Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Belum Bisa Menerima


__ADS_3

Tidak ada yang tahu apa tujuan Darto meminta Nicolas bicara berdua, Ines menghela napas saat  kakeknya  meminta bicara  berdua saja dengan Nicolas.


“Kakek kira-kira mau  ngapain?” tanya Ines saat ia duduk dengan Marta.


“Mungkin diminta untuk  berbaikan denganmu,” jawab Marta dengan asal.


“Sudahlah, butuh waktu untukku  memulihkan hati ini,  jangan kan berbaikan, melihatnya saja aku tidak ingin tadinya, setelah  dia memilih pergi meninggalkanku hari itu aku  sudah menghapusnya dari hatiku ,” ucap Ines tidak bersemangat.


“Apa kamu yakin tidak mau kembali padanya?”


“Ya.”


“Bagaimana kalau kakek yang meminta agar kalian baikan, apa kamu akan menolak?”


“Ya, aku tidak ingin membuang-buang waktu dengan orang yang tidak ingin bersamaku,” ujar Ines.


Di sisi lain.


Nicolas duduk  dengan kepala menunduk di depan Darto, ia merasa bersalah dan sangat menyesal.


“Mendekat lah kemari ,” ucap Darto menatap  wajah Nicolas.


“Kek, aku minta maaf.”


“Tidak apa-apa Nicolas, duduklah di sini, tidak banyak orang yang seperti kamu yang  mau berkata jujur,” ucap Darto justru memuji apa yang dilakukan Nicolas, mata lelaki itu mendongak menatap kakek istrinya tersebut, tadinya ia berpikir kalau lelaki tua itu memarahinya dan memintanya meninggalkan Ines sama seperti yang dilakukan Maminya.


“Kakek tidak marah pada?” tanya NIcolas spontan, terdengar seperti anak laki-laki yang melakukan kesalahan dan takut kena marah.


“Tidak, kenapa saya harus marah?”


“Aku sudah melakukan banyak kesalahan dan Aku minta maaf untuk hal itu,” ucap Nicolas, kali ini ia lebih percaya diri .


“Laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab, sekarang ... Aku ingin tahu kamu diposisi yang mana?”


“Aku ingin bertanggung jawab, Kek.”


“Ok, apa yang  bisa kamu lakukan?” Darto menatap wajah Nicolas dengan tatapan serius.


“Aku tidak akan meninggalkan Ines lagi, Aku berjanji.”


“Kenapa? Apa karena  dia sudah cantik?”


“Bukan, walau dia masih jelek … Aku akan tetap bersamanya, karena aku sudah  menyakiti hatinya, aku  sangat menyesal Kek, sebagai lelaki Aku merasa malu.”


“Baiklah, begini saja … Aku ingin  menyerahkan perusahaan padamu asal kamu mau berjanji  mau menjaga ines  selamanya.”

__ADS_1


“Tidak, Aku tidak mau perusahaan, Aku tidak mau terus- menerus ada konflik dalam keluarga, biarkan Duha dan paman yang mengurusnya.”


“Kamu salah , mereka tidak bisa mengurusnya, mereka berdua hanya bisa menghambur-hamburkan uang. Aku memilihmu jadi pemimpin, kalau kamu sudah siap nanti, maka datanglah padaku. Saya akan mengangkat mu jadi pemilik saham terbesar di sana,” ujar Darto.


“Oma  yang memilih mereka.”


“Nenekmu  melakukan kesalahan besar, dia menjadikan Deon jadi pemimpin bukan karena dia mampu, hanya karena dia anak yang dilahirkan.”


“Apa …? Maksudnya Papi Ku bukan anak yang dilahirkan?”


“Bukan, Papi Mu dari wanita yang dicintai Opa Mu, istri pertama yang meninggal saat melahirkan Papi Mu."


“Jadi … Papi bukan anaknya, karena itulah dia tidak pernah perduli?”


“Ya,  Papimu dan papi Hendra satu mama. Opamu menyerahkan perusahaan itu pada Gunawan Papimu dan Liam, sayang Liam sudah meninggalkan,  dia yang paling jago mengurus perusahaan,” ucap Darto akhirnya ia menceritakan semuanya rahasia keluarga Nicolas padanya.


Nicolas akhirnya paham, kenapa selama ini Omanya lebih sayang pada Pamannya  dari pada Papinya, Nicolas paham kenapa papinya tidak mau meninggalkan perusahaan karena perusahaan itu  dititipkan padanya. Nicolas setuju menjaga Ines dan berjanji tidak akan meninggalkannya lagi.


 Tetapi berbanding balik dengan Ines.


Apa yang dilakukan Nicolas dan  keluarganya sudah menutup sebagian hati Ines dan kepercayaannya, ia tidak ingin dijadikan alat untuk  mendapatkan uang lagi,  ia  berpikir kalau sang kakek sudah mengetahui semuanya  jadi tidak ada gunanya ia berpura-pura  bersikap baik-baik saja.


