
“Apa kalian memperlakukan Ines dengan buruk selama ini?” tanya Bi Narti dengan mata melotot.
Bagaimana tidak panik, kakeknya memperlakukan cucu kesayangannya bak ratu di rumah mereka, ia selalu di sayang semua orang. Tetapi di rumah suaminya ternyata ia diperlakukan dengan buruk, bahkan dianggap sebagai pembantu.
“Bi, bukan seperti itu. Mari kita bicara berdua,” bujuk Ines ia tidak ingin masalahnya sampai ke telinga kakeknya.
“Marisa … berjanji akan memperlakukan Ines dengan baik. Tapi apa ini?” Bil Narti sangat marah. “Kalian sudah tahu kan kalau kakeknya Ines sampai mendengar kabar ini?”
“Bi, sudah jangan memperpanjang lagi, ayo kita bicara berdua. Mi pulanglah biarkan aku sama bibi di sini,” ujar Ines.
“Baiklah Nak.” Mami Linda menarik tangan Novi keluar dari kamar rumah sakit.
“Mi, dengarkan Aku.”
“Kamu membuat ibu dalam masalah Novi,” ucap Linda memegang dadanya, lalu ia menatap tajam pada Naura.
“Kamu juga!” bentaknya dengan marah pada Naura, baru kali ini wanita semarah itu pada anak-anaknya.
“Saya Naura, Bu.”
“Dengar ...! Nicolas sudah menikah dan kamu tidak sepantasnya kamu terlibat lagi,” ucap Linda dalam ruangan, ia berharap Nau mengerti dan keluar.
“Baik Bu.” Wanita itu menunduk.
“Mi, dia kekasih Ko Nico,” ujar Novi.
“Aku tidak perduli dia mantan kekasih atau mantan pacar Novi. Saat ini Nico sudah menikah dengan Ines itu faktanya,” ucap Linda
Lalu meninggalkan mereka, “Mami mau kemana?”
“Aku ingin pulang untuk menerima makian dan kemarahan dari Oma, karena ulah kalian,” ucap wanita itu dengan wajah putus asa.
Tidak berapa lama kemudian, Nyonya besar menelepon semua dan meminta berkumpul, mereka pulang. Dalam mobil Linda hanya diam, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Setelah bertemu Bu Narti tadi, ia akhirnya tahu semua tentang Ines kenapa Ines menyembunyikan wajah aslinya, Bu Narti juga menceritakan kalau Ines punya trauma.
“Apa Mami baik-baik saja?” tanya Nicolas, ia akhirnya membuka mulutnya.
“Tidak Ko, Mami tidak baik. Ko kamu sudah menikah, tidak bisakah kamu melupakan wanita itu?”
“Tidak semudah itu Mi, dia sama Naura sudah pacaran lama, wanita yang tadinya akan dikenalkan ke Mami Naura,” ucap Novi.
“Semua sudah berubah Novi, Nico sudah menikah.”
“Berikan aku waktu Mi, Aku akan memperbaiki semuanya, aku janji,” ucap Nicolas.
“Tapi kamu sudah melakukan satu kesalahan Nak,” lirih Linda menatap putranya dengan sedih.
__ADS_1
‘Kamu melakukannya dengan paksa, Ko. Kamu melakukan malam pertama dengan mabuk dan melukai perasaan Ines’ ucap wanita itu, ia tidak ingin mengucapkannya pada Nicolas.
Tiba di rumah Marisa sudah menunggu mereka dengan kemarahan.
“Kenapa kamu melakukannya?” tanya wanita itu menatap menantunya.
“Ma, melakukan apa?” tanya Linda.
“Kenapa kamu menyembunyikan kalau Ines sakit. Kenapa kamu tidak bilang sama saya. Kamu sengaja agar aku jelek di mata Bu Narti?”
“Oma! Biarkan Mami menjelaskan,” ujar Novi.
“Kamu tidak sopan ya, berani membentak-bentak saya!” teriak wanita dengan suara meninggi. Semua tidak ada yang melawan, mereka hanya bisa diam.
“Ma, hari itu Aku sudah menelepon, tapi Mama bilang lagi ada cara arisan di Bali, jadi aku membawa Ines ke rumah sakit.”
“Apa yang terjadi, kenapa dia bisa terluka?” tanya Marisa.
