
Jerman
Setelah ia pingsan bulan lalu Ines merasa ada yang berbeda di kepalanya, kalau dulu ia sangat membenci Hendra palsu . Namun setelah ia bangun ia tidak ingat kalau lelaki itu palsu.
Saat ia mengatakan kalau dirinya dr Hendra saudara Nicolas Ines hanya mengangguk setuju.
“Aku membawamu ke sini demi menyelamatkanmu Nes. Suamimu Nicolas suah meninggal,” ujar Hendra palsu.
“Ines hanya bisa menangis saat ia tahu suaminya menangis. Tapi sejak hari itu ia merasa kalau ada hilang dalam dirinya. Bahkan tidak ingat berapa lama ia pingsan.
Tapi ia menurut demi kebaikannya dan calon anaknya,dan ia tidak lagi mencoba melawan ia hanya berdiam diri di rumah dan menunggu kelahirannya .
Satu bulam kemudian.
Ia berhasil melahirkan putra, Hendra jugalah yang mengurus semua persalinan Ines. Lelaki itu baik sama Ines namun batin Ines ingin Nicolas.
Kini Jagoannya sudah lahir ke dunia dengan selamat dan di beri nama Iniko Elezer Darmawan. Lelaki itu menyayangi Ines dan Putranya bahkan ia bekerja sebagai dokter di mana dr. Hendra dulu bertugas.
Ines menghabiskan waktunya bersama Putranya hanya di rumah, Niko panggilan untuk anaknya, dia diurus Ines dibantu pengasuh. Walau ia begitu gembira karena anaknya sudah lahir, tapi kegembiraan itu tidak begitu komplit menurutnya, Karena Nikolas tidak melihat buah cinta mereka, jangankan Ayah dari anaknya, keluarga yang lain juga tidak datang melihatnya.
Setiap kali ia bertanya kapan Bi Narti datang Hendra selalu banyak alasan, bahkan ia menjadi posesif padanya. Penjagaan ada di mana- mana di sudut rumah. Ia juga tidak diperbolehkan memegang ponsel.
Dari situ ia mulai curiga ada yang tidak beres, tapi ia tidak menunjukkannya pada Hendra palsu.
“Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa otakku tidak bisa mengingat apapun,” ucap Ines.
“Apa ada yang salah Nyonya?” tanya pengasuh Niko menggunakan bahasa Jerman, pengasuh bayinya orang Jerman.
“Aku merasa kepalaku selalu selalu sakit jika mencoba mengingat sesuatu, keluh Ines.
“Apa mau saya ambilkan obat?”
“Ya,” jawab Ines ia memegang kepalanya.
“Tanpa sengaja Ines mendengar wanita menelepon Hendra, mereka berdua bicara serius dan ia memegang sebuah botol kecil.
Saat diberi minum Obat, Ia tidak meminumnya malah membuangnya.
Saat wanita itu sibuk Ines mengambilnya dan melihat.
Setelah di pelajari ternyata itu semacam obat penghilang ingatan, walau dalam dosis rendah, tapi kalau jangka panjang diminum akan menghilangkan memori ingatannya.
Hendra perhatian, tapi untuknya tidak cukup hanya itu, ia butuh keluarganya orang yang memperjuangkan, Bu Narti, ingin menunjukkan anaknya pada keluarganya.
Tapi sekarang Hendra semakin mengawasinya, memberi pengawal jika kemana –mana.
Maka ia merasa hidupnya terasa terkekang, Hendra bekerja di salah satu di rumah sakit, bahkan sudah memiliki jabatan yang lumayan. Tapi ines tidak diperbolehkan bekerja sebagai dokter bersamanya.
Ia hanya menjadi seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurus Hendra dan anaknya.
Disitulah Ines merasa hidup yang dijalani tidak benar dan mulai menyusun rencana.
__ADS_1
Hari itu Hendra ada tugas di Ibukota di Berlin dan mungkin sekitar dua hari, begitu juga pengawasan di rumah Ines, pengawasan semakin di perketat sudah kayak rumah pejabat saja.
Tapi otak ines terus berpikir, ini kesempatannya untuk mencari kabar tentang kelurganya. Menjadikan putranya sebagai alasan. Hari sudah semakin malam para penjaga yang berbadan tegap itu sudah mulai memeriksa setiap sudut Rumah.
Iniko lagi tiduran di dalam stroller dengan berbagai Ocehan dari mulutnya.
Sudah agak larut, Ines memberikan sesuatu pada Putranya yang membuat suhu tubuhnya Naik.
Kalau tidak sepanas itu Hendra tidak membiarkannya membawa keluar Putranya, Karna ia sudah mempersiapkan segala obat-obatan didalam Rumah. Ines panik mengendong anaknya, memanggil para penjaga itu.
Hendra tidak akan percaya kalau tidak melihat langsung keadaan putranya.
wajahnya pucat.
“Aku akan membawanya sekarang tangisan Ines membuat Hendra tambah panik dengan wajah Putranya Yang membiru di lihat video call.
“Baiklah jangan panik, dengarkan aku, berikan obat yang aku beri lebel biru,” usul Hendra memberi petunjuk pada Ines agar menangani sendiri, Tapi Ines seorang dokter juga, tau apa yang harus yang di berikan pada putranya, tapi inikan untuk kabur.
Dan sepertinya juga sudah merencanakan semua, obat yang diberi lebel biru semuanya sudah di tukar olehnya, jika sewaktu waktu rencananya tidak berhasil Hendra tidak mencurigainya.
