Buka Hatimu Kembali Untukku

Buka Hatimu Kembali Untukku
Nyaris Bunuh Diri


__ADS_3

“Tidak bisakah kau kembalikan Nicolas Ku yang dulu !” teriak Ines.


Ines membawa kabur Nicolas menjauh dari desa, ia membawanya sebelum suruhan Hendra datang dan menemukan mereka berdua di rumah .


Ines  mendaki menuju gunung Shansa di seberang desa, pengunungan yang


sepertinya jarang didatangi manusia, mereka akhirnya menyerah mengejarnya.


Ternyata Hendra yang datang sendiri mencari Ines,  Hendra orang yang gigih, ia terus mengikuti arah Ines.


Lelah dan putus asa itu yang dirasakan Ines.


Tapi yang terpenting  anaknya sudah berhasil pergi.


Hendra sangat menginginkan Iniko sebagai anaknya. Karna Hendra tidak bisa memberikan keturunan,  dia mandul.


Itu juga satu alasannya ingin mempertahankan Ines,  ingin menjadikannya sebagai istri.


Menjadikan Iniko sebagai ahli warisnya, itulah alasannya ingin memiliki bayi Ines, bahkan dalam akte kelahinya ia yang jadi ayahnya bukan Nicolas.


Kali ini, seluruh tubuhnya basah karena keringat, rasa lelahnya terasa dua kali lipat karena harus menyeret tubuh Nikos


yang hanya bergerak jika diajak, maka diam jika didiamkan.


"Berhenti disini saja, Aku sudah tidak kuat lagi melangkah.”


Ines melepaskan tangannya yang memegangi tangan Nikolas.


"Aku Pasrah jika harus di temukan oleh mereka,” kata Ines.


Ia bersandar di bawah pohon pinus, melepaskan tas punggungnya.


Nikolas kembali mematung tanpa reaksi. Antara lelah, capek,takut bercampur jadi satu, Ines tidak tau harus berbuat apa lagi.


Dia tidak ingin Hendra menemukan mereka, Jika hanya dirinya yang dibawa tak mengapa baginya, tapi Nikolas bagaimana nasibnya nanti?


Membayangkan hal itu ,Ines berdiri lagi menarik tangan Nikolas, ingin membawanya berlari semakin jauh,  tapi entah kenapa tiba tiba Nikolas tidak mau dia ajak jalan, ia menolak tangan Ines yang ingin membawanya menjauh.


“Ayo, apa yang terjadi dengan mu? mereka akan semakin mendekat dan akan menangkap kita,” bujuk Ines mencoba menarik tangan suaminya. Tetapi Nikolas tidak mau beranjak dari tempanya berdiri.


Dia menggeleng, terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk.


“Ada apa Ko?” Apa kamu capek? Aku juga capek, kita akan berhenti setelah aman dari orang yang mengejar kita,” bujuk  Ines mencoba menjelaskan walau lelaki itu tidak mengerti apa yang ia dia bicarakan, tapi setidaknya ia menjelaskan.


Percuma saja, Nikolas tetap tidak mau bergerak, matanya memandang arah pulang, hal itu membuat dara Ines mendidih.


“Aku hanya ingin menyelamatkanmu, kenapa kau tidak mau?


Jalan !” Apa kamu ingin mati dengannya?” teriak Ines marah, suaranya meninggikan dan  matanya berca-kaca. Tetapi Nicolas  menatap dalam ke mata Ines.


Ia tidak mengerti apa yang diinginkan laki –laki itu, Ines menangis karena bingung, Ia tidak tau harus berbuat apa, duduk melingkarkan tangannya diantara lutut dan meringkuk.


Masalah yang menumpuk akan membuat pikiran sempit,


Ines sudah berjalan setengah perjalanan, perjalanan yang menanjak sudah dia lalui.


“Ayo kita akhiri disini.  Aku lelah,” ujar Ines putus asa.


Jurang di sebelah kanan Ines siap jadi tempat mereka untuk terjun bebas.


Wanita itu memegang tangan sang suami dan siap untuk terjun,


lebih baik mati bersama dari pada melihat salah satu dari mereka akan disakiti nantinya dan dipisahkan kembali.


Ines berpikir hidup sekali dan mati juga sekali,  lebih baik jika harus pergi bersama dengan orang yang disayangi.


