Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Tangisan di Ujung Harapan


__ADS_3

Langit yang tadinya cerah berangsur -angsur melukis warna orange di langit, Ines, Marta dan Heru masih duduk dengan diam dipinggir pantai.


Tiba-tiba Marta berdiri lalu ia berteriak keras .


“Mama! Kenapa hidup yang aku jalani begitu sulit! Kalian berdua meninggalkanku saat aku masih bayi. Aku menjalani separuh hidupku dengan penderitaan dan hinaan …!Tidak adakah keadilan untukku …!” teriak Marta lalu ia menangis keras meluapkan perasaan yang berkecamuk di dalam dadanya.


Heru dan Ines hanya bisa diam, mulut terkunci tetapi air mata keduanya lolos tanpa permisi. Heru menangis dengan diam. Mereka bertiga anak yatim piatu yang malang, yang mencoba menemukan kebahagian dalam menjalani lika-liku kehidupan, sepuluh tahun yang lalu mereka bertiga juga pernah melakukan hal  yang sama di tempat yang sama juga.


Tepi pantai itu tempat mereka bertiga meluapkan perasaan, karena Marta menangis semakin keras. Ines menghampirinya dan memeluk sahabat masa kecilnya tersebut.


“Jangan menangis lagi Ta.”


“Aku hanya ingin mendapatkan sedikit kebahagian Mama! Tidak bisakah kamu mendoakan dari atas  sana agar Aku dan putriku mendapatkan kebahagian dan cinta yang tulus!” teriak Marta lagi menatap langit yang  menyisakan coretan berwarna kuning.


“Ta, dia mungkin punya alasan sendiri,” bujuk Ines.


“Aku hanya butuh kejujuran Nes, dia selalu memintaku jujur, tapi dia tidak pernah jujur padaku. Apa Aku tidak pantas dicintai Nes?”


“Kamu orang yang baik Ta, kamu harus kuat bukan, hanya kamu kita bertiga harus kuat,” ujar Heru memeluk pundak Marta juga dari samping.


Kemarin saat Marta mengabari Heru kalau Hendra memberitahukan tentang Keanu lelaki itu langsung datang ke hotel. Marta juga mendapat kabar kalau Hendra memberitahukan tentang putrinya pada Axell dan keluarganya. Ternyata ia bukan hanya mengaku tentang Keanu saja, ia juga memberitahukan rahasia tentang putrinya. Ia merasa dikhianati sama suami sendiri.


“Kenapa dia melakukan itu Nes? Bagaimana kalau mereka mengambil putriku,” ujar Marta menatap Ines dengan tatapan sendu.


“Itu tidak akan terjadi Ta, Aku akan menghabisi mereka kalau melakukan itu,” ujar Ines .


“Ru, Amber satu-satunya harga yang paling berharga yang Aku miliki, bagaimana kalau keluarga Axell mengambilnya dariku,” ujar Marta menangis.


“Ta, Hendra tidak sejahat itu, dia mungkin ada alasan sendiri,” ujar Ines.


“Tidak. Aku tidak percaya lagi padanya,  Aku membencinya,” ujar Marta, wajahnya benar-benar  sangat berantakan.


“Kenapa kamu menyimpulkan kalau Hendra akan meyerahkan putrimu pada keluarga Hendra?” tanya Ines.

__ADS_1


“Ini dr. Dinda mengatakan padaku kalau dia ingin melihat putriku , dari mana dia tahu itu? Pasti Hendra yang memberitahukan, kan, benar kan?” ujar Marta ia bertingkah seperti seorang yang depresi.


‘Dinda …? Dari mana dia tahu?’ tanya Heru dalam hati, saat sedang bersama Ines dan Marta kedua wanita itu bergantian menelepon.


Novi call …!


Dinda Call …!


Heru mematikan ponsel miliknya dan ikut larut dalam kesedihan kedua wanita malang itu.


Di sisi lain.


Hendra dan Nicolas datang ke rumah Ines yang di Jakarta,  tidak ada orang lagi. Menurut asisten rumah tangga yang bertugas di sana, Bu Narti dan yang lainnya pulang lagi ke kampung. Nicolas  dan Hendra datang ke kampung tapi di sana hanya ada Bu Narti. Wanita itu bahkan bingung melihat Hendra mencari istrinya.


“Loh ... bukannya kalian bersama waktu itu?” tanya wanita itu bingung, ia  menelepon nomor Marta  tapi tidak aktif.


“Kenapa Ibu tidak terus terang padaku kalau anakku masih hidup, kenapa kalian membohongi selama bertahun-tahun,” ujar Nicolas dengan suara bergetar.


“Ibu tidak tahu harus mengatakan apa-apa Nak Nicolas, Aku juga  tidak menduga kalau Ines akan sulit memaafkan mu. Jika Aku memberitahukan kebenaran itu padamu dari dulu, Ines akan pergi. Itulah sebabnya saat Aku sakit aku meminta orang ini datang  membawa anak-anak juga berharap Ines membuka hatinya kembali.”


