Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Apa Kamu Sudah Malam Pertama?


__ADS_3

Sekarang Ines sudah sah jadi istri Nicolas Darmawan, ia menghela napas panjang saat  berada di kamar pengantin mereka,  ia akan bertahan menghadapi kebencian semua orang padanya.


Pada hari pertama saja, ia sudah dicuekin, lalu bagaimana dengan hari selanjutnya?


Malam itu, setelah mengobrol dengan sepupunya.  Nicolas masuk ke kamar, ia penasaran apa yang di lakukan Ines di kamar pengantin mereka.


‘Wanita itu membuatku tidak bersemangat’ ucap Nicolas, ia masuk ke dalam kamar mereka.


Melihat Ines tertidur di sofa, walau ia masih marah tapi tidak tega melihat  wanita berpenampilan kampungan itu tidur di sofa.


“Bangunlah, kamu tidur di ranjang saja, biar aku saja yang tidur di sini,” ucap Nicolas.


“Tidak apa-apa, aku di mana saja bisa tidur, Koko tidur di ranjangmu  saja.”


“Aku tidak sejahat itu Nona Ines, aku laki-laki,” ucap Nicolas, tetapi tatapan matanya dingin dan sinis.


“Tidak usah.” Ines menolak.


“Baiklah, kalau kamu tidak mau,  Aku lelah, tidak ada waktu untuk berdebat,” ucap Nicolas ia berdiri lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi ia bangun lagi.


“Apa kamu sudah tidur?”


Ines ikut bangun, “ belum, ada apa?”


“Adik sepupuku, mereka semua besok akan bertanya macam- macam, jangan ceritakan pada mereka tentang hubungan kita, bilang saja kita tidur di ranjang yang sama,” tutur Nicolas.


“Baik, Ko.”


“Kita akan melakukan sesuai kesepakatan. Aku tidak akan mengurusi tentang pribadi kamu dan kamu juga seperti itu, Aku juga tidak akan … menyentuhmu, pernikahan kita hanya sebuah formalitas” ucap Nicolas dengan suara pelan.


“Baiklah, kita sepakat, alamat malam,” ucap Ines, ia hanya tersenyum kecil saat Nicolas menatapnya dengan tatapan jijik, itu masuk akal saja secara Nicolas anak kota yang lama tinggal di luar negeri, selalu berteman dengan wanita-wanita yang seksi dan cantik. Namun,  saat itu dia dipaksa menikah dengan seorang gadis jelek.


Saat pagi tiba,                             *


Ines bangun pagi seperti kebiasaannya di kampung, ia ke dapur bersama asisten rumah tangga, mempersiapkan serapan untuk keluarga besar barunya.


Tiba waktu serapan saat semua orang masih dalam tidur,  Ines sudah bangun mempersiapkan hidangan , tidak lama kemudian mereka semua satu-satu duduk di meja makan.


“Serapan apa ini?” tanya Novi menatap  hidangan di atas meja.


“Masakan seperti ini tidak terpakai di sini. Kami tidak makan berat saat pagi,” ucap Nicolas, ia ikut mengomentari serapan .


“Di kampung memang seperti itu,” cletuk  Novi lagi, wanita bertubuh ramping itu, meminta asisten rumah tangga menyediakan buah untuk serapan untuknya.


Tiba-tiba seorang lelaki tinggi tampan, duduk, lelaki itu baru pulang tugas di luar kota,  tentu saja beru melihat Ines untuk pertama kalinya.


“Hai adik  Ipar, aku Hendra abang sepupu suamimu,” ucapnya ramah.


  Ines membalas sapaan lelaki tampan bertubuh tinggi, selain tampan dia juga baik dan ramah.

__ADS_1


“Halo, Ines.” Ia menyambut tangan Hendra.


Hendra tidak setuju dengan ucapan Nicolas ia membela Ines.


“Ini enak,” ucapnya tersenyum manis.


“Bi! Kenapa serapan lontong pagi-pagi? Aku tidak mau gemuk.” Novi  marah-marah.


“Aduh Non, Bibi yang masak itu tadi. Nyonya yang minta dibikinin itu,” ujar asisten rumah  tangga.


“Kalian  main menuduh aja, sih,” ucap Linda menatap Novi dan Nicolas.


“Tapi lontongnya enak loh, serius,” ucap Hendra.


“Iya enak,” sahut Julio adik Hendra.


Benar kata Nicolas, kalau  mereka akan penasaran dengan hubungan Ines dan suaminya dalam hal ranjang.


Setelah selesai  serapan, Julio  mengajak Nicolas duduk di taman.


“Bagaimana?” tanya lelaki itu mengulum senyum.


“Bagaimana apanya?” tanya Nicolas,  pura-pura tidak tahu, padahal Nicolas sudah tahu kalau Julio ingin tahu  hubungan ranjang mereka.


“Apa kamu sudah unboxing?”


“Aku yakin belum,” timpal Novi yang tiba-tiba datang dari belakang.


