
Masih di rumah sakit, setelah menunggu selama beberapa menit, Ines akhirnya di ijinkan masuk ke ruangan di mana kakeknya dirawat, setelah memakai gaun protektif pakaian keamanan, Ines duduk di samping ranjang Darto. Hatinya sangat sedih saat melihat lelaki tua itu berbaring tidak berdaya di ranjang rumah sakit itu, melihat alat bantu menempel di tubuh Darto , bayangan kedua orang tuanya saat berbaring di rumah sakit sehabis kecelakaan kembali mengisi kepalanya.
‘Aku tidak ingin kehilangan kakekku lagi, cukup kedua orang tuaku yang meninggalkanku, jangan kakek juga’ lirih Ines dalam hati.
“Kakek ... jangan tidur terlalu lama, Aku ingin mendengar suara kakek,” ujar Ines menggenggam telapak tangan Darto. “Kakek, Aku mau bilang … Aku masih membutuhkan kakek, Aku tidak ingin tinggal sendirian." Kedua sisi pundaknya terlihat bergetar naik turun, ia kembali menangis.
“Kakek maaf kalau aku tidak bicara jujur sama kakek. Aku tidak ingin kakek banyak pikiran, Aku lagi berusaha lebih kuat menghadapi semuanya. Aku hanya ingin Kakek bangga padaku,” ucap Ines lagi, curhat panjang lebar di samping kakeknya yang belum sadarkan diri. Ines percaya walau kakeknya tidak membuka mata tetapi ia mendengar curhatan Ines di bawah alam sadarnya.
Setelah bercerita panjang dengan kakek Darto ia merasa mengantuk dan tertidur di sisi ranjang, Nicolas dan yang lain hanya bisa melihat dari balik kaca pembatas ruangan tersebut.
“Apa Ines sudah makan tadi, Ta?” Bu Narti duduk di samping Marta.
“Hanya serapan pagi Bi, Aku berharap Kakek segera bangun, Aku takut Ines ikut sakit,” ucap Marta.
“Ya, mudah-mudahan, kalau saja Bapak tidak bangun-bangun selamanya, Aku akan pastikan Marisa akan mendapat ganjarannya, semua ini terjadi gara-gara wanita licik itu,” ucap Bu Narti, raut wajah itu sangat sinis.
Sementara Marisa dan keluarganya tidak ada lagi di sana, mereka tadinya ikut mengantar Darto ke rumah sakit, saat melihat Bu Narti datang, Marisa ngacir, ia meninggalkan rumah sakit, ternyata wanita tua itu takut pada Bu Narti.
Namun, Nicolas masih bertahan di sana, semua keluarga memaki-maki dan memarahi Nicolas menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi. Tapi ia menunjukkan sikap gentleman walau ia merasa bersalah Nicolas tetap menunggu di sana, saat sedang duduk Exell juga datang ia mendengar kabar Darto masuk rumah sakit dari Mami Nicolas, Linda meminta Axell menemani Nicolas.
“Apa dia sudah sadar?” Ia duduk di samping Nicolas.
“Belum.” Nicolas duduk sendirian di kursi taman rumah sakit.
“Apa kamu baik- baik saja?” Itu hanya pertanyaan basa-basi walau sebenarnya ia tahu kalau Nicolas sedang tidak baik.
“Aku tidak baik Xell, sepertinya Aku melakukan kesalahan lagi.”
“Ya, harusnya kamu memikirkan dulu sebelum bertindak,” ujar Hendra, ia datang dari arah belakang.
“Dok di sini juga, tidak jadi ikut kegiatan sosial itu?” tanya Axell.
"Jadi, tapi terpaksa pulang karena ulah Nico," dengus Hendra.
"Kenapa seperti itu?"
Bukannya menjawab pertanyaan Axell Hendra menatap tajam ke arah Nicolas. "Apa kamu tidak berpikir dampak yang kamu lakukan? Aku kan sudah bilang akan membantu untuk bicara sama Ines, Lu kenapa keras kepala bangat?"
'Apa kamu mau membantuku juga kalau Ines dijodohkan sama kamu' Nicolas membatin menatap Hendra, lalu ia menghela napas panjang, banyak yang ingin ia katakan pada sepupunya tersebut. Namun ia tidak tahu memulai dari mana.
"Apa kamu mendengar ku, Nico?"
__ADS_1
"Tidak, Aku tidak berpikir panjang," jawabannya datar.