“Tujuanku sebenarnya meminta mereka pulang ingin memberitahukanmu Nak, Aku ingin jujur padamu sebelum Aku mati. Namun, melihat tatapan matanya Aku tidak berani melakukannya, tatapan mata Ines penuh amarah, mungkin jika Aku melakukan itu dia akan terluka dan pergi lagi. Ibu hanya bisa berdoa untuk kebaikan Nak, Aku tidak ingin Ines terluka dan Ibu juga tidak ingin kamu terluka,” ujar Bu Narti.


Saat di kampung Nicolas menyusuri desa, ia ingat pertama kali bertemu Ines enam tahun lalu saat ia memotret burung dan tiba-tiba Ines muncul dari balik batu dengan wajah dekil. Nicolas menghampiri tempat pertemuan mereka dulu ia berdiri di atas bukit itu dan bayangan Ines melintas di benaknya.


“Hei gadis jelek, kamu kenapa tiba-tiba muncul di sini, burungnya jadi terbang kan!” teriak Nicolas marah saat itu.


“Ee … mana aku tau kamu mau ambil gambar burung itu,” ujar Ines memicingkan bibir atasnya dengan perasaan jengkel.


“Kan … jadi gambar jelekmu yang muncul di sini,” ujar Nicolas, menatap layar kamera miliknya, lalu menghapus gambar Ines, saat itu ia sangat membenci Ines , bukan hanya Ines bahkan semua wanita ia benci, karena Naura mengkhianatinya ditambah lagi bertemu gadis jelek seperti Ines di pinggir hutan itu.


“Mau jelek kek. Bukan urusanmu,” ujar Ines naik lagi ke atas bukit untuk mengambil tanaman merambat untuk obat herbal.


Saat bayangan Ines datang ke pikirannya Nicolas menangis sejadi-jadinya,  ia menyadari semua perkataan kasar dan perlakuannya menyakitkan pada Ines di masa lalu.

__ADS_1


“Aku dikutuk karena perlakuan jahatku padamu,” ujar Nicolas menangis di atas bukit tersebut, dari atas bukit tempat ia berdiri sangat indah , dari sana ia bisa melihat desa  di bawahnya dan juga melihat hamparan pohon di hutan.  Pantas saja Ines sering datang ke tempat tersebut karena di sana sangat indah. Nicolas masih duduk  menangis sesenggukan, pundaknya bergetar  begitu hebat tidak ada rasa yang lebih menyakitkan dari sebuah penyesalan, ia meletakkan kedua siku tangannya di atas lutut, lalu menyatukan kedua kepalan tangannya dan menggantinya dengan kuat.


Sementara Hendra panik mencari Nicolas.


“Dia kemana?” Hendra berlari mencari Nicolas di sekeliling panti tapi tidak menemukannya, pria berkaca mata itu berpikir Nicolas melakukan hal nekat karena putus asa.


“Apa kamu menemukannya?” tanya Bu Narti, ia ikut mencari di sekeliling gereja di bantu perawat yang mendorong kursi rodanya.


“Tidak Bu.”


“Jangan-jangan dia … Astaga!”  Ia memanggil para pekerja  kebun untuk ikut  berpencar mencari Nicolas.


“Kami melihat seorang pemuda kota pergi ke arah bukit,” ucap seorang pekerja  lagi.


“Bukit Ratapan!” teriak dua orang anak panti.


“Itu tempat kesukaan Ines,   Dia mungkin ke sana!” ujar Bu Narti.


Disebut bukit ratapan karena di atas bukit itu hanya satu pohon yang rindang yang tumbuh akarnya keluar dari tanah dan membentuk seperti seorang wanita  duduk menangis. Diantar anak -anak panti Hendra berjalan tergesa-gesa menuju bukit.


“Apa kamu seputus asa itu! Pikiranmu sempit!” teriak Hendra saat ia tiba di atas bukit melihat Nicolas berdiri di tepi tebing menatap ke arah bawah.


“Ko, dari  mana kamu tahu aku di sini?”


“Anak -anak ini yang bilang. Apa yang ingin kamu lalukan?”


“Aku tidak  ingin melakukan apa-apa. Aku pertama kali bertemu Ines di tempat ini …,” ujar Nicolas tertawa sedih, ia menceritakan bagaimana dulu ia bertemu dengan Ines, gadis kampung berwajah hitam bak kuali gosong, dulu Nicolas begitu membencinya, tetapi sekarang justru ia yang dibenci. Nicolas mengakui kalau itu hukuman atas perbuatannya dimasa lalu.


Hendra menghela napas lega, ia berpikir kalau Nicolas akan melompat ke jurang itu karena tidak bertemu Ines.


Apakah Nicolas  dan Hendra akan menemukan kedua wanita tersebut? Ikuti terus ceritanya  ya.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen dan kasih hadiah jika kalian berkenan.


__ADS_2