
Setelah Ines merasa lukanya sudah mendingan, ia setuju pulang. Tapi belum siap untuk bertemu Nicolas, memikirkan lelaki itu Ines menghela napas. Sebelum mereka pulang Mama mertuanya melunasi administrasi Linda melakukan semuanya sendiri. Saat ingin kembali ke kamar Ines, ternyata bertemu dengan Hendra, lelaki itu juga bertugas di rumah saki tersebut.
“Ai …? Siapa yang sakit?” tanya pria itu kaget melihat bibinya di rumah sakit. Beberapa hari ini ia tidak pulang, karena mengikuti seminar di luar kota.
“Ines sedang dirawat di atas,” ucap Linda menatap Hendra.
“Sakita apa, Ai?”
Linda menghela napas, ia terjatuh di kamar mandi saat membantu Nicolas. Anak itu lagi mabuk,” ucapnya lagi, entah berapa lagi Linda berbohong demi menutupi perbuatan Nicolas.
“Astaga, lalu apa dia su-”
“Ai, mau minta tolong samamu, Nak,” potong Linda dengan wajah cemas.
“Apa yang bisa aku bantu?”
“Bisakah kamu membantu Ines … dia belum mau pulang ke rumah kita, dia masih marah sama Nicolas.”
“Ai, memintaku membawanya?”
“Ya. Tolong rahasiakan dari semua orang, tidak ingin ada masalah Lagi Nak. Kalau sampai Pak Darto mengetahui cucunya masuk rumah sakit, nanti semuanya semakin sulit."
Hendra terdiam, ia bingung bawa Ines ke mana.
“Begini saja … aku akan membawanya ke acara kami hari ini, tempatnya tidak jauh dari sini," ucap Hendra.
Hanya kedua orang inilah yang jadi penyelamat Ines selama tinggal di rumah suami.
“Baiklah Nak, coba kita tanya padanya dulu.” Linda dan Hendra masuk ke kamar Ines.
“Selamat siang, adik Ipar.”
“Ko Hendra? Dokter bertugas di rumah sakit ini juga?” tanya Ines, wajahnya tidak seperti biasanya.
“Ya, tapi hari ini sedang tidak ada piket, Aku habis bertemu rekan dokter. Bagaimana kalau aku mengajak kamu ke rumah teman, dia buka praktek tidak jauh dari sini. Dia suka memberi pengotan gratis ke anak-anak terlantar secara gratis. Jiwa sosialnya tinggi,” ucap Hendra. Ia tahu kalau Ines dan kakeknya sering melakukan acara sosial.
“Baiklah, Aku mau ikut,” ujar Ines.
Ines tidak keberatan, sebenarnya ia juga belum siap bertemu dengan Nicolas, jadi ia memilih ikut Hendra untuk melihat bakti sosial yang di lakukan Hendra dan rekan-rekannya, sementara Mama mertuanya memilih pulang, agar orang di rumah tidak curiga karena Ines menghilang.
“Apa tidak malu kalau Aku ikut?” tanya Ines saat tiba di mobil Hendra.
“Kenapa harus malu?” tanya lelaki itu tersenyum kecil.
“Karena aku jelek, kayak monyet.”
“Tidak semua orang menilai orang dari fisik. Oh, aku sangat lapar. Bagaimana kalau kita makan?” tanya Hendra ia mengusap perut.
Itu caranya untuk membujuk Ines mau makan, sejak Ines tiba di rumah sakit ia belum makan apa-apa hanya sepotong buah.
“Baiklah Aku akan menemanimu makan.”
Hendra terlihat sangat humble, ia tampil apa adanya dan bersikap sangat dewasa saat bersama Ines.
__ADS_1
Hendra memarkirkan kendaraannya di penjual kaki lima. Ines memutar bola matanya saat Pak Dokter itu mengajaknya makan di kaki lima.
“Apa Pak Dokter yakin kita makan di sini?” tanya Ines tersenyum.
“Gado-gado ibu ini sangat enak, sambal kacangnya mantap, sayurannya segar dan yang terpenting porsinya banyak bikin perut kenyang dan tidak bikin kantong bolong,” ucap Nicolas, terdengar seperti anak kuliahan di tanggal tua. “kalau aku makan di sini pagi-pagi, terkadang kuat sampai sore," sambungnya lagi.
Ines hanya tersenyum kecil mendengar guyonan Hendra.
“Pak Dokter pengiritan kayak emak-emak yang punya banyak anak,” ucap Ines.
“Aku harus pengiritan untuk biaya jalan-jalan tour ke liling dunia,” ucapnya.
Awalnya Ines berpikir Hendra hanya bercanda, lalu ia mengeluarkan selembaran dari saku celananya
“Aku mau naik kapal pesiar ini. Apa kamu mau ikut?” tanya lelaki itu melirik Ines.
“Ko Hendra serius mau jalan-jalan keliling dunia?”