Saat Marta dan Ines duduk mengobrol,  Hendra  dan Axell berjalan buru-buru, setelah ditanya ternyata Gunawan Papi Nicolas jatuh pingsan dan dilarikan  ke rumah sakit yang sama dengan kakek Ines.


Jadi hari itu keluarga Nicolas dan Ines di rawat di rumah sakit yang sama.


“Nes … kamu tidak melihat  bapak mertuamu?”


“Nanti saja Ta, Aku tidak ingin memikirkan hal yang lain, Aku masih fokus sama kakek.”


“Tapi kakek sedang tidur, kamu pergi saja menjenguk ayah mertuamu,” ujar Marta.


“Aku tidak ingin  mendengar kata-kata kasar lagi dari  mereka, biarkan saja dulu.”


Ines masuk keruangan kakeknya, ia memilih duduk di samping ranjang lelaki itu, ia menolak bertemu dengan keluarga sang suami, saat ia duduk Darto terbangun tatapan matanya sendu, ia mengusap kepala Ines yang berbaring di sisi ranjang.


“Kakek marah padaku?” tanya Ines menatap wajah kakeknya.


“Tidak, apa kamu juga marah pada kakek karena memaksamu menikah dengan lelaki yang tidak mencintaimu?”


“Tidak, Aku tahu Kakek melakukan itu demi kebaikanku,” jawab Ines, di depan kakeknya ia selalu bersikap tegar Ines tidak mau kakeknya banyak pikiran, walau  sebenarnya dalam hatinya  tidak ingin menyinggung tentang Nicolas.


“Itu artinya kamu tidak membenci Nicolas?”


“Kakek tidak marah padanya?” tanya  Ines.

__ADS_1


“Tidak, kalian berdua tidak salah, Aku dan Marisa yang salah."


“Kok salah?” tanya Ines bingung.


“Demi ambisi Marisa memaksa Nicolas menikah denganmu dan demi membangun perusahaan yang pernah aku tinggalkan. Aku memintamu menikah."


“Apa benar Kakek memaksa Nicolas menikah denganku, maksudku … apa benar Kakek mengancam?” tanya Ines penasaran.


“Kakek tidak sejahat Itu Nes … ya kakek memang salah karena memaksa kehendak, tapi Kakek tidak pernah sekalipun  memaksa, aku sudah menjelaskan semuanya  pada Nicolas dia sudah tau. Jangan marah pada Nicolas ya,” ucap Darto.


‘Dia sudah menyakitiku Kek, Maaf Kek aku belum bisa memaafkannya’ ucap Ines dalam hati.


“Kita jangan membahas tentang mereka, Aku senang karena Kakek sudah siuman,” ujar Ines ia tidak mau membahas tentang suaminya tersebut.


“Nes, kakek juga senang kamu jadi dokter.”


“Terimakasih Kek, Aku akan lanjutkan kuliah lagi kalau aku sudah menjadi dokter, baru buka rumah sakit,” ujar Ines.


“Kalau kamu terus sekolah , lalu kapan kamu  menikmati masa muda mu Nak, kamu sudah mendapat gelar spesialis saraf dan bedah memang apa lagi?”


“Masih ingin  tahu lebih banyak lagi tentang duni kesehatan,” ujar Ines.


“Kamu bisa membangun perusahaan bersama Nicolas, kalian berdua bisa jadi team yang hebat,” ujar Darto.


Nicolas hanya senyum dan mengangguk, perusahaan yang di bangun Darto dan opanya Nicolas perusahaan di bidang  farmasi  berhubungan dengan rumah sakit, Darto sangat berharap Nicolas  bersama Ines dan bisa menjaga Ines saat ia tidak ada lagi. Tetapi tidak untuk Ines baginya sudah cukup baginya bertahan selama  beberapa lama jadi istri yang baik.


“Setelah pulang dari sini Aku ingin kakek  ingin liburan seru,” ujar Ines, lagi-lagi ia mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas tentang Nicolas lagi.


“Nes, ayah mertuamu  lagi di rawat apa kamu tidak ingin  melihat?” tanya Darto.


“Kakekku juga sedang sakit dan  Aku tidak ingin meninggalkannya lagi,” balas Ines memeluk  lengan Darto.


Akhirnya lelaki tua itu paham kalau Ines  masih marah , ia sangat tahu  bagaimana sifat cucunya tersebut, Ines  jarang marah atau sakit hati sama seseorang tapi kalau ia sudah sakit hati sama seseorang susah untuk sembuh.


“Aku meminta Nicolas untuk menjagamu, aku berharap kamu tidak marah pada kekek.”


“Kakek Aku tidak perlu di jaga, Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri dan Aku yang akan menjaga Kakek juga,” ujar Ines.


Darto hanya bisa menghela napas panjang ia berharap Ines memaafkan Nicolas dan mereka bersama kembali sebelum ia menutup mata.


Apakah Nikolas mampu berjuang


mendapatkan hati Ines kembali?


Bersambung

__ADS_1


Bantu like, vote, komen ya kakak


__ADS_2