“Dia terjatuh di kamar mandi Ma,” ujar Linda terpaksa berbohong, tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya. Ia tidak mau Nicolas malu depan keluarga mereka.
“Kamu bagaimana sih, mengurus rumah tangga saja kamu tidak becus,” ucapnya lagi.
“Oma berhenti s menekan Mami,” ujar Nicolas.
“Saya mengatakan hal yang sebenarnya, Mami kamu tidak bisa di andalkan.”
“Kalau Darto tahu cucunya terluka di rumah ini dia akan marah, itu akan berdampak pada perusahaan. Aku tidak mau hal itu terjadi,” ujar wanita itu menekan Nicolas.
“Aku tidak perduli lagi, Aku akan kembali ke London,” ucap Nicolas, ia berdiri.
“Ko …?” Semua orang panik.
Lelaki tampan itu berjalan menuju kamarnya, Linda mengikutinya dan mencoba membujuk.
“Ko, jangan pergi, Nak.”
“Mi, Aku ingin menenangkan pikiran dulu, makanya aku harus pergi.” Nicolas membuka kopernya dan memasukkan beberapa lembar pakaian.
“Nak, situasi akan semakin sulit jika kamu meninggalkan Ines. Dia akan semakin marah padamu,” bujuk Maminya.
“Mi, Aku minta maaf. Tidak ada niat menyakitinya, itu karena aku mabuk. Aku juga tidak mengingat,” ujar Nicolas.
“Nak , Kamu ….” Linda menggantung kalimatnya, ia tidak berani berterus terang padanya.
*
__ADS_1
Di rumah sakit Bi Narti dan Ines.
“Nes, katakan padaku apa yang terjadi. Ibu mertuamu mengatakan kamu menyakiti dirimu sendiri. Apa karena wanita yang bersama suamimu?”
“Tidak Bi, tidak ada apa-apa. Apa tujuan Bibi ke Jakarta?”
Tanya Ines menyelidiki.
“Kekek mu memintaku datang, beberapa hari ini dia selalu memikirkan mu. Ternyata firasatnya benar, kamu terluka,” ujar wanita itu menatap Ines dengan sedih.
“Bi, jangan khawatir aku gadis yang tangguh," tutur Ines.
“Kamu belum menjawab pertanyaan Bibi Nes. Kenapa kamu menyakiti dirimu? Kamu bukan wanita yang seperti itu kecuali … Nes ap-”
“Bi,” tiba-tiba Ines menangis.
“Oh Tuhan sayangku.” Bi Atin memeluk tubuh Ines yang bergetar . Wanita itu tahu apa yang di alami Ines, karena ia yang merawat Ines dari kecil sampai saat itu.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Bi Narti dengan suara parau, ia berpikir kalau Ines mendapat perlakuan jahat dari laki-laki lain.
“Nicolas Bi,” ucapnya dengan tangisan.
“Oh, Syukurlah,” ucap wanita itu pelan.
“Kok syukurlah, maksudnya bagaimana? Bibi senang kalau dia melakukannya kekerasan padaku?”
“Sayang, Bibi bersyukur karena yang melakukannya suami, bukan orang lain.”
“Tapi dia melakukannya saat mabuk Bi, dia bahkan menyebut nama kekasihnya saat melakukannya. Aku sangat depresi hari itu, hal itu mengingatkanku pada kejadian saat ,” ujar Ines.
“Kakekmu akan terpukul kalau tau kamu mengalami semua itu, dia akan marah dan menghancurkan keluarga itu,” ucap Bi Narti, akhirnya ia tahu kalau Marisa hanya menginginkan uang kakek Ines.
“Jangan katakan apapun Bi sama kakek.”
“Sampai kapan? Dia pasti akan mengetahuinya.”
“Biarkan kakek sehat dulu, setelah kondisinya membaik aku akan menceritakan semuanya. Bibi pulang saja, katakan aku baik-baik saja,” ucap Ines.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang Nak?”
“Aku akan melanjutkan kuliah di Jakarta.”
“Nes, kamu kan sudah jadi dokter, kuliah di Jerman, kenapa kuliah lagi?”
“Aku ingin ambil bagian saraf Bi dan dokter bagian dalam. Supaya bisa jadi dokternya kakek nanti,” ujar Ines.
__ADS_1
bersambung
Jangan lupa untuk Vote like komen kasih hadia akak