
Setelah melarikan diri dari Jerman, Ines dan Nicolas tinggal di sebuah desa di Hongkong.
Hari itu tepat seminggu Nikolas bersama Ines, tapi hanya dua hari saja Ines memperlihatkan rasa rindunya pada Nikolas, selebihnya sikap nya berubah dingin dan irit bicara karena rasa was- was yang sering menyelimutinya, takut Hendra dan orang orangnya menemukan mereka.
Hanya satu harapannya, Ingin Nikolas pulih dari Amnesianya agar bisa melindungi anak dan dia
Sebulan sudah mereka berada di desa itu, segala usaha doa dan harapan mereka panjatkan agar Nikolas lekas sembuh, seperti biasa Ines akan membiarkan Iniko bermain di pangkuan Nikolas, ia yakin batin ayah untuk anaknya. Bayi mengemaskan itu kali ini mengoceh di pangkuan Nicolas, sesekali ia akan meremas wajah Nikolas dan tangannya akan dimasukkan kedalam mulutnya.
Ines dan Linda hanya melihat.
“Nes, Mami tidak tahu bagaimana kamu melewati hari yang buruk saat itu, melahirkan dua kali tanpa suami.”
“Rasanya berat Ma, Tapi Aku merindukan Keanu.”
“Tenanglah, dia baik-baik saja, Bu Narti menjaganya dengan baik. Kita harus berusaha agar Nicolas cepat pulih,” ujar Linda.
Kali ini tangan Nikolas mengelus-elus rambut Iniko, entah apa yang dia pikirkan, melihat itu Ines dan kelurganya terharu dengan kemajuan ditunjukkan Nikolas belakangan ini.
Ines semakin yakin Nikolas akan semakin sembuh, segala usaha di lakukan, bahkan membawanya ke Kuil suci yang sangat terkenal di daerah itu , kuil yang diyakini bisa membawa kesembuhan dari segala penyakit.
Tiap hari Ines selalu memberikan terapi dan melakukan segala pengobatan pada Nikolas. Ia sudah melakukan segala cara agar suaminya bisa sembuh, Tapi sepertinya ia belum bisa pulih.
Rasa frustasi mulai menghinggapi otaknya, Ines ingin mematahkan vonis dokter pada Nikolas. Kesembuhan pada suaminya sangat kecil karena luka di kepalanya sangatlah parah.
Sudah hampir dua bulan Ines di Kota terpencil itu, keyakinan dan cintanya menguatkannya, ia yakin tidak ada yang kuat dari kekuatan Tuhan.
Mami Nicolas kasihan melihat Ines yang selalu menderita, tidak tega melihat Ines merawat Nikolas yang kemungkinan sembuhnya sangat kecil.
“Ines maafkan mami selama ini tidak bisa membantumu.
Aku ingin menebusnya mulai sekarang, biarkan mami yang merawat Nikolas, ini sudah tugasku sebagai seorang ibu,” kata Linda.
“Mami aku ingin selalu bersamanya walau ia tidak akan sembuh selamanya, aku punya alasan untuk itu, ada alasan untuk aku bisa bertahan degannya, ada Iniko yang jadi alasanku, aku ingin dia melihat anaknya, aku ingin suatu saat kami berempat bisa hidup bersama,” ujar Ines.
“Kamu masih muda Ines.”
__ADS_1
Air mata Ines bercucuran, hatinya menjadi lemah ketika tidak ada dukungan untuknya, maminya sepertinya tidak ingin ia bersama Nikolas, malah memintanya pergi mencari kehidupan yang lebih baik, meminta meninggalkan Iniko anaknya, untuk diurus keluarga Nikolas.
“Maafkan aku Mama, sekalipun aku mati, aku ingin mati tetap bersama putra dan suamiku, Tolong jagan usir aku.”
“Aku tidak mengusir mu Nes, aku hanya kasihan sama masa muda mu, Nikolas kemungkinan sembuhnya sangat kecil, dia akan selamanya menjadi patung seperti ini.”
“Ini baru dua bulan Ma. Kenapa Mami cepat putus asa seperti itu? Aku yang akan menjadi dokter yang merawat suamiku selamanya,” ujar Ines.
“Mama putus asa Nes. Banyaknya masalah membuatku gampang menyerah dan tidak percaya diri lagi,” ujar maminya Nikolas dengan wajah terlihat lelah.
Kabar keberadaan mereka akhirnya tercium hidung Hendra, entah berapa orang dia kerahkan mencari.
