
Apa yang dilakukan Nicolas malam itu akan mengubah segalanya dalam hidup mereka berdua. Lelaki itu tidak bisa mengendalikan dirinya karena pengaruh alkohol. Dalam pikiran Nicolas saat itu wanita yang ia lihat saat itu adalah Naura wanita yang dulu ia cintai . Ia sangat membenci Naura, tetapi ia masih belum bisa melupakan wanita itu.
“Naura, kenapa menolak ku? dulu kita sering melakukannya,” ucap Nicolas dengan suara berat.
“Sadarlah. Aku bukan Naura,” ucap Ines, wajahnya sangat ketakutan, ia mendorong tubuh suaminya dengan sekuat tenaga. Tetapi semakin ia melawan, dengan kuat juga Nicolas melakukannya. Ines kehabisan tenaga melawan Nicolas, ia merogoh tas dan mendapatkan ponselnya.
“Aku butuh bukti, aku tidak mau kamu menuduhku yang macam-macam.” Ines menyalahkan perekam di ponselnya. Ia tidak ingin disentuh sang suami dengan cara seperti itu, ia ingin memukul kepala Nicolas lagi, sama seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya. Tetapi belum sempat meraih vas bunga Nicolas menekan tangannya dengan kuat.
“Aku masih mencintaimu. Aku belum rela melepaskan mu pada siapapun,” ucap Nicolas, ia bersikap semakin agresif saat Ines berontak.
“Jangan seperti ini … Aku mohon, kamu yang mengatakan tidak akan melakukannya kalau aku belum siap. Aku belum siap, apa lagi kamu ingin melakukannya saat mabuk,” ucap Ines dengan suaran bergetar raut wajah Ines panik.
Dia belum pernah melakukannya dengan siapapun, tetapi Nicolas ingin melakukannya dengan paksa dalam keadaan mabuk juga.
“Tolong … aku bukan Naura, jangan lakukan itu padaku,” lirih Ines. Nicolas tidak bisa mengontrol dirinya karena mabuk. Ia terus memburu bibir Ines dan menikmatinya tanpa memperdulikan apa yang diucapkan Ines.
Setelah Ines meminta Mami Linda keluar, ia masih berdiri di di depan pintu, ia mendengar, apa yang dilakukan putranya pada Ines. Ia ingin masuk untuk menghentikan kelakuan Nicolas. Apa yang dilakukan tidak benar, tetapi Linda menghentikan langkahnya, jika ia masuk dan ikut campur Nicolas akan merasa malu, jika tahu Maminya ikut campur. Karena mereka berdua sudah pasangan suami istri.
Sebenarnya Linda sudah tahu, kalau Ines punya trauma dengan lelaki. Bu Narti sudah menelepon sebelumnya dan memberitahukan semua tentang Ines , tujuannya agar Linda mengawasi Ines. Namun, ia tidak bisa menolongnya karena mereka pasangan yang sudah menikah.
“Maaf Nes ...,” ucap Linda meninggalkan kamar Nicolas, ia masuk ke kamarnya.
“Kamu cintaku, kamu milikku. Tidak akan aku biarkan kamu menghianatiku lagi!” ucap Nicolas tiba-tiba marah dan menarik paksa pakaian Ines sampai lepas.
“Kamu salah, sadarlah,” ujar Ines wajah ketakutan saat melihat Nicolas memaksa.
Bayangan pelecahan yang dialami Ines saat kecil melintas di benaknya. "Ja-jangan lakukan itu, Aku mohon … Aku lebih baik mati jika kamu melakukan itu padaku," lirih Ines dengan tubuh bergetar, matanya melotot ketakutan.
__ADS_1
Dalam bayangan masa kecil. Saat itu Ines menangkap kupu-kupu dan berjalan jauh dari rumah, tiba-tiba seorang pria membekap mulut Ines dan menyeretnya ke sebuah rumah kosong tidak jauh dari desa.
Saat ini
“Jangan lakukan itu, Aku belum pernah melakukannya” lirih Ines dengan suara kecil, air matanya menetes deras.
Nicolas yang sedang mabuk tidak menghiraukan ketakutan Ines, ia hanya ingin menuntaskan dorongan hasrat dalam tubuhnya, ia melepaskan pakaiannya dengan buru-buru, Ines tidak punya tenaga untuk berteriak.
