
Tidak ada yang tahu apa tujuan Darto meminta Nicolas bicara berdua, Ines menghela napas saat kakeknya meminta bicara berdua saja dengan Nicolas.
“Kakek kira-kira mau ngapain?” tanya Ines saat ia duduk dengan Marta.
“Mungkin diminta untuk berbaikan denganmu,” jawab Marta dengan asal.
“Sudahlah, butuh waktu untukku memulihkan hati ini, jangan kan berbaikan, melihatnya saja aku tidak ingin tadinya, setelah dia memilih pergi meninggalkanku hari itu aku sudah menghapusnya dari hatiku ,” ucap Ines tidak bersemangat.
“Apa kamu yakin tidak mau kembali padanya?”
“Ya.”
“Bagaimana kalau kakek yang meminta agar kalian baikan, apa kamu akan menolak?”
“Ya, aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan orang yang tidak ingin bersamaku,” ujar Ines.
Di sisi lain.
Nicolas duduk dengan kepala menunduk di depan Darto, ia merasa bersalah dan sangat menyesal.
“Mendekat lah kemari ,” ucap Darto menatap wajah Nicolas.
“Kek, aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa Nicolas, duduklah di sini, tidak banyak orang yang seperti kamu yang mau berkata jujur,” ucap Darto justru memuji apa yang dilakukan Nicolas, mata lelaki itu mendongak menatap kakek istrinya tersebut, tadinya ia berpikir kalau lelaki tua itu memarahinya dan memintanya meninggalkan Ines sama seperti yang dilakukan Maminya.
“Kakek tidak marah pada?” tanya NIcolas spontan, terdengar seperti anak laki-laki yang melakukan kesalahan dan takut kena marah.
“Tidak, kenapa saya harus marah?”
“Aku sudah melakukan banyak kesalahan dan Aku minta maaf untuk hal itu,” ucap Nicolas, kali ini ia lebih percaya diri .
“Laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab, sekarang ... Aku ingin tahu kamu diposisi yang mana?”
“Aku ingin bertanggung jawab, Kek.”
“Ok, apa yang bisa kamu lakukan?” Darto menatap wajah Nicolas dengan tatapan serius.
“Aku tidak akan meninggalkan Ines lagi, Aku berjanji.”
“Kenapa? Apa karena dia sudah cantik?”
“Bukan, walau dia masih jelek … Aku akan tetap bersamanya, karena aku sudah menyakiti hatinya, aku sangat menyesal Kek, sebagai lelaki Aku merasa malu.”
“Baiklah, begini saja … Aku ingin menyerahkan perusahaan padamu asal kamu mau berjanji mau menjaga ines selamanya.”
__ADS_1
“Tidak, Aku tidak mau perusahaan, Aku tidak mau terus- menerus ada konflik dalam keluarga, biarkan Duha dan paman yang mengurusnya.”
“Kamu salah , mereka tidak bisa mengurusnya, mereka berdua hanya bisa menghambur-hamburkan uang. Aku memilihmu jadi pemimpin, kalau kamu sudah siap nanti, maka datanglah padaku. Saya akan mengangkat mu jadi pemilik saham terbesar di sana,” ujar Darto.
“Oma yang memilih mereka.”
“Nenekmu melakukan kesalahan besar, dia menjadikan Deon jadi pemimpin bukan karena dia mampu, hanya karena dia anak yang dilahirkan.”
“Apa …? Maksudnya Papi Ku bukan anak yang dilahirkan?”
“Bukan, Papi Mu dari wanita yang dicintai Opa Mu, istri pertama yang meninggal saat melahirkan Papi Mu."
“Jadi … Papi bukan anaknya, karena itulah dia tidak pernah perduli?”
“Ya, Papimu dan papi Hendra satu mama. Opamu menyerahkan perusahaan itu pada Gunawan Papimu dan Liam, sayang Liam sudah meninggalkan, dia yang paling jago mengurus perusahaan,” ucap Darto akhirnya ia menceritakan semuanya rahasia keluarga Nicolas padanya.
Nicolas akhirnya paham, kenapa selama ini Omanya lebih sayang pada Pamannya dari pada Papinya, Nicolas paham kenapa papinya tidak mau meninggalkan perusahaan karena perusahaan itu dititipkan padanya. Nicolas setuju menjaga Ines dan berjanji tidak akan meninggalkannya lagi.
Tetapi berbanding balik dengan Ines.
Apa yang dilakukan Nicolas dan keluarganya sudah menutup sebagian hati Ines dan kepercayaannya, ia tidak ingin dijadikan alat untuk mendapatkan uang lagi, ia berpikir kalau sang kakek sudah mengetahui semuanya jadi tidak ada gunanya ia berpura-pura bersikap baik-baik saja.