Padahal tempat mereka sangat terpencil dan jauh dari keramaian, boleh dibilang sebuah desa yang tersembunyi, tetap saja Hendra bisa menemukan Ines. Padahal Nicolas masih belum sembuh, masih terlihat sebagai mayat hidup.
“Kita harus pergi lagi dari sini,” ujar Heru.
Bian dan Dimas orang suruhannya Nicolas, mengabarinya kalau Hendra sudah datang Ke Hongkong, untuk mencari Ines.
“Bagaimana dia bisa tau padahal aku sudah membuang semua alat alatnya yang ada padaku,” ujar Ines.
“Tidak mungkin ada yang memata matai kita sampai kesini.”
“Pasti ada sesuatu alat yang masih tertinggal,” ujar Heru.
Ines mencoba mengingat kira kira dimana lagi dipasang alat penyadap itu, karena semua barang yang berhubungan dengan Hendra sudah dia tinggalkan di Berlin.
Otaknya baru ingat sesuatu yang diberikan diminum oleh Hendra padanya
Setiap hari, obat penghilang ingatan ternyata di darahnya sudah tertanam semacam signal yang selalu terhubung pada Hendra.
Sepertinya ia, sudah memperkirakan saat saat seperti ini, dimana Ines suatu saat meninggalkannya.
Ia selalu mengatakan kemanapun Ines pergi akan selalu menemukannya, Walau ke ujung dunia sekalipun, alat itulah sebabnya yang membuatnya semakin yakin kalau ia akan menemukan Ines.
Tidak ada tempat untuk lari lagi dari Hendra. Lelaki yang sudah menjerat dirinya dengan banyak kebohongan, Obsesinya ingin memiliki Ines dan bayinya menjadi tujuan utamanya.
__ADS_1
Lama berpikir akhirnya membuat keputusan karena tidak ada tempat lagi untuk melarikan diri.
“Heru, Mami, Papi dan Iniko pergi saja, biarkan aku sama Nikolas yang menghadapinya,” ujar Ines.
“Jagan Nes, kita harus pergi sekalipun kita main kucing kucingan dengannya,” usul Heru.
‘Tidak, aku akan menghadapinya, sampai kapan aku lari darinya, Nicolas adalah suamiku dan Hendra palsu itu bukan siapa-siapa kami.” Ines geram.
“Mami dan papi kembalilah ke Indonesia, aku punya permintaan, tolong ganti akte Iniko. Ayahnya bukan Hendra melainkan Nikolas, aku tidak ingin laki laki jahat itu ayah dari anakku dan tidak ingin ada dalam kehidupan Iniko,” ujar Ines.
Maminya memeluk Nikolas, kali ini mereka akan berpisah kembali, tidak tau akan bertemu . Hendra sudah sangat dekat menemukan mereka.
“Maafkan mami sayang,kalian harus selamat iya, kita akan berkumpul lagi,” Linda memeluk Nicolas.
Wajah itu hanya diam tanpa reaksi
“ Pergilah Ma mobil sudah menunggu kalian di atas, jangan pernah mencari atau menghubungi kami, biarkan aku yang menghubungi kalian,” ujar Ines. Heru, Linda, Gunawan meninggalkan Hongkong tempat persembunyian mereka sudah diketahui Hendra.
*
Suasana menjadi sepi, Ines menatap sedih pada lelaki yang duduk di depannya, Lelaki yang menatap jauh dengan pandangan mata Kosong.
Air Mata Ines menetes, ia merindukan Nikolas yang dulu ,orang yang selalu bisa diandalkan disaat sulit, hari ini ia hanya seseorang terlihat seperti orang lain dimatanya.
Rasa sedih dan sepi semakin terasa, Kini tidak mendengar lagi ocehan Putranya, ia bahkan berpisah dengan kedua putranya karena si jahat Hendra.
“Ko bangunlah. Aku merindukanmu,” ujar Ines
Ines menangis terisak-isak, Nikolas hanya menoleh sebentar dan memalingkan matanya kembali, memandang jauh kearah danau.
“Tidak bisakah kau kembalikan NIkolas ku yang dulu!” teriak wanita itu pada Nikolas dengan menggoyang-goyangkan tubuh Nikolas.
Tapi suaminya hanya diam membisu,
“Ayo kita pergi dari sini, Kita akhiri bersama,” ucap Ines putus asa.
__ADS_1
Membawanya menaiki gunung di sebelah desa, entah apa yang dipikirkan Ines, pikirannya buntu dan Putus asa.
Bersambung