
Akhirnya Ines memutuskan mengundurkan diri dari rumah sakit demi keselamatan dirinya.
Heru menghubungi Rio lelaki yang ia tugaskan untuk mengawal Bu Narti dan Ines, setelah ia mencari Nicolas yang mendadak hilang, akhirnya ia tahu kalau Suroto telah menculiknya dan mengurung di rumah.
Malang sekali nasib Nicolas karena ia digilai seorang wanita seperti Sonia, ia merasa harga dirinya hilang saat ia diculik dan dipaksa menikah dengan Sonia. Namun ia tidak bisa berbuat banyak, ia takut lelaki gila itu menyakiti keluarganya, Nicolas tidak punya pilihan selain mengikuti permainan ayah anak yang sama-sama gila itu.
“Bagaimana? Apa di sana aman?” tanya Heru, ia menjauh dari Amber dan Keanu karena kedua anak itu mencari Mommy dan Daddy mereka yang tidak ada kabar belakangan ini.
“Tidak baik Bang, ada orang asing yang selalu mengawasi kami,” ujar Rio melapor.
“Kamu bawa Ibu dan Ines dari apartemennya,” pinta Heru.
"Apa rencananya?" Rio sesekali mengangguk tanda setuju.
Heru memberi arahan pada Rio bagaimana cara mengeluarkan Ines dan Bu Narti dari Jerman.
Di sisi lain.
Setelah Nicolas diijinkan untuk ke rumah sakit menyumbangkan darah sama Maminya, setelah selesai Nicolas kembali di kurung , seperti tawanan, ia mencuri ponsel seorang dokter. Akhirnya bisa berkomunikasi dengan orang-orang suruhannya selama ini ia tugaskan.
“Apa kamu yakin itu Ines dan keluarganya tidak ada di sana?”
“Ya Pak, kami melihat Ines dan Neneknya serta seorang laki laki masuk ke dalam mobil, dan menuju taman Wisata pengunungan, waktu kami mengikuti mobil mereka, kami di hentikan dan disekap di satu gudang, mereka seperti bukan dari Indonesia.
Dari bahasa sepertinya mereka orang- orang timur yang bermukim di Jerman, kami kehilangan informasi samapi saat ini.” Nikolas memukul tembok karena marah, ia menutup telepon dan menyembunyikannya.
Tidak ingin anak istri dalam bahaya ia ingin bicara dengan Sonia.
“Buka pintunya, biarkan aku bicara pada wanita itu!” teriak Nikolas pada para penjaga.
Pintu dibuka ia diijinkan bicara dengan Sonia.
“Apa kamu melakukannya? Apa kamu setega itu pada wanita hamil?” tanya Nicolas dengan suara meninggi.
__ADS_1
“Saya tidak melakukan apa-apa. Apa yang saya lakukan?"
“Kenapa kamu menyangkal, saya sudah bilang bersedia menikahimu, Lalu apa yang kamu inginkan lagi!” Nicolas sangat marah saat ia tahu kalau nyawa istrinya dalam bahaya.
Tapi Sonia mengaku tidak ingin menculik Ines.
Kabar Ines hilang, Sonia tidak percaya, lalu mencari informasi ke rumah Darto yang di kampung.
Rasa putus asa dirasakan Nicolas hampir satu bulan sudah dia kehilangan kabar tentang istrinya, Sonia juga belum menemukan di mana jejak Ines berada, Hilangnya keluarga itu menjadi misteri, bahkan surat kabar Jerman memberitakan hilangnya seorang dokter asal Indonesia bersama tiga anggota kelurganya di Taman wisata pinus di kota itu, bahkan mobil yang mereka tumpangi masih terparkir di parkiran Taman Wisata.
Hari ini jadwal Nicolas menjenguk Maminya ke rumah sakit, sebelumnya ia sudah meminta Axell membawa putrinya ke London agar tidak di usik sama Suroto dan Sonia. Sementara Novi memutuskan tinggal merawat Maminya. Walau diminta pergi ia tidak tega meninggalkan Linda, tetapi ia mendukung Axell pergi ke London demi putri mereka.
Kali ini Nicolas datang lagi ke rumah sakit namun pengawasan semakin ketat, dua penjaga berbadan tegap mengekor kemana pun dia melangkah, padahal ia berniat ingin kabur.
“Jangan macam- macam,” ucap seorang yang berambut cepak layaknya seorang angkatan, “kalau kamu macam macam Mamimu, Adikmu dan Papimu dalam masalah besar,” ancam lelaki itu pada Nicolas, membuat berhenti, semua itu ia lakukan demi melindungi keluarganya.
Tatapannya sendu melihat Novi adiknya yang terlihat kurus dan Tua, tidak terawat.