Ines menutup matanya dan meluruskan niatnya, tapi suara itu mengagetkannya,


“Jagan, jangan lakukan itu.”


Ines terkejut dengan suara yang di sebelahnya, Nikolas membuka mulutnya setelah sekian lama.


Ia menoleh Ines dengan tatapan memohon dan tangannya memegang mainan anak mereka mobil- mobilan Iniko.


“Apa kamu barusan bicara padaku, Sayang?” Ines tidak percaya ditengah keputusasaan ya, Ia seolah -olah mendapat satu keajaiban.


”Katakan lagi aku mohon,” ujar Ines air matanya menetes dengan deras.

__ADS_1


“Jangan lakukan itu,” ucap Nikolas, tangannya memberikan mobil mainan pada Ines.


“Baiklah, Aku tidak akan melakukannya, Kita akan berjuang bersama,” ujar Ines.


Ines memeluknya walau hanya kata itu yang terdengar dari mulut Nikolas, tapi mampu menyelamatkan mereka dari Kematian.


Hampir saja Ines bunuh diri bersama dengan Nikolas di tengah kepanikan nya, merasa Hidupnya sendirian, tidak ada teman berbagi.


“Ayo kita pergi dari sini mereka semakin dekat,” ujar Ines.


Setelah kesadarannya sedikit pulih dan menarik tangan Nikolas kembali menjauhi tempat itu, berlari kearah dalam hutan pengunungan, Untungnya Nikolas menurut kali ini.


*


Hari semakin gelap Hendra akhirnya memutuskan menunggu Ines turun dari gunung ,kalau ia masih selamat. Cuaca semakin dingin.


Kemungkinan selamat sangat kecil.


Kedipan signal dalam tubuh Ines semakin pudar itu menandakan tubuh wanita itu semakin kedinginan.


Benar saja, Ines berjalan semakin jauh kearah rimbunan pohon bersama lelaki setengah bernyawa itu.


Hari sudah semakin gelap tidak ada peralatan yang memadai yang bisa membantunya, hanya senter ponsel yang membantunya menerangi jalannya.


Sekitar semakin gelap yang terdengar suara burung dan binatang lainnya.


Ingin pulang, tapi ia tidak tau jalan pulang


“Ya Tuhan kita tersesat, kita berakhir di hutan gelap ini. tidak tau harus melakukan apa,” ujar Ines ia menatap kanan kiri dengan kebingungan.


Tangannya masih menggenggam tangan Nikolas dengan erat, tangan itu terasa dingin , diterpa angin malam pengunungan.


Bahkan ia tidak bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas.


Tapi ia bersyukur Nikolas ada bersamanya, setidaknya ada menemaninya di hutan gelap.


Bagaimanapun ia memancing lelaki itu agar mau berbicara lagi, tetap saja tidak berhasil.


Ia sempat melarang Ines melompat bersama dirinya,apakah hanya kebetulan saja atau mungkin cara Tuhan melarang bunuh diri ia tidak tahu.


Ia mengingat kembali apabila tadi ia sudah melompat ke jurang itu, kemungkinan ia dan Nikolas sudah terkapar di dasar jurang , kalau mati dengan cepat mending, tapi kalau saja tidak mati dan hanya terluka parah dan ujung ujungnya jadi makanan binatang Buas bagaimana.


“ Aku lelah,” ucap Ines berharap Nikolas menggendong.


Tapi laki-laki itu hanya berdiri bagai patung.


“Ok, baiklah, kamu tidak akan mengerti lagi,’ ujar Ines.


Di satu sisi


Heru akhirnya sudah tiba di Indonesia, tapi pikirannya pada Ines dan Nikolas.


Meminta bantuan pada Dimas, lelaki yang masih pengantin baru tersebut. Akhirnya berangkat langsung ke Hongkong, mendengar sahabatnya kesusahan, hatinya bergerak ingin menolong


Bekerjasama dengan kepolisian Hongkong untuk menyelamatkan Nikolas dan Ines dari kepungan kelompok penjahat itu.


Ines masih tersesat di tengah hutan.


Angin malam semakin dingin menembus sampai ke tulang –tulang. Perut semakin lapar tenggorokan terasa kering.


