
Ines meninggalkan Nicolas di sana, masuk kembali dalam mobil, Heru dan Bu Atin tidak berani mengatakan apa-apa. Saat Ines masuk ke dalam mobil suasana kembali hening, melihat raut wajah Ines, Heru bahkan tidak berani mengatakan apa-apa.
Kemarahan Ines semakin bertambah saa melihat Novi tadi datang ke kantor.
Visual Ines
“Apa Novi bekerja di sana, Bi?”
“Setahu Bibi tidak, Nak.”
“Aku tidak ingin melihat mereka semua, entah kenapa … setiap kali melihat Novi dan Nicolas mengingatkanku atas kematian kakek.”
“Nak, kakekmu sudah tenang di sana.”
“Kakek sudah tenang, tapi aku menderita di sini. Aku tidak ingin melihat orang-orang jahat itu,” ujar Ines kesal.
‘Tenang Nes … Aku akan membalas perbuatan mereka semua karena telah menyakiti bertiga’ ucap Heru dalam hati.
Entah pembalasan apa yan akan di lakukan Heru pada orang-orang yang pernah menyakiti Ines dan Marta. Nicolas menggantikan posisi Pak Darto, bukan hanya mengawasi perusahaan dan perkebunan. Tetapi ia juga menjaga Marta, Ines dan anak-anak panti lainnya.
Masih dalam mobil.
Tidak lama kemudian, mereka semua sibuk dalam pikiran masing-masing. Supir melirik ke kaca belakang, karena tidak biasa dengan suasana hening.
Setelah setengah perjalanan Bu Narti memulai pembicaraan lagi.
“Apa kita langsung ke rumah Nes? Marta dan anak-anak mencari kamu , Nak .” Bu Atin menatap Ines.
“Ya Bi, kita ke rumah dulu, besok saja ke pabrik,” sahut Ines, wanita itu menatap keluar dari jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang menjulang tinggi di pinggir jalan yang mereka lewati, tatapan matanya terlihat kosong. Kembali ke Jakarta menambah luka dalam hati Ines.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Heru memberanikan diri bicara lagi.
“Aku memikirkan tentang rapat yang tadi. Kenapa wanita tua itu tidak istirahat saja di rumah.”
“Dia belum bisa meninggalkan kemewahan yang bisa dia nikmati selama ini,” ujar Bu Narti.
__ADS_1
“Tidak tau tentang perusahaan. Tapi, kenapa Pak Deon dan Duha yang diminta memimpin perusahaan. Kenapa dia tidak meminta Gunawan yang menggusur?’
“Karena Gunawan bukan anak kandungnya.”
“Ha? Benarkah?” Ines terkejut
“Karena itulah Marisa berbuat tidak adil pada Nicolas,” ujar Bu Narti menceritakan rahasia keluarga Nicolas, berharap hati Ines sedikit melunak, Tapi setiap kali menyebut nama Nicolas, Ia memasang wajah jutek.
‘Baiklah caraku belum berhasil aku akan melakukannya pelan-pelan, Aku berharap kamu berbaikan sama Nicolas, karena itu keinginan Kakekmu dia sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya, menunggumu selama enam tahun bukanlah hal yang mudah’ ucap Bu Narti dalam hati.
“Aku yakin masalah tidak sampai di sini Nes, besok akan berlanjut lagi masalahnya,” tutur Heru.
“Jangan khawatir Aku sudah meminta pengacara untuk mengurus semuanya. Untuk menghadapi orang seperti mereka dibutuhkan ketegasan.” Ines menelepon pengacara meminta mengurus dokumen perusahaan.
Karena Ines merasa kurang enak ia meminta pulang ke rumah yang ada di Jakarta di sana sudah ada Marta dan anak-anak yang menunggu,s aat mobil mereka tiba ternyata Nicolas juga ikut.
Melihat Nicolas ikut Ines panik, karena Keanu ada di taman sedang bermain dengan Amber. Sebelum anak-anak itu menyadari kehadiran Mommynya Ines mengajak Nicolas untuk bicara berdua.
“Ada apa lagi? Tadi sudah Aku jelaskan dan Aku malas untuk membahas tofik yang sama berulang-ulang, jadi katakan apa sekarang?”
Ines tertawa menyeringai saat Nicolas menyebut ia mengenalnya di masa lalu. Mereka berdua masih berdiri tidak jauh dari rumah. Ines sudah mulai gelisah saat Keanu ingin datang mendekatinya, untung Heru dengan sigap menangkap dan membawa Keanu menjauh.