“Ya, aku akan menikmati hidup sampai puas, setelah itu baru memikirkan masa depan.”
“Tidak mau menikah?”
“Belum ada niat serius,” ucapnya lagi. “Tapi, apa kamu tidak mengingatku?”
“Tidak, aku tidak mengingat.”
“Padahal saat kecil kakekku sering membawaku ke rumah keluargamu, rumah yang kami tempati saat ini rumahmu,” ucap Hendra.
"Saat kematian orang kedua tuamu, kamu sempat tidak mau bicara selama dua Minggu Nes, itulah alasan kakekmu membawamu tinggal di kampung, kamu sangat syok atas kematian orang tua mu," ucap Hendra.
Ines terdiam, hidupnya dari kecil sudah dipenuhi penderitaan, kehilangan orang tua di depan matanya, di bawa ke kampung niatnya agar Ines bisa pulih, ternyata ia mendapat pelecehan, setelah menikah ternyata suami sendiri menyakitinya mentalnya.
"Aku tidak ingat apa-apa,"ujar Ines tidak bersemangat.
"Nes, jangan sakit hati sama Nicolas, sebenarnya dia lelaki yang baik, karena tekanan Oma membuat jadi sering mabuk," ucap Hendra.
"Ko, kita jangan membahas dia," potong Ines.
"Ok baiklah, kamu masih marah, Aku akan memperkenalkan kamu sama teman-temanku, ayo."
*
Tidak ada tatapan aneh dari teman-teman dokter Hendra, saat bertemu dengan mereka semua menyambut Ines dengan hangat.
“Karena kamu masih sakit, duduk di sini saja, ya. Kami akan memeriksa mereka dulu,” ucap Hendra.
“Apa aku boleh membantu?”
“Tidak usah, kamu masih sakit,” ujar Hendra.
“Kalian kekurangan orang sementara antrian masih panjang, Aku bisa membantu.”
“Baik, mungkin kamu bisa mencatat nama mereka,” ujar Hendra.
__ADS_1
“Berikan aku suntikannya dan obat-obatannya.”
“Nes, ini tugas dokter,” ujar Hendra tersenyum hangat.
“Aku juga seorang dokter, Dokter Hendra.” Ines mengeluarkan identitas dokter miliknya.
Kedua alis lelaki itu saling menyatu mendengar pernyataan Ines. Lalu ia membuka tas dan mengeluarkan kartu Identitasnya.
“Ha …?! Kamu ternyata Dokter?” tanya Hendra kaget, ia menatap kartu identitas dokter milik Ines. Akhirnya Ines terbuka juga pada Hendra.
*
Di rumah Darmawan semua orang bingung karena Ines mendadak hilang, setelah menenangkan pikiran dan melakukan kegiatan sosial di dengan Hendra Ines pulang .
“ Ines bagaimana keadaanmu? Kata ibu mertuamu kamu sakit.” Marisa berdiri di depannya.
“"Sudah baik Oma."
“Tidak apa- apa yang penting kamu sudah sehat dan suda pulang ke rumah.”
“Ya, Oma.”
“Ceritakan apa yang terjadi?’ tanya wanita itu lagi.
"Saya hanya membawanya ke dokter dan dia diminta istirahat di sana,” sahut Mami Nicolas.
Hari itu Marisa bersikap baik pada Ines, ia takut kalau Ines pergi. Kalau Ines pergi akan mempengaruhi ke perusaan mereka, Darto kakek Ines menginvestasikan uangnya di perusahaannya.
“Mari sini makan dulu,” bujuk Bu Linda
“Tidak ada apa mi, aku capek bangat, Aku mau istirahat dulu.” Ia masuk ke kamar. Mereka semua tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Nicolas juga baru pulang dari luar kota , mendengar Ines sakit karena ulahnya, ia membuka kamar tiba tiba, membuat Ines kaget. Apa yang dilakukan Nicolas padanya membuatnya berbeda, ia takut sekaligus benci melihat Nicolas.
“Kamu tidak apa -apa? Kata Mami kamu sakit karena Aku.” Nicolas mendekat ke sofa lalu ia duduk.
“Ada apa?” tanya Nicolas saat ia menghindar
‘Kamu masih bertanya kenapa? Kamu menghancurkan perasaanku. Aku benci melihatmu’ ucap Ines dalam hati.
“Tidak apa apa.” Ines memalingkan wajahnya dari Nicolas.
“Mungkin aku menyakiti perasaanmu saat mabuk, aku memang tidak bisa mengontrol emosi saat mabuk.”
“Baiklah.” Ines merebahkan tubuhnya di sofa.
“Kamu boleh tidur di ranjang .”
“Biarkan saja seperti ini Pak Nicolas, tolong jangan ganggu Aku, saat ini Aku sangat mengantuk,” ujar Ines membelakangi Nicolas.
‘ Sebenarnya apa yang Aku lakukan padanya?' tanya Nicolas dalam hati.
Bersambung
__ADS_1