*
Setelah beberapa jam tertidur Ines terbangun saat seseorang mengusap kepalanya dengan lembut. Ines membuka mata.
"Kakek! Oh syukurlah!" Tangan menekan tombol panggil, tidak lama kemudian beberapa orang dokter berlari masuk ke ruangan Darto.
Akhirnya Darto bangun juga dari pingsan, ia menatap wajah Ines dengan tatapan sendu, apa yang dikatakan Nicolas terlintas di benaknya. Ada rasa menyesal dalam hatinya tapi ia juga tidak punya pilihan lain saat itu, karena keadaannya yang sudah sakit-sakitan
'Apa aku sudah melakukan kesalahan? aku hanya ingin cucuku bahagia, tapi kenapa jadi seperti ini?' Darto membatin, memulas sebuah senyuman yang hangat untuk Ines.
visual Ines
"Kakek Aku mencintaimu," cicit Ines.
"Dia sudah melewati masa kritis, Anda orang yang kuat, orang tua," pungkas seorang dokter, ia tersenyum kecil pada Ines.
"Kakekku lelaki yang paling kuat, Dok."
Setelah dokter keluar, Ines kembali memeluk kakeknya, ia bahkan tidur di samping ranjang Darto memeluk tubuh lelaki tua itu dengan penuh kasih sayang.
"Kakek jangan sakit lagi," rengek Ines manja.
"Kakek tidak sakit Nak, hanya kurang istirahat saja. Bagaimana keadaanmu, Nes?"
"Saat ini sudah baik, karena kakek sudah bangun," balas Ines, ia mendaratkan bibirnya ke pipi kakeknya beberapa kali.Ia sangat bahagia melihat kakeknya sudah siuman.
Saat Nicolas dan Hendra, Axell sedang mengobrol, Marta menghampiri mereka.
"Kakek sudah siuman, Dok!" Panggil Marta.
Mereka bertiga menoleh serempak ke arah suara. Marta berdiri dengan wajah sumringah.
"Benarkah?" Nicolas merasa sangat senang.
Mereka bertiga berjalan menuju ruangan Darto melihat lelaki itu sedang bercanda gurau dengan Ines.
__ADS_1
"Ah syukurlah," ucap Axell.
Darto menatap Hendra dengan dalam, entah apa yang dipikirkan lelaki tua itu padanya, ini pertama kalinya ia melihat Hendra setelah puluhan tahun, selama proses perjodohan dan pernikahan Nicolas dan Ines Hendra tidak ada, lelaki itu sedang ada seminar di luar kota selama satu Minggu.
'Apa aku melanggar janji? Sebenarnya kamulah yang dijodohkan opa sama Ines' ucap Darto dalam hati, ia masih menatap wajah Hendra. Sepertinya Nicolas mengerti arti tatapan Darto.
"Kakek sudah merasa baikan?" tanya Axell, tatapi Darto masih diam menatap Hendra begitu dalam.
"Kakek kenapa?" tanya Ines ia duduk.
"Apa kamu yang namanya, Hendra?"
Mereka saling menatap, lalu Hendra mendekat dan duduk di kursi di samping Darto.
"Ya Kek, Aku Hendra."
"Apa kamu juga dokter?"
"Ya, Aku dokter sama seperti, Ines."
Darto tertawa senang karena Hendra tau kalau Ines seorang dokter juga, lalu tatapan mata Dari berpindah ke arah Axell.
Lalu ia bertanya lagi saat melihat Axell."Apa kita pernah bertemu anak muda?"
"Ya Kek, Saya dan keluarga beberapa kali datang ke panti."
"Oh ... Saya ingat sekarang, Kamu anak Sania," ucapnya lagi, ternyata ingatan lelaki tua itu masih tajam.
"Wah kalian sudah jadi orang -orang sukses sekarang ,"ucap Darto dan terakhir ia menatap suami Ines. Nicolas beberapa kali tertangkap mata mencuri -curi pandang pada Ines.
"Boleh kita bicara berdua, Nicolas?"
"Te-Tentu saja bisa Kek," ucap lelaki itu dengan gugup.
Ines hanya menatap suami sekilas. Lalu Ines mengalihkan pandangan ke tempat lain, Ines Masih marah pada Nicolas dan keluarganya.
Apa yang akan dikatakan Darto pada Nicolas?
Apakah Ines mau menerima Nicolas kembali setelah menyakiti hatinya? Ikuti ceritanya terus ya ...
Bersambung
__ADS_1
Bantu like, komen dan vote ya kakak