“Kenapa … dia kan istrimu,” ucap Julio.


“Istri apaan seperti itu? dikasih Pak Maman saja pasti tidak mau, andai saja aku punya uang banyak, akan aku lunasi hutang perusahaan agar Koko tidak menikah dengan wanita kampung itu,” ujar Novi.


“Serius kamu belum malam pertama?” tanya Julio penasaran.


“Menurut kamu?” Nicolas balik bertanya.


“Aku tidak tau, makanya aku bertanya.”


“Sudah berhenti mengurusi hidupku, sudah sana pergi!” usir Nicolas mengusir adik sepupunya tersebut.


Saat Ines keluar, mata mereka semua  menoleh serentak pada sosok gadis kampung yang berdiri di dekat kolam renang. Ines sadar dirinya jadi tonton mereka semua, ia masuk kembali ke dalam kamar.


                                   *


Hari -hari di lalui dengan sangat berat di rumah mertua, semua orang sepertinya tidak menyukai kehadirannya di rumah itu, kecewa karena Ines berbeda dari apa yang mereka lihat waktu pernikahan. Bu Marisa enggan memperkenalkan Ines ke teman -teman sosialita  ia malu.


Padahal hal ia dulu yang sangat menginginkan pernikahan itu. Novi  adik ipar sering menghina penampilannya dengan mulut pedasnya dan begitu dengan anak anak perempuannya, Marisa melihatnya dengan tatapan sinis, kecuali dua  Hendra Darmawan dan Linda maminya Nicolas, hanya mereka   baik dan ramah pada Ines


              *

__ADS_1


Di malam ke tiga dia tinggal di rumah itu, keluarga itu bersiap untuk menghadiri undangan kerabat  bisnis, semua sudah rapi tapi Ines tidak ada yang memberitahukannya.


Ines turun dari lantai atas, dia heran, tapi dia tidak bertanya.


“Oh, Nes kamu di rumah saja dulu ya. Kita ada undangan saudara ada perayaan kecil-kecilan di rumahnya,” ucap Marisa, “kita akan membawa kamu nanti, setelah kita siap untuk memperkenalkan kamu,” ucapnya lagi.


“Baik, Oma” jawab Ines tersenyum kecil.


Melihat Nicolas hanya bisa diam, ia tidak membela Ines dan ia juga tidak membela omanya. Keluarga  Nicolas berangkat hanya Ines yang tinggal bersama asisten rumah tangga.


Perlakuan tidak adil yang di alami Ines di rumah ibu mertuanya sepertinya Darto punya firasat, ia menelepon Ines.


“Bagaimana keadaanmu Nes, apa mereka memperlakukanmu baik?”


“Tentu saja Kek, mereka semua baik, jangan khawatir aku baik-baik saja, Kek.”


“Kamu, yakin?”


“Tentu, ini kami akan berangkat  ke pesta teman Oma,” ucap Ines berbohong.


“Oh, syukurlah. Kalau mereka tidak baik padamu, katakan saja, kakek akan  membatalkan dana yang aku berikan untuk perusahaan mereka.”


‘Tidak semua hal itu bisa diselesaikan dengan uang, Kek’ Ines membatin.


“Baiklah Kek, jaga kesehatan, ya.”


“Tapi, tunggu … apa kamu masih memakai bedak arang itu ke wajahmu?”


“Hanya sedikit.”


“Sayang, kamu itu gadis yang sangat cantik, kenapa menutupi wajah cantikmu dengan bedak  arang itu.”


“Aku sudah terbiasa Kek, nanti kalau sudah merasa nyaman aku akan  berhenti menggunakannya,” ucap Ines.


“Nes, tidak ada yang akan menganggu kamu Nak, orang jahat  yang dulu menganggu kamu sudah mati di penjara,” ucap Kakeknya.


Ines menyembunyikan wajah cantiknya karena dia punya trauma saat masih kecil dulu,  dia di lecehkan seorang pekerja kebun teh milik kakeknya, sejak hari itu, Ines  memakai bedak.


“Baik Kek, aku tahu. Sudah dulu ya nanti aku hubungi lagi,” ucap Ines.


Ia berdiri di depan kaca di dalam kamarnya, meraih  kapas lalu mem bersihkan wajahnya, di pantulan kaca terlihat seorang  gadis yang berbeda. Ines yang cantik kulit wajahnya putih  dan  kulit tangan juga putih, kakinya jenjang putih mulus, ia selalu menutupi tubuhnya dengan pakaian longgar.


Saat berdiri lama di pantulan kaca, tiba- tiba bayangan masa lalu melintas di kepalanya, raut wajahnya langsung berubah dan ia  belum siap. Ines kembali menggunakan bedah hitam itu ke seluruh tubuhnya.


Apakah Nicolas akan menyadari dengan cepat, kalau istrinya seorang gadis yang cantik?


Bersambung


Jangan lupa kasih dukungan ya kakak dengan cara like vote dan kasih hadiah juga biar view bisa naik,terimakasih

__ADS_1


__ADS_2