
Saat mobil yang dikendarai Hendra baru setengah jalan, Julio mengabari mereka kalau Darto masuk rumah sakit.
“Aku sudah menduga hal itu akan terjadi,” ucap Ines, ia kembali menangis tersedu-sedu. Hanya kakeknya yang bisa membuatnya menangis, salah satu ketakutan Ines dalam hidupnya kehilangan kakeknya. Karena lelaki itu satu-satunya yang dimiliki di dunia ini.
‘Tuhan, lindungi Kakek. Ines akan terpukul sekali kalau hal buruk terjadi pada kakeknya’ucap Marta dalam hati, ia mengusap buliran air di sudut matanya. Bagi Marta dan anak -anak panti, Darto sosok ayah untuk mereka.
Marta salah satu mantan penghuni panti milik Darto, bagi semua mantan anak-anak panti yang sudah berhasil Darto orang yang berjasa dalam hidup merek semua.Marta sendiri disekolahkan dari sejak kecil sampai ia bekerja sebagai perawat, bagi Marta keluarga yang ia miliki anak-anak panti hanya Ines dan kakeknya. Apa yang dirasakan Ines, wanita itu juga merasakannya.
“Bagaimana Ini Ta, bagaimana kalau Kakek tidak bangun lagi?” ucap Ines.
“Tidak Nes, dia orang yang kuat dia akan tetap sehat," balas Marta mencoba menenangkan Ines, ia panik saat
“Nes, jangan khawatir dia sudah dalam penanganan dokter, dia pasti akan pulih,” Hendra ikut memberi dukungan.
Hendra sampai tidak konsentrasi menyetir karena Ines terus menangis sepanjang jalan.
Lelaki yang berprofesi sebagai dokter itu sibuk menelepon. Julio mengabari nama rumah sakit yang tempati Darto di rawat.
Ines juga menelepon Bu Narti, wanita itu ternyata sudah mengetahuinya Linda yang mengabari kalau Darto masuk rumah sakit.
“Bi, kenapa Kakek pulang tidak mengabari dulu,” ujar Ines sembari menangis.
“Bibi juga tidak tau Nes, kata Heru dia ingin memberi kejutan untuk kamu, tenangkan dirimu Nak jangan menangis, kakek akan baik-baik saja,” ujar Bu Narti menyakinkan Ines.
“Bi, Aku tidak akan bisa memaafkan diriku kalau kakek sampai kenapa-kenapa,” ujar Ines.
Tiba-tiba ia jadi rapuh, kalau biasanya ia akan kuat tapi kalau berhubungan dengan kakeknya ia lemah, apapun akan Ines lakukan asalkan kakek tercintanya tetap sehat. BU Narti naik helikopter dari kampung ke Jakarta, sepanjang perjalanan wanita merasa sangat sedih, ia merasa bersalah karena ia juga merasa ikut membohongi Darto.
Bu Narti dari awal sudah tahu bahkan mendengar kalau Marisa hanya ingin uang Darto, tetapi Bu Narti tidak memberitahukannya, ia juga ingin Ines cepat menikah walaupun ia tahu kalau Nicolas tidak mencintai Ines.
“Harusnya Aku mencegah pernikahan ini dulu. Oh … maafkan Aku,” lirih wanita itu mengusap air matanya.
“Kalau Bapak sampai kenapa- napa, bagaimana dengan Ines? Dia akan semakin terpuruk. Bapak harus kuat demi Ines,” ujar wanita itu dengan sedih.
__ADS_1
Tidak berapa lama kemudian setelah pilotnya izin mendarat, burung besi itu berhenti disebuah lapangan tidak jauh dari rumah sakit, seorang wanita tergesa-gesa turun dari helikopter di sebrang Jalan sebuah mobil putih sudah menunggu akan membawanya ke rumah sakit.
“Mari Bu.” Asisten pribadi Darto mengajak Bu Narti masuk kedalam mobil.
“Apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak mengabari kalau Bapak akan pulang hari ini,” bentak Bu Narti memarahi sang asisten, walau bukan sepenuhnya kesalahan si asisten, namun, ia tetap meminta maaf karena tidak bisa menjaga Darto.
