
Setelah Bi Narti tahu apa yang di lakukan keluarga Nicolas pad Ines wanita paruh baya itu sangat marah. Ia tadinya ingin melaporkan semuanya pada Kekek Ines
Kakek Ines dan Kakek Darto tadinya sahabat lama, mereka membangun bisnis bersama. Tapi suatu ketika kedua orang tua Ines meninggal dalam kecelakaan.
Darto sangat terpukul, ia menjual saham miliknya pada kakek Nicolas dan menjual rumahnya untuk keluarga Darmawan lalu membawa Ines kecil ke satu desa yang sejuk dan tenang. Darto membeli lahan yang luas dan dijadikan perkebunan teh, perkebunan buah-buahan.
“Bibi tidak terima Nes, kamu diperlakukan seperti pembantu di rumah suamimu,” ujar Bu Narti geram
“Bi tidak apa-apa, kakek selalu mendidik ku untuk bisa hidup mandiri.”
“Tapi kakekmu sangat sayang padamu Nes. Dia akan menyesal memaksamu menikah kalau dia tau kamu menderita di rumah suamimu.”
“Bi jangan katakan apapun, biarkan kakek selesai operasi, baru kita bicara padanya,” ucap Ines.
“Pertama kali melihat wanita itu aku sudah punya feeling kalau dia bukan orang baik,” ujar Bi Narti, ia menyebut kalau Marisa orang jahat kerena tidak menepati janjinya untuk menjaga Ines.
“Biarkan saja Bi, harta kekuasaan tidak akan dibawa mati. Kalau Oma Nicolas hanya ingin uang Kakek, biarkan saja. Tapi aku belum siap pulang ke rumah itu.”
“Baiklah, Bibi akan meminta anak-anak untuk membereskan Villa di puncak. Untuk sementara waktu kamu di sana dulu menenangkan pikiran,” usul Bi Narti.
“Jangan ke Villa Bi, kakek pasti akan curiga. Aku ke rumah Marta saja.”
“Baik Bibi akan meneleponnya.”
Marta mantan penghuni panti asuhan, Darto menampung puluhan anak, sudah banyak dari mantan anak panti yang sudah berhasil, salah satunya gadis yang bernama Marta, ia seorang perawat.
Bi Narti keluar dari kamar ia menelepon Marta, saat ia keluar Nicolas datang ke kamar Ines. Untuk sesaat Ines terdiam, ia masih marah pada Nicolas karena melupakan perbuatannya padanya malam itu, ia juga sangat kecewa saat melihat Naura menggandeng tangan Nicolas tadi.
“Apa ada masalah?” tanya Ines saat lelaki tampan itu datang ke kamarnya.
“Aku minta maaf.”
“Untuk yang mana?” tanya Ines, ia sempat berpikir kalau Maminya sudah memberitahukan kejadian yang sebenarnya. Ines menghela napas panjang ia berpikir kalau Nicolas meminta maaf karena mengingkari janji karna menyentuhnya tanpa persetujuannya.
“Semuanya. Aku akan pergi.”
Dug!
__ADS_1
Jantung Ines berdetak lebih kuat, saat Nicolas mengatakan kalau ia akan kembali ke London meninggalkannya.
“Kamu akan kabur setelah apa yang kamu lakukan padaku?” pekik Ines.
“Maaf kalau aku menyakiti perasaanmu, Aku salah.”
‘Bukan hanya perasaanku yang kamu sakiti, Nicolas!’ teriak Ines dalam hatinya.
“Aku sudah siap menerima semuanya, Aku tidak mau hidup seperti ini, aku tidak mau dibawah kendali Oma selamanya,” pungkas Nicolas
“Kalau kamu pergi, bagaimana denganku? Kesepakatan kita ... bukan seperti ini,” geram Ines dengan suara bergetar.
“Maaf kala Aku melanggar kesepakatan. Tapi aku tidak tahan menjadi badut Oma selamanya, katakan pada kakekmu untuk melakukan apa pun. Aku tidak perduli lagi.”
“Apa kamu sangat mencintainya?”
“Ines, ini bukan tentang dia. Ini tidak ada hubungannya dengan Naura. Ini tentang kamu dan Aku!” teriak Nicolas dengan suara meninggi.
“Ini bukan tentang cantik ataupun kaya Nona Ines. Cinta tidak bisa dibeli dengan uangmu yang banyak itu.”