“Baiklah.” Ines memberikan obat sembari vidio call.
“Bagaimana?” tanya Hendra palsu.
Ines pura-pura panik, ia menjerit ketakutan memeluk putranya.
“Aku sudah memberikannya tapi mulutnya berbusa.
Tanpa pikir panjang salah satu pengawal itu seperti dugaan Ines yang mempunyai rasa empati dan tidak tega melihat Ines dan anaknya.
Sejauh ini rencananya berjalan lancar, ia sengaja menangis di depannya salah seorang penjaga yang sudah lama diawasi olehnya, Ia berbadan tegap tapi berhati lembut.
“Ayo Nyonya,” ajaknya dalam bahasa Jerman.
Ines sengaja menyembunyikan kunci mobil yang lain, dan memberikan kunci mobil yang biasanya mogok kalau sudah setengah jalan.
Rencananya berhasil lagi, di tengah jalan Mobil itu batuk batuk dan mati mesin .
“Wah bagaimana ini” tanya Ines dia panik, Ia pura-pra melihat putranya yang semakin pucat akibat makeup yang dia pakaikan.
“Nyonya naik taxi saja,” ujar si pengawal, tangannya memberhentikan taxi untuk mereka.
Ines senang langung masuk tanpa mempedulikan pengawasan tersebut mungkin itu hari yang sial untuk kebaikannya.
Mungkin hari esok pengawal akan di pecat dan lebih buruknya akan di denda atas keteledorannya.
Karna sepertinya Hendra menyewa mereka dari satu agensi di Jerman, jasa mereka kebanyakan di pakai para artis dan pejabat.
“Maaf bung Aku hanya ingin kabur,” ujar Ines menoleh ke belakang, melihat pengawal itu menghempaskan tangannya dengan putus asa, karena mobil yang dikendarai rusak.
Lalu Ines membuka bungkusan kain melihat putranya yang saat ini tertidur pulas.
__ADS_1
“Maaf ya sayang, Mommy memanfaatkan kamu, sekarang mommy mulai mengingat, kita akan bertemu abang Keanu dan Daddy. Makanya kita harus bisa kabur darinya,” ucap Ines.
Ines terpaksa menjadikan putranya alasan dan memberinya sedikit obat tidur, saat ini tidur pulas, Semua itu ia rekaya agar bisa kabur dari dekapan Hendra yang mengurungnya tanpa memperbolehkannya pulang ke Indonesia untuk melihat putranya dan suaminya.
“Mau kemana Nyonya,” tanya Pak supir taxi dengan ramah melihat Ines mengendong bayi baru lahir dengan sikap buru- buru.
Ines berpikir kalau ia meneruskan aksinya ke Rumah sakit bisa jadi oran –orang suruhan Hendra palsu sudah menantinya di setiap rumah sakit.
“Stasiun kereta pak,” ucap Ines dengan cepat, mungkin Hendra belum menyadari kalau dirinya akan kabur ,dipikirannya mungkin Ines membawa putra mereka ke rumah sakit terdekat.
Jadi ia memilih kereta Bawah tanah membawanya menjauh dari kota itu.
Baru turun beberapa langkah ingin membeli tiket
ada seseorang yang membuatnya hampir pingsan. Sosok Hendra berdiri di antrian loket kereta api, Ines hampir terjatuh pada tangga eskalator penurunan saat melihat Hendra.
“ Kenapa tiba tiba ia ada disini? Apakah dia berbohong kalau dia dua hari di Berlin?” Ines panik .
“Ya ampun mati aku” Ines terus meranjau..tangga itu semakin dekat menuruni kearah loket.
Tubuhnya terasa hilang keseimbangan, untungnya seorang bapak memegang tangannya dari depan, dengan sigap. kesempatan itu di manfaatkan untuk memeluk tubuh bapak yang umurnya sudah lumayan Tua.
Walau si bapak Protes dan kaget karna ada Ibu- ibu memeluk tubuhnya.
“Tolong saya Pak, saya lagi sembunyi dari seseorang,” ujar Ines dalam bahasa Jerman .
“Baiklah,” Lelaki yang tua itu bersedia menolong.
Ternyata kereta yang akan di naiki Hendra akan berangkat, ia berlari meninggalkan loket.
Ines tidak tau apa tadi dirinya sempat di lihat oleh hendra ia masih bersembunyi di balik gedung..
Jakarta
Sementara dibelahan Dua lain, Nikolas akhirnya mendapat pengakuan juga dari Rio.
Setelah beberapa bulan mencari Ines, Nicolas tidak menemukanya, Rio awalnya menolak memberitahukan keberadaan Ines pada Nikolas, setelah dibujuk akhirnya ia memberitahukan sebuah petunjuk.
Heru dan Nicolas langsung bekerja.
“Kita bantuan orang dari pihak KBRI di Jerman,” ujar Nicolas.
“Akan saya usahakan, sepertinya Marta dulu punya teman bekerja di sana.” Heru menelepon.
“Kita juga butuh bantuan polisi, tapi siapa ya?” Nicolas bingung.
“Pak Dimas siapa lagi?” tanya Heru bingung.
Nicolas dan Dimas sudah lama perang dingin sejak pertengkaran mereka hari itu, karena ini ia rela meminta maaf demi Ines istrinya.
Bersambung
__ADS_1