“Ko, apa kamu baik baik saja?” tanya Novi memeluk tubuh Nicolas dengan sedih.
“Ko, kamu harus kuat demi anak istrimu dan keluarga kita,” bisik Novi.
“Iya baiklah, “sahut Nikolas, tapi hatinya salut melihat ketegaran adek perempuannya.
“Sudah, sudah." Penjaga yang mengawasi Nicolas menarik tubuhnya untuk menjauh dari Novi, lelaki itu masuk ruangan pemeriksaan dokter.
Novi bisa merasakan perasaan Nicolas di saat terpuruk seperti saat ini , semua teman dan keluarganya hilang di telan bumi , tidak ada yang bisa memberi pertolongan untuk mereka.
Ternyata benar kata orang” Ada uang ada teman,ada uang keluarga banyak bahkan yang tidak ada hubungan kelurga juga terkadang ngaku-ngaku kelurga, tapi di saat terpuruk keluarga sekalipun, mendadak pikun, budak, dan tuli.
Nikolas memasuki ruang pengambilan darah, pengawas berbadan tegap itu bahkan ingin mengikuti samapi ke dalam ruangan pemeriksaan.
“Pak yang mau di ambil darahnya yang mana?” tanya susternya itu
__ADS_1
“Dia,” jawab kedua orang itu menunjuk Nicolas serentak.
“Karena kalian di sini juga bagaimana kalau kalian ikut juga saya ambil darahnya, karena orang yang menyumbang darah itu baik. Karena semakin sering darah di keluarkan maka darah baru akan diproses lagi dan kalian sehat,” ujar Suster.
“Oh bukan, bukan kita,” ujar mereka berdua lalu keluar dari ruangan .
“Badan aja gede mental helokity,” ujar suster sumringah melihat penjaga Nikolas takut sama jarum suntik.
“Silahkan berbaring Pak.” suster itu menunjuk tempat tidur .Nikolas menurut saja, ia tidak setakut itu lagi pada jarum suntik karena sudah biasa melihat Ines menyuntik dirinya sendiri untuk menguatkan kehamilannya.
“Sakit sedikit ya Pak tolong di tahan,” ujar suster.
Memberi kode lewat kedipan matanya karna kedua suster itu memakai masker.
Nikolas menutup mata, walau sekarang rasa takutnya pada benda tajam itu sudah berkurang tapi, tiba tiba bayangan istrinya datang melintas di pikirannya dia mana dialah yang menghilangkan rasa takutnya pada jarum suntik.
“Tunggu sebentar,” ujar Suster itu meninggalkan Nico yang masih menutup matanya, tiba-tiba air matanya mengaliri sudut mata, rasa rindu untuk istrinya sangat menyiksa dia menyilangkan satu tangannya menutupi matanya yang menangis.
“Baiklah napas jangan di tahan, Ya,” ujar suster itu memegang tangan Nikolas dan sebelum memasukkan jarum itu, suster tersebut menarik telapak tangan Nicolas lalu diletakkan di perut sang perawat, Nikolas kaget bagai di sengat listrik. Ia membuka mata dan melotot melihat suster yang ingin menyuntiknya, jantungnya berpacu lebih kencang saat tangannya mendarat di salah satu gundukan.
‘Apa suster ini hamil?’ tanya Nicolas tanpa sadar tangannya menyentuh perut suster yang menyuntik ada sesuatu yang bergerak di sana, gerakan itu semakin nyata menendang- nendang halus tangan Nicolas dan akhirnya wanita yang berpakaian suster itu membuka masker.
“Ines …?” ucap Nikolas kaget, matanya melotot tidak percaya, baginya semua ini bagai mimpi, bahkan dia beberapa kali mengucek -ngucek mata memastikan semua itu bukan mimpi.
Ines memberi kode kedipan mata, karena mereka di awasi dari jendela oleh penjaganya.
Ines memberi kode pada suster yang ikut menjaganya agar dia keluar dan memberitahukan pada pengawal itu kalau Nikolas butuh istirahat dulu karna tubuhnya lemah dan belum memiliki tenaga untuk berdiri, meminta mereka membeli makanan dan vitamin untuk Nikolas, agar bisa mengambil darahnya secepatnya, terdengar salah satu penjaga itu menghubungi majikannya dan menunggu instruksi.
Maka Nikolas di biarkan istirahat beberapa menit dan maka suster itu pun menutup gorden
Begitu semuanya aman baru Nikolas duduk dan memeluk tubuh istrinya.
“Oh … Ines, sayangku. Ini bukan mimpi kan?” ucap Nicolas ia beberapa kali mengecup perut buncit istrinya.
__ADS_1
Bersambung