Saat Marta dan Ines duduk mengobrol, Hendra dan Axell berjalan buru-buru, setelah ditanya ternyata Gunawan Papi Nicolas jatuh pingsan dan dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan kakek Ines.
Jadi hari itu keluarga Nicolas dan Ines di rawat di rumah sakit yang sama.
“Nes … kamu tidak melihat bapak mertuamu?”
“Nanti saja Ta, Aku tidak ingin memikirkan hal yang lain, Aku masih fokus sama kakek.”
“Tapi kakek sedang tidur, kamu pergi saja menjenguk ayah mertuamu,” ujar Marta.
“Aku tidak ingin mendengar kata-kata kasar lagi dari mereka, biarkan saja dulu.”
Ines masuk keruangan kakeknya, ia memilih duduk di samping ranjang lelaki itu, ia menolak bertemu dengan keluarga sang suami, saat ia duduk Darto terbangun tatapan matanya sendu, ia mengusap kepala Ines yang berbaring di sisi ranjang.
“Kakek marah padaku?” tanya Ines menatap wajah kakeknya.
“Tidak, apa kamu juga marah pada kakek karena memaksamu menikah dengan lelaki yang tidak mencintaimu?”
“Tidak, Aku tahu Kakek melakukan itu demi kebaikanku,” jawab Ines, di depan kakeknya ia selalu bersikap tegar Ines tidak mau kakeknya banyak pikiran, walau sebenarnya dalam hatinya tidak ingin menyinggung tentang Nicolas.
“Itu artinya kamu tidak membenci Nicolas?”
“Kakek tidak marah padanya?” tanya Ines.
__ADS_1
“Tidak, kalian berdua tidak salah, Aku dan Marisa yang salah."
“Kok salah?” tanya Ines bingung.
“Demi ambisi Marisa memaksa Nicolas menikah denganmu dan demi membangun perusahaan yang pernah aku tinggalkan. Aku memintamu menikah."
“Apa benar Kakek memaksa Nicolas menikah denganku, maksudku … apa benar Kakek mengancam?” tanya Ines penasaran.
“Kakek tidak sejahat Itu Nes … ya kakek memang salah karena memaksa kehendak, tapi Kakek tidak pernah sekalipun memaksa, aku sudah menjelaskan semuanya pada Nicolas dia sudah tau. Jangan marah pada Nicolas ya,” ucap Darto.
‘Dia sudah menyakitiku Kek, Maaf Kek aku belum bisa memaafkannya’ ucap Ines dalam hati.
“Kita jangan membahas tentang mereka, Aku senang karena Kakek sudah siuman,” ujar Ines ia tidak mau membahas tentang suaminya tersebut.
“Nes, kakek juga senang kamu jadi dokter.”
“Terimakasih Kek, Aku akan lanjutkan kuliah lagi kalau aku sudah menjadi dokter, baru buka rumah sakit,” ujar Ines.
“Kalau kamu terus sekolah , lalu kapan kamu menikmati masa muda mu Nak, kamu sudah mendapat gelar spesialis saraf dan bedah memang apa lagi?”
“Masih ingin tahu lebih banyak lagi tentang duni kesehatan,” ujar Ines.
“Kamu bisa membangun perusahaan bersama Nicolas, kalian berdua bisa jadi team yang hebat,” ujar Darto.
Nicolas hanya senyum dan mengangguk, perusahaan yang di bangun Darto dan opanya Nicolas perusahaan di bidang farmasi berhubungan dengan rumah sakit, Darto sangat berharap Nicolas bersama Ines dan bisa menjaga Ines saat ia tidak ada lagi. Tetapi tidak untuk Ines baginya sudah cukup baginya bertahan selama beberapa lama jadi istri yang baik.
“Setelah pulang dari sini Aku ingin kakek ingin liburan seru,” ujar Ines, lagi-lagi ia mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas tentang Nicolas lagi.
“Nes, ayah mertuamu lagi di rawat apa kamu tidak ingin melihat?” tanya Darto.
“Kakekku juga sedang sakit dan Aku tidak ingin meninggalkannya lagi,” balas Ines memeluk lengan Darto.
Akhirnya lelaki tua itu paham kalau Ines masih marah , ia sangat tahu bagaimana sifat cucunya tersebut, Ines jarang marah atau sakit hati sama seseorang tapi kalau ia sudah sakit hati sama seseorang susah untuk sembuh.
“Aku meminta Nicolas untuk menjagamu, aku berharap kamu tidak marah pada kekek.”
“Kakek Aku tidak perlu di jaga, Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri dan Aku yang akan menjaga Kakek juga,” ujar Ines.
Darto hanya bisa menghela napas panjang ia berharap Ines memaafkan Nicolas dan mereka bersama kembali sebelum ia menutup mata.
Apakah Nikolas mampu berjuang
mendapatkan hati Ines kembali?
Bersambung
__ADS_1
Bantu like, vote, komen ya kakak