Pikiran buntu, badan itu akhirnya lemas dan terkapar meringkuk, tidak ada tenaga hanya untuk menangisi dan menyesali hidup sekalipun tidak bisa. Ines terdiam. Matanya sayu memandang lelaki yang di cintainya, memandangnya tanpa reaksi bagai anak bayi yang masih polos.


Lelaki yang dulu berjanji padanya tidak akan membiarkannya menderita. Tapi sekarang hal itu tidak terjadi, malah kebalikannya karena lelaki itu, entah berapa liter air mata ia tumpahkan demi Nicolas, kali ini sang suami memperlakukannya seperti orang yang tidak di kenal. Nicolas lupa ingatan menyebabkan Ines melalui banyak penderitaan.


Bahkan kali ini Nicolas hanya bisa menonton terkapar tak berdaya, sekarang Ia bukan lagi lelaki yang bisa melindunginya. Sekarang ia terlihat hanya seorang bayi yang belum mempunyai pemikiran.


Jangankan meyelamatkan istrinya, menyelamatkan dirinya sendiri juga tidak bisa dilakukan.


“Ko, sayang .. jika aku harus mati saat ini ketahuilah aku mencintaimu.


Apakah kau akan mati juga?” tanya Ines bisik  suaranya lemah. Matanya masih memandang Nikolas yang hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosongnya. Entah apa yang di pikirkan laki laki itu sekarang.


Nikolas bukan hanya otaknya yang lemah saat itu. Tapi sepertinya tubuhnya juga ikut jadi lemah. Melihat Ines terduduk tak berdaya ia jaga tidak berdaya.


Ines menggenggam tangan Nikolas, tangan itu sudah mulai sedingin Es, karena tidak memakai sarung tangan dan bibirnya mulai membiru.


“Kita akan berpegangan tangan sampai akhir,” ujar  Ines pada sang suami dengan sisa tenaganya.

__ADS_1


Tuhan sepertinya belum merelakan mereka berdua untuk Mati, Para biksu turun gunung  dan memutari jalan dan melewati tempat Ines dan Nikolas terkapar, Ia sengaja menyalahkan senter ponselnya untuk membantu  penerangan untuk mereka.


Biasanya para biksu akan turun gunung pada tengah malam agar sampai pagi hari di desa . Untuk meminta sedekah pada para Umat di desa itu.


Ines hanya menoleh sebentar, ada bayangan yang menopang tubuhnya, perjalanan masih butuh perjuangan panjang untuk membawa mereka keatas.


Satu keberuntungan pada mereka, yang menemukan mereka para Biksu yang memilik rasa kemanusian yang tinggi dan selalu menanamkan kebajikan, seperti kebanyakan biksu lainnya.


Mungkin kalau itu warga atau pemburu yang menemukan mereka. Mungkin ceritanya akan berbeda dari saat ini.


Sesekali biksu baik hati itu berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga , dan melanjutkan perjalan mendaki gunung untuk mencapai kuil ternyata berada di atas bukit.


Akhirnya setelah beberapa jam berjuang membawa dua tubuh manusi yang tidak sadarkan diri. Mereka akhirnya tiba di atas bukit dan di sambut patung Dewi Guanyin dari puncak Gunung di depan pintu Kuil.


.                               *


Patung Dewi Guanyian, atau kwan im yang merupakan dewi welas asih dalam agama Buddha.


Patung Buddha itu seolah memberkati tubuh Ines dan Nikolas dari digendong dua Biksu muda melewati patung dan membawanya kedalam Kuil dan disambut para petinggi kuil tersebut.


Akhirnya Ines bangun, mencoba mengumpulkan alam sadarnya dan membaca keberadaaan dimana tubuhnya berada saat ini. Tadinya ia berpikir ia sudah pasrah jikapun nanti akan para memburu setempat yang menemukan tubuhnya.


Karena beberapa kali Maminya Nikolas menceritakan. Gunung di sebrang pedesaan itu gunung yang jarang lewati manusia dan hanya para pemburu yang sering kesana. Para pemburu itu jika menemukan orang asing tidak menunjukkan ketidak ramahan, sering kali dirampok dan ditinggalkan begitu saja  jika mereka beruntung akan selamat. jika tidak, akan mati karna hipotermia, karena dinginnya suhu udara kaki pegunungan tersebut.


