Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Masuk Rumah Sakit lagi


__ADS_3

Luka di perut Ines terkena air malam itu. Besok paginya ibu mertuanya terpaksa membawanya kembali ke rumah sakit karena badannya panas.


Saat Nicolas bangun dan turun ke suasana rumah sepi, semua orang sedang melakukan olah raga . Sudah satu kebiasaan di keluarga Nicolas saat hari Minggu, keluarga  mereka akan lari pagi bersama-sama.


“Bi, apa Mami dan Ines, ikut joging?” tanya Nicolas, sembari menjauhkan panggulnya di kursi meja makan.


“Tidak Ko, Ibu sama Non Ines, katanya ke rumah sakit lagi.”


“Loh, untuk apa? Kan baru dari rumah sakit kemarin." Nicolas Menyipitkan mata.


“Kata Ibu tadi … luka Non Ines infeksi.”


“Memangnya separah apa Bi? Kata Mami tergores karena jatuh di kamar mandi.”


“Kan’ dia terluka di perut.”


Nicolas semakin bingung saat mendengar Ines terluka, ia berpikir kalau Ines hanya terluka karena terjatuh di kamar mandi. Ia juga berpikir Ines sakit karena menyakiti perasaannya dengan kata-kata hinaan. Nicolas tidak tahu  telah melakukan hal yang jauh lebih besar dari yang  ia dengar.


Di sisi lain.


Ines di rumah sakit  sama Ibu Mertuanya, tubuhnya sangat panas pagi itu, saat diperiksa luka di perut Ines infeksi karena  malamnya ia mandi dan luka itu terkena air.


“Mi, harusnya tidak usah membawaku ke rumah sakit lagi, semua orang akan curiga nanti,” tutur Ines.


“Mami tidak ingin kamu  sakit, Nes.”


“Aku kuat Mi, tidak ingin orang semakin curiga.”


“Tenang saja, orang rumah tidak ada yang tahu hanya Bibi yang aku kasih tau tadi.”


Baru juga di omongin Nicolas  menelepon,  ia bertanya  nomor kamar Ines.


“Eh … dari mana kamu tau kalau Mami di rumah sakit?”


“Dari Bibi. Mami di kamar mana?”


Linda menatap Ines, wanita itu menggeleng, menolak  Nicolas menjenguknya di rumah sakit, tidak ingin Ines bertambah marah Linda menemui putranya di luar rumah  sakit.


“Kamu pulang saja ya Ko, Ines tidak ingin dijenguk sama kamu,” ucap Linda menatap wajah putranya.


“Mi, kenapa? Aku sudah minta maaf padanya tadi malam, dia bilang tidak apa-apa. Sebenarnya dia terluka di mana sih, Mi?”


Maminya menghela napas panjang, ia menatap Nicolas dengan tatapan dalam, ia ingin marah tetapi saat itu Nicolas lagi mabuk dan tidak ada niat melakukannya dengan paksa.


“Mi …?”


“Ya ... Kamu melukai hatinya Ko, dia terluka,” ujar Linda tidak menjelaskan apa saja yang terluka.


“Karena itu aku ingin meminta maaf Mi. Mami pulang saja biar aku saja yang mendampinginya di sini,” ujar Nicolas.


Walau sudah dilarang  Nicolas tetap saja memaksa, sebagai lelaki ia merasa bersalah telah menyakiti hati Ines saat mabuk, ia masuk ke kamar Ines.

__ADS_1


“Bagaimana keadaanmu?”


‘Aku sudah bilang tidak ingin melihatnya , dia malah masuk’ Ucap Ines dalam hati, wajah Ines tidak bersahabat saat sang suami menjenguknya.


“Aku merasa tidak baik,” ujar Ines, wajahnya dingin.


“Aku minta maaf karena menyakitimu malam itu, Aku tidak sengaja, Aku selalu bersikap tidak terkendali saat mabuk,” ucap Nicolas.


‘Apa Mami sudah memberitahukannya? Begitu saja …? Tidak ada raut menyesal?’ tanya Ines dalam hati.


Ines semakin merasa terpukul saat Nicolas tidak memperlihatkan wajah menyesal, sementara  dirinya hampir mati, karena trauma masa lalunya.


“Begitu saja … ?” tanya Ines


”Ya, memangnya kamu menginginkan apa lagi?” tanya Nicolas menatap wajah Ines.


“Tidak ada, baiklah kamu pulang saja,” ucap Ines wajah Ines dingin.


‘Kenapa dia masih marah, padahal aku sudah minta maaf’ Nicolas membatin.


“Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi,” ucap Nicolas lagi.


Mendengar itu tiba-tiba  mata Ines berkaca-kaca, lalu dia menangis sesenggukan, marah, kesal, benci itu yang dirasakan Ines


“Apa kamu pikir cukup hanya minta maaf menyembuhkan sakit yang kamu timbulkan? Apa kamu  tidak ingat apa yang sudah kamu lakukan?’