“Tolong jangan pergi. Kakekku akan sedih jika tau kamu meninggalkanku,” ujar Ines, ia rela memohon agar Nicolas tidak pergi. “ A-aku melakukan semua ini demi kakekku,” ucap Ines terbata-bata.
“Maaf aku tidak bisa.” Nicolas meninggalkannya dan pergi.
Bi Narti berdiri di belakang pintu, ia menangis saat Ines memohon pada Nicolas agar tidak meninggalkannya.
“Kamu tidak seharusnya pergi begitu saja setelah semua yang kamu lakukan padaku malam itu,” lirih Ines.
Nicolas meninggalkan Ines di rumah sakit, tatapan kebencian di tujukan Bi Narti pada Nicolas. Ia sudah merawat Ines dari kecil dan baru kali ini ia memohon pada seseorang, wanita itu tidak rela melihat Ines menangis.
“Kamu akan menyesal suatu saat nanti,” ucap Bu Narti penuh dendam.
*
Bi Narti membawa Ines keluar dari rumah sakit, ia membawanya pulang ke rumah Marta. Apa yang di lakukan Nicolas padanya membuat Ines kembali trauma, kejadian dimasa lalu menghantuinya, ia kembali terpuruk .
__ADS_1
“Nes, percayalah semua akan baik-baik saja, kakek tidak akan tau semua ini,” ucap Bi Narti.
“Bi, Aku hanya ingin kakek tetap sehat,” ujar Ines, ia hanya duduk diam.
“Aku tahu Nak, kamu tunggu di sini. Bibi ada keperluan sebentar,” ucap wanita itu meninggalkan Ines di rumah Marta.
Setelah Ines tidak pulang ke rumah dan Nicolas pergi, keluarga itu Darmawan panik. Pagi itu Bi Narti datang ke rumah keluarga Darmawan, wanita itu mengguncang semuanya.
“Apa Ibu Marisa ada?” tanya Bi Narti saat ia tiba.
“Oh, ada Bu, beliau lagi lagi senam Yoga di halaman belakang. Apa perlu saya panggilkan?” tanya asisten rumah tangga tersebut.
“Ya, tolong panggilkan Bu, katakan Bu Narti datang.”
Wanita itu buru-buru masuk ke rumah saat mendengar Bi Narti datang, kalau biasanya asisten rumah tangga dianggap rendah. Tetapi Bi Narti sangat dihormati karena ia orang kepercayaan Darto kakek Ines.
“Oh …! Bu Narti. Apa kabar,” ucap Marisa basa-basi. Ia ingin cipika-cipiki tapi Bi Narti yang sedang dilanda kemarahan itu merentangkan tangan menolak si Nyonya besar.
Mata semua anak dan cucunya melotot karena ada yang berani menolak Marisa si Nyonya yang paling berkuasa di alam jagat raya.
“Siapa wanita itu?” tanya Duha penasaran.
“Dia … orang kepercayaan kakek Ines,” ucap Linda.
“Sepertinya dia punya kekuatan besar sampai sekelas Omapun takut padanya,” bisik Julio.
“Anda mengingkari janji Bu Marisa,” ucap Bi Narti.
“Mengingkari janji apa? Kita bicara pelan-pelan saja, Bu Narti mau minum apa? Kebetulan saya punya teh herbal yang bisa bikin awet muda,” ucapnya mulai menggombal.
“Tidak perlu Bu Marisa, saya datang ke sini untuk hal yang penting,” ucapnya dengan nada tegas.
“Ya, kit bisa membicarakannya sambil ngeteh.”
“Tidak, saya tidak punya banyak waktu. Saya mau bilang kalian memperlakukan Ines dengan buruk di rumah ini, kalian menghina penampilan fisiknya dan menjadikannya pembantu. Padahal kalian tidak tau siapa dia sebenarnya, dia bukan wanita udik seperti yang kalian pikirkan … Ines kami seorang dokter lulusan Jerman, dia gadis cantik yang menutup penampilannya karena sesuatu hal … bukan untuk menipu keluarga ini, seperti yang dikatakan wanita muda ini,” ucap Bu Narti, ia menatap Novi dengan tajam. Karena Novi yang paling lantang menuduh Ines penipu.
Bersambung
__ADS_1