
Sekarang Ines sudah sah jadi istri Nicolas Darmawan, ia menghela napas panjang saat berada di kamar pengantin mereka, ia akan bertahan menghadapi kebencian semua orang padanya.
Pada hari pertama saja, ia sudah dicuekin, lalu bagaimana dengan hari selanjutnya?
Malam itu, setelah mengobrol dengan sepupunya. Nicolas masuk ke kamar, ia penasaran apa yang di lakukan Ines di kamar pengantin mereka.
‘Wanita itu membuatku tidak bersemangat’ ucap Nicolas, ia masuk ke dalam kamar mereka.
Melihat Ines tertidur di sofa, walau ia masih marah tapi tidak tega melihat wanita berpenampilan kampungan itu tidur di sofa.
“Bangunlah, kamu tidur di ranjang saja, biar aku saja yang tidur di sini,” ucap Nicolas.
“Tidak apa-apa, aku di mana saja bisa tidur, Koko tidur di ranjangmu saja.”
“Aku tidak sejahat itu Nona Ines, aku laki-laki,” ucap Nicolas, tetapi tatapan matanya dingin dan sinis.
“Tidak usah.” Ines menolak.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau, Aku lelah, tidak ada waktu untuk berdebat,” ucap Nicolas ia berdiri lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, tetapi ia bangun lagi.
“Apa kamu sudah tidur?”
Ines ikut bangun, “ belum, ada apa?”
“Adik sepupuku, mereka semua besok akan bertanya macam- macam, jangan ceritakan pada mereka tentang hubungan kita, bilang saja kita tidur di ranjang yang sama,” tutur Nicolas.
“Baik, Ko.”
“Kita akan melakukan sesuai kesepakatan. Aku tidak akan mengurusi tentang pribadi kamu dan kamu juga seperti itu, Aku juga tidak akan … menyentuhmu, pernikahan kita hanya sebuah formalitas” ucap Nicolas dengan suara pelan.
“Baiklah, kita sepakat, alamat malam,” ucap Ines, ia hanya tersenyum kecil saat Nicolas menatapnya dengan tatapan jijik, itu masuk akal saja secara Nicolas anak kota yang lama tinggal di luar negeri, selalu berteman dengan wanita-wanita yang seksi dan cantik. Namun, saat itu dia dipaksa menikah dengan seorang gadis jelek.
Saat pagi tiba, *
Ines bangun pagi seperti kebiasaannya di kampung, ia ke dapur bersama asisten rumah tangga, mempersiapkan serapan untuk keluarga besar barunya.
Tiba waktu serapan saat semua orang masih dalam tidur, Ines sudah bangun mempersiapkan hidangan , tidak lama kemudian mereka semua satu-satu duduk di meja makan.
“Serapan apa ini?” tanya Novi menatap hidangan di atas meja.
“Masakan seperti ini tidak terpakai di sini. Kami tidak makan berat saat pagi,” ucap Nicolas, ia ikut mengomentari serapan .
“Di kampung memang seperti itu,” cletuk Novi lagi, wanita bertubuh ramping itu, meminta asisten rumah tangga menyediakan buah untuk serapan untuknya.
Tiba-tiba seorang lelaki tinggi tampan, duduk, lelaki itu baru pulang tugas di luar kota, tentu saja beru melihat Ines untuk pertama kalinya.
“Hai adik Ipar, aku Hendra abang sepupu suamimu,” ucapnya ramah.
Ines membalas sapaan lelaki tampan bertubuh tinggi, selain tampan dia juga baik dan ramah.
__ADS_1
“Halo, Ines.” Ia menyambut tangan Hendra.
Hendra tidak setuju dengan ucapan Nicolas ia membela Ines.
“Ini enak,” ucapnya tersenyum manis.
“Bi! Kenapa serapan lontong pagi-pagi? Aku tidak mau gemuk.” Novi marah-marah.
“Aduh Non, Bibi yang masak itu tadi. Nyonya yang minta dibikinin itu,” ujar asisten rumah tangga.
“Kalian main menuduh aja, sih,” ucap Linda menatap Novi dan Nicolas.
“Tapi lontongnya enak loh, serius,” ucap Hendra.
“Iya enak,” sahut Julio adik Hendra.
Benar kata Nicolas, kalau mereka akan penasaran dengan hubungan Ines dan suaminya dalam hal ranjang.
Setelah selesai serapan, Julio mengajak Nicolas duduk di taman.
“Bagaimana?” tanya lelaki itu mengulum senyum.
“Bagaimana apanya?” tanya Nicolas, pura-pura tidak tahu, padahal Nicolas sudah tahu kalau Julio ingin tahu hubungan ranjang mereka.
“Apa kamu sudah unboxing?”
“Aku yakin belum,” timpal Novi yang tiba-tiba datang dari belakang.
“Kenapa … dia kan istrimu,” ucap Julio.