“Bapak hanya ingin memberi kejutan untuk Nona Muda Bu,” jawabnya pelan.
“Pak Heru … harusnya kamu bujuk Bapak untuk istirahat dulu.”
“Sudah Bu, tapi entah kenapa hari itu. Bapak selalu minta pulang dia bilang sangat merindukan Nona.”
“Bagaimana Aku mengatasi ini … Ines juga belum pulih.”
“Apa Nona sakit?” Heru menatap Bu Narti.
“Kalau sampai terjadi sesuatu sama Ines, Aku tidak akan pernah memaafkan keluarga itu,” ujar Bu Narti dengan tatapan tajam.
“Aku tidak tahu kalau dia baru pulang dari rumah sakit,” ujar Nicolas menghela napas.
“Kita berdoa mudah-mudahan dia tidak mati,” ujar Julio.
Linda juga ada di sana, ia tidak tega melihat putranya dipersalahkan, sebenarnya Nicolas tidak ada miat ingin mencelakai Darto, niatnya hanya ingin jujur. Nicolas hanya ingin melepaskan diri dari Omanya, tapi siapa sangka Darto malah terkena serangan jantung.
“Aku harusnya mendengarkan omongan Ines tadi,” ucapnya lagi.
“Sudahlah tenangkan dirimu, kita hanya bisa berharap dia bisa bangun. Aku dengar dari asistennya dia baru operasi jantung dari Singapura,” ujar Julio.
“Jantung!?” Mata Nicolas terkejut,” itu artinya dia tadi terkena serangan jantung?”
“Ya,” jawab Julio.
“Oh, gila. Aku melakukan kesalahan besar, pantas saja Ines tadi melarang ku.”
__ADS_1
Saat mereka semua duduk menunggu, Ines dan Hendra datang Ines berlari menuju depan kamar Pak Darto.
“Kakek!”panggil wanita itu menangis di depan pintu kamar pak Darto.
“Ines, tenanglah sayang Kakek akan baik-baik saja,” ucap Bu Narti ia memeluk Ines.
Mata mereka semua melongo melihat wajah asli Ines, ia wanita yang sangat cantik, kulitnya putih dan penampilannya tidak kampungan.
“Apa itu Ines?” tanya Julio melongo, matanya terus menatap Ines.
“Ya, dia Ines,” jawab Hendra berdiri di samping kedua lelaki tersebut.
“Ko, maaf,” ucap Nicolas.
“Apa kamu gila! Aku sudah melarang mu jangan melakukannya, Aku sudah bilang akan membantumu untuk bicara sama Ines, Lalu kenapa kamu menghancurkan semuanya,” bisik pria itu dengan marah.
“Aku tidak tahu kalau dia sedang sakit-” suara Nicolas tertahan matanya menatap Ines yang tiba-tiba berdiri di depannya.
Kini wanita itu bukan lagi gadis kampung yang kucel, ia bukan lagi seperti kuali gosong seperti yang sering diucapkan Nicolas padanya. Kini, ia tampil sangat berbeda cantik dan modis.
“Apa kamu sudah puas melihat kakekku terkapar? Ini yang kamu inginkan kan?” tanya wanita itu mengusap pipinya dengan kasar.
Semua mata menatap Ines, wanita cantik itu menatap mata suaminya dengan tatapan tegas.
“Aku tidak ada niat sepe-”
“Tapi kamu melakukannya dengan sengaja Pak Nicolas, tadi Aku sudah memohon padamu supaya jangan melakukannya, aku memohon padamu karena aku tahu jantung kakekku tidak akan kuat menerima berita buruk itu,” ucap Ines .
Melihat wajah asli istrinya Nicolas tidak mampu berkata-kata ia hanya diam, menatap wajah Ines tanpa berkedip.
“Aku tidak akan memaafkan mu seumur hidupku kalau sesuatu terjadi sama kakekku,” ujar Ines.
bersambung
__ADS_1