Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Menghibur Sahabat


__ADS_3

Waktu cepat berlalu sebulan sudah mereka lalui, walau rasa kehilangan itu masih membekas di hati semua orang terlebih Marta, apa yang ditakutkan terjadi juga sama Amber, anak perempuannya selalu bertanya.


“Mi, bukannya Papi akan pulang?”


Pertanyaan itu selalu membuat dada wanita bermata besar itu memegang dada.


“Sayang, dia tidak akan datang lagi,” ujar Marta.


“Kalau dia tidak bisa datang kita saja yang datang ke tempat papi,” ujar Amber lagi.


“Sayang , begini saja … kamu bermain dulu sama Bang Keanu Mami mau bicara sama Mommy,” ujar Marta, ia meminta suster mengajaknya bermain keluar, tidak tahan dengan pertanyaan-pertanyaan putrinya, ia  berpikir lebih baik mencari kesibukan, ia menemui Ines yang sedang duduk bersantai di didekat kolam renang melihat Keanu bermain air.


“Ada apa?” tanya Ines menatap wajah Marta.


“Nes, Aku ingin bekerja lagi,” ucap Marta, ia ingin mencari kesibukan untuk mengalihkan pikirannya.


Walau  Hendra meninggalkan tabungan yang nominalnya  cukup untuk  membiayai kebutuhan mereka berdua, Hendra juga ternyata sudah mempersiapkan rumah untuk Marta dan biaya untuk kuliah Amber.


“Apa kamu yakin?” tanya Ines.


“Ya, Aku ingin mengalihkan pikiranku pada hal lain selain memikirkan dirinya, karena semakin diingat semakin sakit.”


“Baiklah, sebenarnya kita juga  akan membangun satu rumah sakit sendiri, agar obat yang kita produksi dan bisa kita gunakan sendiri.”


“Baiklah, Aku akan bekerja di sana. Dia juga pernah mengatakan punya keinginan seperti itu.”


“Tapi dr. Axell akan bekerja di sana juga , tidak apa-apa?” tanya Ines menatap Marta.


“Tidak apa-apa, Aku tidak akan terus lari darinya, dia hanya bagian masa lalu, melihat keadaannya yang sekarang Aku tidak marah lagi.”


“Baiklah, Aku akan mempersiapkan  nanti,” ucap Ines


                       *

__ADS_1


Kepergian Hendra tidak hanya membekas di hati Marta,  keluarga Nicolas juga merasakan kesedihan yang begitu dalam, bagaimana tidak? Dari Hendra sakit sampai meningal, ternyata Oma mereka tidak pernah datang menjenguk hingga sampai kematiannya, padahal Hendra sangat sayang sama Omanya,  ia selalu perduli pada kesehatan wanita itu, bukan hanya Marisa bahkan Duha dan Papanya juga tidak datang. Hal itulah yang membuat Nicolas dan Gunawan marah,  ia akan  memberi keluarga itu pelajaran.


“Ayo kita lakukan seperti yang mereka inginkan Pi, uang tidak akan bisa dibawa mati,” ujar Nicolas.


“Baiklah, setelah semua ini Aku tidak akan menganggap mereka bagian keluarga,” ujar Gunawan marah.


“Tega bangat sih mereka, Julio, Duha juga tidak datang … padahal Ko Hen selalu baik pada mereka,” ujar Novi.


Wanita berkulit putih sangat sedih saat semua orang yang mengenal Hendra datang melayat, keluarganya yang lain malah memilih liburan, ia mengetahui itu setelah adik Duha memposting liburan keluarga mereka di Bali, tepat saat Hendra meninggal. Novi sangat dekat sama Hendra makanya saat Hendra meninggal harta warisannya bagiannya diberikan pada Novi karena ia sayang, wanita itu juga  merasa sangat kehilangan saat sepupunya meninggal, satu malam menangis saat sepupunya meninggal, saat ia merasa sangat sedih  ternyata keluarga yang lain ada yang tidak perduli malah memilih liburan.


“Sudah jangan menangis lagi, mereka akan mendapat balasan dari perbuatan mereka,” ucap Linda memeluk pundak putrinya.


“Aku tidak habis pikir sama Oma, masa karna Ko Hen tidak memberikan kunci dia  marah.”


“Kita akan perlihatkan pada mereka kalau kita tidak menginginkan harta bagian mereka,” ucap Nicolas.


“Ya Ko, berikan saja harta warisan mereka, bila perlu kasih semua untuk mereka biar puas,” ujar Novi.