“Istri apaan seperti itu? dikasih Pak Maman saja pasti tidak mau, andai saja aku punya uang banyak, akan aku lunasi hutang perusahaan agar Koko tidak menikah dengan wanita kampung itu,” ujar Novi.
“Serius kamu belum malam pertama?” tanya Julio penasaran.
“Menurut kamu?” Nicolas balik bertanya.
“Aku tidak tau, makanya aku bertanya.”
“Sudah berhenti mengurusi hidupku, sudah sana pergi!” usir Nicolas mengusir adik sepupunya tersebut.
Saat Ines keluar, mata mereka semua menoleh serentak pada sosok gadis kampung yang berdiri di dekat kolam renang. Ines sadar dirinya jadi tonton mereka semua, ia masuk kembali ke dalam kamar.
*
Hari -hari di lalui dengan sangat berat di rumah mertua, semua orang sepertinya tidak menyukai kehadirannya di rumah itu, kecewa karena Ines berbeda dari apa yang mereka lihat waktu pernikahan. Bu Marisa enggan memperkenalkan Ines ke teman -teman sosialita ia malu.
Padahal hal ia dulu yang sangat menginginkan pernikahan itu. Novi adik ipar sering menghina penampilannya dengan mulut pedasnya dan begitu dengan anak anak perempuannya, Marisa melihatnya dengan tatapan sinis, kecuali dua Hendra Darmawan dan Linda maminya Nicolas, hanya mereka baik dan ramah pada Ines
*
__ADS_1
Di malam ke tiga dia tinggal di rumah itu, keluarga itu bersiap untuk menghadiri undangan kerabat bisnis, semua sudah rapi tapi Ines tidak ada yang memberitahukannya.
Ines turun dari lantai atas, dia heran, tapi dia tidak bertanya.
“Oh, Nes kamu di rumah saja dulu ya. Kita ada undangan saudara ada perayaan kecil-kecilan di rumahnya,” ucap Marisa, “kita akan membawa kamu nanti, setelah kita siap untuk memperkenalkan kamu,” ucapnya lagi.
“Baik, Oma” jawab Ines tersenyum kecil.
Melihat Nicolas hanya bisa diam, ia tidak membela Ines dan ia juga tidak membela omanya. Keluarga Nicolas berangkat hanya Ines yang tinggal bersama asisten rumah tangga.
Perlakuan tidak adil yang di alami Ines di rumah ibu mertuanya sepertinya Darto punya firasat, ia menelepon Ines.
“Bagaimana keadaanmu Nes, apa mereka memperlakukanmu baik?”
“Tentu saja Kek, mereka semua baik, jangan khawatir aku baik-baik saja, Kek.”
“Kamu, yakin?”
“Tentu, ini kami akan berangkat ke pesta teman Oma,” ucap Ines berbohong.
“Oh, syukurlah. Kalau mereka tidak baik padamu, katakan saja, kakek akan membatalkan dana yang aku berikan untuk perusahaan mereka.”
‘Tidak semua hal itu bisa diselesaikan dengan uang, Kek’ Ines membatin.
“Baiklah Kek, jaga kesehatan, ya.”
“Tapi, tunggu … apa kamu masih memakai bedak arang itu ke wajahmu?”
“Hanya sedikit.”
“Sayang, kamu itu gadis yang sangat cantik, kenapa menutupi wajah cantikmu dengan bedak arang itu.”
“Aku sudah terbiasa Kek, nanti kalau sudah merasa nyaman aku akan berhenti menggunakannya,” ucap Ines.
“Nes, tidak ada yang akan menganggu kamu Nak, orang jahat yang dulu menganggu kamu sudah mati di penjara,” ucap Kakeknya.
Ines menyembunyikan wajah cantiknya karena dia punya trauma saat masih kecil dulu, dia di lecehkan seorang pekerja kebun teh milik kakeknya, sejak hari itu, Ines memakai bedak.
“Baik Kek, aku tahu. Sudah dulu ya nanti aku hubungi lagi,” ucap Ines.
Ia berdiri di depan kaca di dalam kamarnya, meraih kapas lalu mem bersihkan wajahnya, di pantulan kaca terlihat seorang gadis yang berbeda. Ines yang cantik kulit wajahnya putih dan kulit tangan juga putih, kakinya jenjang putih mulus, ia selalu menutupi tubuhnya dengan pakaian longgar.
Saat berdiri lama di pantulan kaca, tiba- tiba bayangan masa lalu melintas di kepalanya, raut wajahnya langsung berubah dan ia belum siap. Ines kembali menggunakan bedah hitam itu ke seluruh tubuhnya.
Apakah Nicolas akan menyadari dengan cepat, kalau istrinya seorang gadis yang cantik?
Bersambung
Jangan lupa kasih dukungan ya kakak dengan cara like vote dan kasih hadiah juga biar view bisa naik,terimakasih
__ADS_1