*


‘Dimana ini ?”’ tanya Ines dalam hatinya karena kamarnya bernuansa gelap sunyi. ‘Apa aku sudah mati?’  ia bermonolog lagi, karena dalam kamar ia hanya menemukan patung- patung Budha.


Ia ingin menemukan Nikolas apakah lelaki itu datang bersamanya, Ines membuka pintu ruangan, saat dibuka ternyata disambut dengan pemandangan yang amat indah, pepohonan yang hijau dan suara desiran air terjun disisi kirinya dan suara suara burung bersahut -sahutan.


“ Apakah ini surga?” tanya Ines takjub.


Karena ketenangannya dan keindahannya yang di suguhkan sangat indah . Ines berpikir  surga pertama kalinya ia mendapat jiwa yang tenang, setenang saat itu.


“JIka ini surga?Lalu dimana para malaikat yang katanya berbaju ?” tanya Ines.


“Sudah bangun?” seorang Biksu tua menyapanya.


Otak ines belum jernih dalam berpikir,,  matanya hanya menatap Biksu tua itu.


“ Apakah biksu juga ada di Surga?”


Laki laki berkepala plontos itu hanya tersenyum mendengarnya Ines mengatakan itu. Ia datang membawa  nampan gelas berisi teh hijau yang asli tumbuh di kaki pengunungan. Teh yang terkenal dengan baunya khas, asapnya masih mengepul baunya harum menusuk hidung.


“Temanmu ada dikamar sebelah,” ujar Biksu itu lagi dalam bahasa china yang tidak di mengerti Ines.


Tatapan bingung  itulah yang ditunjukkan wanita itu, dapat dipahami.  Biksu  Melihat wajah Ines  matanya yang bulat, itu artinya dia bukan berasal dari Negara itu


“Tunggu sebentar disini ,” ucap lelaki kemudian dan membawa Biksu muda yang berambut plontos menyapa Ines dengan bahasa Inggris yang lancar.


Biksu tua itu membawanya, karena kemampuannya bisa menguasai beberapa bahasa.


“Kami sudah biasa kedatangan tamu seperti anda, tersesat,”  kata biksu muda itu  dalam bahasa Inggris.


Lalu menjelaskan pada Ines bagaimana mereka menemukannya.


Setelah diselamatkan para biksu mereka juga diterima baik dalam Kuil.


Di kuil sudah terbiasa bagi para Biksu membawa tamu yang tersesat, karna kuil biasanya dipakai orang mengalami banyak masalah sebagai istilahnya mencari ketenangan pikiran dalam kuil,


Menikmati pemandangan yang indah di atas pengunungan. Sangat menyenangkan tapi mengingat Kuil itu sering didatangi orang, bisa jadi Hendra sudah mengetahui keberadaan mereka.


Ines tidak ingin mereka di temukan laki –laki itu lagi, Ines memutuskan meninggalkan Nikolas di kuil, akhirnya dia menceritakan semuanya pada kepala biksu bahwa hidupnya dan hidup laki lai itu lagi terancam.


Kepala biksu menyarankan Nikolas ditinggalkan untuk menerima pengobatan dan penyucian pikiran dalam kuil tersebut.


Dan menyarankan Ines pergi Ke Negara Matahari terbit Jepang, untuk membuang sesuatu yang ada didalam darah Ines, yang selalu memberikan signal keberadaan mereka pada orang –orang Hendra.


Menurut biksu itu semua pengaruh roh jahat yang menghinggapi tubuh Ines. Walau sebetulnya dalam dunia modern , itu alat canggih berbentuk chip yang tertanam dalam aliran darahnya.


Tapi ia setuju juga pergi ke Negeri Jepang, bukan karena hanya semata karena anjuran Biksu.


Perjalanan yang jauh untuk mencapai Bandara untuk membawanya menjauhi tempat itu, menuruni bukit dan menyeberangi sungai, ia sengaja memilih jalan susah , karena Hendra mendapat posisi signalnya dari tubuh Ines di salah satu kuil di atas pengunungan.


Tapi perginya Ines dari tempat itu kembali membingungkan ia dan orang orangnya.


Hendra bersikeras mendapatkan Ines.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2