber, ia tahu gadis cantik itu anaknya tetapi secara hukum negara Hendralah ayah Amber.
“Kamu sangat cantik sayang … kita bahkan punya persamaan, sama-sama alergi kucing dan punya makanan kesukaan,” ujar Axell, ia menatap dalam wajah Amber, tidak terasa buliran kristal-kristal bening jatuh dari sudut matanya.
“Aku berharap suatu saat Mami kamu memaafkan ku dan mengijinkan main bersama papa kandungmu. Aku sangat menyesal menyakiti Mami di masa lalu.”
*
Setelah berpikir satu malaman , besok paginya Axell akhirnya memberanikan diri mendatangi ruangan kerja dr. Dinda.
Sebelum masuk ke ruangan dr. Dinda ia menarik napas panjang dan membuang lewat mulut, ia tahu keputusan yang akan dia pilih saat ini akan menimbulkan efek yang besar untuk keluarganya, salah satunya hubungan orang tuanya dengan orang tua Dinda akan renggang.
Tok-Tok!
“Masuk!” sahut wanita itu dari dalam.
“Apa Aku menganggu?” tanya Axell dalam rumah sakit istrinya adalah rekannya.
__ADS_1
Setelah duduk di sofa di ruangan Dinda Axell mengutarakan keinginannya mengenai perceraian mereka.
“Apa maksudnya?” tanya Dinda saat Axell meminta bercerai.
“Ayo kita akhiri hubungan ini,” ucap Axell langsung pada intinya.
“Kamu ingin menceraikan ku?”
“Ya.”
“Kenapa?” tanya Dinda.
“Kita tidak ada kecocokan satu sama lain, tiap hari kita bertengkar.”
“Kamu sudah tau apa konsekuensi jika berani menceraikan ku,” ujar Dinda dengan tatapan merendahkan.
“Aku tahu, Aku tidak tidak perduli walau dipecat dari rumah sakit ini .”
“Bagaimana dengan orang tuamu? apa kamu sudah memikirkan mereka?” Wanita itu duduk di sofa dang menyilangkan kedua kakinya dan melipat tangan di dada menatap Axell dengan tatapan sinis. Seolah-olah lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu dibawa kendalinya.
“Urusan Papa Aku tidak mau terlibat mulai hari ini, aku hanya ingin ketenangan, Aku hanya ingin pamit, Aku akan pergi.”
Mendengar kata pergi raut wajah wanita itu langsung berubah, tadinya ia berpikir Axell akan takut saat ia mengancam dengan karier papanya Axell . Ternyata dugaannya salah, lelaki itu tidak takut lagi.
Tidak tahan lagi menghadapi sikap Dinda yang selalu menganggapnya rendah hanya karena keluarganya pemilik rumah sakit Axell memilih berpisah.
“Apa yang terjadi? Apa kamu punya wanita lain?” tanya wanita itu dengan tatapan menyelidiki.
“Dariku? Memang apa yang aku lakukan padamu?”
“Dinda, kenapa kamu tidak sadar kalau sudah melewati batas?”
“Aku melakukan apa?” tanya Dinda.
“Banyak yang sudah kamu lakukan.”
“Aku melakukan apa? Laki-laki kalau sudah tidak cinta pasti akan mencari-cari alasan, Aku sudah tau itu. Katakan apa maumu sekarang.”
“Ayo kita berpisah”
“Baik, kalau itu yang membuatmu puas, lakukan.”
“Baik.”
Axell keluar meninggalkan Dinda dalam kemarahan.
Dokter bertubuh ramping itu berdiri memegang kuat sisi sofa menahan emosi, saat lagi dalam keadaan marah, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.
“Masuk!”
__ADS_1
Heru berdiri di depan pintu, lelaki bertubuh tegap itu memiringkan kepalanya saat Dinda menatapnya dengan begitu dalam.
“Dok, saya ingin mengambil resep obat, Bu Narti.”
“Apa kamu ingin membantuku?”
“Apa yang bisa saya bantu, Dok?”
Wanita kalau sudah kecewa maka hal gila dan nekat bisa dilakukan.
“Mari tidur denganku lagi.”
“Apa? Dokter salah minum obat? Bukankah suami barusan dari sini?”
“Ya, kamu mau bantu apa tidak?”
“Maaf Dok, saya tidak ingin mendapat masalah.”
“Aku sudah tidak tahan lagi seperti ini Heru! Ini karena orang tuaku memintaku menikah dengan Axell hidupku jadi menderita.”
“Jangan, Jangan katakan apapun Dokter, kamu selalu mempermainkan perasaanku. Dulu karena aku yatim piatu kamu menolak menikah denganku.”
“Bukan Aku Heru, Orang tuaku yang tidak setuju.”
“Ayo kita mulai dari awal lagi,” ujar Dinda meraih leher Heru dan menikmati bibir tebal itu dengan rakus, ia tidak perduli lagi dengan Axell.
“Apa kamu ingin menjadikanku pelampiasan lagi?”
“Tidak Sayang … Kali ini Aku sungguh ingin memulai lagi dengan kamu.”
“Dok, kamu selalu mengajakku tidur setiap kali kamu bertengkar dengan suamimu, Aku bukan barang yang bisa dipakai setiap kali dibutuhkan.”
“Aku menyesal Heru, Aku menyesal menikah dengan Axell. Harusnya kitalah yang menikah.”
“Maaf, Aku tidak mau terlibat denganmu lagi,” ujar Heru mendorong tubuh dr. Dinda.
“Temanin Aku sekali ini saja Heru,” bujuk wanita itu dengan wajah putus asa.
Heru dan Dinda tadinya punya hubungan, Dinda terlebih dulu suka dengan Heru, tapi orang tua Dinda tahu kalau Heru hanya anak dari panti asuhan, lalu menolak pernikahan mereka, orang tuanya menjodohkan dengan Axell.
Marta dan Heru sama-sama di tolak karena yatim piatu. Tadinya Heru ingin membalas Axell karena sudah menyakiti Marta, karena itulah ia mau berselingkuh dengan Dinda … ia ingin Dinda hamil anak darinya lalu meninggalkannya sama seperti yang dilakukan Axell pada Marta, tapi sayang Dinda tidak bisa punya anak.
‘Kalian semua akan mendapat balasan dari kami bertiga, Marta, Ines dan Aku’ ucap Heru membalas permainan bibir istri Axell saat senang asik bermain bibir, telepon Heru berdering .
Novi call!
Heru tersenyum miring, ternyata adik Nicolas terjerat pesona Heru juga, Heru memilik tubuh yang bagus banyak wanita yang terpesona dengan tubuh atletisnya, salah satunya Novi . Mereka tidak tahu kalau Heru hanya membalas perbuatan mereka termasuk Novi yang pernah menyakiti Ines.
Bersambung.
__ADS_1
Bantu vote, like dan komen ya kakak