Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Depresi6


__ADS_3

Apa yang dilakukan Nicolas ternyata berdampak pada istrinya Ines, dua orang suruhan Suroto mendatangi Ines ke rumah sakit.


“Aku tahu kamu pasti tahu tentang suami, Dokter,” ujar Suroto menatap cincin pernikahan yang  masih melekat jemari Ines.


Melihat wanita itu tidak menunjukkan kesedihan bahkan saat tahu Nicolas menikah pun ia tahu kalau Ines tidak marah. Jadi lelaki gendut itu curiga kalau Ines bekerja sama dengan suami untuk mengalahkannya.


“Saya tidak tahu Pak, bahkan saya tidak kenal Bapak siapa?” ujar Ines, wajahnya tenang.


“Saya Suroto  ayah mertua suamimu,” ujarnya lagi ia ingin melihat reaksi Ines.


“Oh, begitu.”


“Apa kamu tidak terkejut?” tanya pria jahat itu lagi, ia datang ke ruma sakit hanya ingin menemui Ines dan  berpura-pura  jadi pasien.


“Tidak, karena sebelumnya dia sudah izin padaku mau menikah lagi.”


“Oh, lalu dia bilang apa?”


“Dia bilang mau menikah dengan Sonia agar hutang orang tuanya lunas.”  Wajah Suroto berkedut karena terkejut, tadinya ia pikir Ines akan berbohong ternyata ia berkata jujur.


“Lalu, kamu bilang apa?” tanya lelaki itu semakin penasaran.


“Saya mengijinkannya, asalkan keluarganya selamat dan saya minta tidak diceraikan."


"Kenapa?"


"Saya pikir anak-anakku butuh sosok ayah,” ujar Ines.


“Aku tidak percaya padamu. Tapi kalau sampai Nicolas masih hidup kalian semua akan mati.” Suroto mengancam dan. menatapnya dengan tajam.


*


Sejak saat itu  Ines di teror dan selalu diawasi, ternyata bukan hanya Ines. Bahkan Heru ikut dapat imbasnya,  ia dipukuli orang tidak dikenal bahkan mobilnya di bakar. Hari itu Ines datang menjenguk Heru yang  berbaring di rumah  sakit.


“Nes pergilah dari  Jakarta, lelaki itu orang yang gila. Mereka bilang Nicolas belum meninggal, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Heru, lelaki itu masih berbaring di  bad rumah sakit.


“Aku tidak tau,” jawab Ines, melihat Heru babak belur seperti itu ia juga sedih.


Saat sedang mengobrol dengan Heru, Hendra palsu datang berlagak bak pahlawan kesiangan.


“Ayo kita menjauh dari sini Nes, kamu tidak mau kan dia menyakitimu dengan bayimu. Tugasku menjagamu dan calon keponakanku," ucap Hendra kw mengatakan kalau Nicolas akan  menemui mereka di Jerman.


Ines juga  merasa takut Heru, Marta, Bu Narti juga meminta pergi, Hendra palsu datang seperti pahlawan kesiangan, saat   dua orang  lelaki selalu mengikuti Ines. Akhirnya ia pasrah, ia setuju pergi ke Jerman berharap bertemu Nicolas di sana.


                                *


Dalam kamar tempat persembunyian Nikolas

__ADS_1


Ia berpikir saatnya akan menemui Ines dan  mengajaknya pergi


“Aku akan menemui Ines,  sudah saatnya aku menemuinya,” ucap Nikolas dengan percaya diri.


“Jangan Bro belum saat, anak buahnya Suroto masih ada di mana- mana,” kata Dimas sahabatnya, Orang yang menyusun rencana besar itu bersamanya, seorang anggota Polisi dan sudah lama juga memburu Suroto.


Karena tujuan mereka sama, maka terciptalah semua rencana, termasuk kematian yang palsukan


“Aku sangat merindukan istriku Bro dia sedang hamil, Aku sangat mengkhawatirkannya.” Nicolas menghubungi nomor Ines dari ponsel Dimas, tapi tidak aktif.


“Tahan Bro, tahan dulu, tidak maunkan rencana kita sia-sia,” lelaki yang berprofesi polisi itu menasihatinya


Bian orang suruhan Nicolas datang, ia melapor dengan wajah takut.


Nikolas dan Dimas saling menatap.


“Ada apa …?”


“Begini Pak,  tugas yang waktu itu mengawasi Nona Ines, saya belum sempat mengabarkan karna saat itu, Pak Nicolas belum sadarkan diri,” lapor Bian.


“Iya katakan.”


“Bu Ines sudah meninggalkan Indonesia, begitu kabar yang aku dengar dan Bu Ines pergi bersama Hendra."