Ia juga berpikir kalau ia istri Nicolas, mereka pasangan suami istri. Walau hatinya tidak rela kalau Nicolas melakukannya dengan keadaan mabuk, ia hanya bisa membekap mulutnya sendiri dan menahan sakit di bagian intinya karena Nicolas melakukannya dengan paksa.
“Sakit,” rintih Ines mencengkram sisi tempat tidur, sesekali tangannya mencakar punggung suaminya sakit, benci, marah bercampur jadi satu. Malam pertama yang dilakukan suaminya saat ini, akan menambah trauma yang menakutkan bagi Ines.
Bagaimana tidak, Nicolas melakukan malam pengantin mereka dengan cara menyakitkan. Nicolas melakukannya saat dia sedang mabuk bahkan menyebutkan nama wanita lain saat malam pengantin mereka.
Mereka memang pasangan yang sudah seharusnya melakukan malam pengantin, tetapi cara yang dilakukan Nicolas lah yang salah, akankan malam ini akan menjadi luka atau jadi kebahagian bagi Ines? Waktu akan menjawabnya
Ines bangun dengan tubuh yang gemetaran menatap Nicolas dengan tatapan kebencian lalu bayangan suara Bu Narti saat kecil berdegum di kepalanya suara itu mengatakan seperti ini:
“Nes … kalau ada laki-laki yang menyakitimu dan menyentuhmu tanpa izin. Kamu harus bisa membela diri , kamu harus melawan,” ucap Bu Narti saat Ines masih kecil.
Ines tidak punya Ayah dan Ibu, ia hanya punya Kakek yang sangat mencintainya dan punya Bi Narti pengasuhnya. Wanita itu sudah seperti Ibu baginya. Kini suara itu berputar-putar di kepalanya.
Ines melirik kanan -kiri melihat gunting yang ujungnya runcing di atas nakas, lalu ia melirik Nicolas yang sedang tidur terlelap dengan cara telungkup, tubuh Ines masih bergetar, ia meraih gunting dan mengarahkan ke leher Nicolas, ia ingin menusuk leher suaminya. Tapi tangannya tertahan di atas, bayangan kebahagiaan kakeknya saat pernikahannya membuatnya tangannya berhenti.
“Kakek aku takut,” ujarnya menangis
Lalu ia mengarahkan gunting ke perutnya sendiri.
__ADS_1
Jab!
“Aak!” Ia merintih kesakitan, darah mengucur deras dari perut Ines.
Saat ia ingin mati, ponselnya berdering telepon masuk dari kakeknya. Mungkin orang tua itu punya firasat kalau cucunya ingin mati atau roh kedua orang tuanya melindungi Ines.
Ines mencabut gunting itu kembali dari perutnya, ia meraih ponselnya dan berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi, terduduk tak berdaya di sudut kamar mandi, ia sengaja menyalahkan kran kamar mandi.
“Halo Kek”
“Sayang … Kakek minta maaf menggangu tidurmu. Kakek tidak bisa tidur,” ujar lelaki tua itu .
“Apa kakek sehat?” tanya Ines dengan suara berat, ia meraih handuk dari laci kamar mandi untuk menahan pendarahan.
“Aku semakin sehat setelah kamu menikah. Kakek lebih rajin olah raga, kakek patuh apa kata dokter. Kakek hanya mau bilang terimakasih sudah mau pulang dan mau menikah dengan lelaki pilihan kakek. Nes kamu harta yang paling berharga untuk kakek, hanya kamu yang kakek punya di dunia ini, maka itu kakek bersedia menerima perawatan di luar negeri besok kami akan pergi. Kakek hanya ingin mengabari” ujarnya Darto
Ines menangis, ia juga bertahan menahan luka di perut.
“Terimakasih Kek, kakek harus sehat,” ujar Ines, ia semakin ketakutan, tiba-tiba ia tidak ingin mati demi sang kakek.
“Baiklah, istirahatlah lagi. Jangan lama-lama di kamar mandi ini sudah malam,” ujar lelaki itu dengan suara lembut, ia tahu Ines di kamar mandi karena kucuran air dari shower.
“Baik Kek,” ucap Ines lalu mematikan sambungan telepon.
Ia berdiri dan mencari kotak P3K dan mengobati luka untuk menghentikan pendarahannya, demi kakek yang ia cintai ia ingin tetap hidup.
Bersambung
__ADS_1