Nicolas terdiam lalu ia menjawab, “Aku tidak mengingatnya tapi Aku minta maaf, atas ucapan kasar yang aku katakan padamu,” ujar Nicolas.


Nicolas merasa bersalah, jadi dia menjaga Ines di rumah sakit. Walau Ines mengusir nya  memintanya pulang Nicolas duduk menjaga Ines.


“Apa kamu mau makan? Biar Aku beli?” tanya Nicolas.


“Apa kamu sangat mencintainya?”


“Siapa?” tanya Nicolas tidak berani menatap wajah Ines.


“Naura.”


“Lupakan wanita itu. Jangan menyebutkan namanya lagi.”


“Aku bisa  membantumu Ko. Jangan takut, kakekku akan tetap membantu perusahaan keluargamu.”


“Berhenti. Jangan bersikap sok jadi pahlawan, Kita sudah sepakat jangan mengurusi  masalah pribadi masing- masing dan kamu mengingkari,” ujar Nicolas marah, suaranya meninggi.


“Kamu selalu menyebut nama wanita itu, bahkan dalam tidurmu.”


“Berhenti menyinggung wanita itu di hadapanku dan berhenti mengurus masalah pribadiku!” teriak Nicolas lalu ia  meninggalkan kamar rumah sakit.


Saat ia duduk  ia bertemu dengan Axell.


“Loh, siapa yang sakit, Bro?”

__ADS_1


Tiba-tiba Nicolas berdiri dan menatap Axell dengan wajah serius, “katakan padaku, sebenarnya apa  yang terjadi malam itu?”


“Maksudnya?”


“Kamu bilang kalau aku menyakiti Ines. Apa saja yang aku lakukan?”


“Apa dia yang sakit?” Axell balik bertanya.


“Ya.”


Axell  sudah berjanji padanya akan memperdengarkan rekaman suara Nicolas saat memaki-maki Ines malam itu,  Axell sengaja merekam semuanya agar ada bukti untuk ditunjukkan padanya.


Nicolas mengigit kepalan tangannya  dengan kesal saat mendengar suaranya memaki-maki Ines bahkan membanding-bandingkan dengan mantan kekasihnya tersebut.


“Bukan hanya itu Bro, kamu juga beberapa kali mendorong kepala Ines ke mobil,” ujar Axell, “kamu sangat  berbahaya saat mabuk Bro, maka itu jangan mabuk lagi."


“Ah, gila ternyata separah itu. Lalu apa yang aku lakukan padanya ... kenapa ada luka tusuk di perutnya."


“Astaga kamu menusuk istrimu?” tanya Axell kaget.


“Aku tidak tahu, aku juga baru tau kalau ia terluka aku tidak ingat Bro. Mami menyembunyikan semuanya padaku. Dia tidak ingin melihatku, dia mengusirku dari kamarnya. Aku minta tolong padamu tolong cari tahu apa yang  sebenarnya terjadi. Aku butuh bantuanmu,” ucap Nicolas.


Ia mengajak Axell ke kamar Ines,  saat itu Ines  ingin ke kamar mandi, ia berhenti saat melihat kedua lelaki tampan itu berdiri di depan pintu.


“Apa kamu mau ke kamar mandi, biar aku bantu,” ucap Nicolas. Ia memegang tiang infus dan membantu Ines.


‘Saat sedang pipis, masih sakit Aku tidak mau meringis kesakitan di depan ke dua pria ini’ ucap Ines dalam hati, ia menolak bantuan Nicolas.


“Tidak, aku hanya ingin membuang sampah,” ujar Ines menepis tangan Nicolas, bagi Ines, suami saat itu  sosok yang menakutkan, ia kembali duduk  di sisi ranjang.


“Halo, Aku ingin periksa lukamu," ucap dr. Axell.


“Tidak usah, Aku sudah ada dokter yang menangani, bisa kalian keluar dari kamar ini? Aku ingin  istirahat,” ucap Ines wajahnya benar dingin.


“Aku yang akan merawat kamu mengantikan dr. Hana,” ujar Axell.


‘Tidak, tidak boleh, dia tidak boleh tau apa yang terjadi padaku, itu sangat memalukan’ ucap Ines dalam hati, lalu ia mengirim pesan sama maminya untuk datang.


“Tidak, aku tidak ingin dokter laki-laki, aku tidak nyaman,” ucap Ines, ia menjepit pangkal pahanya menahan kran air yang hampir bocor.


Axell tahu kalau Ines malu padanya, ia ijin keluar berjanji akan datang lagi, lalu meninggalkan Nicolas dengan Ines.


“Apa kamu kesakitan?”


“Aku ingin ke kamar mandi. Jangan mengikuti ku,” ucap Ines


“Baiklah siapa yang akan mengikuti mu, Aku akan menunggu di sini,” ujar Nicolas.


Ines ke kamar mandi, ia mengigit bajunya menahan rasa perih di bagian bawahnya, menjepit dengan kuat agar tidak ada suara,  tidak ingin meringis di depan Nicolas.


 Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa vote. like ya kakak


__ADS_2