Nicolas meminta pengacara ke rumah,  meminta saran untuk  memberikan warisan yang dibagi-bagi opa mereka, ternyata pengacara menyarankan agar menjual cabang perusahaan  di Surabaya yang  selama ini dipegang Duha dan Deon, ada apotik, klinik.  Pengacara menjelaskan jika dalam satu pohon ada batang busuk atau mati,  sebaiknya dipotong agar batang pohon tidak terjangkit dan ikut mati.


“Dia juga tidak akan mengusik Bu Ines lagi,” ucap pengacara,


“Baiklah, saya setuju bila perlu ganti nama belakang keluargaku,” ujar Gunawan, “ lagian  nama Darwan  tidak cocok untuk keluargaku,  biarkan mama dan anak-anaknya yang memakai nama belakang itu biar dia puas sekalian,,” sambungnya lagi.


“Itu lebih baik Pi, lagian mereka semua tidak pernah menganggap papi sebagai anggota keluarga,” timpal Novi.


Apa yang dilakukan Marisa dan anak-anaknya  membuat bapak dua anak geram, saat Hendra sehat ia selalu datang ke rumah Omanya  menunjukkan sikap perduli, tapi saat Hendra sakit sampai ia meninggal mereka tidak menunjukkan batang hidung.


Gunawan merasa kalau ibu tiri dan adik-adik tirinya tidak pantas dianggap saudara.


“Aku berharap Ines mau menyetujui ini dan menandatangani berkasnya,” ucap Nicolas.


“Pasti mau, jelaskan saja semuanya, katakan juga orang yang memata-matai Ines suruhan Duha.”

__ADS_1


“Aku sudah memberitahukannya Pi,” ujar Nicolas.


“Nah … bagus, Papi tidak akan melindungi mereka lagi, bahkan Aku akan memberikan buktinya sama polisi bila perlu,” ucap Gunawan.


“Papi yakin?” Nicolas menatap papinya dengan kaget.


Selama ini Gunawan selalu memaafkan saudara tirinya dan Oma Marisa, ia selalu bilang kalau mereka keluarga harus saling melindungi. Rupanya rasa kecewa telah menutup hatinya untuk keponakan dan saudara tirinya, setelah Hendra meninggal  ia tidak lagi perduli pada semua keluarganya.


   Sementara Ines.                          *


Demi menyenangkan anak-anak dan sahabatnya, Ines mengajak sahabat dan Bu Narti liburan menggunakan jet pribadi peninggalan sang kakek, padahal selama ini ia jarang  menggunakannya, ia malah menyewakan pada para artis dan beberapa pejabat. Tetapi kali ini, saat Marta lebih banyak melamun,  ia membawa liburan ke Bali,  melihat senja di sore hari di pantai adalah kesukaan Marta dan dirinya.


“Ta … apa kamu tidak ingin berteriak seperti yang biasa kamu lakukan?” tanya Ines mereka berdua duduk di depan Villa.


“Kali ini tidak, karena Aku merasa kalau dia melihatku dari balik awan itu, dia pernah bilang kalau dia akan melihatku setiap senja di sore hari,” ujar Marta.


“Baiklah, tapi kamu harus semangat dong.”


“Nes, boleh aku minta tolong?” Marta menatap Ines dengan wajah sendu.


“Minta tolong apa?”


“ Kalau suatu saat Aku tidak ada kamu harus menjadikan Amber putrimu,” ujar Marta.


“Kamu ngomong apa sih, kita akan sama-sama menjaga mereka samai dewasa,” ujar Ines.


“Kalau suatu saat umurku tidak panjang, kamu harus menjaganya, berjanjilah,” ujar Marta dengan wajah serius, ia memegang telapak tangan Ines


“Kamu kenapa …, memangnya kamu sakit? Atau mau pergi jauh?” tanya Ines, ia hanya memeluk tubuh Marta, ia tahu Marta hanya merasa putus asa  karena kehilangan jantung hatinya, sama seperti yang dirasakan Ines saat kehilangan kakek yang paling ia cintai keluarga satu-satunya yang dimiliki saat itu.


“Tidak, Aku tidak sakit, tapi kadang aku merasa kalau Aku akan mati dengan cepat seperti kedua orang tuaku,” ucap Marta.


“Nah … dulu kamu yang bilang kematian hanya Tuhan yang tahu kapan waktunya, Sekarang, Aku balikin lagi sama kamu ucapanmu dulu,  hanya Tuhan yang tahu rahasia kematian kita,” ucap Ines.

__ADS_1


Demi menghibur sahabatnya yang sedih ia rela melakukan apapun, karena itulah yang dilakukan Marta saat ia kehilangan kakeknya.


Bersambung


__ADS_2