"He-Hendra? Kenapa seperti itu ... kami tidak ada kesepakatan seperti itu,"ucap Nicolas panik ia sangat takut


“Bagaimana mungkin dia pergi dengan penipu itu,” ujar Nicolas dengan suara yang meninggi.


“Kenapa Bro?”


“Dia telah pergi tanpa menungguku ,dia meninggalkanku. yang terjadi?"


“Aku bertahan hidup demi istri dan bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" Nicolas ingin gila rasanya saat tahu Ines pergi dengan Hendra palsu, ia ingin menelepon Heru tapi tidak ingin Suroto mengetahui semuanya.


“Tenang Bro, mungkin dia punya alasan kenapa meninggalkan Jakarta,” ujar Dimas.


“Mungkin dia ingin melahirkan dengan tenang, tanpa ada ancaman, ada bagusnya juga Bro, Lo tidak perlu menghawatirkan keselamatan anak kamu,” ujar Dimas mencoba menenangkannya. “Jadi tenangkan dirimu, kita tuntaskan satu- satu dulu, jangan pikirkan yang lain, agar pengorbananmu tidak sia -sia.” Dimas menasehatinya.


Setelah semau berjalan sesuai rencana kita, baru bisa kamu menemuinya," tambah Dimas


Nicolas hanya bisa diam, tubuhnya terasa tidak berdaya saat tahu Hendra palsu membawa Ines.


"Aku berharap wanita itu dan Hendra palsu, tidak bekerja sama," ujar Nicolas sedih.


“Satu lagi Pak … wanita itu juga masuk rumah sakit,” lapor Bian lagi.


“Siapa maksudnya?” Dimas melirik Nicolas.

__ADS_1


“Sonia” Jawab Nicolas tatapan matanya sinis.


“Oh iya, lalu bagaimana?” Dimas menatap Nikolas yang yang terlihat tidak peduli pada wanita yang bernama Sonia,


“Biarkan saja,” jawab Nikolas


“Bro dia juga Bini Lo, kan?” Protes Dimas, karena merasa kasihan.


Tapi mendengar itu  Nicolas marah,  jelas- jelas lelaki itu sudah tahu dari mana semua awal petaka dalam hidupnya dan mereka juga


Sama-sama berjuang, wajahnya tiba tiba mengeras menahan Emosi,


“Lo nyuruh gue peduli sama dia?  biang dari segala kehancuran hidupku, rumah tangga gue, orang tuaku ulahnya Sonia.  Apa aku harus peduli padanya? Gila atau mati wanita itu, Gue tidak peduli,”  ujar Nicolas dengan marah.


“Bro, kalau ada orang yang pantas di salahkan yaitu dirimu,” ucap Dimas membalas.


“Kalau saja kamu tidak memberinya harapan palsu mungkin dia tidak akan berubah seperti sekarang.”


“Apa itu salahku? Lo tau apa tentang hidupku?” Dua teman itu saling berseteru mempertahankan argument masing- masing,


“Jangan marah gue hanya mengingatkan,” ujar Dima.


Nikolas kali ini kadar kemarahannya sudah menurun , ia lebih tenang


“Udah jangan membahasnya lagi.”  Nicolas tidak ingin  mendengar nama wanita itu lagi.


“Baiklah kalau itu maumu,” sahutnya, ia mengalah melihat wajah Nicolas yang sangat kesal karena Ines meninggalkannya. Ia menikahi Sonia hanya ingin  menangkap Suroto.


“Tapi Pak-”


“Apa lagi ?” potong Nicolas menata Bian dengan tajam anak buahnya  belum menuntaskan laporannya.


Karena perdebatan keduanya  tadi, membuat lelaki berbadan tinggi besar itu harus menunggu, sampai mereka menyelesaikan perdebatannya, tapi ketika dia ingin menuntaskan laporannya, dia malah mendapat tatapan tajam, setajam mata burung elang.


“Jadi bawahan itu memang gak pernah enak” Bos tidak pernah salah, kalau Bos salah kembali ke poin utama lag,i Bos tidak pernah salah,” ledek Pak Polisi itu lagi sembari melirik Bian anak bua Nicolas.


“Apa?”


“Aku dengar Sonia masuk rumah sakit  bagian mental dan kabar yang saya dapat dia depresi, sejak kabar meninggal, Pak Nicolas,” ujar Bian melaporkan temuannya.


“Terus aku harus melakukan , apa?”


“A-A- Saya tidak tahu Bos, tugasku hanya melapor saja takut disalahkan lagi nanti, kalau tidak saya Laporkan,” ujar Bian dengan pelan  karena Nicolas masih  marah.


“Biarkan saja dia menerima ganjarannya,” sahut Nikolas terdengar sangat kejam..


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2