“Kamu tidak mengenal saya Pak Nicolas, baik dulu maupun sekarang.”
“Baiklah Aku tidak mau berdebat lagi. Aku hanya ingin mengajakmu ke rumah.”
“Aku sudah bilang tidak ada gunanya membahas masa lalu, kita hidup berjalan ke depan bukan ke belakang pak Nicolas.”
“Sampai kapanpun, Aku tidak akan menceraikan ku ingat itu, karena Aku sudah berjanji pada kakekmu. Ayo kita rujuk dan memulai lembaran baru dalam rumah tangga kita. Aku tidak mau berpisah,” ujar Nicolas.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau, mari kita jalani hidup kita masing-masing sampai kita tua. Kalau kamu memilih hidup yang sulit ini mari jalani. Tapi jangan berpikir kalau Aku akan kembali padamu,” ujar Ines.
‘Dia sangat berubah’ ucap Nicolas salam hati.
Nicolas sadar kalau ia keras Ines akan lebih keras lagi, jadi dia memilih mengalah.
__ADS_1
“Aku minta Maaf Nes, berikan Aku sekali lagi kesempatan, Aku tidak ingin hidup dalam penyesalan selamanya. Mami juga ingin meminta maaf atas apa yang pernah diucapkan padamu, karena itulah aku ingin mengajakmu pulang. Mami sama Papi juga memintamu datang ke rumah.”
Ines benar-benar ingin melupakan semua masa lalu yang perna ia alami, ia tidak suka membahas tentang masa lalu, ia hanya ingin Nicolas menceraikannya dan mereka saling melupakan dengan begitulah Ines bisa melupakan masa lalu yang menyakitkan yang pernah ia lalui.
“Pak Nicolas Aku tidak butuh masa lalu lagi. Bagiku masa-masa itu hal yang menakutkan bagiku. Aku hanya ingin kamu menandatangani kertas putih itu lalu hubungan kita selesai. Kamu bisa memulai hidup baru. Kamu bisa punya anak sepuluh jika kamu mau … jangan menyiksa dirimu sendiri.”
“Aku hanya butuh kamu Nes, Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi,” bujuk Nicolas.
“Maaf sekali Aku katakan Tidak, maka tidak,” ucap Ines lalu meninggalkan Nicolas meminta satpam penjaga rumahnya meminta Nicolas meninggalkan rumah.
Kesannya memang terlihat kasar biar bagaimanapun Nicolas masih suaminya, tetapi Ines bertindak seperti itu karena ia takut Nicolas mengetahui tentang anaknya.
“Sampai kapan kamu akan menyembunyikan hal ini darinya Nes?” tanya Bu Narti, Ines hanya diam.
“Cepat atau lambat akan tahu Nes, lebih baik kamu yang akan mengatakannya sendiri,” ujar Hendra.
“Itu tidak akan terjadi kami akan pulang duluan.”
“Nes … jangan seperti itu kita dan anak-anak baru juga sampai. Bu Atin juga masih sakit,” ujar Marta.
“Maka itu jangan katakan apapun tentang Keanu,” ujar Ines terdengar tegas.
Mereka semua diam, luka hati yang dialami Ines rupanya begitu membekas, hingga ia tidak bisa memaafkan orang yang telah menyakitinya. Saat Nicolas memohon dan meminta Ines untuk bertemu keluarganya ia menolak dengan tegas.
“Samai kapan Ines seperti ini, Aku rindu Ines yang dulu Bi,” ujar Marta menatap Ines yang sedang bermain dengan putranya.
“Aku justru kasihan melihat Nicolas tadi, Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka berdua sama-sama menderita. Nicolas karna merasa bersalah telah menyakiti Ines dia rela menunggu selama enam tahun, tapi setelah Ines datang dia tidak diberi kesempatan,” ujar Bu Narti.
“Mereka berdua hanya korban dari Oma.” Hendra menghela napas panjang, ia ingin sekali Nicolas tahu tentang putranya, tapi ia tidak berani memberitahukan secara langsung takut Ines marah. Kalau Ines marah ia akan menghilang dan tidak memberi kabar pada mereka.
“Karena Nicolas yang menyakitinya, harus Nicolas yang bisa mengobati luka hati Ines,” tutur Bu Narti.
“Caranya?” suara mereka bertiga serempak.
“Kasihan mereka berdua sama-sama menderita. Keanu juga harus tahu ayahnya yang sebenarnya. Kita akan pikirkan caranya,” ucap Bu Narti.
Bersambung
__ADS_1
Bantu vote like komen ya kakak terimakasih